Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

THE ROLE OF SHADOW TEACHER IN LEARNING MANAGEMENT OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS IN PAUD TERPADU INKLUSI BINA INSAN KREATIF TASIKMALAYA Yuli Salis Hijriyani; Fenty Andriani; Rosidin Rosidin
Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 5, No 2 (2021): EVALUASI: Edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/evaluasi.v5i2.759

Abstract

As part of inclusion education, Education for All (EfA) or Pendidikan untuk Semua (PuS) has six main programs, including the inclusion program of Early Childhood Education (Pendidikan Anak Usia Dini or PAUD). This article is compiled based on a qualitative approach, which is a type of field research and presented descriptively. This article highlights the role of Shadow Teacher as one of the main keys to the success of inclusion education in PAUD Terpadu Inklusi Bina Insan Kreatif (BIK) in Tasikmalaya city. The findings of the article show that Shadow Teacher has a variety of relatively different roles and responsibilities than class teachers. But it plays a big role in helping the success of learning carried out by class teachers, especially related to Children with Special Needs (Anak Berkebutuhan Khusus or ABK). In undergoing its roles and responsibilities, Shadow Teacher applies various strategies to assist the development of ABK students, in the academic, non-academic and self-developed fields. Furthermore, the PAUD Terpadu Inklusi BIK institute has such a crucial policy related to improving the quality, qualifications and competency of Shadow Teacher that it can provide better inclusion education services for ABK students in particular, and for other stakeholders in general.
RELASI DAN REKONSILIASI ANTARA PENDIDIKAN ISLAM DENGAN PENDIDIKAN BARAT Mohammed Rosidin
Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2017): EVALUASI-edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/evaluasi.v1i2.75

