Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Potensi Kelelahan Akut Pada Operator Alat Berat Di Area 1 Tambang Bukit Karang Putih PT. Semen Padang (Persero) Tbk Kota Padang Tahun 2016 Sesmeri Haryani; Hendra Hendra
Jurnal Pembangunan Nagari Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Badan Penelitian and Pengembangan (Balitbang), Padang, West Sumatra, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30559/jpn.v2i1.13

Abstract

Fatigue is one of the cause of accidents. The objective of this study is to examine acute fatigue potent ial based on a Occupational Fatigue Exhaustion Recovery (OFER) scale and types of heavy equipment, analyze the relationship between work-related fatigue (duration, workload and shift work), response to non-work-related fatigue (age, nutritional status, commuting time, the number of hours of sleep) with the occurrence of fatigue on heavy equipment operator. This research was conducted from April until July 2016 at heavy equipment operator in the mine area 1 Bukit Karang Putih. Number of study respondents 50 people. The study is observational quantitative research with cross-sectional method. Measurement of fatigue using a OFER scale and the results show that 48% of respondents experiencing moderate acute fatigue, 44% of dump truck experiencing high acute fatigue, shift has significant correlation with high and moderate acute fatigue potential (p value = 0.027). recomendation to company PT Semen Padang to provide education or training about risk factor fatigue to heavy equipment operator.
Risk Factors of Musculoskeletal Disorders in Office Workers Priska Aulianingrum; Hendra Hendra
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 11 No. SI (2022): Special Issue
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.279 KB) | DOI: 10.20473/ijosh.v11iSI.2022.68-77

Abstract

Introduction: Musculoskeletal disorders (MSDs) are a collection of symptoms in the human skeletal and muscular systems, which are characterized by discomfort or pain. The International Labor Organization (ILO) stated that MSDs are the most common health problem among office workers in 27 countries under the European Union. Therefore, this study aims to determine the risk factors for MSDs among office workers. Method: This study used the literature review method by accessing an online database using different keywords, namely risk factors, musculoskeletal disorders, and office workers. Subsequently, 939, 1,421, and 243 articles were obtained from Google Scholar, ProQuest, and PubMed.Gov, respectively, with a total of 2,603. The inclusion criteria include papers published between 2011 and 2021, relevant titles and abstracts, primary study with a cross-sectional design, as well as full-text availability. Incomplete articles that are irrelevant to the topic were then excluded, after which a total of eight were selected for analysis. Result: Based on selected articles known that the risk factors for MSDs include age, gender, knowledge of ergonomics, work posture, work facilities, duration of work, physical activity, and psychosocial factors in the workplace. Conclusion: The significant risk factors for MSDs include increasing age, female gender, increased work duration, poor knowledge of ergonomics, wrong work posture, non-ergonomic support facilities, lack of physical activity, as well as poor psychosocial conditions in the workplace.
UJI BAKTERIOLOGIS AIR MINUM ISI ULANG DENGAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI dan COLIFORM SEBAGAI INDIKATOR Dennis Setiawan; Hendra Hendra
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v7i1.13459

Abstract

Air minum yang tercemar serta sanitasi yang buruk dapat menyebabkan penyakit menular diantaranya kolera, diare, disentri, dan polio. Kualitas air minum yang buruk sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Risiko kesehatan yang paling umum dan tersebar luas terkait dengan air minum adalah kontaminasi mikroba. Hingga 80% dari semua penyakit di dunia disebabkan oleh sanitasi yang tidak memadai, air yang tercemar atau tidak tersedianya air. Bakteri patogen Escherichia coli dan Coliform saat ini digunakan untuk menilai kontaminasi dalam pengelolaan kualitas air. Berdasarkan hasil review literatur dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kualitas bakteriologis air minum isi ulang diantaranya adalah kondisi peralatan sanitasi air minum isi ulang, lokasi tempat bangunan penyedia air minum isi ulang, dan personal hygiene dari petugas operator pengisian air minum isi ulang
EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA INDUSTRI GALANGAN KAPAL KECIL DI INDONESIA Hugo Nainggolan; Hendra Hendra
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 4 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i4.16083

