Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Obat Anti Epilepsi Terhadap Gangguan Daya Ingat pada Epilepsi Anak Mustarsid Mustarsid; Fadhilah Tia Nur; Shinta Riana Setiawati; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.302-306

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan penyakit kronik yang dapat menurunkan kualitas hidup, di antaranyagangguan daya ingat.Tujuan. Mengetahui prevalensi gangguan daya ingat, serta pengaruh lama pengobatan, dan jumlah obatanti epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang untuk mengetahui prevalensi gangguan daya ingat, serta pengaruh lamapengobatan, dan jumlah obat anti epilepsi terhadap gangguan daya ingat pada pasien epilepsi anak. Penelitinadilakukan di Poliklinik Neurologi Anak RSUD Dr Moewardi Surakarta dalam kurun waktu September2010 – November 2010, pada 50 subyek.Hasil. Gangguan daya ingat dialami 46% subyek di antara 50 subyek yang diteliti. Analisis bivariat mendapatkanpengaruh lama pengobatan lebih dari 2 tahun dengan OR 13,14 (CI 95% 3,29-2,47), jumlahobat anti epilepsi lebih dari satu obat dengan OR 0,6 (CI 95% 0,18-2,02). Analisis regresi logistik gandamendapatkan faktor yang mempengaruhi daya ingat adalah lama pengobatan lebih dari 2 tahun denganOR 17,3 (CI 95% 1,13- 279,17).Kesimpulan. Gangguan daya ingat dialami 46% pasien epilepsi anak. Lama pengobatan lebih dari duatahun berpengaruh terhadap terjadinya gangguan daya ingat pada pasien epilepsi anak.
Perbedaan Gangguan Psikososial dan Fungsi Kognitif antara Remaja Pendek dengan Indeks Massa Tubuh Rendah dan Normal di Sekolah Menengah Pertama Kota Surakarta Gita Soraya Diananta; Harsono Salimo; Bambang Soebagyo
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.153-9

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek pada anak dan remaja masih sering ditemukan di negara berkembang dan berdampak pada perkembangan fisik, mental dan fungsi kognitif remaja.Tujuan. Menganalisis perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek dengan IMT rendah dan normal.Metode. Penelitian observasional dengan desain studi potong lintang yang dilakukan di SMP Negeri 8 dan 20 Kota Surakarta pada bulan Agustus – Oktober 2019 terhadap remaja pendek berusia 11-15 tahun dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran antropometri berdasarkan WHO 2006 yang dikategorikan sebagai remaja pendek kurus dan pendek normal. Keduanya mengisi kuesioner PSC-17 dan CFIT. Perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara kedua kelompok dianalisis menggunakan chi square. Hasil penelitian dikatakan bermakna jika nilai p<0,05.Hasil. Prevalensi remaja pendek adalah 18,5% terdiri dari remaja pendek kurus (37,5%) dan pendek normal (62,5%). Terdapat perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek kurus dan pendek normal yang bermakna (p=0,007 dan p=0,000). Remaja pendek kurus berisiko mengalami gangguan psikososial 2,35 kali dan gangguan fungsi kognitif 8,83 kali. Mayoritas gangguan psikososial adalah masalah internalisasi. Remaja pendek kurus berisiko 2,79 kali (p=0,002). Kesimpulan. Terdapat perbedaan gangguan psikososial dan fungsi kognitif antara remaja pendek dengan IMT rendah dan normal yang secara statistik bermakna.
Pengaruh Pemberian Obat Antiepilepsi terhadap Kadar Vitamin D pada Anak Penderita Epilepsi Narulita Laksmia Tantri; Fadhilah Tia Nur; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.97-102

Abstract

Latar belakang. Pengobatan epilepsi dengan obat antiepilepsi (OAE) merupakan pengobatan jangka panjang dan berisiko terhadap berbagai efek samping, salah satunya defisiensi vitamin D. Selain berkaitan dengan permasalahan tulang, defisisensi vitamin D juga berhubungan dengan banyak penyakit yang lain.Tujuan. Menganalisis pengaruh pemberian obat antiepilepsi terhadap kadar vitamin D pada anak penderita epilepsi.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada bulan Oktober–Desember 2016 di poliklinik anak RS Dr. Moewardi Surakarta. Subyek penelitian 40 anak diambil secara konsekutif. Data dianalisis menggunakan statistik uji t independen, Mann Whitney, dan Chi square dengan program SPSS 22.0.Hasil. Rerata kadar vitamin D 22,80±7,58 ng/ml. Angka kejadian defisiensi vitamin D 27,5%. Usia ≥ 5 tahun dan lama terapi ≥ 2 tahun berpengaruh terhadap kejadian defisiensi vitamin D (p< 0,05) pada anak penderita epilepsi.Kesimpulan. Terdapat penurunan kadar vitamin D pada anak penderita epilepsi yang mengonsumsi OAE.
Hubungan antara Nilai Red Cell Distribution Width dan Fungsi Ventrikel Kiri pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Asianotik Achmad Yudha Aditya Pratama; Sri Lilijanti Widjaja; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.339-44