Abstract

Mengacu pada daftar yang dilansir http://www.mbctimes.com/, 20 negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik pada tahun 2015/2016 adalah: 1) Korea Selatan; 2) Jepang; 3) Singapura; 4) Hong Kong; 5) Finlandia; 6) Inggris Raya (UK); 7) Kanada; 8) Belanda; 9) Irlandia; 10) Polandia; 11) Denmark; 12) Jerman; 13) Rusia; 14) Amerika Serikat; 15) Australia; 16) Selandia Baru; 17) Israel; 18) Belgia; 19) Republik Ceko; 20) Swiss 1. Demikian halnya dengan daftar perguruan tinggi terbaik edisi tahun 2015/2016 yang dilansir berbagai media online seperti http://www.webometrics, mayoritas masih didominasi oleh negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat (Harvard University [1], Stanford University [2], Massachusetts Institute of Technology [3]), Inggris (University of Oxford [13], University of Cambridge [14]) dan Kanada (University of Toronto [16]) 2. Terlepas dari bias media, sungguh miris jika menengok laporan ini, karena tidak ada satu pun negara mayoritas muslim yang masuk di dalamnya. Data ini menunjukkan dominasi sistem pendidikan Barat terhadap pendidikan Islam.Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa pendidikan Barat telah memberi pengaruh signifikan terhadap berbagai dimensi pendidikan Islam. Misalnya: Input peserta didik diklasifikasikan melalui tes IQ yang dikembangkan psikolog Perancis, Alferd Binet tahun 1905. Metode Binet dalam menghitung angka IQ adalah usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis, lalu dikalikan dengan 100. Rumusnya adalah: IQ = MA/CA x 100 di mana MA adalah Mental Age, sedangkan MC adalah Chronological Age3. Atau trend yang lebih mutakhir adalah tes Kecerdasan Majemuk yang dikenal dengan Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah instrumen riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecenderungan kecerdasan seseorang. Dari hasil analisis MIR, dapat disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. MIR ini mengacu pada Kecerdasan Majemuk (Multiple Inteligences) yang digagas psikolog Amerika Serikat, Howard Gardner 4.Metode pembelajaran berbasis siswa aktif mayoritas didasarkan pada teori yang digagas ilmuwan Barat, seperti Quantum Teaching oleh Bobbi DePorter dkk. Quantum Teaching diciptakan berdasarkan berbagai teori pendidikan, seperti Accelerated Learning (Luzanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistik Programming (Ginder dan Bandler), Experiential Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson and Johnson) dan Elemen of Effective Instruction (Hunter). Jadi, Quantum Teaching telah merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik, sehingga menjadi sebuah paket multisensori, multikecerdasan dan kompatibel dengan otak yang pada akhirnya akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi 5. Demikian halnya dengan model-model pembelajaran kooperatif seperti STAD (Student Teams Achievement Division) yang dikembangkan Robert Slavin dan Jigsaw oleh Elliot Aronson; model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) yang dikembangkan Robert M. Gagne; Contextual Teaching and Learning (CTL) yang digagas Elaine B. Johnson; dan lain sebagainya 6.Evaluasi pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan Islam juga masih didasarkan pada taksonomi Benjamin S. Bloom, yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Menurut Bloom, 90% perbedaan prestasi belajar disebabkan tiga faktor utama. Pertama, perilaku entri kognitif, yaitu kompetensi peserta didik ketika dihadapkan pada tugas belajar baru. Kedua, perilaku entri afektif yang terkait motivasi belajar awal hingga optimal. Ketiga, menyesuaikan pembelajaran yang berkaitan degan media dan waktu serta dorongan dan individualisasi 7. Pada praktiknya, penilaian yang dilakukan pendidik harus memuat keseimbangan ketiga domain tersebut. Penilaian aspek kognitif dilakukan setelah peserta didik mempelajari satu kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian aspek afektif dilakukan selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, baik di kelas maupun di luar kelas. Penilaian psikomotorik dilakukan selama berlangsungnya proses belajar-mengajar 8.Paparan di atas mengindikasikan bahwa pendidikan Barat telah berpengaruh signifikan terhadap pendidikan Islam, baik pada tahap pra, proses maupun pasca pembelajaran.Di samping membawa pengaruh positif, pendidikan Barat juga membawa pengaruh negatif terhadap pendidikan Islam. Inilah pandangan Mujamil Qomar yang menegaskan bahwa problem utama pendidikan Islam saat ini adalah problem epistemologi. Hal ini disebabkan filsafat pendidikan yang diberikan pada departemen kependidikan Islam sekarang ini, sepenuhnya filsafat pendidikan Barat, sehingga sistem pendidikan Islam kental oleh pengaruh pendidikan Barat. Sedangkan pendidikan Barat dibangun di atas filsafat pendidikan yang menggunakan pendekatan epistemologi yang banyak bertentangan dengan ajaran Islam, semisal anti-metafisika 9.Misalnya: Filsafat pendidikan Barat yang bersifat Pragmatisme dan Materialisme berimplikasi pada tujuan pendidikan yang cenderung diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama dunia korporasi; sehingga mengantarkan keterampilan vokasional sebagai tujuan pokok pendidikan. Parameter kesuksesan lembaga pendidikan pun menjadi lebih dangkal, yaitu seberapa besar alumni yang berhasil diserap oleh dunia usaha. Orientasi vokasional yang berlebihan tersebut telah mengikis orientasi spiritualisme dalam pendidikan Islam. Dampaknya adalah krisis moral yang mengarah pada dehumanisasi. Contoh konkretnya adalah fenomena “Indonesia Darurat Moral” yang digaungkan oleh para tokoh nasional, seperti Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva yang menyebut Indonesia saat ini tengah dilanda darurat moral lantaran maraknya kejahatan seksual yang sudah masuk ke berbagai generasi bangsa 10.Dalam konteks rekonsiliasi antara pendidikan Barat dan pendidikan Islam, penulis tertarik untuk membangun “jembatan emas” antara aspek positif pendidikan Barat dengan aspek positif pendidikan Islam. Jembatan emas tersebut dibangun di atas pilar Maqashid Syariah. Maqashid Syariah adalah tujuan-tujuan agung Syariat Islam atau hikmah-hikmah yang diletakkan oleh Allah SWT dalam setiap hukum syariat Islam. Inti Maqashid Syariah adalah merealisasikan kemaslahatan umat manusia, di dunia maupun di akhirat; baik dengan cara mendatangkan manfaat maupun menampik mafsadat 11. Inilah yang penulis maksudkan dengan redaksi ‘rekonfigurasi’ sepanjang bahasan dalam tulisan ini. 
STUDI PEMIKIRAN PENDIDIKAN SA‘ID ISMA‘IL ‘ALI TENTANG DASAR-DASAR PENDIDIKAN ISLAM ROSIDIN ROSIDIN
Piwulang: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 2, No 2 (2020): edisi MARET
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/piwulang.v2i2.369

