Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

KEEFEKTIFAN PROGRAM KELOMPOK PENDUKUNG IBU DALAM MENGUBAH PERILAKU IBU MENYUSUI Ichsan, Burhannudin; Salimo, Harsono; Soebijanto, H.A.A.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 2 (2015): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JANUARY 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v10i2.3380

Abstract

Pemerintah Surakarta menyelenggarakan program kelompok pendukung ibu untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Penelitian cross sectional ini bertujuan menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap, dan tindakan ASI eksklusif antara ibu-ibu yang mengikuti dan tidak mengikuti pada tahun 2014. Populasi penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki bayi berusia 6-24 bulan. Besar sampel yaitu 384. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap tentang ASI eksklusif pada ibu-ibu yang mengikuti program pendukung ibu lebih tinggi secara bermakna dibanding ibu-ibu yang tidak mengikuti (p=0,04  dan p=0,001). Uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan  tindakan yang bermakna pada kelompok tersebut (p=0,82). Regresi logistik dilanjutkan tes stratifikasi menunjukkan bahwa dukungan keluarga lain (selain suami) merupakan variabel perancu. Kesimpulannya yaitu ibu-ibu yang mengikuti program pendukung ibu memiliki pengetahuan dan sikap yang lebih tinggi secara bermakna dibanding yang tidak mengikuti. Surakarta government established mother support group program to increase covering of exclusive breastfeeding. This cross sectional study aimed to analyze the difference of knowledge, attitude, and practice of exclusive breastfeeding among mothers who followed and did not follow in 2014.  The population was mothers whose babies aged 6-24 months old. Sample size was 384. The results of the Mann-Whitney test shows that knowledge and attitude about exclusive breastfeeding in mothers who follow mother support group program significantly higher than mothers who did not follow (p=0,04 and p=0,001). The chi-square test shows that there is not significant difference practice in those group (p=0,82). Logistic regression continued with stratification test showed that other family support (besides her husband) is a confounding variable. The conclusion shows that mothers who follow the program have significantly higher knowledge and attitude about exclusive breastfeeding than mothers who did not.
Profil Terapi Artemisinin Combination Therapy (ACT) pada Malaria Anak di RSUD. Scholoo Keyen, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Studi Retrospektif Catur Prangga Wadana; Rosaline Krimadi; Rustam Siregar; Endang Dewi Lestari; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.323-326

Abstract

Latar belakang. Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sporozoa genus plasmodium. Terapi yang sering digunakan adalah ACT (artemisinin combination therapy) yang berguna untuk membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh.Tujuan. Penelitian untuk melihat efektifitas terapi ACT dan profil malaria pada anak di kabupaten Sorong selatan. Metode. Penelitian potong lintang selama 2 bulan (Januari sampai februari 2015) pada 89 anak. Diagnosis malaria ditegakkan melalui pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis untuk menemukan parasit dan spesies malaria. Dicatat terapi ACT, manifestasi klinis, dan penyakit penyerta.Hasil. Terdapat 41 anak mengikuti penelitian, didapatkan 25 (61%) anak perempuan dengan 21 (51,3%) didominasi kelompok usia lebih dari 5 tahun. Penyakit malaria tersiana didapatkan pada 23 (56,8%) anak. Terapi ACT, menghasilkan tidak adanya parasitemia dan suhu aksila <37,50C sampai hari ke-4, menunjukkan efektifitas 95%.Kesimpulan. Terapi ACT masih efektif untuk mengobati malaria pada anak di Kabupaten Sorong Selatan. 
Hubungan Status Gizi dan Stimulasi Tumbuh Kembang dengan Perkembangan Balita Mirham Nurul Hairunis; Harsono Salimo; Yulia Lanti Retno Dewi
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.895 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.146-51

