Claim Missing Document
Check
Articles

Pencegahan Pencoklatan Umbi Ubi jalar Untuk Pembuatan Tepung: Pengaruh Kombinasi Konsentrasi Asam Askrobat dan Sodium Acid Pyrophosphate Kumalaningsih, Sri; Harijono, Harijono; Amir, Y. F.
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.47 KB)

Abstract

The research was conducted to find out the best combination of  ascorbic acid and SAPP concentration to prevent browning reaction to improve the appearance of sweet potato flour. A Completely Randomized Block Design with two factors was carried out. Ascorbic acid concentration of 1.00;2.00; and 3.00% as the first factor and SAPP (sodium acid poly phosphate) concentration ( 0.001; 0.01; and 0.1%) as the second factor. Both were dissolved in boiling water containing 0.6g/L citric acid. The best result of the combination was used for making sweet potato flour. The results showed that increased concentration of either ascorbic acid or SAPP reduced the browning reaction. But there was no interaction between treatment. The highest effectivity index (5.39) was showed by the addition of 2.00% ascorbic acid and 0.1% SAPP which reduced the rate of browning reaction with an R2 = 0.7997. Conversely, untreated sliced root showed a faster browning reaction with the R2 = 0.8621 after delaying the sliced tuber for 12 hours. There was a significant difference in flour lightness. The treated   root   has    L =   79,67     and untreated root has L = 77,46.   Keyword: sweet potato flour, browning reaction, ascorbic acid, Budidaya tani
Detoxification of Yam Tuber (Dioscorea hispida Dennst.) by Limited Heating in Yam Flour Processing Harijono, Harijono; Sari, Tassa Agustriana; Martati, Erryana
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.115 KB)

Abstract

Yams is one of the tuber crops in Indonesia. Meanwhile, people still unaware to consumed it and its derivative product because of the toxic compound such as alkaloid (dioscorin) and also cyanide. For that, it is necessary to have a detoxification process so we can have any alternative products from yams which is safe to consumed, for example in the production of yams flour. Detoxification in this research using limited heating method. The limited heating in this research adopted curing method which is commonly used in several food commodity, therefore it could give optimized condition for several endogenous enzymes which contain in yams, one of the function of the enzymes is for decomposing cyanide precursor in yams. Result showed that curing time in 50ºC had significant difference on moisture content, free cyanide content in flour, free cyanide content in yams tuber after curing, starch content, total sugar, crude fiber, and color. But for pH parameter of yams tuber after curing, the result did not show any significant difference.  The best treatment based on physicochemical parameters was the yams flour using curing time of 12 hours in 50ºC.  The characteristics of that yams flour are: moisture content 6,30%, free cyanide contents 13,67 ppm, starch contents 56,42%, crude fiber 3,03%, total sugar 4,91%, rendement yield 26,74%, L* colour 72,20, a* 9,90, b* 21,07, hygroscopicity 2,57%, and gelatinization temperature of 81ºCKeyword: detoxification, yams flour, curing, endogenous enzyme
The Chemical Characteristics of Water Soluble Polysaccharides Extract from Sprouted Gembili (Dioscorea esculenta) Tuber Harijono, Harijono; Sunarharum, Wenny Bekti; Rakhmita, Isna Suci
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.759 KB)

Abstract

Gembili contains water-soluble polysaccharides (WSP) besides other components such as starch, fiber, protein, and other carbohydrate.  The suitable method should be developed to separate WSP from other components such as protein that bound tightly.  It is supposed that limited sprouting could be separate WSP more easily, due to hydrolysis of some major components in gembili tuber.  The objective of this research was to elucidate the effect of sprouting time on the characteristics of gembili WSP. This research used Completely Randomized Design with 5 levels (sprouting time of 6, 12, 18, 24, 30 days). The results showed that sprouting time affected water, amylose, crude fiber, protein content, and yield extracted WSP.  The analysis of precipitate in centrifugation to separate starch from filtrate in WSP extraction process, showed that sprouting time affected total sugars, reducing sugars, amylose, and crude fiber content of precipitates.Keywords: gembili, sprouting time, water soluble polysaccharides
Tepung Bubur Sereal Instan Metode Ekstruksi dari Sorgum dan Kecambah Kacang Tunggak (Kajian Proporsi Bahan dan Penambahan Maltodekstrin) W., Tri Dewanti; Harijono, Harijono; S., Nurma
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.33 KB)

