Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

IDENTIFIKASI FENOMENA FISIK JIG SEPARATION PROCESS REAKTOR KONTINU Alin Adlina; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614//jtl.2010.16.1.4

Abstract

Abstrak : Pemisahan limbah plastik yang efektif dinilai penting karena dengan menggunakan jenis resin limbah plastik yang bersih, homogen dapat dihasilkan produk daur ulang yang tertinggi. Masalah homogenitas ini umum dihadapi oleh pendaur ulang di Indonesia, sehingga pihak pendaur ulang umumnya melakukan pemilahan secara manual (hand sorting). Jig Separation Process adalah salah satu teknik pemisahan material berdasarkan perbedaan densitas melalui pemulsaan vertikal. Beberapa fenomena yang terjadi dalam reaktor kontinu Jig Separation Process di antaranya adalah adanya perbedaan perpindahan hidrolis massa fluida dan perpindahan massa solid plastik (mass flux), di mana peningkatan mass flux sebanding dengan peningkatan akumulasi massa plastik dan homogenitas plastik. Peningkatan waktu jigging sebanding dengan peningkatan akumulasi massa plastik dan homogenitas plastik. Ukuran cacahan plastik besar cenderung tertinggal pada zona jig dan tidak terpisah menuju zona lain, dan ukuran cacahan terkecil menunjukkan perilaku berbeda dibandingkan dengan ukuran cacahan lain. Homogenitas tertinggi untuk PS pada zona 3 dan PET pada zona 2 secara umum dalam uji coba dicapai pada waktu jigging 10 menit, debit 0,000456 m3/s, dan ukuran cacahan 12,7 mm. Perbandingan besaran amplitudo dan debit aliran horizontal mempengaruhi pola pertambahan mass flux. Beberapa permasalahan teknis teridentifikasi yaitu akumulasi 33,58%ABS, 62,1%PET umpan tertahan tegangan permukaan air pada zona jig, akumulasi  18,91%PS dan 26,03%PET umpan di zona  transisi.
PEMANFAATAN LIMBAH SPENT CATALYST SEBAGAI CAMPURAN PAVING BLOCK DAN BATAKO Desak Nyoman Inten Apriani; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.2.4

Abstract

Abstrak: Dewasa ini, kegiatan perindustrian di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat, terutama industri minyak dan gas bumi. Hal ini berdampak pada meningkatnya limbah B3 yang memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang ke landfilll. Salah satu limbah B3 yang banyak dihasilkan adalah limbah spent catalyst yang berasal dari hasil proses perengkahan hidrokarbon yang mencapai sedikitnya 17 ton per hari. Pengelolaan limbah B3 di Indonesia merujuk pada PP No. 18/2009 jo PP No.85/1999 tentang  Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Salah satu langkah pengelolaan itu adalah dengan cara solidifikasi, yaitu pengubahan karakteristik fisik-kimia pada limbah B3 dengan penambahan senyawa pengikat (aditif) sehingga pergerakan logam berat dapat dihambat. Analisis karakteristik awal dilakukan terhadap limbah spent catalyst untuk mengetahui kadar total logam berat dan kadar oksida logam yang terdapat dalam limbah. Dari pemeriksaan karakteristik fisik-kimia tersebut, didapat hasil bahwa limbah spent catalyst dapat digunakan sebagai pengganti binder dalam pelaksanaan campuran solidifikasi ini. Kandungan logam berat yang terdapat dalam limbah juga telah memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh Bapedal No. 03/1995. Pada penelitian ini juga terdapat analisis ekonomi untuk menilai kelayakan benda uji selain dari segi teknik, dan juga analisis sensitivitas sehingga dapat diketahui harga produksi setiap variasi dan faktor apa saja yang mempengaruhi harga produksi tersebut apabila harga bahan baku material mengalami peningkatan.Kata kunci: analisis ekonomi, kuat tekan, paving block, solidifikasi, spent catalyst.Abstract : Nowadays, industrial activity in Indonesia has increased along with the increasing needs from society, especially in oil and gas industry. This has resulted in the increasing of B3 waste that require further processing before being discharged into landfill. One of the hazardous waste produced in oil and gas industry is spent catalyst waste from the hydrocarbon cracking process that reached at least 17 tons per day. Hazardous waste management in Indonesia, referring to the PP. 18/2009 jo PP No.85/1999 on the Management of Hazardous and Toxic Waste (B3). One of the steps of hazardous waste management is solidification,which is the conversion of physical-chemical characteristics of the hazardous waste with the addition of a binder compound (additive) so that the movement of heavy metals may be inhibited. Analysis of basic characteristics are made for the spent catalyst waste to determine the total concentration levels of heavy metals and metal oxides contained in waste. From the examination of physical-chemical characteristics, the result is that the waste spent catalyst can be used as binder subtitute and fine aggregate mixture in the implementation of this solidification. The content of heavy metals contained in the waste also has to meet quality standards set by Bapedal No. 03/1995. In this research, other than in terms of technique, there are also economic analysis to acknowledge the feasibility of the specimen, as well as sensitivity analysis so that it can be seen every variation's production rates and what factors affect the price of production if prices of raw materials increased.  Key words: compressive strength, economic analysis, paving blocks, solidification,spent catalyst
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPERCAYAAN MASYARKAT TERHADAP PEMILAHAN SAMPAH Prima Puspita Sari; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.2.9