Abstract

Latar belakang. Perkembangan dasar yang terjadi pada masa balita akan memengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Status gizi dan stimulasi merupakan dua faktor yang memengaruhi tumbuh kembang balita. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan anak Balita di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).Metode. Jenis penelitian ini adalah studi penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–April 2018. Sampel dipilih secara simple random sampling sebanyak 114 subjek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi logistik.Hasil. Berdasarkan hasil analisis multivariat antara status gizi (TB/U) dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan didapatkan hasil (b=1,68; IK95%:1,10-2,57; p=0,016) untuk status gizi dan (b=3,48; IK95%:1,42-8,52; p=0,006) untuk stimulasi tumbuh kembang. Kesimpulan. Balita dengan perawakan normal memiliki peluang 1,6 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan anak dengan perawakan pendek dan sangat pendek (stunting). Balita yang mendapatkan stimulasi tumbuh kembang sering memiliki peluang 3,4 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan dengan anak yang mendapatkan stimulasi jarang.
Profil Infeksi Plasmodium, Anemia dan Status Nutrisi pada Malaria Anak di RSUD Scholoo Keyen, Kabupaten Sorong Selatan Reza Abdussalam; Rosaline NI Krimadi; Rustam Siregar; Endang Dewi Lestari; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.446-9

Abstract

Latar belakang. Angka kesakitan malaria di Indonesia masih cukup tinggi. Masalah pada malaria adalah antara lain kejadian anemiapada infeksi plasmodium disebabkan hemolisis sel darah merah dan penurunan eritropoesis, sedangkan hubungan antara infeksiplasmodium dengan malnutrisi masih harus diklarifikasi.Tujuan. Menilai proporsi anemia dan status nutrisi pada malaria anak.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan selama 2 bulan (Mei-Juni 2015) pada 45 anak dengan diagnosis malaria yang dirawatinap dan rawat jalan di RSUD Scholoo Keyen. Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis.Hasil. Terdapat 45 anak, 25 laki-laki dan 20 perempuan. Rentang usia terbanyak 1-5 tahun. Ditemukan 30 anak dengan malariatropikana. Didapatkan 25 anak dengan kadar hemoglobin antara (8-10) g/dL. Status nutrisi ditemukan 19 anak wasting dan 16 stunted.Kesimpulan. Malaria yang paling banyak ditemukan adalah malaria tropikana, disertai kejadian penyerta seperti anemia dan gizikurang.
Hubungan Kadar C-Reactive Proteindan Kadar Feritin Serum pada Gizi Kurang Usia 7-9 Tahun Endang Dewi Lestari; Fadhilah Tia Nur; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.275-79

Abstract

Latar belakang. Kekurangan mikronutrien masih banyak terjadi di negara berkembang. Protein fase akut meningkat secara signifikan selama proses inflamasi akut.Tujuan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar C-reactive protein (CRP) dengan kadar feritin serum pada anak dengan gizi kurang usia 7-9 tahun di sekolah dasar di Surakarta.Metode. Penelitian uji potong lintang dilakukan di 10 SD di Surakarta pada 217 anak gizi kurang usia 7-9 tahun. Hubungan antara kadar CRP dan kadar feritin serum dinilai menggunakan analisis regresi logistik. Analisis statistik menggunakan SPSS versi 17.0.Hasil.Analisis regresi logistik menunjukkan terdapat hubungan secara signifikan antara rata-rata kadar feritin serum dengan kadar CRP>5 mg/L (OR=6,38, p= 0,006, 95% CI 1,7–23,9).Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar CRP dengan kadar feritin serum.
Pengaruh Interval Kelahiran Bayi Terhadap Kejadian Stunting pada Balita Kiki Dwi qori Ayatulloh; Harsono Salimo; Sri Martuti
Sari Pediatri Vol 23, No 5 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.5.2022.306-12

