Articles
ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE PADA NY “Y” USIA 26 TAHUN GIP0A0 DARI MASA KEHAMILAN HINGGA MASA NIFAS DI PMB LISTIANI, GRESIK
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Patricia Agatha
Bahasa Indonesia Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Kebidanan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47560/keb.v10i2.296
Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah dengan melihat jumalh kematian ibu dan bayi dalam suatu negara, oleh karena itu pelayanan kesehatan kepada ibu secara berkelanjutan penting dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mengawasi kesehatan ibu dari masa kehamilan, persalinan, nifas sampai saat pemilihan alat kontrasepsi. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada anak dimulai pertama kali pada kunjungan neonatus sesuai Standar Manajemen Terbaru Bayi Muda (MTBM) dan konseling tentang bagaimana merawat bayi baru lahir yang didalamnya diberikan edukasi tentang ASI Ekslusif dan bagaimana merawat tali pusat. Tujuan asuhan kebidanan ini adalah menerapkan asuhan kebidanan komprehensif secara Continuity Of Care (COC) pada NY. Y di PMB Listiani Gresik dengan pendekatan secara diskriptif yang dilakukan dengan anamnesa dan observasi kepada pasien dari masa kehamilan, bersalin, nifas sampai saat pemilihan alat kontrasepsi. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada anak dimulai pertama kali pada kunjungan neonatus sesuai Standar Manajemen Terbaru Bayi Muda (MTBM) dan konseling tentang bagaimana merawat bayi baru lahir yang didalamnya diberikan edukasi tentang ASI Ekslusif dan bagaimana merawat tali pusat. Tujuan asuhan kebidanan ini adalah menerapkan asuhan kebidanan komprehensif secara Continuity Of Care (COC) pada NY. Y di PMB Listiani Gresik dengan pendekatan secara diskriptif yang dilakukan dengan anamnesa dan observasi kepada pasien dari masa kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana dan didokumentasikan dengan model SOAP. Hasil yang didapat dari pendampingan secara COC pada Ny. Y adalah dari masa kehamilan hingga masa persalinan kemudian nifas serta bayi baru lahir hingga ibu menggunakan kontrasepsi berjalan secara fisiologis dan tidak ada penyulit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai tenaga kesehatan bidan dapat menenerapkan asuhan kebidanan secara COC dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang membutuhkan hubungan terus menerus antara pasien dan tenaga kesehatan, yaitu memantau kondisi ibu hamil mulai dari awal kehamilan sampai proses persalinan ke bidan , serta memantau perkembangan bayi baru lahir, adakah komplikasi setelah melahirkan serta fasilitator untuk pasangan usia subur dalam pelayanan keluarga berencana.
COMBINATION OF PRENATAL GENTLE YOGA EXERCISES AND LAVENDER AROMATERAPY INHALATION TO IMPROVING SLEEP QUALITY IN TRIMESTER III PREGNANT WOMEN
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Dianita Primihastuti
Journal of Midwifery Vol 5, No 1 (2020): Published on June 2020
Publisher : Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jom.5.1.42-49.2020
As gestational age increases, the quality of sleep can decrease. It was reported that about 60% of late trimester pregnant women experience fatigue and> 75% experience sleep disturbances. However, these complaints are often ignored, even though it can lead to an increased risk of gestational hypertension, diabetes, prematurity, and postpartum depression. Sleep disturbances can also cause depression and stress that affects the fetus. Mild stress causes an increase in fetal heart rate which, if left untreated, will make the baby hyperactive. Meanwhile, the consequences are depression and babies who are born have less time to sleep deeply. Efforts to overcome this sleep disorder are yoga and lavender aromatherapy inhalation. Purpose: Therefore, the researchers estimated that the application of a combination of prenatal gentle yoga and lavender aromatherapy would be more effective in affecting the quality of sleep in pregnant women, so it is hoped that it can reduce sleep disturbances in third trimester pregnant women. Results: There is a significant effect of the combination of prenatal gentle yoga and inhalation of lavender aromatherapy in improving sleep quality in the treatment group with a value of α = 0.011 or α <0.05. There was a significant difference in the quality of sleep in the group compared to the control group with a value of α = 0.004 or α <0.05. Conclusion: By practicing prenatal gentle yoga and regular inhalation of lavender aromatherapy, it will be able to improve sleep patterns without using sleeping pills which wil
PERINEAL MASSAGE: PREVENTING PERINEAL EPISIOTOMY AND PERINEAL LACERATION DURING CHILDBIRTH
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Minarni Hardianti