Abstract

 Abstrak: Pemilahan sampah memegang peranan penting dalam pengelolaan persampahan. Partisipasi masyarakat sebagai penghasil sampah sangat diperlukan agar program pengelolaan sampah dapat berjalan efektif. Memahami apa yang memotivasi orang untuk memilah sampah dan apa yang menghambat mereka dari melakukannya adalah langkah pertama menuju peningkatan partisipasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemilahan sampah dan dampaknya terhadap kesediaan masyarakat pada kegiatan pemilahan sampah. Penelitian dilakukan pada masyarakat di lima wilayah di Kota Bandung. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner dibagikan ke 217 responden di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat untuk memilah sampah sangat kurang. Perilaku memilah sampah mempengaruhi persepsi responden terhadap tingkat kesulitan memilah sampah. Bagi responden yang tidak memilah, kesulitan memilah sampah adalah suatu persepsi negatif. Tingkat kepercayaan responden terhadap terlaksananya pemilahan sampah di lingkungan tempat tinggal mereka cenderung positif. Namun, terdapat persepsi negatif mengenai tingkat kepercayaan pada responden yang sampahnya tidak diangkut oleh petugas. Sarana dan prasarana yang tidak memadai mempengaruhi turunnya kepercayaan responden terhadap terlaksananya kegiatan pemilahan sampah. Kesediaan responden terhadap kegiatan pemilahan sampah dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan. Namun, sarana dan prasarana yang tidak memadai   mempengaruhi   kesediaan   responden   untuk   menyediakan   wadah   terpisah.   Responden   yang menganggap sarana dan  prasarana sebagai  kendala lebih tidak bersedia menyediakan wadah terpisah dan cenderung tidak percaya terhadap terlaksananya kegiatan pemilahan sampah.
ANALISA PENGELOLAAN SAMPAH MAKANAN DI KOTA BANDUNG Gladys Brigita; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.4

Abstract

Abstrak : Komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik yang berasal dari sampah sisa makanan, sementara pengelolaan sampah jenis  ini  telah  mendapatkan perhatian khusus di  beberapa negara  lain  seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Inggris, di Indonesia pengelolaan sampah organic masih dititikberatkan pada metode landfilling. Dengan mengambil kota Bandung sebagai lokasi penelitian, penelitian mengenai sampah makanan ini dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran timbulan dan komposisi sampah sebagai data primer serta pengumpulan data sekunder dengan tujuan untuk melakukan kajian dan analisa pengelolaan sampah makanan di Kota Bandung. Dengan mengambil titik sampel dalam 7 kategori (food court, RM padang, RM Sunda, hotel, PKL, RM siap saji, kafe), penelitian dilakukan sejak bulan april "“ juni 2013. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah timbulan sampah sisa makanan sebesar 0,23 "“ 2 liter/orang/hari dengan komposisi sebanyak 73% merupakan sampah organik. Permasalahan teknis yang dihadapi dalam pengelolaan sampah sisa makanan adalah kurangnya kesadaran pemerintah dalam menyediakan fasilitas pengolahan sampah makanan secara khusus dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan.
PENGARUH INTEGRASI SEKTOR FORMAL DAN SEKTOR INFORMAL TERHADAP PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN SAMPAH DI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARA Althariq Febrino; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.4