Abstract

Breakfast cereal instan merupakan alternatif sarapan yang sudah mulai banyak penggemarnya. Sorgum dan kacang tunggak merupakan bahan pangan yang  sangat potensial untuk dikembangkan di masa mendatang. Pencampuran Sorgum dan kacang tunggak adalah untuk diversifikasi pangan sumber karbohidrat dan protein sehingga mendapatkan produk dengan komposisi gizi yang lebih baik. Permasalahannya tepung bubur sereal instan nampak kurang kental setelah ditambah air panas sehingga mengurangi sifat sensorisnya. Oleh karena itu diperlukan bahan tambahan yang dapat membantu memperbaiki tekstur bubur saat disajikan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor I yaitu proporsi sorgum dengan kacang tunggak terdiri atas 3 level (85:15; 80:20; 75:25). Faktor II adalah penambahan maltodekstrin terdiri atas 3 level (0%; 2% san 4%). Hasil penelitian menunjukan perlakuan proporsi sorgum : kacang tunggak 75 : 25% dan penambahan maltosekstrin 4% paling disukai dengan sifat sebagai berikut :  kadar air 3.26%, kadar protein 15.01%, kadar lemak 0.55%, serat kasar 4.25%, , total karbohidrat 75.74%, total energi 3764.19 kal, Indeks Absorbsi Air 17.06% dan daya serap uap air sebesar 6.63% serta memiliki nilai total rangking kesukaan rasa 144.5, kesukaan aroma 91.5 dan kesukaan kenampakan 123.   Kata kunci: bubur cereal instan, ekstruksi, sorgum dan kacang tunggak
Tepung Bubur Sereal Instan Metode Ekstruksi dari Sorgum dan Kecambah Kacang Tunggak (Kajian Proporsi Bahan dan Penambahan Maltodekstrin) W., Tri Dewanti; Harijono, Harijono; S., Nurma
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.33 KB)

Abstract

Breakfast cereal instan merupakan alternatif sarapan yang sudah mulai banyak penggemarnya. Sorgum dan kacang tunggak merupakan bahan pangan yang  sangat potensial untuk dikembangkan di masa mendatang. Pencampuran Sorgum dan kacang tunggak adalah untuk diversifikasi pangan sumber karbohidrat dan protein sehingga mendapatkan produk dengan komposisi gizi yang lebih baik. Permasalahannya tepung bubur sereal instan nampak kurang kental setelah ditambah air panas sehingga mengurangi sifat sensorisnya. Oleh karena itu diperlukan bahan tambahan yang dapat membantu memperbaiki tekstur bubur saat disajikan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor I yaitu proporsi sorgum dengan kacang tunggak terdiri atas 3 level (85:15; 80:20; 75:25). Faktor II adalah penambahan maltodekstrin terdiri atas 3 level (0%; 2% san 4%). Hasil penelitian menunjukan perlakuan proporsi sorgum : kacang tunggak 75 : 25% dan penambahan maltosekstrin 4% paling disukai dengan sifat sebagai berikut :  kadar air 3.26%, kadar protein 15.01%, kadar lemak 0.55%, serat kasar 4.25%, , total karbohidrat 75.74%, total energi 3764.19 kal, Indeks Absorbsi Air 17.06% dan daya serap uap air sebesar 6.63% serta memiliki nilai total rangking kesukaan rasa 144.5, kesukaan aroma 91.5 dan kesukaan kenampakan 123.   Kata kunci: bubur cereal instan, ekstruksi, sorgum dan kacang tunggak
Tepung Bubur Sereal Instan Metode Ekstruksi dari Sorgum dan Kecambah Kacang Tunggak (Kajian Proporsi Bahan dan Penambahan Maltodekstrin) W., Tri Dewanti; Harijono, Harijono; S., Nurma
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 3, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.33 KB)

