Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

HUBUNGAN SANITASI RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PACARKELING KOTA SURABAYA TAHUN 2018 Wahyuningtyas .; Umi Rahayu; Imam Thohari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 16, No 3 (2018): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v16i3.895

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia, rumah yang dihuni oleh masyarakat ternyata baru mencapai 50,79 % yang memenuhi kriteria sehat. Pemukiman di wilayah Puskesmas Pacarkeling berada di wilayah Surabaya Timur dan termasuk daerah perkotaan dengan tipe pemukiman padat. Berdasarkan survey yang telah dilakukan kondisi rumah di daerah tersebut masih saling berdempetan satu sama lain, terletak di gang-gang yang cukup sempit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sanitasi rumah dengan kejadian penyakit TBC di wilayah kerja Puskesmas Pacarkeling Kota Surabaya.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Case Control. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan pengukuran. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 rumah penderita TBC dan 42 rumah tetangga penderita TBC (sebagai kontrol). Dalam penelitian ini digunakan uji Chi-Square, untuk mengetahui adanya hubungan antar variabel. Yang menggunakan derajat kesalahan (α) = 0,05.Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan antara ventilasi (P 0,006 0,05), suhu (P 0,001 0,05), kelembaban (P 0,001 0,05), pencahayaan (P 0,001 0,05), kebiasaan membuka jendela (P 0,001 0,05), dan sanitasi rumah (P 0,000 0,05) dengan kejadian penyakit TBC di wilayah kerja Puskesmas Pacarkeling Kota Surabaya. Selain itu tidak ada hubungan antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian penyakit TBC  di wilayah kerja Puskesmas Pacarkeling Kota Surabaya (P 0,053 0,05). Sebaiknya luas ventilai 10% dari luas lantai serta penghuni rutin membuka jendela. Selain itu agar penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau pertimbangan yang terkait dengan penelitian sejenis.Kata Kunci: Sanitasi rumah, TBC
Potential of Pumpkin Flour as a Stabilizer in Reduced-Fat Mayonnaise Hemas Azizila Nidhal; Herly Evanuarini; Imam Thohari
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol. 17 No. 1 (2022)
Publisher : Faculty of Animal Science Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitek.2022.017.01.3