Abstract

Abstrak: Proses pengelolaan persampahan Kota Bandung masih bersifat parsial, dimana sektor formal belum mengoptimalkan peran serta sektor informal. Di satu sisi, sektor informal berpotensi sebagai kontributor dalam mereduksi timbulan sampah di tempat penampungan sementara (TPS/TPS 3R/SPA) melalui pemanfaatan sampah bernilai ekonomis (material recovery). Di sisi lain, PD Kebersihan belum menunjukkan kinerja yang optimal selaku sektor formal dalam konteks pengolahan dan pemanfaatan sampah di TPS/TPS 3R/SPA. Kondisi ini menjadi peluang bagi pengintegrasian kedua sektor tersebut untuk mengoptimalkan pengolahan dan pemanfaatan sampah, sehingga berimplikasi positif terhadap aspek teknis, aspek ekonomi, aspek kelembagaan, dan aspek sosial pengelolaan persampahan baik secara spesifik di TPS/TPS 3R/SPA maupun secara general di level kota. Material recovery rate sektor informal ditelusuri dengan menggunakan pendekatan material flow method, sedangkan kinerja PD Kebersihan ditelaah melalui penggunaan teori kegagalan pasar dan kegagalan pemerintah yang diaplikasikan sebagai konsep identifikasi persoalan kebijakan dalam kajian kelembagaan. Diskenariokan empat alternatif pengintegrasian untuk disimulasikan pada setiap lokasi studi, yang berimplikasi terhadap aspek teknis berupa reduksi sampah mencapai 1,35% - 8,05%; aspek ekonomi berupa peningkatan pendapatan sektor informal (pemulung) antara 2,41% - 106,63% dan sektor formal (PD Kebersihan) sebesar Rp 771.145,50 "“ Rp 74.250.000 per bulan; aspek kelembagaan berupa aktivitas pengolahan dan pemanfaatan sampah yang terorganisir; dan aspek sosial berupa berkurangnya stigma negatif terhadap keberadaan sektor informal. Benefit Cost Ratio (BCR) diterapkan sebagai analisis pendukung dalam memilih alternatif pengintegrasian yang layak (nilai BCR >1) untuk diaplikasikan secara spesifik per lokasi studi. Kata kunci: sektor formal, sektor informal, integrasi, teori kegagalan pasar dan kegagalan pemerintah Abstract: Solid waste management in Bandung is partially managed, which the formal sector has not optimized the informal one. On one side, informal sector has a role aspotential contributor in reducing solid waste generation especially at transfer station (TPS/TPS 3R/SPA) through material recovery (recycling) activity. On the other hand, PD Kebersihan as formal sector has not shown optimal performance in the contexts of solid waste treatment at TPS/TPS 3R/SPA. This situation become an opportunity for integrating both formal and informal sector in order to optimize solid waste treatment which generate positive impact to technical, economic, instituional, and also social aspects in solid waste management. Material recovery rate which is conducted by informal sector is analyzed by using material flow method approachment, whereas PD Kebersihan performance is elaborated by using market and government failure theory as institutional policy identification concept. There are four integration alternative scenarios to be simulated at each study area, which which has implication on technical aspects such as solid waste reduction  for about 1.35% - 8.05%; economic aspects in the form of revenue increasing of informal sector (scavengers) between 2.41%-106.63% and formal sector (PD Kebersihan) in the amount of Rp 771,145.50"“Rp 74,250,000 per month; institutional aspects which is represented by well organized of solid waste treatment activity; and social aspects such as the reduction of negative stigma against the existence of the informal sector. Benefit Cost Ratio (BCR) is applied as supporting analysis in order to choose feasible alternative of integration (BCR results>1)to be implemented specifically at study area. Keywords: formal sector, informal sector, integration, market failure and government failure theory
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKONOMI DAN KEPENDUDUKAN TERHADAP TIMBULAN SAMPAH DI IBU KOTA PROVINSI JAWA DAN SUMATERA Gita Prajati; Tri Padmi; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.1.5