Abstract

Breakfast cereal instan merupakan alternatif sarapan yang sudah mulai banyak penggemarnya. Sorgum dan kacang tunggak merupakan bahan pangan yang  sangat potensial untuk dikembangkan di masa mendatang. Pencampuran Sorgum dan kacang tunggak adalah untuk diversifikasi pangan sumber karbohidrat dan protein sehingga mendapatkan produk dengan komposisi gizi yang lebih baik. Permasalahannya tepung bubur sereal instan nampak kurang kental setelah ditambah air panas sehingga mengurangi sifat sensorisnya. Oleh karena itu diperlukan bahan tambahan yang dapat membantu memperbaiki tekstur bubur saat disajikan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor I yaitu proporsi sorgum dengan kacang tunggak terdiri atas 3 level (85:15; 80:20; 75:25). Faktor II adalah penambahan maltodekstrin terdiri atas 3 level (0%; 2% san 4%). Hasil penelitian menunjukan perlakuan proporsi sorgum : kacang tunggak 75 : 25% dan penambahan maltosekstrin 4% paling disukai dengan sifat sebagai berikut :  kadar air 3.26%, kadar protein 15.01%, kadar lemak 0.55%, serat kasar 4.25%, , total karbohidrat 75.74%, total energi 3764.19 kal, Indeks Absorbsi Air 17.06% dan daya serap uap air sebesar 6.63% serta memiliki nilai total rangking kesukaan rasa 144.5, kesukaan aroma 91.5 dan kesukaan kenampakan 123.   Kata kunci: bubur cereal instan, ekstruksi, sorgum dan kacang tunggak
PENGARUH ASAL BIJI KAKAO DAN LAMA CONCHING TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORI COKELAT HITAM DENGAN PENDEKATAN DISCRETE TIME INTENSITY Azhar, La Ode Muhammad Fajrul; Fibrianto, Kiki; Widyotomo, Sukrisno; Harijono, Harijono
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.404 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2018.019.01.1

