Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Ekosistem Mangrove Perairan Paru Keudee, Kabupaten Pidie Jaya Nanda R. Janestia; Muhammad A. Sarong; Syahrul Purnawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 2, No 3 (2017): Agustus 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.194 KB)

Abstract

This study aimed to analyze the community structure of makrzoobenthos included density, diversity and uniformity. The research was conducted during October 2016 in the waters of village Paru Keudee sub District, Pidie Jaya District. The location was divided into three stations with five replications. Macrozoobenthos samples taken using the square transect method. Identification of macrozoobenthos was taken place at the Laboratory of Marine and Fisheries Faculty, and substrate type in Soil Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Syiah Kuala. The results of the study were (1) the density of macrozoobenthos ranged from 35.6 ind/m2 to 58.2 ind/m2. Diversity index ranges from 2.42 to 2.63 and uniformity index ranges from 0.73 to 0.80. The highest density range of 35.6 ind/m2 to 58.2 ind/m2, while diversity of macrozoobenthos was categorized as moderate with highly uniformity of macrozoobenthos.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas makrozoobenthos meliputi kepadatan, keanekaragaman dan keseragaman. Penelitian telah dilakukan pada bulan Oktober 2016 di Perairan Gampong Paru Keudee Kecamatan Bandar Baru Pidie Jaya. Dimana lokasi dibagi kedalam tiga stasiun dengan lima ulangan. Sampel makrozoobenthos diambil dengan menggunakan metode transek kuadrat. Identifikasi makrozoobenthos pada Laboratorium Fakultas Kelautan dan Perikanan, dan tipe substrat pada Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan makrozoobenthos berkisar 35,6 ind/m2 sampai 58,2 ind/m2. Indeks keanekaragaman berkisar 2,42 sampai 2,63 dan indeks keseragaman berkisar 0,73 sampai 0,80. Kepadatan tertinggi berkisar 35,6 ind/m2 sampai 58,2 ind/m2 sementara Keanekaragaman makrozoobenthos adalah sedang dan keseragaman makrozoobenthos adalah tinggi. 
KEANEKARAGAMAN GASTROPODA DAN BIVALVIA BEDASARKAN KARATERISTIK SEDIMEN DAERAH INTERTIDAL KAWASAN PANTAI UJONG PANCU KECAMATAN PEUKAN BADA KABUPATEN ACEH BESAR Ziaul Maula; Syahrul Purnawan; Muhammad Ali Sarong
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.647 KB)

Abstract

Penelitian Keanekaragman Gastropoda dan Bivalvia Berdasarkan Karakteristik Sedimen  Daerah  Intertidal  di  Pantai  Ujung  Pancu  Kecamatan  Peukan  Bada Kabupaten Aceh Besar ini dilakukan pada bulan Januari 2016. Tujuan penelitian ini adalah   untuk   mengetahui   keanekaragaman   berdasarkan   karakteristik   sedimen. Metode yang digunakan adalah metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada saat surut terendah. Stasiun terdiri dari 5  stasiun, dimana setiap stasiun diletakkan plot berukuran 5 x 5 m dan diletakkan transek kuadrat berukuran 1 x 1 m didalamnya  dengan jarak sampling 30 m. Analisis data menggunakan rumus keanekaragaman dan Mean grain size. Hasil penelitian ditemukan 19 total spesies yang terdiri dari 12 spesies kelas Gastropoda dan 7 spesies kelas Bivalvia. Keanekaragaman berkisar antara 3,652-3,984. Dan ukuran butiran berkisar antara 0,294-0,403. Kesimpulannya adalah (1) Keanekaragamannya tinggi (2) Ukuran butirannya pasir halus.  Kata Kunci : Ujong Pancu, Keanekaragaman, Sedimen,  Gastropoda, Bivalvia Study  about  diversity  of  Gastropods  and  Bivalves  based  on  characteristics  of sediment in intertidal area in Ujung Pancu Beach Peukan Bada subdistrict Aceh Besar  district  was  conducted  on  January  2016.  The  aim  of  this  study  was  to determine the diversity based on characteristics of sediment. The methode used was purposive sampling method. Sampling were conducted while the water had low recede. Station consisted of 5 stations where each station placed plot 5 x 5 m and placed 1 x 1 m2 of square transects in it with 30 m sampling space. Data analyzed by diversity formula and mean grain size. The result showed that 19 species were found which consisted of 12 species of Gastropods and 7 species of Bivalves. Diversity ranged between 3,652 to 3,984. And grain size ranged between 0,294 to 0,403. The conclusions were (1) Diversity was high (2) Grain size was fine sand  Keyword : Ujong Pancu, Diversity, Sediment, Gastropods, Bivalves
Pengaruh Umur Zigot Pada Saat Kejutan Panas Terhadap Keberhasilan Ginogenesis Ikan Seurukan (Osteochilus Vittatus) Zulhardi Zulhardi; Zainal A. Muchlisin; Syahrul Purnawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.921 KB)