Abstract

Abstrak: Pertumbuhan penduduk, industrialisasi, urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi limbah padat perkotaan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola-pola lokal terkait perkembangan persampahan di Jawa dan Sumatera, menganalisis hubungan antara  variabel ekonomis dan demografi terhadap timbulan sampah, serta proyeksi timbulan sampah menggunakan uji model di pusat-pusat pertumbuhan. Penelitian ini melakukan analisis klaster, kuadran dan tipologi klassen untuk mengetahui pola karakteristik dan timbulan di Jawa dan Sumatera. Kemudian dilakukan analisis hubungan antara variabel demografi dan ekonomi terhadap timbulan sampah dan uji model Daskalopoulus, Khajuria serta pengembangan model Khajuria. Berdasarkan hasil analisis klaster, kuadran dan klasen typology diperoleh tiga pola timbulan di ibu kota provinsi Jawa dan Sumatera. Hasil analisis hubungan variable menunjukkan bahwa indeks harga konsumen, jumlah penduduk dan PDRB mempengaruhi timbulan sampah. Hasil uji coba model Daskalopoulos menunjukkan timbulan sampah di Jawa dan Sumatera dapat dijelaskan sebesar 33,7% oleh indeks harga konsumen per kategori. Hasil uji coba model Khajuria menunjukkan timbulan sampah di Jawa dan Sumatera dapat dijelaskan sebesar 42,5% oleh jumlah penduduk, PDRB, dan lama sekolah. Hasil uji pengembangan model Khajuria menunjukkan timbulan sampah di Jawa dan Sumatera dapat dijelaskan oleh jumlah penduduk, PDRB, lama sekolah, angka melek huruf, kepadatan penduduk dan pertumbuhan ekonomi sebesar 65,6%. Proyeksi timbulan sampah dilakukan menggunakan pengembangan model Khajuria dan persamaan diskriminan. Hasil proyeksi timbulan sampah menunjukkan bahwa kota Pangkalpinang dan Tanjungpinang merupakan kota dengan timbulan sampah tertinggi per lima tahun ke depan. Biaya pengelolaan sampah yang dibutuhkan oleh kedua kota tersebut cukup besar, yaitu di atas 0,8% dari PDRB.Kata kunci: timbulan sampah, uji model, proyeksi, PDRBAbstract: Population growth, industrialization, urbanization and economic growth increasing municipal solid waste. The purposes of this study were to identify patterns associated local waste development in Java and Sumatra, to analyze the relationship between economic and demographic variable to waste generation and to do the projection of waste generation using test models. Cluster, quadrant and Tipologi klassen analysis was done to determine the pattern of characteristics and waste generation in Java and Sumatra. Then analyzed the relationship between economic and demographic variables against waste generation and also performed Daskalopoulus, kahjuria and development of Khajuria model test. Based on cluster, quadrant and tipologi klassen analysis, there are three patterns of waste generation in Java and Sumatera. Population, consumer price index and GDP indicate the amount of waste generations. The test result of Daskalopoulos model was waste generation in Java and Sumatra can be explained 33.7% by consumption expenditure per category. The test result of Khajuria model was waste generation in Java and Sumatra can be explained 42.5% by total population, GDP, and school's period. The development of Khajuria model showed that waste generation in Java and Sumatra can be explained 65.6% by total population, GDP, school's period, literacy, economic growth and population density. Waste generations projected by the development of Khajuria model. Waste generation's projection showed that Tanjungpinang and Pangkalpinang are cities with the highest waste generation in per five years. The cost that is spent for waste management also bigger in these city, above 0.8% from the GDP. Keywords: Waste generation, test model, projection, GDP
PENENTUAN TEKNOLOGI SANITASI DI KAWASAN SPESIFIK DAERAH KERING (STUDI KASUS DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NTT) Samahatud Durriyyah; Prayatni Soewondo; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.9

