Syarifuddin Kadir
FakuItas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

DINAMIKA PERUBAHAN PETA BATAS DAS MALUKA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Rudianto Rudianto; Syarifuddin Kadir; Kissinger Kissinger; Mahrus Aryadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.421 KB) | DOI: 10.20527/jht.v8i3.9740

Abstract

A study on the dynamics of the Change Dynamics of the Maluka Watershed Boundary Map in South Kalimantan Province, which aims to analyze the Maluka Watershed Boundary is a large-scale approach, analyzing the dynamics of changes in some watershed characteristics (morphological and morphometric aspects) and conducting a policy direction towards the Compilation of the Maluka Watershed Boundary Watershed. The results of the Maluka watershed boundary scale of 1:50.000 there are changes and improvements in watershed boundaries in the downstream watershed due to river drainage, dredging, river displacement caused by human activities, new watersheds formed and SRTM level 30 x 30 m resolution, line repair and correction coastal and river networks and optical remote sensing. Morphometric and morphologic characteristics of Watersheds Significant changes in watershed area and administration area (reduced by 4.678 Ha or 5,3%). Other properties did not change significantly (Hydrologic DAS: 2 sub-watersheds, namely the Bati-Bati sub-watershed and Banyuhirang sub-watersheds), (Watershed shape: elongated (Rc <0,5)), (Slope class: flat 90,24%, steep and rather steep 2,14%), (Altitude/Elevation) Watershed: 2 masl to 50 masl 81,71%, above 300 masl 4,37%), (Watershed orientation: heading east to west in a straight direction, middle watershed symmetrical ballooning), (flow density, index value: 1,09 medium category) and (DAS flow pattern: Dendritic). Policy recommendations are suggested to synchronize the implementation of UU No. 23 Tahun 2014 and UU No. 37 Tahun 2014 in terms of carrying out the mandate of PP. 37 Tahun 2012, namely the implementation of the management of watershed management in the context of conservation of land, water in the ecosystem/watershed unit by giving the mandate to assist the task of sub-affairs management of watershed management from the provincial government to the district / city government.
PENGAYAAN VEGETASI PENUTUPAN LAHAN UNTUK PENGENDALIAN TINGKAT KEKRITISAN DAS SATUI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Syarifuddin Kadir; Badaruddin Badaruddin
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2920.745 KB) | DOI: 10.20527/jht.v3i2.1519

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi vegetasi penutupan lahan dan tingkat kekritisan lahan di DAS Satui Provinsi Kalimantan Selatan. Penentuan tingkat kekritisan lahan dan kondisi vegetasi pentupan  lahan  serta  arahan  pengendaliannya  dilakukan  melalui  metode  pendekatan  secara  spasial terhadap kondisi tutupan lahan dengan memanfaatkan sistem informasi Geografis. Hasil kajian diperoleh bahwa: 1) kondisi eksisting: a) vegetasi tutupan hutan seluas 49.703,37 ha (32 %), tutupan vegetasi non hutan 83.694,61 ha (54 %); b) lahan tidak bervegetasi 20.123,65 ha (13 %). Lahan dengan kriteria kritis (kritis dan sangat kritis) seluas 34.435,67 ha (22,43 %). 2) Arahan penurunan tingkat kekritisan lahan; a) pengayaan tutupan vegetasi hutan menjadi seluas 66.975,57 ha (44 %), sedangkan lahan terbuka, semak belukar dan pertambangan  berkurang  seluas  17.782,99  ha  (12  %);  b)  berdasarkan  pengayaan  vegetasi  menurunkan tingkat kekritisan lahan menjadi lahan kritis 1.536,82 ha (1,01%); c) pengayaan tutupan vegetasi hutan dan penurunan tingkat kekritisan lahan dapat meningkatkan fungsi DAS Satui sebagai pengatur tata air untuk mengendalikan kerawanan banjir dan menigkatkan produktivitas lahan untuk kesejahteraan masyarakat.Kata Kunci: Lahan kritis, vegetasi tutupan lahan, DAS
PENGENDALIAN BANJIR BERDASARKAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN DI SUB DAS MARTAPURA KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN Syarifuddin Kadir; Karta Sirang; Badaruddin Badaruddin
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v4i3.3619