Abstract

Pumpkin is a local plant that contains antioxidants such as polyphenols and carotenoids. Pumpkin contains pectin which can function as a stabilizer.  Full-fat mayonnaise is a semi-solid emulsion product that has a total fat content of 70-80%, while reduced-fat mayonnaise has a fat content of 50-60%. Pumpkin flour can be applied to reduced-fat mayonnaise in terms of physicochemical quality. This research was conducted using a laboratory experimental method and a completely randomized design. The physicochemical qualities of reduced-fat mayonnaise include fiber content, fat content, viscosity, and antioxidant activity. The results of added pumpkin flour have a highly significant effect (P<0.01) on fiber content, fat content, viscosity, and antioxidant activity. The physicochemical qualities of reduced-fat mayonnaise with pumpkin flour are as follows 0.90% fiber content, 50.57% fat content, 4443 cP viscosity, and 21.03% antioxidant activity, respectively.  It can be conclude that the use of 6% yellow pumpkin flour was the best treatment for reduced-fat mayonnaise. The most types of fatty acids in the best treatment were palmitic, oleic, and linoleic acids.
KAJIAN SUHU DAN PH HIDROLISIS ENZIMATIK DENGAN PAPAIN AMOBIL TERHADAP PH, TOTAL GULA DAN WARNA KECAP CAKAR AYAM E. S Widyastuti; L. E Radiati; Imam Thohari; M. E Sawitri; K. U Al Awwaly
TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production Vol 12, No 1 (2011): Ternak Tropika
Publisher : Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.824 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui penggunaan alginat dalam amobilisasi papain, mengetahui suhu dan pH yang sesuai pada hidrolisis protein daging cakar ayam dengan papain amobil serta kualitas kecap cakar ayam (pH, total gula dan warna) yang dihasilkan. Materi penelitian adalah kecap cakar ayam dari cakar ayam broiler. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Faktor pertama adalah suhu 50°C, 60°C, 70°C dan faktor kedua adalah pH 4,5; 5,0; dan 5,5. Variabel yang diukur adalah pH, total gula, dan warna. Data dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan kisaran pH kecap cakar ayam 5,30-6,63, dan total gula 66,00%-76,00%. Kecerahan warna (L*), intensitas kemerahan (a*) dan intensitas kekuningan (b*) berturut-turut adalah 24,44-25,73; 4,16-5,80 dan 9,10-10,27. Hasil analisis ragam menunjukkan perlakuan suhu tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap intensitas kecerahan warna (L*), namun berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total gula, intensitas kemerahan (a*) dan kekuningan (b*), serta berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH. Perlakuan pH tidak berpengaruh terhadap pH, total gula, dan warna. Disimpulkan bahwa kualitas kecap cakar ayam yang dihasilkan masih sesuai dengan standar SNI terutama total gula minimal 40% dan kondisi terbaik untuk hidrolisis adalah suhu 60°C dengan pH 5,0. Alginat dapat digunakan untuk amobilisasi papain. Kata kunci: kecap cakar ayam, papain, enzim amobil The Study of Temperature and pH in Enzymatic Hydrolysis with Immobilized Papain on pH, Total Sugar and Color of Broiler Metatarsus Sauce ABSTRACT This present work aimed to study usage of alginate for papain immobilization and to know the quality of metatarsus sauce with immobilized papain. The material used in this research were metatarsus sauce that made from broiler metatarsus meat. Split Plot Design was used in the experiment. First factor is temperature variation 50°C, 60°C, 70°C and second factor is pH variation 4.5, 5.0, 5.5. The metatarsus sauce was evaluated for pH, total sugar and color. Data was analyzed with  analysis of variance. The result showed that temperature variation gave a highly significant effect (P<0.01) on pH, gave a significant effect (P<0.05) on total sugar, but didn’t give a significant effect (P>0.05) on lightness. The quality of metatarsus sauce have pH 5.30-6.63, total sugar 66.00%-76.00%, and lightness 24.44-25.73, respectively. The conclusion from this research was metatarsus sauce was met with Indonesian Standard Industry SNI 01-3543-1994 about sweet sauce and temperature 60°C and pH 5.0 were suitable condition to hydrolyze protein of metatarsus meat. Alginate can be used to papain immobilization. Key words : metatarsus sauce, papain, immobilized enzyme
HUBUNGAN KUALITAS UDARA DAN SANITASI RUMAH PENDERITA TB PARU DI WILAYAH PUSKESMAS PEGIRIAN KOTA SURABAYA TAHUN 2015 Umi Rahayu; Rachmaniyah .; Imam Thohari
JURNAL PENELITIAN KESEHATAN Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.713 KB)

Abstract

The problem in this study is the high rate of disease Pulmonary TB, where the disease Pulmonary TB, including contagious, bacteriological quality home air with pulmonary tuberculosisare declining due to sanitary houses, especially covering ventilation, lighting, humidity and densityhousing that does not meet the requirements of home health, Pegirian health center in the area ofSurabaya. The air inside the house that are not fresh in the house can be a media proliferation,among others Mycobacterium tuberculosis bacteria. Such conditions may facilitate diseasetransmission pulmonary TB, which is transmitted from a sick person pulmonary TB to a healthyperson through the air is dropplet issued when the patient coughs, sneezes talk or spit, pollute theair in the house and inhaled by healthy people, then there is pulmonary TB disease transmission. The purpose of this study was to determine the relationship between the bacteriologicalquality of indoor air, house sanitation condition with pulmonary TB disease occurrence in the regionPuskesmas Pegirian Surabaya. The method used in this study is an analytical, cross-sectional, usingChi Square analysis. The population in this study were all patients with pulmonary TB in the regionPegirian Surabaya. Samples are some of the positive pulmonary TB patient population in the regionPuskesmas Pegirian Surabaya  31 patien. Jurnal Penelitian Kesehatan                                                                                                                      36  The research variables are bacteriological quality home with pulmonary tuberculosis,Sanitation house include: ventilation, lighting, humidity and residential density and the incidence ofpulmonary TB disease in 2015. The way of collecting data through observation, interviews andlaboratory tests for bacteriological quality of the air in homes with pulmonary tuberculosis Pegirianhealth center region of Surabaya. The conclusion from this study is there is astrong relationship between sanitation house withair quality, in particular ventilation and lighting in  homes with pulmonary  tuberculosis in HealthCentre Region Pegirian Surabaya.Health Departement to improve environtment sanitationsanitation program home, in the community in order to increse the lighting troght the installation ofglass tiles. Keywords: Quality of air bacteriology, sanitation home, pulmonary TB patients
DAMPAK RUANG BER-AC (PERPUSTAKAAN) TERHADAP GANGGUAN KESEHATAN PETUGAS PERPUSTAKAAN DI POLTEKKES KEMENKES SURABAYA Imam Thohari; Rachmaniyah Rachmaniyah
GLOBAL HEALTH SCIENCE Vol 2, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Communication and Social Dinamics (CSD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.061 KB) | DOI: 10.33846/ghs.v2i4.167