Abstract

Abstrak: Salah satu wilayah spesifik yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah adalah wilayah spesifik dengan kondisi Iklim semi arid, dimana curah hujan rendah dan potensial evapotranspirasi yang tinggi menyebabkan wilayah NTT khususnya Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki permasalahan penyediaan fasilitas sanitasi, terutama dalam infrastruktur air buangan domestik. Penelitian ini ingin mengetahui keadaan kapasitas masyarakat dan faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan teknologi sanitasi air buangan sehingga dapat ditentukan teknologi yang sesuai. Beberapa faktor kapasitas yang dikaji meliputi faktor institusi, ekonomi, lingkungan, teknis, dan sosial-budaya. Untuk mengetahui hal ini, dilakukan pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi lapangan. Selanjutnya dianalisis secara deskriptif, crostab, dan analisis Analytical Hierarcy Proscess (AHP) untuk menentukan prioritas faktor dan sub faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sanitasi sehingga didapatkan teknologi sanitasi yang paling cocok. Dari analisis deskriptif didapatkan hasil bahwa 50% responden tidak memiliki fasilitas sanitasi dan melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di kebun dan bersih diri menggunakan serasah daun. Dari analisis crostab dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan penghasilan terhadap kepemilikan WC, cara bersih diri, dan penerimaan terhadap teknologi yang ditawarkan. Dari analisis kuesioner ahli dengan analisis AHP yang memberikan hasil bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan teknologi sanitasi adalah faktor teknis dan teknologi yang paling tepat untuk masyarakat daerah spesifik lahan kering adalah cubluk, cubluk kembar, dan ecosan. Dari hasil keseluruhan analisis didapatkan rekomendasi teknologi sanitasi untuk daerah kering adalah cubluk satu lubang dengan sistem kering.   Kata kunci: Analisis kapasitas masyarakat, kawasan spesifik daerah kering, teknologi sanitasi Abstract : One of the specific areas that have received less attention from the government is a specific area with a semi-arid climate conditions, where low rainfall and high evapotranspiration potential causes NTT especially Southwest Sumba Regency has a problem providing sanitation  facilities, especially in the domestic waste water infrastructure. Therefore in this study wanted to know the state of the capacity of communities and the factors that affect the sustainability of the waste water sanitation technologies that can be determined in accordance with regional technology studies. Some of the factors that capacity factors examined include institutional, economic, environmental, technical, and socio "“ cultural. To know this, do data collection using questionnaires and field observations. Next, will be analyzed by descriptive, crostab, and Analytical Hierarcy Proscess (AHP) to determine the priority factors and sub- factors that affect the sustainability of sanitation to obtain the most suitable sanitation technologies from the descriptive analysis showed that 50 % of respondents do not have sanitation facilities and conduct defecation gratuitous (BABS) in the garden and clean themselves using leaf litter. Crostab analysis can be seen that there is a relationship between level of education and income against WC ownership, how to clean themselves, and acceptance of the technology offered.  AHP analysis which provides results that the most influential factor in the choice of sanitation technology is a technical factor. But the results of advice most appropriate technology for a specific area of dryland communities is cubluk, cubluk twin, and ecosan. From the overall results of the analysis obtained on sanitation technologies for arid areas is cubluk  one hole with dry system. Key words: community capacity analisys, specific dry areas, sanitation technology
KAJIAN DAMPAK PENAMBANGAN TIMAH INKONVENSIONAL TERHADAP LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT (STUDI KASUS: KABUPATEN BANGKA BARAT PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG) Fahrika Erwana; Kania Dewi; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.2.4

Abstract

Abstrak: Penelitian ini merupakan pengukuran dan evaluasi terhadap dampak penambangan timah inkonvensional terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, maupun terjadinya kerusakan lingkungan akibat penambangan timah di Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung. Data penelitian diperoleh dari kuesioner, observasi dan penelusuran pustaka.  Pada penelitian ini akan dilakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner, serta penilaian awareness dan persepsi masyarakat. Selain itu akan dilakukan analisis jalur untuk melihat pengaruh variabel terhadap persepsi dampak sosial, ekonomi dan lingkungan. Penelitian melibatkan 400 responden yang dipilih secara acak di 2 kecamatan di Kabupaten Bangka Barat yaitu Kecamatan Mentok dan Kecamatan Jebus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambangan timah inkonvensional memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan kondisi sosial masyarakat, namun memberikan dampak positif terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Berdasarkan analisis jalur, variabel awareness, kesediaan berpartisipasi, ekspektasi dan dukungan terhadap penambangan timah inkonvensional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persepsi dampak sosial, ekonomi dan lingkungan. Kata kunci: pertambangan timah inkonvensional, validitas dan reliabilitas, analisis jalur Abtract: This study is a measurement and evaluation of the impact of unconventional tin mining on the social and economic conditions, as well as the environmental damage caused by tin mining in the district of West Bangka of Bangka Belitung province. Data were obtained from questionnaires, observation, and literature review. Firstly, questionnaire need to be tested its validity and reliability before continued to assess awareness and perception. In addition there will be path analysis to observe the influene of variables to perception of social, economic and environment impacts. The study involved 400 randomly selectced respondents in the tw osub districts in the District of West Bangka, they are Mentok and Jebus. Observation result showed that the unconventional tin mining gives negative impact on the environment and social conditions, but it gives a positive impact on the economic conditions. Based on path analysis, variables of awareness, participation, expectation and support unconventional tin mining have significant effect to perception of social, economic and environment impacts. Keywords:  Unconventional tin mining, validity, reliability, path analysis
FENOMENA DEGRADASI SAMPAH ORGANIK TERHADAP STABILITAS TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) Fildzah Raudina Mujaddidah; Benno Rahardyan; Enri Damanhuri; Febrian Hadinata
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 23 No. 1 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.1.8