Abstract

Land use conducted in accordance with its ability to protected areas or farm area in a watershed will provide benefits for the benefit of the water system and the welfare of society. Land use do not match the capabilities and purposes may increase the risk of floods. Balitbangda South Kalimantan (2010) states that the period from 2007 to 2010, flood in Banjar regency as many as 10 districts and 65 villages. The purpose of this research is to know the land ability class become the reference for determining the direction of the use and the utilization of the land, While the expected benefits to be a reference for flood control measures for the short and long term. The determination of land capability class is done through spatial approach method by utilizing Geographic information system. The study results obtained: 1) domination of the land capability class parameters:  a) slope, > 65% area of 31.46%; b) drainage, either 94.2%; c) The volume of surface rocks, lots of 36.5%; d) the erosion was 49.7%; e) the soil depth in 66.6%; f) soil texture, subtle bit; sandy clay, clay 57.95%. 2) land capability class sub-watershed Riam Kiwa sub watershed Martapura III to VIII. 3) Flood control optimally through forest rehabilitation based on land capability class in the sub watershed Martapura.Banjir merupakan suatu kondisi aliran air sungai pada suatu DAS yang tingginya melebihi muka air sungai normal, sehingga melimpas dari palung sungai yang menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah disisi kiri kanan sungai. Penggunaan lahanyang dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya pada kawasan lindung dan atau kawasan budidaya pertanian pada suatu DAS akan memberikankeuntungan untuk kepentingan tata air  dan kesejahteraan masyarakat. Penggunaan lahan yang dilakukan tidak sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya dapat meningkatkan risiko bencana banjir. Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan (2010) menyatakan bahwa periode 2007-2010 terjadi bencana banjir di Kabupaten Banjar sebanyak 10 kecamatan dan 65 desa. Tujuan penelitian ini  mengetahui kelas kemampuan lahan menjadi acuan penentuan arahan penggunaan lahan, sedangkan manfaat yang diharapkan agar dapat menjadi acuan pengendalian kerawanan banjir untuk jangka pendek dan jangka panjang.  Penentuan kelas kemampuan lahan dilakukan melalui metode pendekatan secara spasial dengan memanfaatkan sistem informasi Geografis. Hasil kajian diperoleh : 1) dominasi parameter kelas kemampuan lahan: a) kelerengan, > 65 % seluas 31,46 %; b) drainase, baik 94,2%; c) Volume Batuan Permukaan, banyak 36,5%; d) erosi sedang 49,7%; e) kedalaman tanah dalam 66,6%; f) tekstur tanah, Agak halus; liat berpasir, lempung 57,95%. 2) kelas kemampuan lahan sub-sub DAS Riam Kiwa sub DAS Martapura III sampai IV dan VI sampai VIII. 3)Pengendalian banjir secara optimal melalui rehabilitasi hutan dan lahan berdasarkan kelas kemampuan lahan di sub DAS Martapura Kabupaten Banjar.
EVALUASI DINAMIKA KERENTANAN LINGKUNGAN BERDASARKAN KERAPATAN VEGETASI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI TABUNIO Syarifuddin Kadir; Ichsan Ridwan; Wahyuni Ilham; Nurlina Nurlina
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i3.12335