Abstract

ABSTRAKKakao merupakan salah satu komoditas andalan di Indonesia. Pengolahan kakao menjadi cokelat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah kakao. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh asal biji kakao dan lama conching terhadap karakteristik sensori cokelat hitam. Cokelat dibuat dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu asal biji kakao (100% biji kakao fermentasi Jember, 100% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara, 50% biji kakao fermentasi Jember + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara, dan 50% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara) dan lama conching (4, 6, dan 8 jam). Analisa sensori dilaksanakan dengan menggunakan panelis terlatih dengan menggunakan metode discrete time intensity. Hasil analisa menunjukkan bahwa kekerasan dan kekenyalan tertinggi yaitu pada perlakuan 100% biji kakao fermentasi Jember dengan lama conching 8 jam yaitu 12.6 dan 11.9 pada detik ke-30, kekompakan tertinggi yaitu pada perlakuan 50% biji kakao fermentasi Sulawesi Tenggara + 50% biji kakao nonfermentasi Sulawesi Tenggara dengan lama conching 8 jam yaitu 12.4 pada detik ke-30 dan kelengketan yang tertinggi yaitu pada perlakuan 100% biji kakao fermentasi Jember dengan lama conching 4 jam yaitu 5.9 pada detik ke 120 ABSTRACTCocoa is one of the largest commodities in Indonesia. Processing cocoa into chocolate is a way to increase the added of cocoa value. The purpose of this study was to determine the effect of cocoa bean origin and length of conching on sensory characteristics of dark chocolate. Chocolate was made using a completely randomized block design with factorial design consisting of two factors cocoa bean origin (100% Jember fermented cocoa beans, 100% Southeast Sulawesi fermented cocoa beans, 50% Jember fermented cocoa beans + 50% Southeast Sulawesi non-fermented cocoa beans and 50% Southeast Sulawesi fermented cocoa beans + 50% Southeast Sulawesi non-fermented cocoa beans) and length of conching (4, 6, and 8 hours). Analysis sensory using trained panelist with discrete time intensity method. The analysis showed that the highest hardness and gumminess at 100% Jember fermented cocoa beans with length of conching 8 hours is 12.6 and 11.9 at 30 seconds. The highest cohesiveness at 50% fermented cocoa beans Southeast Sulawesi+ 50% non-fermented cocoa beans from Southeast Sulawesi with length of conching 8 hours is 12.4 at 30 seconds. The highest adhesiveness at 100% Jember fermented cocoa beans with length of conching 4 hours is 5.9 at 120 seconds
ISOLASI DAN KARAKTERISASI PEKTIN HIDROLASE EKSTRASELULER BAKTERI PEKTINOLITIK DALAM KLARIFIKASI JUS JERUK Widowati, Esti; Harijono, Harijono; Sutrisno, Aji
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.457 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dan mengkarakterisasi isolat bakteri pektinolitik darisampah sayuran, kulit buah jeruk dan tanah; menentukan karakter enzim pektin hidrolase ekstraseluler (pHoptimum, suhu optimum, KM dan Vmaks) dan mengetahui pengaruh enzim pektin hidrolase ekstraseluler dalamklarifikasi jus jeruk. Penelitian tahap I dilakukan isolasi dan karakterisasi bakteri dan seleksi bakteri uji.Penelitian tahap II dilakukan ekstraksi, presipitasi, dialisis dan karakterisasi enzim pektin hidrolase ekstraseluler(pH dan suhu optimum, Vmaks dan KM). Hasil seleksi isolat uji diperoleh isolat 15 hasil isolasi dari kulit buahjeruk yang dibusukkan suhu inkubasi 37°C dan isolat 19 dan 21 dari sampel kulit jeruk dicampur tanah dengansuhu inkubasi masing-masing 50°C dan 55°C. Isolat 15 berbentuk batang pendek, Gram positif, katalase positifdan motil. Isolat 15 positif uji MR-VP, positif uji Simmon`s Citrate dan tidak membentuk endospora. Isolat 19positif uji VP, negatif uji Simmon`s Citrate dan membentuk endospora dengan tipe terminal. Isolat 21 positif ujiVP, negatif uji Simmon`s Citrate dan tidak membentuk endospora. Isolat 19 diduga merupakan genus Bacillus.Enzim pektin hidrolase ekstraseluler isolat 15 memiliki pH optimum 4,0 sedangkan pH optimum enzim isolat 19dan 21 adalah 5,0. Ketiga isolat memiliki suhu optimum enzim 50 C. Nilai KM enzim isolat 15, 19 dan 21 adalah0,121; 0,126 dan 0,182 mg/ml dengan nilai Vmaks enzim isolat 15, 19 dan 21 sebesar 0,550; 0,541 dan 0,601(U/ml). Enzim isolat 15, 19 dan 21 mampu menurunkan viskositas, meningkatkan kecerahan jus melaluipeningkatan nilai transmitansi dan meningkatkan nilai total padatan terlarut pada jus jeruk dan pektin cair 1%.
Aktivitas Sitotoksik Fraksi Heksana Terung Pokak (Solanum torvum) terhadap Sel Kanker T47D Helilusiatiningsih, Nunuk; Yunianta, Yunianta; Harijono, Harijono; Widjanarko, Simon Bambang; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.4