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No. 2 (2017)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Backgrounds: Approximately 4-5% of maternal deaths in Indonesia is caused by trauma in the birth canal, of which perineal laceration and episiotomy are the most common occurrence. Generally, as much as 80- 90% of episiotomies are performed on first-time mothers (primipara). Episiotomy can be prevented by perineal massage from 34 weeks gestation. Aims: To reveal a picture of episiotomy implementation in primiparous mothers who received perineal massage at BPM (Independent Clinic of Midwifery) Istiqomah in Sidotopo, Surabaya . Methods: This research used descriptive method. The population were primiparous mothers who received perineal massage. The sample of 20 mothers were chosen by consecutive sampling technique. This research used perineal massage as the independent variable and episiotomy and perineal laceration as the dependent variables, and was measured using the observation sheet during childbirth. The data was then processed by using a frequency distribution table. Results: The results showed that out of 20 respondents who received perineal massage, only four had done an episiotomy during childbirth. Each of these four women had complicated condition - three of whom had fetal distress and one had an exhausted childbirth process. Conclusion: The main benefit of performing perineal massage during episiotomy procedure is to relax the muscles surrounding the perineum and make them more elastic.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MASA KLIMAKTERIUM DI KELURAHAN GUNUNG ANYAR, SURABAYA
Herisa Dinarsi;
Shinta Wurdiana Rhomadona
Bahasa Indonesia Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Kebidanan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47560/keb.v11i1.331
Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Ada 6 tingkat pengetahuan yaitu mengetahui, memahami, penerapan, analisis,sintesis, evaluasi. Masa klimakterium merupakan menurunnya produksi hormon estrogen mengakibatkan terhentinya haid terjadi pada usia 45- 55 tahun. Sebagian masyarakat menganggap bahwa keluhan-keluhan yang terjadi saat menopause adalah sesuatu yang dianggap fisiologis sehingga tidak diperlukan penanganan. Sebagian masyarakat juga tidak tahu bahwa dirinya sedang barada dalam masa menopause, sehingga mereka sering ketakutan menghadapi keluhan yang muncul. Hal ini nampak pada pasien-pasien yang datang ketempat pelayanan kesehatan dengan berbagai keluhan menopause dengan tidak mengetahui kondisi yang sedang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu – ibu premenopause usia 38 – 45 tahun tentang klimakterium di RT 10, RW 04 Kelurahan Gunung Anyar ,Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif, dengan tehnik pengambilan sampel metode random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 56 orang. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu sebanyak 27 orang (48,20 %), pengetahuan kurang 20 orang (35,7%), pengetahuan baik 9 orang (16,1%). Diharapkan kepada petugas kesehatan setempat sebaiknya mengadakan program penyuluhan mengenai menopause. sehingga dapat meningkatkan pengetahuan wanita tentang menopause sehingga ibu – ibu dapat melewati menopause dengan baik.
UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN SANITASI KELUARGA DALAM PENCENGAHAN STUNTING MELALUI EDUKASI TENTANG CARA PENYIMPANAN DAN PENGOLAHAN SAYURAN YANG BENAR
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Martha Lowrani Siagian
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (117.494 KB)
|
DOI: 10.47560/pengabmas.v2i2.301
Saat ini salah satu fokus pemerintah dalam sektor kesehatan anak adalah melakukan mengatasi stunting. Hal yang perlu di perhatikan untuk mengatasi stunting adalah dengan memperbaiki pola makan , pola asuh dan memperbaiki sanitasi. Jika pola PHBS sudah terbentuk didalam kekuarga dapat menurunkan AKI dan AKB serta perubahan perilaku kesehatan. Berdasarkan hasil Survei Mawas Diri yang dilakukan ditemukan sebagian besar masyarakat saat mengelola sayuran, 59% masih melakukan cara yang kurang tepat padahal hal ini dapat berdampak kurang baik pada kesehatan anak dan dapat berakibat pada kejadian stunting. Teknik atau solusi cara mencuci dan mengolah sayuran merupakan hal terpenting sebelum sayuran diolah dan disajikan. Acara ini diikuti 23 keluarga. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah keluarga dapat mengetahui dan memahami tentang stunting dan pencegahanya serta cara meningkatkan sanitasi keluarga melalui cara penyimpanan dan pengolahan sayuran yang tepat. Metode yang digunakan dalam bentuk penyuluhan secara daring yang dilakukan via Zoom Meeting dikarenakan kondisi pandemi dengan tema yaitu “Cegah Stunting dengan Peningkatan Sanitasi Keluarga Melalui Edukasi Cara Penyimpanan Dan Pengolahan Sayuran Yang Baik Dan Benar”. Kegiatan pengabdian masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan sanitasi keluarga dalam pencengahan stunting melalui edukasi tentang cara penyimpanan dan pengolahan sayuran yang benar berlangsung dengan baik dengan hasil terdapat peningkatan pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk membentuk budaya hidup bersih serta selalu menjaga sanitasi dalam rumah dengan baik terutama mengelola bahan makanan dengan baik dan benar. Kegiatan ini dapat diaplikasikan oleh peserta didalam kehidupan sehari-hari. sehingga kejadian stunting dapat dicegah.