Abstract

A Watershed is an ecosystem whose first component consists of natural resources vegetation, land, water, and human resources. Tabunio watershed covering an area of 62,558.56 hectares consists of 10 sub-watersheds. The Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) is used in vegetation density analysis. Vulnerability of environmental damage is the condition of a region that has the potential for environmental damage due to human activities and or activities that have the potential to cause environmental impacts.The purpose of vegetation density analysis is carried out for the evaluation of environmental vulnerability dynamics in Tabunio watershed, i.e: 1). Knowing changes in land cover; 2. Knowing the classification of vegetation density; 3. Determine efforts to increase vegetation density. The benefits of this analysis are to obtain directives that can have a positive impact on the control of flood suppliers' vulnerability and environmental vulnerability by determining forest and land rehabilitation techniques.Based on the results of mapping and analysis obtained: 1) changes in land cover in 2005-2020 are dominant in forest land cover, open land, settlements, plantations, swamp farming, shrubs, and mining; 2) Vegetation density in the upstream sub-watershed is dominated by the classification of dense and very tight vegetation density; 3) The green revolution of the upstream watershed is dominated for ecological purposes with dense and very close vegetation, the central part of the watershed is dominated for ecological, economic and social with tight vegetation, downstream green revolution watershed dominated for economic and social interests with dense and sparse vegetation
TINGKAT BAHAYA EROSI DALAM RANGKA REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI SUB-SUB DAS RIAM KIWA KABUPATEN BANJAR Agung Hananto; Muhammad Ruslan; Syarifuddin Kadir
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i2.14119

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis variasi Tingkat Bahaya Erosi  yang diduga terjadi, dan merumuskan upaya rehabilitasi hutan dan  lahan berdasarkan variasi Tingkat Bahaya Erosi di Sub-Sub DAS Riam Kiwa Kabupaten Banjar.  Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan cara observasi, pengamatan lapangan terhadap data biofisik, serpeti vegetasi, lahan dan data iklim.  Data dianalisis menggunakan model USLE, Tabulasi dan Content Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TBE relatif bervariasi, dari TBE I-R (Ringan), II-S (Sedang), III-B (Berat) dan IV-SB (Sangat Berat). Luas TBE tergolong I-R (Ringan), II-S (Sedang) penutup lahan HLKS dan TBE II-S (Sedang) penutup lahan PLK UL-06 sebesar  2.798,81 ha (26,42%).  Luas TBE tergolong III-B (Berat), IV-SB (Sangat Berat) penutup lahan PLK (kecuali UL-06), SBK, LTB  sebesar 7.796,5 ha (73,58%). Arahan rehabilitasi hutan dan lahan yang direkomendasikan terdapat 4 (empat) kelompok: a) Penutup lahan HLKS UL-01, UL-02 tetap dipertahankan sebagai HLKS dengan pemeliharaan (tindakan silvikulture) 238,75 ha, b) PLK UL-06 tetap dipertahankan sebagai PLK dengan pemeliharaan (penanaman menurut garis kuntor dan menggunakan teras guludan) 2.560,24 Ha, c) Penutup lahan  SBK UL-03, UL-04 1.063,47 ha dan PLK UL-07, UL-08 5.449,21 ha dikonversi menjadi Agroforestry dan d) Penutup lahan  SBK UL-05 400,70 ha, penutup lahan PLK UL-09 423,66 ha dan LTB UL-10, UL-11, UL-12  883,27 ha dikonversi menjadi Hutan Tanaman dengan kegiatan Reboisasi. Agroforestry dan Reboisasi diikuti dengan metode mekanik, seperti  pembuatan teras guludan dan  penanaman menurut garis kontur
INFILTRASI PADA BERBAGAI TUTUPAN LAHAN DAS TABUNIO DAN MALUKA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Syarifuddin Kadir; Ichsan Ridwan; Nurlina Nurlina; Hanif Faisol; Badaruddin Badaruddin; Nur Syifa Yarnie; Yesi Eka Pratiwi
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i3.14976