Abstract

Terung pokak adalah tanaman dari genus Solanum yang diperkirakan memiliki sifat antikanker. Tujuan penelitian ini menganalisis kandungan dan aktivitas sitotoksik fraksi heksana terung pokak terhadap sel kanker T47D secara invitro. Uji identifikasi senyawa pada fraksi heksana terung pokak menggunakan uji kualitatif dengan penapisan fitokimia dan  (Gas Chromatography-Mass Spectometry), uji sitotoksik menggunakan metode MTT, uji siklus sel kanker T47D dan apoptosis menggunakan metode flowcytometry.  Hasil uji fitokimia menunjukkan terung pokak  mengandung alkaloid, saponin, glikosida dan steroid.  Hasil uji identifikasi kimia fraksi heksana  terung pokak menunjukkan 29 komponen yaitu asam asetat, asam propionat, 2- pentenal, 2- metilfuran, 1- penten-3-on, asam butirat, 2 -metilbutan, 2,3 butanedion, dimetil disuksipirazin, lfida, asam valerat, furfural, 3- heksanon, metional, heksanal, benzaldehid, 2-heptenal, 4- heptenal, 1,5 - octadien 3-on, 2- butilfuran, 3,5- oktadien-2- on, 1 okten-3-on, 2-pentilfuran, 2,6-nonadienal, 2- nonenal, 2- Isopropil-3-metoksipirazin, linalool, 2- isobutil metoksipirazin, dekalakton. Fraksi heksana terung pokak bersifat sitotoksik terhadap sel kanker T47D  dengan IC50 sebesar  85,58µg/mL. Fraksi heksana terung pokak dapat menghambat siklus sel T47D pada fase G0-G1 sebesar 35,84%, fase S 27,05%, fase G2-M 37,46% dari pengamatan 20.000 sel T47D . Fraksi heksana terung pokak dapat memacu apoptosis awal sebesar 28,89% dan apoptosis akhir  1,04% dari pengamatan 20.000 sel T47D.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa  fraksi heksana terung pokak bersifat sitotoksik, menghambat proliferasi dan memacu apoptosis sel T47D, sehingga layak dikembangkan  sebagai antikanker.
BERAS TIRUAN BERBASIS UBI KAYU Adelina, Fitrah; Estiasih, Teti; Widyaningsih,, Tri Dewanti; Harijono, Harijono
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.789 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2019.020.01.2

Abstract

ABSTRAKUbi kayu merupakan komoditas pangan lokal yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Kandungan pati yang tinggi memungkinkan untuk menjadikan ubi kayu sebagai pangan sumber karbohidrat alternatif pengganti beras atau disebut juga beras tiruan. Kajian pustaka ini membahas potensi ubi kayu sebagai bahan baku pembuatan beras tiruan serta mengetahui karakteristik fisik, kimia, sensori beras tiruan berbasis ubi kayu. Ubi kayu baik dalam bentuk segar, tepung (fermentasi/non fermentasi) maupun tepung komposit dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan beras tiruan. Metode yang sering digunakan yaitu metode granulasi dan ekstrusi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan beras tiruan berbasis ubi kayu dengan formula terbaik memiliki kadar karbohidrat 71.94-95.9%, mendekati nilai karbohidrat dari beras padi. Kadar serat kasar, protein, lemak, dan daya cerna pati berturut-turut yaitu 4.43-7.71%, 0.81- 6.86%, 0.19-3.51%, dan 62.4%. Para peneliti pun berhasil membuat beras tiruandengan bentuk menyerupai beras padi, dengan warna kecokelatan hingga putih, memiliki rasa dan aroma ubi kayu yang khas. Hingga saat ini, belum ada standar mutu yang menjadi acuan dalam pembuatan beras tiruan. Pemilihan bahan baku, formulasi dan metode pengolahan yang tepat diperlukan agar dapat menghasilkan beras tiruan dengan karakteristik yang baik.  ABSTRACTCassava is a local food commodity that is widely cultivated in Indonesia. High starch content of cassava makes cassava as an alternative source of carbohydrate substitute for rice or called artificial rice. This literature review discusses the potential of cassava as raw material for making artificial rice and the physical, chemical and sensory characteristics of artificial rice based on cassava. Various studies have shown that fresh cassava, cassava flour and composite flour has the potential to serve as a raw material for making artificial rice. Granulation and extrution technology are commonly used in the manufacture of artificial rice. Some of the results showed that carbohydrate content of artificial rice cassava ranged 71,94-95.9%, close to the value of truth rice. Crude fiber content, protein, fat, starch digestibility ranged from4.43-7.71%, 0.81-6.86%, 0.19-3.51% dan 62.4% respectively. The researchers also succedeed in making artificial rice with similar shape of rice grains, with a brown to white color, having a distinctive taste and aroma of cassava. Until now, there is no quality standard that is used in making artificial rice. The selection of raw materials, formulations and appropriate processing methods is required to produce artificial rice with good characteristics.