Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO YANG BERPERAN SEBAGAI SUMBER PENULARAN PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER DI KOTA DAN KABUPATEN KUPANG Andrijanto Hauferson Angi; Defrys R. Tulle
Partner Vol 27, No 2 (2022): Edisi November 2022
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v27i2.1072

Abstract

African swine fever (ASF) is a hemorrhagic infectious disease in pigs caused by a DNA virus from the Asfarviridae family of the genus Asfivirus. An effective vaccine against ASF has not yet been found. This study aims to identify factors that play a role as a source of transmission of ASF disease in pig farms in Kupang City and Regency. Analyze the data in a description with interviews with 60 pig breeders. Factors that are the source of transmission of the ASF virus include the origin of pig livestock from traditional farms (7,7%) and animal markets (6,7%), feed sources are garbage feed (61,7%), non-routine health checks (90%), dead pigs their carcasses are thrown into landfills (20%), waste is disposed of in sewers (33,3%). Another factor that plays a role is that breeders do not know Ornithodoros sp. as a carrier vector of the ASF virus as well as if the pig is sick the farmer immediately sells his pig (60 %). Key Word: ASF, Transmission, Kupang City and Regancy
IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO YANG BERPERAN SEBAGAI SUMBER PENULARAN PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER DI KOTA DAN KABUPATEN KUPANG Andrijanto Hauferson Angi; Defrys R. Tulle
Partner Vol 27, No 2 (2022): Edisi November 2022
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jp.v27i2.1072

Abstract

African swine fever (ASF) is a hemorrhagic infectious disease in pigs caused by a DNA virus from the Asfarviridae family of the genus Asfivirus. An effective vaccine against ASF has not yet been found. This study aims to identify factors that play a role as a source of transmission of ASF disease in pig farms in Kupang City and Regency. Analyze the data in a description with interviews with 60 pig breeders. Factors that are the source of transmission of the ASF virus include the origin of pig livestock from traditional farms (7,7%) and animal markets (6,7%), feed sources are garbage feed (61,7%), non-routine health checks (90%), dead pigs their carcasses are thrown into landfills (20%), waste is disposed of in sewers (33,3%). Another factor that plays a role is that breeders do not know Ornithodoros sp. as a carrier vector of the ASF virus as well as if the pig is sick the farmer immediately sells his pig (60 %). Key Word: ASF, Transmission, Kupang City and Regancy
Prevalensi Peste des Petits Ruminant serta Analisis Faktor Risikonya pada Kambing Melalui Pemeriksaan Ulas Mata atau Hidung Andrijanto Angi; Defrys Ridolof Tulle; I Gusti Komang Oka Wirawan
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 3 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2025.26.3.375

Abstract

Peste des petits ruminants (PPR) adalah penyakit virus yang menyerang ruminansia kecil, agennya termasuk dalam kelompok virus RNA, genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae. Office International des Epizooties (OIE) telah menetapkan PPR dalam daftar penyakit wajib dilaporkan (Notifiable Diseases). Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi kasus PPR di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Pengambilan sampel dilakukan lewat ulas/swab daerah mata atau hidung pada 100 ekor kambing yang berasal dari lima lokasi desa dan kelurahan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Identifikasi faktor risiko yang berperan penting dalam penyebaran PPR dilakukan dengan menggunakan survei kuesioner terstruktur terhadap 25 orang peternak kambing. Hasil pengujian dari 100 sampel swab dipereloh empat ekor kambing positif PPR (+++), 11 ekor dengan hasil positif lemah (+), 84 ekor negatif, dan 1 ekor sampel invalid dengan tingkat prevalensi 15 %. Hasil identifikasi faktor risiko dengan analisis deskriptif diperoleh data yaitu kambing yang dimiliki sebagian besar berasal dari peternakan tradisional (7,7%) dan pasar hewan (6,7%), sumber pakan berasal dari padang penggembalaan (61,7%), pemeriksaan Kesehatan kambing tidak rutin dilakukan (90%). Pada pola pemeliharaan kambing, Sebagian besar kambing yang dipelihara adalah kambing betina (68%), peternak juga memiliki hewan atau ternak lain selain kambing, yaitu anjing, sapi, dan babi. Faktor lain yang juga berperan penting dalam penyebaran penyakit PPR adalah pengetahuan yang rendah tentang PPR, peternak belum mengetahui PPR dalam hal cara pengobatan, pencegahan penyakit termasuk vaksinasi PPR.
Seroprevalensi Penyakit Mulut dan Kuku pada Sapi di Kota dan Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur Angi, Andrijanto Hauferson; Nalle, Mikson Metraim Daniel; Nugroho, Susanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 43, No 3 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.109207

