Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Efektivitas Perlakuan Kombinatif Plasma Medis dan Ekstrak Daun Sirih untuk Mempercepat Penyembuhan Luka Fase Proliferasi pada Model Mencit Diabetik Eka Sakti Wahyuningtyas; Nasruddin Nasruddin; Heni Setyowati Esti Rahayu; Heni Lutfiyati; Isabella Meliawati Sikumbang; Laela Hayu Nurani; Afiana Rohmani; Nia Salsabila; Gela Setya Ayu Putri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 15, No 2 (2019): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v15i2.378

Abstract

The continued increase in the number of people with Diabetes Mellitus (DM) in Indonesia is a serious problem. One of the big problems for people with Diabetes Mellitus (DM) is the emergence of complications of diabetic wounds. To date the strategy for treatment of diabetic wounds has been limited to the use of wound dressing, cell therapy and oxygen therapy. The problem is that the strategy is not fully successful. Thus, it is very important to look for new strategies to improve the quality of diabetic wound healing, such as by applying a combination of plasma medicine and local natural product, like the extraction of Daun sirih (Piper betle) leaves. Plasma medicine is a relatively new and multidisciplinary study involving plasma science, biomedical, pharmaceutical and other health sciences aimed at applying plasma to therapeutic health. Plasma is the fourth phase of matter, after the solid, liquid and gas phase. The medical aspects of plasma are related to the ability of plasma to produce biological molecules Reactive Oxygen and Nitrogen Species (RONS). If RONS is controlled in the right dosage it can be efficacious for health therapy. This study intends to examine the effects of combinative treatment of plasma medicine and Piper betel leaf extract for proliferation phase of wound healing in diabetic small animal model. This study used male Balb c mice with acute wounds which were divided into 5 groups, namely groups of untreated normal mice (ND-TP), groups of untreated diabetic mice (D-TP), groups of diabetic mice wounds with Piper betel leaf extract (DS ), the wound group of diabetic mice with plasma medicine (DP) and the wound group of diabetic mice with plasma medicine and Piper betel leaf (DPS). The plasma medicine was treated on wound with condition non-contact style (the plasma jet did not touch the wound) with a distance of plasma jet reactor nozzle to the surface of wound about 20 mm, for 2 minutes, every day. Macroscopic observation of wounds is carried out every day from day 0 to 7. On day 7 it was seen that the size of the wound area for D-P-S was smaller than the other groups. The results of this study indicated that Piper betel leaf extract can potentially be used to optimize the performance of plasma medicine in accelerating diabetic wound healing during the proliferation phase. Further investigation, however, is important to be conducted to study the effect for all phases of wound healing and its mechanism histo-pathologically.
STANDARISASI SIMPLISIA BAWANG DAYAK (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) MELALUI ANALISIS PARAMETER SPESIFIK DAN NON-SPESIFIK Kaffah, Silmi; Silmi Kaffah; Moch. Saiful Bachri; Laela Hayu Nurani; Wahyu Widyaningsih; Muhammad Ma’ruf; Danang Prasetyaning Amukti
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jifi.v8i1.2520

Abstract

Bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) merupakan bahan alami berupa serbuk kering yang diperoleh dari umbi tanaman ini. Standardisasi sangat penting untuk memastikan konsistensi kualitas, keamanan, dan kemanjuran bagi konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi mutu bawang dayak yang diperoleh dari kota Sintang, Kalimantan Barat berdasarkan uji parameter spesifik dan non spesifik. Pengujian dilakukan dengan mengukur parameter non spesifik dan parameter spesifik. Hasil uji parameter non spesifik menunjukkan bahwa Simplisia memiliki kadar air sebesar 9,10%, kadar abu total 0,57%, dan kadar sari larut etanol 5,46%, menunjukkan stabilitas dan kemurnian yang baik. Uji parameter spesifik menunjukkan bahwa kandungan flavonoid total adalah 3,57 mg QE/g dan kandungan fenolik total adalah 2,05 mg GAE/g, yang menunjukkan potensi kapasitas antioksidan dan aktivitas farmakologis. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa umbi bawang dayak memenuhi standar mutu berdasarkan uji parameter spesifik dan non spesifik, layak digunakan sebagai bahan baku obat herbal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaannya dalam formulasi farmasi.
STANDARISASI EKSTRAK ETANOL BAWANG DAYAK (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) MELALUI ANALISIS PARAMETER SPESIFIK DAN NON-SPESIFIK Shafala Rivani Aisyah; Moch. Saiful Bachri; Laela Hayu Nurani; Sapto Yuliani; Silmi Kaffah; Sri Rahmawati; Muhammad Ma'ruf; Danang Prasetyaning Amukti
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/276ecv08

Abstract

Latar belakang: Bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) merupakan bahan alami yang diolah menjadi ekstrak etanol dari umbi tanaman, dan sangat memerlukan proses standardisasi guna menjamin kualitas, keamanan, serta efektivitasnya secara konsisten bagi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menilai mutu ekstrak etanol bawang dayak yang diperoleh dari wilayah Sintang, Kalimantan Barat melalui pengujian terhadap parameter spesifik dan nonspesifik. Metode: Pengujian dilakukan dengan mengukur parameter non spesifik dan parameter spesifik. Hasil: Uji laboratorium dilakukan dengan mengukur kadar air (6,31%), abu total (2,27%), dan sari larut etanol (10,84%) sebagai indikator nonspesifik yang merefleksikan stabilitas dan tingkat kemurnian bahan. Sementara itu, parameter spesifik menunjukkan kandungan flavonoid total sebesar 8,416 mgQE/g dan fenolik total sebesar 75,026 mgGAE/g, yang mengindikasikan potensi tinggi terhadap aktivitas antioksidan dan manfaat farmakologis. Kesimpulan: Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol bawang dayak dinilai telah memenuhi standar mutu dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat herbal, meskipun kajian lanjutan tetap diperlukan guna mengoptimalkan penerapannya dalam formulasi farmasi yang lebih luas.
PROFIL KANDUNGAN FENOLIK DAN EVALUASI PARAMETER NON-SPESIFIK EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum) Sundari, Trias Kania; Bachri, Moch. Saiful; Laela Hayu Nurani; Wahyu Widyaningsih; Muhammad Ma'ruf
Jurnal Insan Farmasi Indonesia Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Insan Farmasi Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/wpv2vp92

Abstract

Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat yang diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menstandarisasi ekstrak etanol jahe merah melalui penentuan kandungan fenolik total dan parameter non-spesifik. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 75% selama 1x24 jam. Kandungan fenolik total dianalisis dengan menggunakan metode Follin-Ciocalteu dan hasilnya dinyatakan dalam satuan mg GAE. Parameter non-spesifik yang ditentukan meliputi kadar air, kadar abu, dan kadar sari larut etanol dengan metode gravimetri. Hasil analisis menunjukkan ekstrak etanol jahe merah memiliki kadar air sebesar 12,87%, kadar abu 7,45%, kadar sari larut etanol 6,23% dan kandungan fenolik total sebesar 136,7mg GAE/g ekstrak. Data ini memberikan dasar ilmiah untuk standarisasi ekstrak jahe merah sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku produk farmasi dengan mutu yang terukur.