Abstract

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) telah berjalan selama lebih dari 10 tahun dan menjadi suatu pedoman atau acuan yang bersifat wajib untuk dilaksanakan bagi perusahaan yang memiliki potensi bahaya besar atau mempekerjakan paling sedikit 100 orang pekerja. Penerapan SMK3 merupakan salah satu upaya preventif yang harus dilakukan akibat meningkatnya risiko kecelakaan kerja. SMK3 adalah penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang akan dapat meminimalkan risiko kerugian moral dan moneter, kehilangan jam kerja, serta keselamatan orang dan lingkungan .Penelitian ini adalah penelitian gabungan (mixed method). Dalam penelitian ini, teknik pengolahan data secara kuantitatif dilakukan untuk mengukur hasil penerapan SMK3 di industri galangan kapal kecil PT. X menggunakan instrumen audit tingkat awal (64 kriteria SMK3) sesuai PP No. 50 Tahun 2012. Penelitian ini dilakukan pada Bulan September 2023 - Oktober 2023 yang dengan pengambilan data observasi pada  industri galangan kapal kecil PT X. Digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian penerapan SMK3 di 3 industri galangan kapal kecil PT. X berdasarkan instrumen audit SMK3 PP No. 50 Tahun 2012 tingkat awal (64 kriteria) Manajer HSE dari setiap perusahaan di PT. X merupakan responden yang memberikan dokumen dan keterangan. Hasil penelitian didapatkan fakta bahwa Tingkat kesesuaian penerapan SMK3 PT. X : 21,88 % ,Tingkat ketidaksesuaian penerapan SMK3 PT. X sebesar 78,12 % dengan temuan mayor sebesar 51 %, temuan minor sebesar 45 %, dan temuan kritikal sebesar 4 %.
Risiko Ergonomi pada Postur Tubuh Operator Produksi Pengemasan Aluminium Sulfat Padat Fanegi, Clara Nisa; Hendra, Hendra
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 16, No 1 (2025): Januari-Maret 2025
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf16128

Abstract

One important aspect of ergonomics is the analysis of work posture, which examines how body position during work can affect health outcomes. This study aimed to analyze the work posture of solid aluminum sulfate packaging production operators at PT. XYZ. This study was a descriptive study involving solid aluminum sulfate packaging production operators at PT XYZ. The operator's work posture was observed directly and video recording of the operator's activities during the packaging process was carried out. Work posture was assessed using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method to assess ergonomic risks that have the potential to cause musculoskeletal disorders, so that they can be analyzed descriptively. The results showed that activities in the packaging process, such as moving products from the bagging hopper to the scale and moving products after the stripping process onto the pallet, had very high REBA scores, indicating a significant risk for musculoskeletal disorders. Unergonomic work postures, such as bending at excessive angles and rotations, were found to be the main factors that increase the load on muscles and joints, thereby increasing the likelihood of injury. It was concluded that many packaging operator work postures are at high risk for musculoskeletal disorders.Keywords: aluminum sulfate packaging; operator; posture; ergonomics; musculoskeletal disorders  ABSTRAK Salah satu aspek penting ergonomi adalah analisis postur kerja, yang meneliti bagaimana posisi tubuh selama bekerja dapat memengaruhi hasil kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis postur kerja operator produksi pengemasan aluminium sulfat padat di PT. XYZ. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang melibatkan para operator produksi pengemasan aluminium sulfat padat di PT XYZ. Postur kerja operator diobservasi secara langsung dan dilakukan perekaman video aktivitas operator selama proses pengemasan. Postur kerjadi dinilai menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) guna menilai risiko ergonomi yang berpotensi menyebabkan gangguan muskuloskeletal, agar bisa dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dalam proses pengemasan, seperti pemindahan produk dari baging hopper ke timbangan dan pemindahan produk setelah proses stripping ke atas pallet, memiliki skor REBA yang sangat tinggi, yang menunjukkan risiko signifikan untuk terjadinya gangguan muskuloskeletal. Postur kerja yang tidak ergonomi, seperti membungkuk dengan sudut dan rotasi yang berlebihan, ditemukan sebagai faktor utama yang meningkatkan beban pada otot dan sendi, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya cedera. Disimpulkan bahwa banyak postur kerja operator pengemasan yang berisiko tinggi untuk terjadi gangguan muskuloskeletal.Kata kunci: pengemasan aluminium sulfat; operator; postur; ergonomi; gangguan muskuloskeletal 
Monitoring truck driver working and rest hours using safety applications Tanziila, Najmi; Djamalus, Hendra
Jurnal Cakrawala Promkes Vol. 7 No. 2 (2025): August
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jcp.v7i2.12883