Abstract

Abstrak: Sampah merupakan permasalahan utama di Indonesia dengan persentase pengolahan sampah sebesar 10.09% dan sisanya langsung ditimbun di TPA tanpa ada pengolahan. Sekitar 50%-70% komposisi sampah di Indonesia terdiri dari sampah organik yang mengalami degradasi seiring berjalannya waktu, dimana proses degradasi tersebut mempengaruhi kesetimbangan karbon di sampah yang merupakan unsur utama dalam sampah organik. Proses degradasi sampah sendiri dapat membentuk lindi, gas (CH4 dan CO2), atau tetap dalam sampah sendiri. Degradasi sampah akan merubah densitas sampah pada timbulan, sehingga mempengaruhi faktor keselamatan dari timbulan. Degradasi sampah secara anaerobik tidak menghasilkan gas, sehingga kemungkinan besar gas CO2 yang seharunya terbentuk cenderung berubah menjadi asam yang terdapat pada lindi karena pH lindi bersifat asam dengan rentang pH 2,02 -4,56 dan nilai DHL yang terus meningkat 2,505 "“ 30,6 mS/cm.  Semakin kecil void ratio dan tekanan pori sampah, maka semakin besar kontak mikroorganisme di sampah yang dapat mempercepat proses degradasi sampah, dimana proses degradasi ini penurunan karakteristik fisik ini dipengaruhi oleh sirkulasi lindi. Faktor keamaan sampah tanpa kompaksi memiliki rentan antara 1,43 "“ 1,91 dengan rata-rata faktor keamaanan 1,685, Faktor keamaan terkompaksi memiliki rentan faktor keamaan 1,26 - 1,93 dengan rata-rata faktor keamanan 1,535, kedua perlakuan secara rata-rata faktor keamanan sampah terkompaksi melewati standar TPA sementara dan permanen. Kata kunci: densitas, faktor keselamatan, kesetimbangan massa karbon, sampah organik Abstract: Solid waste is one of the major problems in Indonesia. The percentage of processed waste is only 10,09, and the rest of it is dumped in the landfill without any treatment. Approximately 50%-70 %  of waste composition in Indonesia is organic waste that can be degraded easily over time. The degradation process affects the carbon mass balance. Organic waste degradation can form leachate, biogas(CH4 and CO2), and solid. Degradation process will change its density and it affects landfill stability, especially its safety factor. The anaerobic organic waste degradation in this study does not produce gas, the CO2 gas that is supposed to be formed tends to turn into acid contained in leachate. It is this that causes acidic pH leach with a pH range of 2,02 to 4,56 and an increasing EC value of 2,505 "“ 30,6 mS / cm. Organic waste degradation affects the its physical changes by changes in decreasing void ratios and pore pressures, as well as increasing density. The smaller the void ratio and higher the pore pressure, the greater the contact of microorganisms in the waste surcafe that can accelerate the process of degradation declined in physical characteristics influenced by leachate circulation. It also affect it SF. The uncompacted waste SF is between 1,43-1,91 and its average is 1, 685. Uncompacted waste SF  is  safe in the temporary and permanent landfill. The compacted waste SF is between  1,26 - 1,93 and its average is 1,535, although some points are below the standard for the temporary landfill and 5 points below the permanent lanfill standard. However, on average, compacted waste SF is safe for temporary and permanent landfill standards. Keywords: density, carbon mass balance, organic waste, safety factor 
ANALISIS FAKTOR PENANGANAN DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI JATINANGOR Muhammad Hafizh Khoeroni; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.7