Abstract

Latar belakang. Stunting diartikan panjang badan atau tinggi badan terhadap usia kurang dari -2 standar deviasi kurva pertumbuhan WHO 2006. Banyak faktor yang menyebabkan stunting, di antaranya nutrisi, lingkungan, sosial ekonomi, termasuk interval kelahiran. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kedekatan interval kelahiran terhadap kejadian stunting. Metode. Penelitian ini bersifat analitikobservasional secara potong lintang. Subjek penelitian adalah balita yang berkunjung ke Puskesmas Mojogedang. Data didapatkan dari anamnesis orangtua dan tinggi badan balita yang diplotkan pada kurva WHO. Data dianilisis dengan chi square dan analisis regresi logistik.Hasil. Seratus limapuluh delapan balita mengikuti penelitian dengan proporsi 22,2% anak stunting dan 77,8% anak tidak stunting. Pendidikan ibu, IMT ibu, dan pemberian ASI eksklusif tidak berpengaruh dalam penelitian ini. Penghasilan rendah (p=0,007 dengan OR=3,286 dan CI;1,383-7,806), asupan kalori kurang (p=0,004 dengan OR=4,887 dan CI;1,675-14,256), dan interval kelahiran <36 bulan (p=0,035 dengan OR=2,479 dan CI;1,064-5,774) memengaruhi kejadian stunting.Kesimpulan. Interval kelahiran bayi memengaruhi kejadian stunting pada balita.
Hubungan Kadar C-Reaktif Protein dengan Stunting Usia 2-5 Tahun di Pucangsawit, Surakarta Labiqatullubabah Ahasmi; Hari Wahyu Nugroho; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 22, No 3 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.3.2020.176-81

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan masalah kekurangan gizi yang kronis. Defisiensi mikronutrien pada stunting seperti zink, kalsium, vitamin D dan magnesium dapat memicu sitokin pro inflamasi dan memodulasi respon imun spesifik yang ditandai dengan peningkatan CRP.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar C-reaktif protein (CRP) dengan stunting.Metode. Studi potong lintang beberapa PAUD daerah Pucangsawit, Surakarta, dilakukan dari Juli 2019 sampai Januari 2020. Semua anak yang masuk kategori stunting berdasarkan antropometri mendapatkan pemeriksaan CRP. Kemudian dilakukan analisis hubungan antara kadar CRP dengan stunting dengan uji Mann Whitney.Hasil. Terdapat 32 anak stunting yang terdiri dari 62,5% perempuan dan 37,5% lelaki. Sebanyak 75% anak dengan stunted dan 25% dengan severely stunted. Tidak terdapat peningkatan kadar CRP pada semua sampel dan tidak terdapat perbedaan kadar CRP yang signifikan pada anak stunted dan severely stunted (p=0,512)Kesimpulan. Kadar CRP tidak berhubungan dengan stunting baik pada anak yang stunted maupun severely stunted.
Hubungan Parameter Antropometri dengan Nilai Arus Puncak Ekspirasi pada Remaja di Surakarta David Anggara Putra; Harsono Salimo; Ismiranti Andarini
Sari Pediatri Vol 20, No 6 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.471 KB) | DOI: 10.14238/sp20.6.2019.349-53

Abstract

Latar belakang. Obesitas saat ini menjadi tantangan utama bagi tenaga kesehatan. Prevalensi anak dan remaja dengan obesitas semakin meningkat. Keadaan obesitas berpengaruh pada beberapa parameter fisiologi sistem pernapasan. Salah satu indikator penilaian status respirasi dengan menggunakan nilai arus puncak ekspirasi. Penelitian tentang obesitas dan sistem pernapasan pada anak masih kontroversial. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan parameter antropometri dengan nilai arus puncak ekspirasi pada remaja.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan studi potong lintang. Subjek penelitian merupakan siswa SMP usia 13 tahun sampai 18 tahun diambil mulai bulan September - Desember 2018. Pengambilan subyek penelitian dengan simple random sampling. Variabel bebas adalah antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh serta lingkar pinggang sedangkan variabel terikat adalah nilai arus puncak ekspirasi. Hasil. Subyek penelitian berjumlah 134 siswa dengan laki-laki 57 (42,5%) dan perempuan 77 (52,5%). Hasil analisis bivariat menunjukkan berat badan, tinggi badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang berhubungan signifikan secara statistik dengan nilai p, yaitu 0,040; <0,001; <0,001; <0,001. Dari analisis multivariat diketahui berat badan, tinggi badan, umur, lingkar pinggang dan IMT secara bersama-sama berpengaruh dengan nilai arus puncak ekspirasi (r2=0,370; p<0,001)Kesimpulan. Semakin tinggi nilai antropometri (berat badan, indeks masa tubuh dan lingkar pinggang} mempunyai nilai arus puncak ekspirasi semakin rendah.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi, dan Kejadian Diare dengan Perkembangan Motorik pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Dahliansyah Dahliansyah; Diffah Hanim; Harsono Salimo
Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.144 KB) | DOI: 10.14238/sp20.2.2018.70-8