Abstract

Latar belakang. Abnormalitas fungsi sistolik dan diastolik dari ventrikel kanan dan kiri banyak ditemukan pada pasien dengan PJB asianotik. Di Indonesia, fasilitas untuk menilai fungsi ventrikel kiri berupa ekokardiografi tidak selalu tersedia di rumah sakit perifer sehingga diperlukan penanda lain sebagai alternatif, di antaranya, red cell distribution width (RDW).Tujuan. Menganalisis hubungan nilai RDW dan fungsi ventrikel kiri (ejeksi fraksi, fraksi pemendekan dan rasio E/A) pada anak dengan PJB asianotik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, subjek 33 anak PJB asianotik. Hubungan antara kadar RDW dan parameter fungsi ventrikel kiri dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Di antara 33 subjek terdapat 17 laki-laki (51,5%). Didapatkan jenis PJB asianotik VSD (ventricle septal defect) 10 pasien (30,3%), ASD (atrial septal defect) 15 pasien (45,5%) dan PDA (patent ductus arteriosus) 8 pasien (24,2%). RDW berkorelasi signifikan dengan rasio E/A pada PJB asianotik secara keseluruhan (r -0,342; p=0,026). Pada VSD dan PDA, RDW tidak berkorelasi dengan parameter fungsi ventrikel kiri apapun. Namun pada ASD, RDW berkorelasi signifikan dengan ejeksi fraksi (r -0,491; p=0,032). Kesimpulan. Didapatkan hubungan antara RDW dengan parameter fungsi ventrikel kiri, terutama rasio E/A pada pasien PJB asianotik. Selain itu, juga terdapat hubungan antara RDW dengan ejeksi fraksi pada pasien ASD.
Perbedaan Skor Developmental Quotient Menggunakan Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale pada Anak Stunting di Surakarta Prima Evita Juwitasari; Harsono Salimo; Hari Wahyu Nugroho
Sari Pediatri Vol 22, No 6 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.6.2021.371-7

Abstract

Latar belakang. Anak stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan. CAT/CLAMS merupakan alat skrining gangguan perkembangan yang efektif dan akurat mendeteksi keterlambatan kognitif global dan bahasa. Tujuan. Menganalisis perbedaan skor DQ anak stunting dan tidak stunting menggunakan CAT/CLAMS.Metode. Penelitian deskriptif observasional dengan desain studi potong lintang yang dilakukan di beberapa puskesmas dan posyandu di Surakarta Agustus 2018-Mei 2019 terhadap anak usia 3-36 bulan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian dikatakan bermakna jika nilai p<0,05.Hasil. Penelitian melibatkan 120 anak dengan rerata umur 19,7 + 9,49 bulan, terdiri dari 20% anak stunting dan 80% tidak stunting. Skor CAT pada anak dengan stunting rata-rata 93,15+5,24 dan tidak stunting 94,37+5,89, p=0,203 (p>0,05). Skor CLAMS pada anak stunting rata-rata 92,98+6,32 dan tidak stunting 92,76+6,61, p=0,933 (p>0,05) Skor DQ pada anak stunting rata-rata 93,06+5,44 dan tidak stunting 93,57+5,84, dengan nilai p=0,539 (p>0,05). Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada skor DQ anak stunting dna tidak stunting menggunakan CAT/CLAMS.
Perbedaan Kualitas Hidup pada Remaja Talasemia Mayor dengan Gizi Kurang dan Gizi Baik menggunakan Instrumen PedsQL Kurniawan Adi Putranto; Harsono Salimo; Muhammad Riza
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.171-7