Abstract

Abstrak: Kawasan Jatinangor yang termasuk ke dalam kawasan Cekungan Bandung dan tergolong sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) menuntut pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai sentral kawasan pendidikan tinggi dan perumahan. Empat instansi pendidikan tinggi yang terdapat di kawasan ini yang menyebabkan berdatangannya para pendatang mahasiswa sekurangnya 30 ribu jiwa yang akan berdomisili beberapa tahun di Kecamatan ini. Jika diasumsikan 70% dari total populasi pendatang tersebut bertempat tinggal di Jatinangor yang mana pendatang tersebut memiliki tingkat konsumsi tinggi, ditambah dengan predikat Jatinangor sebagai kecamatan terpadat di kabuxpaten Sumedang maka akan mengakibatkan tingkat produktivitas sampah yang meningkat pesat dan diikuti dengan perubahan karakteristik sampah yang dihasilkan. Akibatnya sampah menjadi surplus dan tidak terkelola dengan baik akibat keterbatasan SDM dan sistem pengelolaan yang sederhana. Pada riset akan diukur tingkat pernanganan sampah oleh masyarakat di Jatinangor di 3 kawasan yaitu Hegarmanah, Cintamulya, dan Jatiroke yang ditinjau melalui 5 variabel (keadaan masyrakat, sarana prasarana, pembiayaan, peran pemerintah, dan kelembagaan. Pada kawasan Hegarmanah mendapatkan skor akhir 0,2/1 dan Cintamulya 0,25/1 yang memberikan predikat "Kurang Baik" pada kedua kawasan tersebut. Sementara kawasan Jatiroke bernilai -0,12/-1 yang memberikan predikat "Buruk" dan perlu penanganan lebih lanjut. Secara rerata Jatinangor memiliki nilai 0,1/1 dan mengindikasikan perlunya perbaiikan penanganan sampah oleh masyarakatnya. Selain itu juga diukur tingkat preferensi masyarakat di Jatinangor yang memberikan skor akhir 0,64/1 yang memberikan predikat baik pada tingkat preferensi masyarakat. Didalam penelitian ini akan diungkapkan faktor apa saja yang melatarbelakangi tingkat preferensi masyarakat tersebut berdasarkan buruknya tingkat penanganan sampah di masyarakat pada 3 kawasan tersebut menggunakan analisis faktor dengan metode PCA (Principal Component Analysis) dan regresi multilinear yang menghasilkan 7 dari 13 faktor kelompok variabel penanganan sampah yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Serta melalui analisis klaster preferensi masyarakat yang teridentifikasi 2 klaster (rendah & tingi) dengan dominasi 1 faktor kelemahan dan 2 faktor kekuatan pada kedua klaster. Kata kunci: analisis faktor, Jatinangor, PCA, preferensi masyarakat.Abstract: Jatinangor area which belongs to Bandung Basin area and classified as National Strategic Area (KSN) demands government to make the area as central of college and housing area. Four college institutions in this area resulted in the arrival of the student migrants at least 30 thousand inhabitants who will be domiciled for several years in this district. In addition, If it is assumed that 70% of the total migrant population live in Jatinangor where the migrants have a lifestyle with a high consumption level, and Jatinangor as the densest subdistrict in Sumedang district will result in a level of waste productivity that increases rapidly and followed by changes in the characteristics of waste generated. The research will measure the level of garbage handling by the people in Jatinangor in 3 regions, namely Hegarmanah, Cintamulya, and Jatiroke which are reviewed through 5 variables (community conditions, infrastructure, funding, government roles, and institutions. In the Hegarmanah region the final score is 0.2 / 1 and Cintamulya 0.25 / 1 which give the title of "Poor" in the two regions. While the Jatiroke area is worth -0.12 / -1 which gives the title "Bad" and needs further handling. On average, Jatinangor has a value of 0 1/1 and indicates the need to improve the handling of waste by the community. This research also measured the level of preference of the people in Jatinangor. In this study, what factors will lie behind the level of community preference based on the poor level of waste management in the 3 regions using factor analysis using the PCA (Principal Component Analysis) method and multilinear regression which produces 7 of the 13 variable group factors that handle waste. significant effect on the level of people's preference. And through community preference cluster analysis that identified 2 clusters (low & high) with a predominance of 1 weakness factor and 2 strength factors in both clusters. Keywords: community's preference, factor analysis, Jatinangor, PCA.