Abstract

Latar belakang. Pemberian ASI tidak eksklusif dapat menyebabkan risiko kesehatan pada bayi, yaitu penyimpangan perkembangan motorik, serta kejadian diare. Gerakan 1000 HPK, ditujukan untuk mencegah malnutrisi dari awal kehamilan sampai anak usia 2 tahun. Tujuan. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan pemberian ASI ekslusif, status gizi, dan kejadian diare dengan perkembangan motorik pada 1000 HPK.Metode. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki anak baduta (>6-24) bulan. Variabel dependen adalah perkembangan motorik, sedangkan independen adalah ASI eksklusif, status gizi, dan kejadian diare. Metode penelitian adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Jumlah subjek 138 baduta, usia >6-24 bulan dipilih secara porposive sampling. Data ASI eksklusif didapat dari buku KIA/KMS, status gizi dengan pengukuran antropometri, kejadian diare didapat berdasarkan wawancara langsung, dan data perkembangan motorik dengan kuesioner KPSP, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi square dan Regresi Logistik.Hasil. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan (OR=0,45;IK95%=0,21-0,99;p=0.046). Tidak terdapat hubungan antara status gizi selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan. Tidak terdapat hubungan antara kejadian diare selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta(>6-24) bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa baduta (>6-24) bulan yang tidak diberi ASI eksklusif selama periode 1000 HPK, berisiko 0,45 kali mengalami gangguan perkembangan motorik.Kesimpulan. Pemberian ASI eksklusif kepada baduta (>6-24) bulan selama periode 1000 HPK, memengaruhi perkembangan motorik.
Pengaruh Operasi Koreksi Terhadap Percepatan Pertumbuhan pada Neonatus dengan Kelainan Kongenital Gastrointestinal Miza Dito Afrizal; Harsono Salimo; Endang Dewi Lestari
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.637 KB) | DOI: 10.14238/sp18.5.2017.368-72

Abstract

Latar belakang. Kelainan kongenital pada saluran gastrointestinal merupakan penyebab tersering terjadinya gangguan pertumbuhan pada neonatus. Gagal tumbuh dan malnutrisi berhubungan dengan saluran cerna. Operasi koreksi merupakan tata laksana dari sebagian besar kasus kelainan kongenital pada saluran cerna anak. Pada tahun 2009, World Health Organization (WHO) merilis standar kecepatan pertumbuhan berdasarkan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.Tujuan. Menganalisis percepatan pertumbuhan pada neonatus dengan kelainan kongenital gastrointestinal sebelum dan sesudah dilakukannya operasi koreksi.Metode. Penelitian kohort prospektif yang dilakukan bulan februari–Juli 2016. Duapuluh subyek penelitian diambil secara konsekutif. Data dianalisis dengan program SPSS 22.0. Percepatan pertumbuhan pada neonatus dengan kelainan kongenital gastrointestinal sebelum dan sesudah dilakukannya operasi koreksi dianalisis dengan formula McNemar.Hasil. Tidak didapatkan perbedaan signifikan pada percepatan pertumbuhan pada neonatus dengan kelainan kongenital gastrointestinal sebelum dan sesudah dilakukannya operasi koreksi (p>0,05).Kesimpulan. Neonatus dengan FTT sebelum dilakukannya operasi masih berada pada kondisi FTT saat setelah dilakukannya operasi koreksi.