Abstract

Penggunan Air Conditioner (AC) di ruang perpustakaan sebagi alternatif untuk mengganti ventilasi alamidapat meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung dan pegawai, namun kondisi AC yang jarang dibersihkan akan berpotensi sebagai tempat bagi mikroorganisme untuk berkembang biak. Di antara berbagai polutan yang memiliki peran penting terhadap kesehatan adalah terdapatnya mikrobiologis jamur/kapang di dalam udara ruangan. Perpustakaan merupakan salah satu ruangan yang berpotensi tinggi untuk mengalami masalah polusi udara dalam ruang. Gangguan kesehatan yang disebabkan oleh jamur/kapang di dalam udara ruangan perpustakaan bisa dialami oleh semua orang yang beraktivitas di dalam ruang perpustakaan, misalnya petugas perpustakaan, dosen, mahasiswa dan pengunjung luar lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi terhadap kualitas mikrobiologis udara dalam ruangan kerja ber-AC dengan gangguan kesehatan pada ruang perpustakaan di tiga Jurusan di Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Data yang dikumpulkan meliputi keberadaan jamur/kapang, dan kualitas fisik udara dalam ruang serta keluhan subyektif yang dirasakan petugas perpustakaan di dalam ruangan perpustakaan. Hasil pemeriksaan jumlah kuman yang telah dilakukan pada ketiga likasi penelitian, hasil tertinggi di ruang C rata-rata 7.05 x 10 CFU/m3, sedang hasil pengukuran terendah di ruang A dengan hasil rata-rata 4,75 x 10 CFU/m3. Hasil pengukuran suhu berkisar antara 23-25 oC, sedangkan kelembaban yaitu 68%-79%. Pemeriksaan jumlah kuman dan pengukuran suhu, hasilnya masih dibawah nilai ambang batas yang telah ditetapkan dalam Permenkes RI. No. 1077/Menkes/Per/V/2011 yaitu sebesar 700 CFU/m3, dan suhu 18 – 30 oC. Sedangkan pengukuran kelembaban masih melebihi nilai ambang batas yang telah ditetapkan yaitu sebesar 40% - 60%. Dengan demikian nilai kelembaban di ketiga ruangan tersebut tidak memenuhi syarat. Kata kunci: Kualitas mikrobiologis, Udara ruangan, Perpustakaan
RELATIONSHIP BASIC SANITATION OF THE HOME ENVIRONMENT AND HAND WASHING BEHAVIOR WITH SOAP WITH DIARRHEA (Case Study in Kalikatak Village, Arjasa District, Sumenep Regency) Era Novita Vita; Imam Thohari; Darjati
Jurnal Hygiene Sanitasi Vol. 1 No. 1 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.795 KB)

