Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK DESA BINAAN FAPET UNDANA MELALUI DIVERSIVIKASI PEMELIHARAAN TERNAK PUYUH Rosnah, Upik Sy.; Sulistijo, E. D.; Telupere, F.; Noach, Y. R.; Krova, M.; Lalus, M.; Sabtu, B.; Yunus, M.; Riwu, A.; Suryatni, N. P.; Ully, K.; Handayani, H. T.; Maranatha, G.
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Undana Vol 15 No 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jpkmlppm.v15i2.6056

Abstract

Abstrak Masyarakat desa binaan Fapet Undana (Desa Oelatsala) mempunyai usaha utama penggemukan sapi. Pemeliharan ternak besar ini dengan pola peternak membutuhkan waktu paling cepat 8 – 12 bulan untuk mendapatkan uang tunai, oleh karena itu perlu adanya usaha ternak lain atau diversivikasi usaha misalnya ternak puyuh agar dapat menopang kebutuhan keluarga peternak dalam jangka waktu yang lebih pendek. Tujuan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan ketrampilan masyarakat desa binaan dalam memelihara ternak puyuh dan ayam KUB. Kegiatan ini dilakukan dengan mengikuti tahapan yang terdiri dari kegiatan pelatihan yang terdiri dari penyampaian materi dan praktek, penyerahan saprodi, pendampingan, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peserta latih mempunyai peluang usaha ternak puyuh yang menarik dapat dikerjakan karena pakannya bisa diramu dengan penambahan bahan pakan local yang tersedia disekitar mereka, tidak membutuhkan lahan yang luas dan mereka membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan terkait manajemen pemeliharaan puyuh. Seluruh peserta dengan semangat berdiskusi selama penyampaian materi dan mengikuti kegiatan praktek menyusun ransum puyuh, meramu ransum puyuh, dan diikuti dengan kegiatan membuat kendang puyuh skala 25-30 ekor. Hasil monitoring dan evaluasi produksi telur diperoleh pada hari ke 46 sebanyak 38 butir (42%), adanya respon positif dari warga sekitar dengan melakukan perkunjungan dengan keinginan tahuan yang tinggi tentang beternak puyuh ini. Abstract The village community assisted by Fapet Undana (Oelatsala Village) has the main business of fattening cattle. Raising large livestock according to a farmer pattern takes at least 8 – 12 months to get cash money; therefore it is necessary to have other livestock businesses or business diversification such as quail livestock in order to support the needs of the farmer's family in a shorter period of time. The purpose of the training is to improve the knowledge and skills of the assisted village communities in raising quail and KUB chickens. This activity is carried out by following stages consisting of training activities, giving of material and practice, delivery of livestock production facilities, accompaniment, monitoring and evaluation. The results of this activity showed that the trainees have an interesting quail business opportunity that can be done because the feed can be mixed with the addition of local feed ingredients available around them, it does not require a large area of ​​land and they need knowledge and skills related to quail rearing management. All participants enthusiastically discussed during the delivery of the material and participated in practical activities of formulate quail rations, mix quail rations, and followed by make a quail cage with a capacity of 25-30 tails. The results of monitoring and evaluation of egg production were obtained on day 46 as many as 38 eggs (42%), there was a positive response from local residents by visiting with a high desire to know about rising this quail.
The Effectiveness of the Family Hope Program in Efforts to Control Provety in Bekasi Regency Yunus, M.; Fardania, Fitri
PERSPEKTIF Vol. 13 No. 2 (2024): PERSPEKTIF April
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/perspektif.v13i2.10962

Abstract

Indonesia is the country with the fourth largest population in the world. One of the problems faced by the Indonesian people is in organizing the life of society, nation and state. This article aims to analyze the effectiveness of the Family Hope Program and community perceptions of the impact of the Family Hope Program in Karang Satria Village, North Tambun District. This research paradigm uses the constructivism paradigm. The research design is a case study. The research design is a case study. The research method used is qualitative, including observation, in-depth interviews with informants and the community, literature study, and documentation, to measure the effectiveness of the Family Hope Program (PKH) and community perceptions. Assessment indicators include understanding the program, being on target, being on time, achieving goals, and real change. The researcher then developed the determined indicators into interview question items. Data processing and analysis techniques consist of three stages, namely data reduction, data presentation, and concluding. This research concludes that the effectiveness of the Family Hope Program (PKH) for beneficiaries in Karang Satria Village has been able to help reduce the burden of community expenditure, but PKH cannot be said to be completely effective in controlling poverty and increasing income, as seen in this research. from indicators that are right on target and on time. Because PKH only assists individuals who meet the criteria, many rural communities still experience uneven economic growth.
Perancangan dan Konstruksi Boiler untuk Rebusan Buah Sawit dengan Kapasitas 200 Kg Thohirin, Muh.; Wisnaningsih, Wisnaningsih; Yunus, M.; Pambudi, Ambar; Habibi, Ahmad Solih
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2714