Abstract

Latar belakang. Remaja dengan penyakit kronis sering mengalami penurunan kualitas hidup. Talasemia beta mayor merupakan kelainan herediter autosomal resesif yang disebabkan karena tidak adanya atau berkurangnya sintesis rantai β-globin dan membutuhkan waktu berobat yang lama. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup.Tujuan. Menganalisis pengaruh status gizi terhadap kualitas hidup pasien remaja dengan talasemia mayor.Metode. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain studi cross sectional. Remaja talasemia mayor usia 10-18 tahun yang berkunjung ke poliklinik hematologi RS Dr. Moewardi dari bulan Desember 2020 – Januari 2021 dan memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Pasien diminta mengisi penilaian kualitas hidup menggunakan PedsQL.Hasil. Sebanyak 34 remaja talasemia dengan usia 10-18 tahun mengikuti penelitian ini, terdiri dari 17 gizi baik dan 17 gizi kurang. Terdapat perbedaan kualitas hidup pada gizi kurang dan gizi baik. Sebanyak 76% pada kelompok gizi kurang mengalami penurunan kualitas hidup dan 47% pada kelompok gizi baik. Sebagian besar remaja talasemia mayor mengalami penurunan kualitas hidup pada domain emosi dan secara total pada penilaian kualitas hidup.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kualitas hidup pada remaja talasemia mayor dengan gizi kurang dan gizi baik. Domain emosi merupakan penurunan kualitas hidup yang paling terdapat perbedaan.
Perbandingan Prediktor Mortalitas Skor PRISM III dan PELOD 2 pada Anak Sakit Kritis Non Bedah Tressa Bayu Bramantyo; Sri Martuti; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.284-9

Abstract

Latar belakang. Tujuan utama perawatan pasien di PICU adalah untuk menyelamatkan jiwa pasien yang mengalami sakit kritis, tetapi masih dapat disembuhkan. Sarana, prasarana, sumber daya manusia yang terbatas di PICU dengan biaya rawat yang mahal masih menjadi perhatian utama. Sistem skoring digunakan untuk memprediksi luaran dan prognosis pasien. Sampai saat ini, belum ada sistem skoring yang digunakan di PICU secara baku untuk penilaian awal pasien di Indonesia.Tujuan. Menganalisis perbandingan kemampuan prediktor mortalitas antara skor PRISM III dan skor PELOD 2 pada anak sakit kritis non bedah.Metode. Penelitian kohort dilakukan dengan subyek pasien anak berusia 1 bulan-18 tahun yang dirawat di PICU RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dari kelompok pasien non bedah.Hasil. Studi kohort dari bulan Maret sampai dengan Juli 2017 terhadap 40 pasien anak berumur 1 bulan-18 tahun yang dirawat di PICU. Didapatkan hasil skor PELOD 2 >20 berisiko terjadi mortalitas sebesar 7,75 kali lipat dibandingkan dengan pasien dengan skor PELOD 2 <20 (RR 7.750 (95% IK 3.105-19.342), p<0,001). Pasien dengan skor PRISM III ≥8 berisiko terjadi mortalitas sebesar 10 kali lipat dibandingkan dengan pasien dengan skor PRISM III <8 (RR 10,00 (95% IK 3.418-29.256), p<0,001). Skor PRIM III memiliki sentitivitas 76,9% dan spesifisitas 100,0%, sedangkan skor PELOD 2 memiliki sensitivitas 69,2% dan spesifisitas 100,0% untuk memprediksi mortalitas.Kesimpulan. Skor PRISM III lebih unggul dalam memprediksi mortalitas pada pasien anak sakit kritis non bedah bila dibandingkan dengan skor PELOD 2. 
Reduced serum zinc levels while improving growth of underweight school children in trial of zinc-fortified milk in Indonesia Endang Dewi Lestari; Lilisianawati Lilisianawati; Saptawati Bardosono; Leilani Lestarina; Harsono Salimo
Paediatrica Indonesiana Vol 52 No 2 (2012): March 2012
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.713 KB) | DOI: 10.14238/pi52.2.2012.118-124