Abstract

The crises and problems in Islamic education theories and practices can be solved through the thought of contemporary Islamic education experts. This paper examines Sa’id Isma’il ‘Ali’s thoughts on the Fundamentals of Islamic Education from an epistemological perspective involving three academic problems: sources, objects and methods of Islamic education. The contributions of the Formulation of Sa’id Isma’il ‘Ali’s thoughts on the Fundamentals of Islamic Education adopts the reasoning method of Islamic Law (Fiqh) and Islamic Jurisprudence (Usul al-Fiqh) scholars. More comprehensive than the ideas of other thinkers who tend to be general, i.e. the Qur’an and al-Sunnah. In terms of sources, the Fundamentals of Islamic Education are divine (Ilahi) and humane (Bashari). In terms of objects, the Fundamentals of Education aims to realize the content of the Holy Qur’an specifically and the teachings of Islam generally. In terms of methods, the Fundamentals of Islamic Education involves empirical, logical and intuitive methods.ABSTRAKKrisis dan problem yang mendera pendidikan Islam dapat dicarikan alternatif solusinya melalui kajian pemikiran pakar pendidikan Islam kontemporer. Tulisan ini menelaah pemikiran Sa’id Isma’il ‘Ali tentang Dasar-Dasar Pendidikan Islam dari perspektif epistemologis yang melibatkan tiga rumusan masalah: sumber, objek dan metode pendidikan Islam. Adapun kontribusi keilmuan Sa’id Isma’il ‘Ali tentang Dasar-Dasar Pendidikan Islam mengadopsi metode panalaran ulama Fikih dan Ushul Fikih. lebih komprehensif dibandingkan gagasan para pemikir lain yang cenderung general, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari segi sumber, Dasar-Dasar Pendidikan Islam bersifat Ilahi (ketuhanan) dan Basyari (kemanusiaan). Dari segi objek, Dasar-Dasar Pendidikan bertujuan merealisasikan isi kandungan al-Qur’an secara khusus dan ajaran Islam secara umum. Dari segi metode, Dasar-Dasar Pendidikan Islam melibatkan metode empiris, logis dan intuitif.
SIRAH NABAWIYAH DALAM PERSPEKTIF TEORI KEBUTUHAN VERSI DAVID McCLELLAND Rosidin Rosidin
Ta`Limuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2015): edisi MARET
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.798 KB) | DOI: 10.32478/ta.v4i1.112

Abstract

Modern technology causes narrowing job opportunities. Condition today, requires creative individuals. Facts show the Prophet as a figure who successfully breaks through the world of work in the midst of all limited. theory of needs was initiated by David McClelland contains three requirements, (the Need for Achievement / N-Ach), (the Need for Affiliation / N-affil) (the Need for Power / N-Pow). Associated with sira Nabawiyah: 1) How the values of N-Ach, N-affil and N-Paw in sirah nabawiyah ?; 2) How is the manifestation of the values of N-Ach, N-affil and N-Pow 'Nabawiyah' in the present context ?; 3) How does character education values of N-Ach, N-affil and N-Pow 'Nabawiyah' in the present context? The results of research were obtained: 1) The values of N-Ach in sirah nabawiyah include prophetic morals at the level of the pre , processes and post-employment; N-affil include prophetic character in the context of a social conscience, obey the norm and give priority to cooperation; whereas N-Pow include related prophetic morals personality and leadership; 2) In the present context, the value of N-Ach, N-affil and N-Pow 'Nabawiyah' includes ethos pious, scientific ethos, ethics and ethos amaliah akhlakiah; 3) Education character N-Ach, N-affil and N-Pow 'Nabawiyah' in the present context is held through educational methods prophetic in three stages: Moral Feeling, Knowing and Moral Moral Moral Doing-Being; with accompanying educational principle in the form of reward-punishment, harmonious relations, interest-talent, edu-tainment, democratization and tiered.
QUR’ANIC SELF-DIRECTED LEARNING Rosidin Rosidin
Ta`Limuna: Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 2 (2015): edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.278 KB) | DOI: 10.32478/ta.v4i2.118

Abstract

Contemporary education has new paradigms, lifelong education and learning how to learn. To realize the two both paradigms, it is necessary to educate students in order to become self-directed learners. A self-directed learner has high capacity of Self-Directed Learning that contains self-teaching and personal autonomy. One side, self-teaching ability reduces his dependences to educators; other side personal autonomy ability increases his self-directed to learn. This article proposes alternative ideas of Self-Directed Learning, particularly on education methods to develop and capacity training of Self-Directed Learning in the perspective of education exegesis (tafsîr tarbawî) with al- Qur’an as the primer resource and of course evolved secondary resources, books of exegesis (kutub tafsîr) with some additional relevant literatures.
Sumber Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an: Tafsir Tarbawi Term Tarbiyyah dan Ta’lim Rosidin Rosidin
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 6, No 2 (2021): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/misykat.v6n2.61-98