Abstract

Tutupan lahan dapat mempengaruhi sifat fisik tanah yang berhubungan dengan laju, kapasitas dan volume infiltrasi pada suatu lahan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahuilajuinfiltrasisertamenganalisisbesarvolumedankapasitasinfiltrasi padabebagaitutupanlahan untuk merumuskan dan mengevaluasi kerentanan lingkungan di DAS Tabunio dan DAS Maluka. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Sub DAS Amparo Kecil DAS Tabunio dan  Sub DAS Bati-Bati DAS Maluka Provinsi Kalimantan Selatan.Peralatan utama yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah double ring infiltrometer, GPS (Global Positioning System), aplikasi GIS (Geographic Information System) untuk mengetahui kapasitas dan volume infiltrasi masing masing unit lahan. Sub DAS Amparo Kecil DAS Tabunio terlihat bahwa kerentanan lingkungan  yaitu: a) Kapasitas infiltrasi tertinggi terdapat pada lahan hutan sekunder muda yaitu 334,92 mm/jam dan volume infiltrasi tertinggi terdapat pada tutupan lahan hutan sekunder tua yaitu 307,37 mm3, sedangkan kapasitas dan volume infiltrasi terendah terdapat pada tutupan lahan semak belukar yaitu 49,12 mm/jam dan 27,85 mm3. b) Kerentanan lingkungan pada tutupan lahan semak belukar dengan laju infiltrasi 28,33 mm/jam, kapasitas 49,12 mm/jam dan volume infiltrasi 27,85 mm3Tutupan lahan dapat mempengaruhi sifat fisik tanah yang berhubungan dengan laju, kapasitas dan volume infiltrasi pada suatu lahan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahuilajuinfiltrasisertamenganalisisbesarvolumedankapasitasinfiltrasi padabebagaitutupanlahan untuk merumuskan dan mengevaluasi kerentanan lingkungan di DAS Tabunio dan DAS Maluka. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Sub DAS Amparo Kecil DAS Tabunio dan  Sub DAS Bati-Bati DAS Maluka Provinsi Kalimantan Selatan.Peralatan utama yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah double ring infiltrometer, GPS (Global Positioning System), aplikasi GIS (Geographic Information System) untuk mengetahui kapasitas dan volume infiltrasi masing masing unit lahan. Sub DAS Amparo Kecil DAS Tabunio terlihat bahwa kerentanan lingkungan  yaitu: a) Kapasitas infiltrasi tertinggi terdapat pada lahan hutan sekunder muda yaitu 334,92 mm/jam dan volume infiltrasi tertinggi terdapat pada tutupan lahan hutan sekunder tua yaitu 307,37 mm3, sedangkan kapasitas dan volume infiltrasi terendah terdapat pada tutupan lahan semak belukar yaitu 49,12 mm/jam dan 27,85 mm3. b) Kerentanan lingkungan pada tutupan lahan semak belukar dengan laju infiltrasi 28,33 mm/jam, kapasitas 49,12 mm/jam dan volume infiltrasi 27,85 mm3
KEBERHASILAN HUTAN KEMASYARAKAT (HKm) DI KPH TANAH LAUT Denny Purnomo; Daniel Itta; Syarifuddin Kadir
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i3.17625

Abstract

Hutan kemasyarakatn merupakan salah satu skema dari program Perhutanan sosial yang memberikan akses legal kepada masyarakat untuk mengelola hutan. Di Kesatuan Pengelolaan Hutan Tanah Laut ada 25 Izin Hutan Kemasyarakatan yang diberikan kepada 31 kelompok tani hutan dengan luas 5.970 hektar. Ada 18 kelompok yang telah memiliki izin selama 5 tahun sehinga perlu dilakukan evaluasi keberhasilan pelaksanaannya. Evaluasi dengan menggunakan kuesioner yang berisi kriteria dan indikator antara lain: perencanaan, tata kelola kawasan, tata kelola usaha, perlindungan hutan, pemberdayaan, kelembagaan dan kewajiban lain. Penilaian menggunakan metode yang diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Nusa Tenggara dengan sistem skala skoring antara 0 – 1425 untuk penilaian sangat baik sampai tidak baik. Penilaian terhadap 18 kelompok memperoleh skor rata-rata 697 dengan kategori Cukup Baik. Sehingga pelaksanaan Hutan Kemasyarakat di Kesatuan Pengelolaan Hutan Tanah Laut sudah cukup baik.