Abstract

Background Most children in low-income countries haveinadequate dietary zinc. The study was aimed to demonstrate theeffect of iron-zinc fortified milk in improving zinc status amongunderweight school children in Indonesia.Objective To evaluate the effects of milk fortification with zinc onserum zinc levels in underweight Indonesian school children.Methods A double-blind, randomized, controlled, communitybasedstudy was conducted on 426 underweight children aged 7to 9 years in several low economic income level elementary schoolsin Jakarta and Solo. Subjects were randomly allocated to receiveeither zinc-fortified milk (n= 217) or standard milk (n=209) for6 months. The fortified milk provided an 2.38 mg zinc per dayand the standard milk provided 0.88 mg zinc per day.Results Among underweight children, the prevalence of stuntingwith a height-for-age z-score < - 2.0 SD was 39.7%. Almost allsubjects (98%) had zinc intake ofless than 60% of the Indonesianrecommended daily allowance (RDA) for that particular agegroup. After receiving the milk intervention, mean serum zincconcentration declined significantly in both groups (from 13 .50±3.05 μmol/Lat baseline to 10.59±1.93 μmol/L, P< 0.05), butgrowth parameters (weight and height) improved.Conclusion Reduced mean serum zinc levels were observed inchildren who received standard milk, as well as those who receivedzinc-fortified milk. These reduction in serum zinc levels may be apart of homeostatic control mechanim for improving the negativezinc balance in zinc pools, as a negative effect on linear growthwas not observed. Larger clinical trials of adequate sample sizeneed to be conducted in order to provide better understandingon zinc regulation among underweight school children. [Paediatrlndones. 2012;52:118-24).
Effect of zinc supplementation on morbidity among stunted children in Indonesia Rustam Siregar; Lilisianawati Lilisianawati; Endang Dewi Lestari; Harsono Salimo
Paediatrica Indonesiana Vol 51 No 3 (2011): May 2011
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.982 KB) | DOI: 10.14238/pi51.3.2011.128-32

Abstract

Background The Indonesian Health Ministry reported that 35 .6% of Indonesian children and up to 50% in certain regions have stunted growth. They are at high risk of chronic zinc deficiency. Inadequate zinc intake may result in an impaired immune sy stem and high incidence of morbidity. Zinc supplementation is knO\Vll to improve immune status thus reducing the incidence of morbidity among stunted children.Objective To evaluate the effects of zinc supplementation on morbidity incidence among stunted Indonesian school children. Methods We evaluated the effects of daily zinc supplementation (2.38 mg of zinc􀁇supplemented milk) on the incidence of diarrhea, respiratory infections, and fever in a double􀁇blind, randomized, controlled trial in 169 stunted children (zinc􀁇supplemented n=84; placebo n=85) aged 7 to 9 years in Jakarta and Solo. Zincsupplementation and morbidity surveillance were perfonned for 6 months.Results Compared to the first 3 months of intervention, zinc supplementation resulted in a reduction in the incidence of diarrhea, respiratory infections, and fever during the second three months (by 67%, 42%, and 30%, respectively). Children from the zinc􀁇supplemented group tended to have a lower episodic incidence of diarrhea and fever than those from the placebo group, although neither of these differences was statistically significant (P< 0.45,95% CI 0.63 to 0.89).Conclusion Zinc supplementation has no significant effect in reducing the incidence of diarrhea, respiratory infections, and fever in stunted children although tended to have a lower episodic incidence. 
Effects of iron and zinc fortified milk supplementation on working memory of underweight poor-urban school children: A randomized double blind controlled trial Hari Wahyu Nugroho; Endang Dewi Lestari; Harsono Salimo; Mayasari Dewi; Zusta'in Noor Adhim; Leilani Lestarina
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 2 (2010): March 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.838 KB) | DOI: 10.14238/pi50.2.2010.92-95

Abstract

Background Undernutrition associated micronutrientdeficiencies in children are still prevalent in most developingcountries. Iron and zinc deficiencies are the most commonmicronutrient deficiency globally, which significantly contributedeficits in cognitive function. Fortification with iron and zinc hasproven successfully in reducing certain cognitive impairmentslike memory.Objective To determine the effects of milk fortified with iron andzinc on memory of underweight poor-urban schoolchildren.Methods A double blind randomized controlled trial wasconducted on 218 underweight poor-urban schoolchildren aged7-9 years old; 113 children were supplemented twice daily with27 gram of milk fortified with iron pyrophosphate (12.15 mg) andzinc sulfate (4.4 mg) for three months, 105 children served ascontrols. Anthropometry measured including bodyweight, height,sitting height and middle upper arm circumference. Memory wasmeasured using digit span backward test in Wechsler IntelligenceScales III. Statistical analyses were performed with SPSS forWindows, version 11.0.Results Baseline data of digit span backward score in iron andzinc group was 2.4 (SD 1.2), and control group was 3.0 (SD 1.8).After intervention, mean digit span backward score in iron andzinc group was 3 .1 (SD 1.2) and in control group 3.0 (SD 1.3).There was no improvement digit span backward score in controlgroup after intervention, compared with 0.7 point improvementin iron and zinc group (P=0.009).Conclusion Milk fortified with iron and zinc improves workingmemory of underweight poor-urban schoolchildren.