Abstract

Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) telah mengakibatkan kerugian ekonomi yang luar biasa di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Beberapa provinsi di Indonesia hingga saat ini masih dianggap bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga merupakan salah satu gudang ternak sapi. Lalu lintas keluar masuknya ternak sapi dari Provinsi NTT berpotensi menyebabkan masuknya virus PMK di Provinsi NTT terutama di Kota dan Kabupaten Kupang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi seroprevalensi PMK di Kota dan Kabupaten Kupang. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel darah sapi guna diambil serumnya dari berbagai Lokasi guna mendeteksi protein antibodi non-struktural virus PMK dengan metode uji imunokromatografi aliran lateral sandwich. Hasil uji apabila dari sampel serum dinyatakan positif terinfeksi virus PMK terlihat adanya dua garis merah pada penampang kit uji. Hasil pengujian yang dilakukan ditemukan 6 sampel positif adanya reaksi antibodi protein non struktural terhadap virus PMK dari 150 sampel darah sapi, dengan angka seropositif sebesar 4 %. Hasil ini menunjukkan bahwa di Kota dan Kabupaten Kupang sudah teridentifikasi  adanya virus PMK pada sapi.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lama Waktu Tunggu Pasien di Instalasi Gawat Darurat A Systematic Literature Review Desemiyety Ngatriany; Henny A. Manafe; Andrijanto Hauferson Angi
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Multidisplin (April - Mei 2026)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v5i1.1932

Abstract

Unit Gawat Darurat (UGD) merupakan bagian rumah sakit yang sering menerima keluhan terkait kualitas layanan. Masyarakat mengeluhkan kualitas layanan, terutama waktu tunggu. Waktu tunggu yang lama dapat secara signifikan menurunkan kepuasan pasien dan kualitas layanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi waktu tunggu pasien di UGD rumah sakit. Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis dengan memanfaatkan artikel dari basis data elektronik, yaitu PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan ProQuest. Pencarian literatur menggunakan metode PICO dengan kata kunci pencarian “Waktu tunggu” ATAU “Lama rawat inap” DAN “Gawat darurat” DAN “Layanan.” Identifikasi studi berdasarkan basis data dan registri menggunakan diagram alur PRISMA. Hasil diperoleh dari sembilan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan telah disaring serta diidentifikasi di berbagai negara. Sebagian besar menggunakan desain studi cross-sectional dan retrospektif, masing-masing dengan empat artikel (44,4%). Sebagian besar artikel penelitian dilakukan pada tahun 2020, dengan empat artikel (44,4%). Faktor-faktor dominan yang memengaruhi waktu tunggu di UGD adalah usia, konsultasi spesialis, dan kedatangan pada malam hari. Status kesadaran dan triase oranye juga merupakan faktor yang memengaruhi waktu tunggu pasien di UGD. Faktor-faktor lain yang teridentifikasi meliputi lebih dari dua kali pemeriksaan darah, pemeriksaan ultrasonografi, tinggal di daerah pedesaan, kunjungan pada sore hari, layanan kedokteran internal, kunjungan ke dokter anak, ketersediaan obat, pemindaian CT, dan ketersediaan tempat tidur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor-faktor utama yang memengaruhi lama waktu tunggu pasien di ruang gawat darurat adalah usia, konsultasi dengan dokter spesialis, dan kunjungan pada malam hari. Para dokter dan staf di ruang gawat darurat perlu memahami dan memperhatikan waktu pelayanan untuk menjaga kualitas perawatan.