Abstract

Artikel ini bertujuan memformulasikan sumber pendidikan Islam melalui implementasi metode tafsir tarbawi tematis yang ditujukan pada ayat-ayat yang memuat term Rabb dan derivasinya sebagai representasi pendidikan Islam dalam konteks tarbiyyah; dan ayat-ayat yang memuat term „Allama dan derivasinya sebagai representasi pendidikan Islam dalam konteks ta‟lim. Ada tiga temuan artikel ini. Pertama, dari 977 term Rabb dan derivasinya dalam Al-Qur‟an, 972 term menunjuk Allah Swt sebagai sumber pendidikan; dan 5 term menunjuk manusia sebagai sumber pendidikan. Sedangkan dari 41 term „Allama dan derivasinya, 24 ayat menunjuk Allah Swt sebagai sumber pendidikan; dan 17 term menunjuk makhluk selain Allah Swt sebagai sumber pendidikan, terutama manusia. Kedua, sumber pendidikan Islam menurut perspektif Al-Qur‟an dalam konteks tarbiyyah dan ta‟lim adalah Allah Swt dan manusia. Ketiga, Allah Swt dan manusia sebagai sumber pendidikan Islam, direalisasikan melalui empat sumber ilmu pengetahuan, yaitu sumber wahyu (Al-Qur‟an dan al-Sunnah), intuisi (ilham dan inspirasi), akal (ijtihad dan penalaran), dan alat indera (terutama pendengaran dan penglihatan).  
Dialektika Andragogi Dengan Tafsir Tarbawi dan Implikasinya di Perguruan Tinggi Islam Rosidin Rosidin
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars No Seri 2 (2017): AnCoMS 2017: Buku Seri 2
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.012 KB) | DOI: 10.36835/ancoms.v0iSeri 2.82

Abstract

Abstract: Pendidikan orang dewasa (adult learning) semakin krusial di era digital yang menuntut setiap insan menjadi pembelajar mandiri (self-directed learner). Teori pendidikan orang dewasa yang paling populer di tengah masyarakat adalah andragogi, terutama versi Malcolm Knowles. Sebagai buah pemikiran yang merepresentasikan perspektif “ousider” (Barat), andragogi tidak bisa serta merta diadopsi ke dalam pendidikan Islam, karena masih perlu upaya filterisasi (tamyiz) dari perspektif “insider” (Islam) untuk memilah bagian andragogi yang relevan dan yang tidak relevan dengan konteks pendidikan Islam. Oleh sebab itu, teori andragogi versi Knowles perlu “didialogkan” dengan sumber primer pendidikan Islam, yaitu al-Qur’an, sehingga terjadi dialektika antara andragogi dengan al-Qur’an. Catatan pentingnya adalah al-Qur’an tidak hanya dijadikan sebagai justifikasi, melainkan juga dijadikan sebagai informasi awal dan kritik terhadap andragogi dalam bentuk revitalisasi, reinterpretasi dan reformulasi. Pada titik ini, tafsir tarbawi dibutuhkan sebagai representasi pandangan al-Qur’an tentang isu-isu pendidikan. Berdasarkan perspektif teoretis dialektika yang digagas Syahrur, ada lima model dialektika andragogi dan tafsir tarbawi. Pertama, dialektika internal terjadi ketika andragogi dan tafsir tarbawi saling menafikan. Kedua, dialektika eksternal terjadi ketika andragogi dan tafsir tarbawi saling melengkapi. Ketiga, dialektika berlawanan terjadi ketika andragogi dan tafsir tarbawi tidak saling bertegur-sapa. Keempat, dialektika pemikiran terjadi ketika andragogi dan tafsir tarbawi saling mendominasi berdasarkan penilaian rasional-empiris. Kelima, dialektika kejiwaan terjadi ketika andragogi dan tafsir tarbawi saling mendominasi berdasarkan penilaian etis-estetis. Selanjutnya, dialektika andragogi dan tafsir tarbawi yang masih bersifat teoretis-abstrak ini, menghasilkan gagasan keilmuan yang relevan diimplementasikan dalam praktik pendidikan di perguruan tinggi Islam yang memadukan kelebihan andragogi pada aspek epistemologis serta kelebihan tafsir tarbawi pada aspek ontologis dan aksiologis.
PESANTREN TANGGUH AS MODERATE ISLAMIC EDUCATION INSTITUTION DURING THE COVID-19 PANDEMIC Rosidin Rosidin; Syabbul Bachri; Masyithah Mardhatillah; Akhmad Nurul Kawakip; Handoko Ja’far
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 7, No 1 (2022): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.593 KB) | DOI: 10.18784/analisa.v7i1.1639