Abstract

Diarrhea is a disease that is still a public health problem in Indonesia. In Kalikatak Village, the number of diarrhea pain in 2018, 2019, 2020 increased by 146 cases (15.05%), 165 cases (17.01%), 182 cases (18.76%). The purpose of this study is to analyze the relationship of basic sanitation of the home environment and CTPS behavior with the incidence of diarrhea in Kalikatak Village, Arjasa Subdistrict, Sumenep Regency. The research method used is an analytical method with a case control approach. The population in this study is the entire head of the family who live in Kalikatak Village with the number of research samples calculated using the lemeshow formula obtained by 87 people. Case and control sample determination is taken with a proportion of 1 : 1. A total sample of 174 people. Data collection techniques are primary data retrieval through questionnaires and observations by analyzing using Chi-Square test. The results showed that clean water facilities were related (p = 0.001 <0.05), toilets were not related (p = 0.905> 0.05), wastewater disposal facilities were related (p = 0.000 <0.05), facilities waste disposal was correlated (p = 0.000 <0.05), food and beverage sanitation hygiene was not correlated (p = 0.801> 0.05), basic sanitation facilities of the home environment were correlated (p = 0.000 <0.05), and on CTPS behavior of knowledge p = 0.05, attitude there is no relationship (p = 0.405> 0.05), action there is no relationship p = 0.479> 0.05. The community has a role to play in improving basic sanitation facilities for the home environment such as improving the quality of clean water facilities, waste water disposal facilities and waste disposal facilities and the role of puskesmas to provide information about the importance of basic home environment sanitation for health.
Intensitas Kebisingan dan Kemampuan Pendengaran Pekerja di Area IPA PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo Ratih Nurul Azizah; Rachmaniyah Rachmaniyah; Imam Thohari; Khambali Khambali
Jurnal Sanitasi Lingkungan Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Sanitasi Lingkungan
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jsl.v3i1.1401

Abstract

Latar Belakang: Gangguan kebisingan akibat adanya sumber kebisingan yang melebihi NAB akan berpotensi menimbulkan gangguan ambang dengar pada pekerja. Dua area kerja di PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo memiliki tingkat bising yang tinggi yaitu sebesar 91 dBA sehingga memiliki resiko kesehatan terhadap tenaga kerja. Tujuan Penelitian ini yaitu untuk mengetahui intensitas kebisingan dan kemampuan pendengaran tenaga kerja di area instalasi pengolahan air PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan variabel penelitian ini yaitu intensitas kebisingan dan kemampuan pendengaran tenaga kerja di area instalasi pengolahan air PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo. Pengukuran intensitas kebisingan menggunakan alat sound level meter dan untuk pengukuran kemampuan pendengaran menggunakan alat audiometri. Data yang diperoleh selanjutnya akan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan intensitas kebisingan di area instalasi pengolahan air PDAM Delta Tirta Kabupaten Sidoarjo 50% memenuhi standar NAB dan 50% tidak memenuhi standar NAB, kemampuan pendengaran tenaga kerja 100% masih memiliki kemampuan pendengaran normal. Kesimpulan: Terdapat 2 ruangan yang memiliki intensitas kebisingan melebihi ambang batas yaitu pada ruangan pompa distribusi dan ruangan ultrafiltrasi dan kemampuan pendengaran tenaga kerja di PDAM Delta Tirta seluruhnya memiliki kemampuan pendengaran normal. Kata kunci : Kebisingan, kemampuan pendengaran, tenaga kerja
Physical House Condition and Individual Characteristics Influence the Incidence of Leprosy Dhea Vara Adellya; Narwati, Narwati; Sri Anggraeni; Imam Thohari
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 4 No. 5 (2024): October
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ijahst.v4i5.409

Abstract

Angka penemuan kasus tahun 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Singgahan sebesar 6,87 per 100.000 penduduk masih belum memenuhi target CDR <5 per 100.000 penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kusta yaitu faktor lingkungan dan karakteristik individu. Menganalisis hubungan kondisi fisik rumah tangga dan karakteristik individu dengan kejadian kusta di Singgahan Kabupaten Tuban tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan Kasus Kontrol. Penelitian ini melibatkan 15 kasus; 15 kontrol. Variabel bebas yang diteliti adalah kondisi fisik rumah tangga dan karakteristik individu; sedangkan variabel terikatnya adalah kejadian kusta; pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan observasi; analisis data menggunakan uji chi-square. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara kondisi fisik rumah tangga ( p-value = 0,023): kelembaban udara ( p-value = 0,014); luas ventilasi ( p-value = 0,014); dan kepadatan penduduk ( p-value = 0,009). Tidak ditemukan hubungan bermakna antara suhu ( nilai-p = 0,130) dan pencahayaan ( nilai-p = 0,264). Analisis bivariat juga menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik individu: jenis kelamin ( nilai-p = 0,023); pekerjaan ( nilai-p = 0,001); tingkat pendidikan ( nilai-p = 0,003); tingkat pengetahuan ( nilai-p = 0,027); dan riwayat kontak ( nilai-p = 0,000). Usia tidak menunjukkan hubungan bermakna ( nilai-p = 0,598). Ada hubungan antara kondisi fisik rumah tangga termasuk kelembaban; area ventilasi; kepadatan penduduk; dan karakteristik individu seperti jenis kelamin; pekerjaan; tingkat pendidikan; tingkat pengetahuan; dan riwayat kontak dengan kejadian kusta. Namun; tidak ada hubungan bermakna antara suhu; pencahayaan; dan usia terkait kejadian kusta. Disarankan untuk meningkatkan ventilasi sehingga suhu; kelembaban; dan pencahayaan terjaga dan untuk mengikuti langkah-langkah pencegahan campak dan partisipasi aktif dalam upaya pencegahan penyakit campak.
Pengaruh Kadar Sisa Klor Terhadap Keluhan Iritasi Mata Pada Pengunjung Kolam Renang X Kota Surabaya Karimah, Nafilatul; Rusmiati; Imam Thohari; Suprijandani
Jurnal Kesehatan Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32763/btz2zv26