Abstract

Provinsi Lampung memiliki potensi di bidang kelapa sawit. Potensi ini dapat dilihat dari jumlah luas dan produksi kelapa sawit yang tinggi di Provinsi Lampung. Pembangunan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Lampung di harapkan mampu meningkatkan nilai tambah, membuka dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, mengentaskan kemiskinan sehingga peningkatkan devisa yang dapat mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Lampung. Setiap kabupaten di Provinsi Lampung memiliki potensi dan kemampuan berbeda mengenai budidaya kelapa sawit. Besarnya biaya dan rumitnya pembuatan pabrik pengelola kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) membuat masyarakat yang memiliki kebun kelapa sawit dengan ekonomi rendah tidak dapat memproses kelapa sawit menjadi CPO sendiri. Berdasarkan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah membuat boiler untuk digunakan pada rebusan kelapa sawit dengan kapasitas 200 Kg. Tahap pertama sebelum menentukan konstruksi rebusan kelapa sawit adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah berorasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantaranya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 280 derajat celcius, suhu panas pada rebusan sebesar 135 derajat celcius, tekanan maksimal pada rebusan sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Konstruksi dan semua komponen boiler mampu bekerja dan mencapai panas 100 dearajt celcius pada waktu pemanasan 90 menit dan mencapai tekanan tertinggi 2 bar. Berdasarkan analisis, efesiensi boiler pada penelitian rancang bangun boiler untuk rebusan kelapa sawit sebesar 79,08 persen.
Pengaruh Tekanan dan Temperatur Terhadap Rancangan Konstruksi Boiler Sederhana Menggunakan Solidwork 2019 Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Fauzi, Ahmad Afif
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2712

Abstract

Untuk merebus tandan buah segar (TBS), tahapan yang pertama adalah proses perebusan atau sterilisasi yang dilakukan dalam bejana bertekanan (sterilizer) dengan menggunakan uap air jenuh (saturated steam). Tahap pertama sebelum menentukan model boiler untuk sterilizer kelapa sawit mini adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah beroperasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantaranya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 280 derajat celcius, suhu panas pada sterilizer sebesar 135 derajat celcius, tekanan maksimal pada sterilizer sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Analisis menggunakan metode taguchi untuk mengetahui yang paling berpengaruh antara pengaruh suhu dengan pressure terhadapat konstruksi boiler setelah dilakukan simulasi menunjukkan bahwa pengujian level pertama pada pressure memiliki nilai 4,422 dan pada temperature memiliki nilai 4,762. Sedangkan untuk level kedua memiliki nilai pressure 4,427 dan temperature e 4,422. Pengujian level ketiga memiliki nilai pressure 4,434 dan temperature 4,099. Nilai delta pada pressure sebesar 0,012 dan temperature 0,663 dan nilai rank pada pressure 2 sedangkan pada temperature 1. Sehingga dapat diketahui bahwa yang paling memiliki pengaruh besar terhadap konstruksi boiler adalah temperature dengan nilai 2,311.Variasi yang paling baik adalah yang memiliki pengaruh kritis yang paling rendah yaitu pada variasi tekanan 4 bar dan temperatur 140 derajat celcius.
Rancang Bangun Rebusan Buah Kelapa Sawit Sederhana Kapasitas 200 Kg Wisnaningsih, Wisnaningsih; Thohirin, Muh.; Yunus, M.; Santoso, Ari Beni; Raihan, Ahmad
JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai) Vol 1, No 02 (2023): JUSTIMES (Jurnal Rekayasa Teknik Mesin Saburai)
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/justimes.v1i02.2713