Abstract

The Covid-19 pandemic divides the attitudes of pesantren residents into three categories: very strict, very loose and moderate (tawassut). This moderate attitude is found in Pesma Al-Hikam and Pesantren Sabilurrosyad in Malang City. This article uses a qualitative approach, then analyzed from the perspective of Pierre Bourdieu’s capital theory. The purpose is to describe how the attitudes, mindset, and residents’ behavior of Pesantren Tangguh related to symbolic, cultural, social, and economic modalities, to control the pandemic crisis. The findings of this article are Pesma Al-Hikam and Pesantren Sabilurrosyad as Pesantren Tangguh are representations of moderate Islamic educational institutions during the Covid-19 pandemic in terms of Bourdieu’s capital theory. First, the nationalist-religious; adaptive and inclusive; and philosophical-rational character in terms of symbolic capital. Second, the theological view that combines destiny and endeavors harmoniously; an elastic and comparative view of Islamic law; and Sufistic behavior that combines ritual and social worship in terms of cultural capital. Third, the behaviour of pesantren residents who remain active in carrying out activities at the pesantren but are disciplined in complying with health protocols in terms of social capital. Fourth, the economic independence of the pesantren in fulfilling the needs and social assistance to the peripheral community in terms of economic capital. In summary, the residents of Pesantren Tangguh show moderate character in aspects of attitude, mindset, and behavior related to symbolic, cultural, social, and economic modalities, enabling the pesantren residents to be able to control the Covid-19 pandemic crisis well.
Literature Analysis of Tafsīr Tarbawiy (Qur’anic Educational Interpretation) from Paul Ricoeur’s Hermeneutic Perspective and Its Relevance as A Source of Islamic Education Rosidin Rosidin; Fenty Andriani
SUHUF Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v15i1.705

Abstract

This paper analyzes nine tafsīr tarbawiy (Quranic educational interpretation) literatures in Indonesia from Ricoeur’s hermeneutics perspective. There are two main research findings. First, as objective pole, tafsīr tarbawiy terminology meaning structure as Qur’anic educational interpretation written by Islamic experts for pragmatic and idealistic purposes. As subjective pole, tafsīr tarbawiy literature discussing Islamic education by quoting educational verses through the thematic interpretation (mauḍūʻī) method using various references, according to the author’s subjectivity. There are strengths and limitations of tafsīr tarbawiy literature. The strength is it opens the way for construction of tafsīr tarbawiy literature which is solutive and realistic. The limitation is its interpretation is ideological and utopian. Second, tafsīr tarbawiy literature is relevant as a source of Islamic education theory and practice since it is prepared for pragmatic purposes as a reference for tafsīr tarbawiy course, written by the Islamic education theorists and practitioners, and contains a thick discussion on issues of Islamic education, though the quality and validity are graded, based on the competence level which is the author’s appropriation.
Bina' al-Fiqh al-Hajj al-Muyassar Rosidin Rosidin; Muhammad Gufron; Mohammad Rohmanan
AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education Vol. 1 No. 1 (2020): Juli-Desember
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/ajmie.v1i1.538

Abstract

حجاج إندونيسيا معظمهم من المسنين، حيث بلغ عددهم 60٪ في عام 2018. وللأسف أن كبار السن يعاملون معاملة الحجاج الصحاح الذين ليس لهم أي موانع في القيام بمنسك الحج. مع أن لديهم جملة من الضعف الجسدي والنفسي. ولذلك، فإن الباحث يقدم بناء أحكام الحج للمسنين عن طريق الفقه المقارن للمذاهب الأربعة ونظرية المعرفة للقضايا الفقهية المعاصرة التي أعلنها جاسر عودة و التي تقوم على ثلاثة مبادئ رئيسة و هي: المصلحة و التيسير و التعبد. و في إطار تطبيق ذلك، قسم الباحث أحكام الحج إلى قسمين: أحكام واقعية وهي التي تكون ثابتة على مر الزمن؛ و أحكام موضوعية وهي التي تكون متغيرة في الأزمنة و الأحوال. كما قسمها إلى قسمين: أحكام تعبّدية وهي التي أغلقت مجال الاجتهاد و أحكام تعقلية و هي التي تتيح مجالا للاجتهاد. أما الأول من القسمين، فقد اختار الباحث أيسر الآراء من بين المذاهب الأربعة. و أما الثاني منهما، فقد بنى الباحث رأيه بناء على مقاصد الشريعة الإسلامية لينتج المصلحة و التيسير للحجاج كبار السن.