Abstract

Traffic accidents remain a major risk in commercial truck transportation, both in Indonesia and globally. A key contributing factor is driver fatigue, often resulting from excessive workloads and prolonged working hours. This study employs a descriptive case series design to evaluate the implementation of working and rest hour regulations for commercial truck drivers. Secondary data were analyzed from the third quarter of 2024 (July–September), covering three operational regions in West Java, Central Java, and East Java & Bali-Nusa Tenggara. Data were obtained from two driver safety monitoring applications used by a commercial transport operator. Initial analysis involved calculating compliance percentages across all locations in the three regions, followed by a more detailed review of three selected sites per region. Findings reveal that one region exhibited the lowest compliance with regulated working hours and demonstrated inconsistent enforcement of the required 8-hour rest period following 12 hours of work. These results highlight the need for strengthened monitoring and enforcement mechanisms to improve driver safety and reduce accident risks in the commercial transportation sector.
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU TIDAK AMAN PADA CALON RADIOGRAFER DI JAKARTA SELATAN Saputro, Setio Adi; Djamalus, Hendra; Kuswoyo, Heri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.48473

Abstract

Praktikum radiologi di Poltekkes Kemenkes Jakarta 2 (PKJ2) memiliki risiko bahaya radiasi bagi calon radiografer. Perilaku tidak aman menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kecelakaan. Faktor internal dan eksternal memengaruhi perilaku tidak aman. PKJ2 telah melakukan upaya pencegahan perilaku tidak aman, namun masih ditemukan perilaku tersebut saat praktikum radiologi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tidak aman pada calon radiografer serta mengetahui faktor yang paling berpengaruh. Penelitian ini, menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan kuisoner sebagai instrumen pengumpulan data. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik berganda dengan 172 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57,6% calon radiografer berperilaku tidak aman saat praktikum radiologi. Variabel seperti pengetahuan, persepsi, motivasi, dan dukungan rekan memiliki hubungan signifikan dengan perilaku tidak aman calon radiografer. Namun, dukungan sarana prasarana tidak memiliki hubungan signifikan. Variabel pengetahuan memiliki nilai odds ratio (OR) tertinggi, yaitu 3,039, sehingga pengetahuan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku tidak aman. Sebagai rekomendasi, PKJ2 perlu melakukan review kurikulum praktikum yang lebih fokus pada aspek keselamatan radiasi. Penting juga untuk mengintegrasikan keselamatan dalam kurikulum pendidikan serta mendorong kolaborasi dan komunikasi aktif antara calon radiografer selama praktikum. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan perilaku tidak aman dapat diminimalisir.
Mental Fatigue and Its Associated Factors among Coal Mining Workers after One Year of the COVID-19 Pandemic in Indonesia Djamalus, Hendra; Utomo, Budi; Djaja, I Made; Nasri, Sjahrul M
Kesmas Vol. 16, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mental fatigue among coal mining operators was related to driving activities that require high concentration. This study aimed to determine factors that contributed to mental fatigue among coal mine operators in Indonesia, specifically in Kalimantan and Sumatra, after a one-year COVID-19 pandemic. This cross-sectional study was conducted among 480 operators from two companies and seven sites. A self-administrated questionnaire in the Google Form was used to measure mental fatigue, the non-work-related factors (age, education, marital status, residence, and stress level), and work-related factors (working periods, shift pattern, type of shift, and work area in mining). The data analyzed using Chi-square and binomial logistic regression showed that the prevalence of mental fatigue was 32.3%. Operators with moderate stress and working in the pit area demonstrated a significant association with mental fatigue (p-va lue<0.001). Multivariable analysis showed that medium stress (AOR = 2.11; 95% CI = 1.41-3.15) and working in the pit (AOR = 2.27; 95% CI: 1.45-3.57) had a positive association with mental fatigue. Thus, the pit condition and stress levels were the dominant factors influencing mental fatigue and became points to manage mental fatigue in coal mining operators in Kalimantan and Sumatra.
ANALYSIS OF TRAFFIC SAFETY ENFORCEMENT PROGRAM IMPLEMENTATION IN PT XYZ: A STUDY FROM 2020 TO 2024 Ihsani, Muhammad Rudy; Djamalus, Hendra
AKSELERASI: Jurnal Ilmiah Nasional Vol 7 No 2 (2025): AKSELERASI: JURNAL ILMIAH NASIONAL
Publisher : GoAcademica Research dan Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jin.v7i2.1362