PERINEAL MASSAGE: PREVENTING PERINEAL EPISIOTOMY AND PERINEAL LACERATION DURING CHILDBIRTH
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Minarni Hardianti
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No. 2 (2017)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Backgrounds: Approximately 4-5% of maternal deaths in Indonesia is caused by trauma in the birth canal, of which perineal laceration and episiotomy are the most common occurrence. Generally, as much as 80- 90% of episiotomies are performed on first-time mothers (primipara). Episiotomy can be prevented by perineal massage from 34 weeks gestation. Aims: To reveal a picture of episiotomy implementation in primiparous mothers who received perineal massage at BPM (Independent Clinic of Midwifery) Istiqomah in Sidotopo, Surabaya . Methods: This research used descriptive method. The population were primiparous mothers who received perineal massage. The sample of 20 mothers were chosen by consecutive sampling technique. This research used perineal massage as the independent variable and episiotomy and perineal laceration as the dependent variables, and was measured using the observation sheet during childbirth. The data was then processed by using a frequency distribution table. Results: The results showed that out of 20 respondents who received perineal massage, only four had done an episiotomy during childbirth. Each of these four women had complicated condition - three of whom had fetal distress and one had an exhausted childbirth process. Conclusion: The main benefit of performing perineal massage during episiotomy procedure is to relax the muscles surrounding the perineum and make them more elastic.
KOMBINASI HERBAL STEAM BATH DAN PIJAT ENDORPHIN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH SURABAYA
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Dianita Primihastuti
Bahasa Indonesia Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47560/kep.v11i2.373
Pentingnya memberikan ASI telah memiliki bukti kuat(1). Namun kenyataanya, banyak kendala dalam penerapanya(2). Data menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif di Indonesia sebesar 89,4%(2020). Salah satu penyebabnya stres yang dialami ibu akan menghambat pelepasan hormon oksitosin, jika terjadi stres refluks oksitosin akan terhambat akibat pelepasan adrenalin oleh hormon stres yang mempengaruhi produksi ASI(3). Faktor fisik akibat komplikasi ataupun kelelahan setelah melahirkan juga berdampak pada produksi ASI(4)(1). Metode non-farmakologik yang dapat membantu menstimulasi produksi ASI adalah dengan herbal steam bath(5). Ini merupakan budaya kearifan lokal yang sampai saat ini masih dilestarikan di berbagai wilayah Indonesia sebagai terapi pada ibu nifas. Alternative lain yang memiliki tujuan serupa dengan herbal steam bath adalah pijat endorphin yang dapat merangsang hipofisis posterior untuk menghasilkan oksitosin, sehingga hal ini dapat meningkatkan produksi ASI(6). Penerapan kedua metode ini kepada ibu nifas diharapkan mampu meningkatkan produksi ASI. Tujuan penellitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kombinasi herbal steam bath dan pijat endorphin terhadap produksi ASI ibu nifas di wilayah surabaya. Desain penelitian ini adalah quasy experiment (two group pre-post test design). Penelitian ini dilakukan pada ibu nifas di TPMB wilayah Surabaya. Penelitian dilakukan selama 6 bulan dari bulan Juni 2022 – November 2022. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kelompok perlakuan diberikan intervensi selama 1 minggu sebanyak 2x yaitu Herbal Steam Bath selama 5-20 menit, sedangkan pijat endorphin selama 20 menit. Pijat oksitosin dilakukan pada kelompok kontrol selama 1 minggu dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu selama 20 menit. Masing-masing kelompok diberikan pre test dan post test untuk mengetahui produksi ASI dengan indikator peningkatan BB bayi, peningkatan frekuensi BAK dan BAB. Analisis data dengan wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan kombinasi mandi uap herbal dan pijat endorphin terhadap peningkatan produksi ASI dengan nilai =0,000 atau < 0,05. Terdapat perbedaan produksi ASI yang signifikan pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan nilai =0,000 atau < 0,05. Kesimpulan: Dengan melakukan kombinasi mandi uap herbal dan pijat endorphin secara teratur dapat meningkatkan produksi ASI.