Abstract

Latar Belakang : Pengelolaan faktor penting dalam menjaga kualitas air kolam renang sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran penyakit. Salah satu faktor tersebut adalah kadar sisa klor bebas yang tinggi, yang dapat menyebabkan iritasi pada mata. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek kadar sisa klor bebas terhadap keluhan iritasi mata pada pengunjung Kolam Renang X di Kota Surabaya. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel air dari kolam renang dewasa diambil pada dua waktu, yaitu sebelum dan sesudah penambahan klorin, kemudian dianalisis di laboratorium. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Rata-rata kadar sisa klor bebas sebelum penambahan klorin adalah 0,43 mg/l, sedangkan setelah penambahan klorin adalah 1,85 mg/l. Rata-rata pengukuran pH sebelum penambahan klorin adalah 7,3, sedangkan setelah penambahan klorin adalah 6,9. Dari 97 responden, 60 orang (62%) mengalami keluhan iritasi mata dan 37 orang (38%) tidak mengalami keluhan. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh dari kadar sisa klor bebas pada keluhan iritasi mata (P=0,002), namun tidak ditemukan pengaruh lama berenang terhadap keluhan iritasi mata (P=0,114). Disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap kualitas air kolam renang, memberikan dosis kaporit yang sesuai, dan menggunakan kacamata renang.
KONDISI FISIK RUMAH DAN PERILAKU MEMBUANG SAMPAH DI PEMUKIMAN NELAYAN CUMPAT KECAMATAN BULAK KOTA SURABAYA TAHUN 2022 Clara Intan Pratiwi; Imam Thohari; Pratiwi Hermiyanti; Narwati; Putri Arida Ipmawati
Jurnal Higiene Sanitasi Vol. 2 No. 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/hisan.v2i2.22

Abstract

A healthy house can be assessed from the physical condition of the house and behavior in disposing of waste. The coverage of healthy homes in Kedung Cowek Village in 2019 was 26%, in 2020 and 2021 it was 27%. The Cumpat Fisherman Settlement Community has the behavior of throwing garbage in the sea because of the irregular transportation system. The purpose of this study was to analyze descriptively the physical condition of the house and the behavior of disposing of garbage in the Cumpat Fisherman's Settlement, Bulak District, Surabaya City. This research uses descriptive method, the sample size is 84 houses and 83 respondents using Proportionate Stratified Random Sampling. Collecting data using observation sheets and questionnaire sheets. The results of the study were analyzed and presented through a frequency distribution table. The results of the study on the physical condition of the house met the requirements of a healthy house (97.6%) by reviewing the ceiling, walls, floor, lighting, ventilation, temperature, humidity, and occupancy density. The results of the study regarding the behavior of disposing of waste were in good category (83.3%) but the action component was in the sufficient category (16.7%). The conclusion of the study on the assessment of the physical condition of the house obtained results that met the requirements and the behavior of disposing of garbage obtained a good category. It is necessary to hold outreach on the impact of disposing of waste on marine ecosystems and healthy homes, training on recycling, and making banners containing the prohibition of throwing garbage.