Abstract

Provinsi Lampung memiliki potensi di bidang kelapa sawit. Potensi ini dapat dilihat dari jumlah luas dan produksi kelapa sawit yang tinggi di Provinsi Lampung. Setiap kabupaten di Provinsi Lampung memiliki potensi dan kemampuan berbeda mengenai budidaya kelapa sawit. Berdasarkan masalah tersebut maka peneliti berencana akan membuat rebusan kelapa sawit kapasitas 200 Kg. Pada penelitian ini akan menggunakan pembuatan mesin rebusan, Tahap pertama sebelum menentukan konstruksi rebusan kelapa sawit adalah mencari parameter rebusan kelapa sawit yang sudah berorasi. Parameter yang diketahui pada rebusan kelapa sawit diantarnya adalah waktu pemanasan boiler 45 menit, suhu panas pada boiler sebesar 2800c, suhu panas pada rebusan sebesar 1350c, tekanan maksimal pada rebusan sebesar 3 bar, waktu perebusan kelapa sawit 90-120 menit, berat kelapa sawit yang direbus 30 ton. Waktu perebusan pada penelitian ini dilakukan selama 100, 110 dan 120 menit dengan bahan bakar batok kelapa yang sudah dipecah dengan ukuran 2-3 cm. Perlakuan sterilizer menggunakan dengan suhu dan waktu, perlakuakn terlihat dengan tabel sebagai berikuti. Kelapa sawit yang sudah direbus matang, selanjutnya sawit dilumat menggunakan digester selama 10 menit sampai biji sawit terpisah dengan daging dan seratnya. Hasil dari lumatan selanjutnya dipres menggungakan pres hidrolik untuk memisahkan minyak CPO dengan fiber dan carnelnya. Waktu untuk pengepresan 5,7 dan 9 menit. Pengaruh suhu dan waktu perebusan terhaap kematangan buah kelapa sawit. Pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 120 menit hasil buah kelapa sawit kurang matang. Selanjutnya proses pengujian ke dua dengan suhu 100 dan waktu perebusan 130 menit mendapatkan hasil buah sawit kurang matang. Selanjutnya adalah pengujian ketiga dengan suhu 100 dan waktu perebusan 140. Tingkat kematangan buah kelapa sawit semakin meningkat dikarenakan lamanya waktu perebusan. pengujian pertama dengan suhu 100oc dan waktu 110 menit mendaptakan hasil yang kurang merata. Pada pengujian kedua mendapatkan hasil rebusan yang hanya mateng pada bagian terdekan yang terkena uap panas. Pengujian yang idel ditunjukan pada pengujian ketiga dan keempat dimana tingkat kematangan buah kelapa sawit merata kesemua buah kelapa sawit yang direbus (200 Kg). Pengujian kelima dan enam mendapatkan hasil lebih matang atau kelewat matang jika dibandingkan dengan pengujian-pengujian sebelumnya.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Kalium Cair Dari Sabut Kelapa Untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Hortikultura di Desa Mesjid Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe Zaini, Halim; Fachraniah, Fachraniah; Zaimahwati, Zaimahwati; Yunus, M.
Jurnal Vokasi Vol 2, No 1 (2018): April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.358 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v2i1.672

Abstract

Penggunaan pupuk kimia dalam bidang pertanian dan perkebunan untuk peningkatan kesuburan tanah, kesuburan tanaman, dan pendapatan petani perlu pengkajian ulang. Pupuk kimia selain bermanfaat juga berdampak negatif dalam jangka lama, dimana pupuk kimia dapat merusak tekstur dan struktur tanah. Oleh karena itu, pemikiran kembali ke pertanian secara alamiah dengan memanfaatkan unsur hara yang tersedia dialam guna menjaga kesuburan tanah, menekan atau menghemat biaya produksi, menjadi suatu langkah yang peting. Tujuan dari kegiatan penerapan ipteks ini adalah; 1). Memberikan pelatihan dan keterampilan kepada para petani untuk membuat pupuk kalium cair dan 2). Penggunaan pupuk kalium cair untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman hortikultura seperti kelapa sawit, pinang, kelapa dan coklat. Metode kegiatan melalui pendekatan teoritis, diskusi,demontrasi dan aplikatif. Pada pelaksanaannya, karena keterbatasan dana, maka peserta dibagi dalam 2 kelompok kerja. Masing kelompok terdiri dari 3 orang dimana pembuatan pupuk kalium cair berbahan baku sabut cacah dan berbahan baku tanpa cacah. Kesimpulan kegiatan:1).Kegiatan penerapan ipteks berlangsung terarah, terukur dan sesuai dengan target. Setelah mengikuti kegiatan pembuatan pupuk kalium cair terjadi peningkatan kemampuan peserta rata-rata diatas 83% dan 2). Setelah mengikuti kegiatan ini peserta berkampuan membuat pupuk kalium cair secara mandiri dan dapat menggunakannya untuk bagi usaha pertanian dan perkebunan yang mereka usahakan. Dengan tersedianya pupuk kalium cair dapat memberikan peningkatan produksi pertanian serta berdampak positip bagi pendapatan mereka.Kata Kunci: pupuk kimia, pupuk kalium cair, pertanian, pendapatan