The Effect of Herbal Steam Bath to Increasing Breast Milk Production in Postpartum Mothers
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Dianita Primihastuti
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 2 No. 6 (2022): December
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35882/ijahst.v2i6.184
The importance of breastfeeding has strong evidence[1]. But in reality, there are many obstacles in its implementation[2]. Data shows that exclusive breastfeeding in Indonesia is 89.4% (2020). Physical factors due to complications or fatigue after giving birth also have an impact on breast milk production, so mothers tend to fail to exclusively breastfeed[3][1]. A non-pharmacological method that can reduce postpartum stress, increase comfort and body fitness so as to help stimulate breast milk production is the herbal steam bath.[4]. This is a culture of local wisdom that is still preserved in various parts of Indonesia as a therapy for postpartum mothers. The purpose of this study was to analyze the effect of herbal steam bath on breast milk production for postpartum mothers in Surabaya. The design of this study was a quasi-experimental (two group pre-post test design). This research was conducted on postpartum mothers in Surabaya. The study was conducted for 6 months. Determination of the sample using purposive sampling technique. The treatment group was given intervention for 1 week as much as 2x, namely Herbal Steam Bath for 5-20 minutes. Endorphin massage was performed in the control group for 1 week with a frequency of 2 times/week for 20 minutes. Each group was given a pre-test and post-test to determine the production of breast milk with indicators of increased baby weight, increased frequency of urination and defecation. Data analysis with independent T-test and Mann Whitney. The results showed that there was a significant effect of herbal steam baths on increasing breast milk production with a value of = 0.012 or <0.05. There was a significant difference in milk production in the treatment group compared to the control group with a value of = 0.004 or <0.05. Conclusion: By doing of herbal steam baths it can increase milk production.
UPAYA MENINGKATKAN KEBIASAAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK MENCEGAH STUNTING PADA SISWA PAUD RT 4, KELURAHAN PUTAT JAYA, SURABAYA
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Meika Ayu Cahyaningrum;
Belva Windry;
Fransiska Martha
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47560/pengabmas.v3i2.398
Permasalahan stunting tidak hanya dipicu oleh kurangnya asupan nutrisi tetapi juga sangat dipengaruhi oleh masalah kebersihan diri dan lingkungan. Kurangnya kepedulian masyarakat untuk mencuci tangan dengan benar akan berpengaruh pada kesehatan Ibu hamil dan tumbuh kembang anak sehingga mengakibatkan mereka rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.Selain itu, fakta di masyarakat menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum melakukan cuci tangan pakai sabuun (CTPS) dengan benar.Kebiasaan cuci tangan pakai sabun ini sejalan dengan transformasi kesehatan fokus pada pilar pertama yakni transformasi layanan kesehatan primer. Layanan kesehatan primer ini lebih mengutamakan promotif preventif. Kegiatan ini dinilai lebih efektif dalam mencegah penularan infeksi masuk ke dalam mulut melalui tangan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah anak-anak dapat mengetahui dan memahami tentang stunting dan pencegahanya melalui CTPS yang tepat. Metode yang digunakan dalam bentuk penyuluhan dan demonstasi. Kegiatan pengabdian masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan sanitasi keluarga dalam pencengahan stunting melalui edukasi tentang cara CTPS yang baik dan benar berlangsung dengan baik dengan hasil terdapat peningkatan pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk membentuk budaya hidup bersih dengan baik terutama kebiasaan cuti tangan pakaki sabun, sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan dengan mencuci bersih tangan serta dapat mengatasi masalah Kekurangan Gizi seperti kurus, stunting, dan anemia pada anak di wilayah RT 4, kelurahan Putat Jaya, Surabaya.
PEMBERIAN MP-ASI OPTIMAL DALAM UPAYA MENCEGAH KEJADIAN STUNTING
Dianita Primihastuti;
Shinta Wurdiana Rhomadona;
Intiyaswati Intiyaswati
Bahasa Indonesia Vol 11 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan
Publisher : STIKes William Booth Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47560/kep.v11i2.400
Stunting menurut WHO didasarkan pada indeks panjang badan / tinggi badan dibanding umur dengan batas nilai kurang dari -2 SD (Standart deviasi). Negara Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak terdiri dari Faktor genetik dan lingkungan.Salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi yaitu pemberian MP-ASI, dimana MPASI merupakan faktor predisposisi yang penting diberikan pada bayi sejak usia 6 bulan untuk menopang kecukupan gizinya. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI terhadap kejadian stunting di wilayah putat jaya Surabaya. Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian observasional analitik korelatif dan case control sebagai desain penelitian. Besar sampel yaitu 64 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan uji chi square, dengan nilai P < 0,05. Hasil penelitian ini yaitu ada hubungan pemberian makanan pendamping ASI dengan kejadian stunting (p value = 0,001).Kesimpulan: Terdapat Hubungan yang signifikan antara makanan pendamping ASI dengan kejadian stunting diwilayah Putat Jaya Surabaya.