Abstract

The oil and gas industry requires stringent safety measures due to its high-risk operations, particularly in transportation. This study analyze the implementation of the Traffic Safety Enforcement Program (TSEP) at PT XYZ from 2020 to 2024 to assess its effectiveness in improving driving safety. Using a descriptive-analytical approach, secondary data from internal inspections were examined to identify trends in vehicle compliance, driver performance, and enforcement outcomes. A total of 136 inspections covering 935 vehicles were conducted, with findings categorized into Best Driver, Coaching, and Stop Work Authority. Results indicate fluctuating inspection frequencies and compliance rates, with an initial decline in inspections from 2020 to 2023, followed by an increase in 2024. Finding in coaching category, improvements were noted in fire extinguisher compliance, but inconsistencies persisted in pre-trip inspections, fatigue management, and journey planning. As for SWA finding Licensing issues emerged as a key concern, necessitating stricter enforcement. The study underscores the importance of sustained monitoring, driver training, and enhanced enforcement strategies to improve safety standards and minimize risks in vehicle operations.
Evaluasi Sistem Manajemen Kebakaran RSUD Abdul Moeloek: Studi Kasus Instalasi Bedah Sentral dan Intensive Care Unit Salsadila, Faras; Djamalus, Hendra
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 05 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i05.3994

Abstract

Rumah sakit merupakan tempat kerja yang memiliki risiko terhadap kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem manajemen kebakaran pada Instalasi Bedah Sentral (IBS) dan Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Desain penelitian ini bersifat mix methode yaitu kulitatif melalui observasi dan wawancara serta kuantitatif dengan menghitung persentase pemenuhan sistem manajemen kebakaran pada RSUD Abdul Moeloek. Objek dari penelitian ini yaitu setiap elemen pada sistem proteksi kebakaran aktif, pasif, sarana penyelamatan jiwa, organisasi proteksi kebakaran, tata laksana operasional, serta pembinaan dan pelatihan yang berada di kedua instalasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi dan wawancara. Wawancara dilaksanakan kepada Kepala Instalasi K3RS, Teknisi RS, Kepala Sub Koordinator Umum, dan pengunjung rumah sakit di IBS serta ICU. Analisis dilakukan dengan melakukan perbandingan antara kondisi aktual dengan standar NFPA (NFPA 72, NFPA 13, NFPA 14, NFPA 10, NFPA 101), Permen PU No. 26 Tahun 2008, Juknis Kesiapsiagaan kondisi darurat dan bencana di rumah sakit tahun 2020, dan Permen PU No. 20 Tahun 2009. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sistem proteksi kebakaran aktif pada IBS dan ICU mendapatkan hasil 61,5% dengan katagori cukup baik, sistem proteksi pasif pada IBS dan ICU mendapatkan hasil 100% katagori baik, Sarana penyelamatan jiwa pada IBS mendapatkan hasil 71% yang masuk ke kategori cukup baik dan pada ICU 66 % katagori cukup baik, organisasi proteksi kebakaran mendapatkan hasil 100% katagori baik, tata laksana operasional mendapatkan hasil yaitu 80% katagori baik, serta pembinaan dan pelatihan mendapatkan hasil 100% katagori baik.