Abstract

The objectives of the present study was to determine the best age of the zygote for gynogenesis of seurukan fish (Osteochilus vittatus) using heat shock treatment. The completely randomized design was utilized in this study. Five levels of zygote age were tested, namely: 3 minutes, 5 minutes, 7 minutes, 9 minutes and 11 minutes after fertilization and one control treatment (without heat shock). The zygotes were shocked at the temperature of 38oC for 60 seconds and every treatment was done at three replications. The ANOVA test showed that the zygote age gave the significant effect on the triploidy level and growth performance of the seurukan fish (P0.05). The highest percentage of the triploid  fish were found at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 min, 7 min and 9 min. The highest weight gain  was found at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 min, 7 min and 9 min. In addition, the highest of length gain was also recorded at zygote at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 minutes of the zygote (P0.05). It is concluded that the best zygote age of the seurukan fish for gynogenesis using heat shock treatment was 3 minutes after fertilization.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan umur zigot terbaik untuk proses ginogenesis ikan seurukan (Osteochilus vittatus) dengan menggunakan kejutan suhu panas. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan model Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan enam taraf perlakuan, masing-masing perlakuan dengan tiga kali ulangan. Kejutan suhu yang diberikan yaitu 38oC dengan lama kejutan 60 detik, dengan perlakuan yaitu: kontrol (tanpa perlakuan kejutan panas), umur zigot 3 menit setelah pembuahan, umur zigot 7 menit setelah pembuahan, umur zigot 9 menit setelah pembuahan dan 11 menit setelah pembuahan. Uji ANOVA menunjukkan bahwa pemberian kejutan suhu panas pada umur zigot yang berbeda berpengaruh nyata terhadap triploidy dan pertumbuhan ikan seurukan (P0,05). Persentase ikan triploid tertinggi dijumpai pada perlakuan 3 menit setelah pembuahan, nilai tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit, 7 menit dan 9 menit. Pertambahan bobot tertinggi dijumpai pada umur zigot 3 menit setelah pembuahan, nilai ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit, 7 menit dan 9 menit. Pertambahan panjang tertinggi dijumpai pada perlakuan 3 menit setelah pembuahan, nilai ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit (P0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa umur zigot yang berbeda berpengaruh terhadap triploidy, dan umur zigot terbaik adalah 3 menit setelah pembuahan
Kelimpahan Foraminifera Bentik Pada Sedimen Di Perairan Pantai Lamreh, Aceh Besar Jaza Anil Husna; Chitra Octavina; Syahrul Purnawan
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.246 KB)

Abstract

ABSTRACTThis research was aimed to determine and study the abundance of benthic foraminifera on coral reef ecosystem and mangrove in the Coastal Waters of Lamreh, Aceh Besar. This research was conducted from April to May 2016 using purposive sampling method. Samples of foraminifera benthic were collected using a corer (paralon pipe). 229 individuals of foraminifera benthic belonging to 29 spesies was found. The most abundant species found in coral reef area was Spiroloculina sp. (339,70 ind/m2 or 14,17%) and Spriloculina hyalina (305,73 ind/m2 or 13,64%), while in mangrove area was Calcarina calcar  with the abundance value of 356,69 ind/m2 or 20,59%. In this area the sediment was dominated by sandy sediment. Probably, It was due to the strong current and wave in the coastal waters of lamreh which inhibit the desposition of fine sediment. Keywords: Abundance, coral reefs, foraminifera, mangrove,  Coastal, sediments ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan dan mengkaji kelimpahan foraminifera bentik pada ekosistem terumbu karang dan mangrove di Perairan Pantai Lamreh Aceh Besar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2016 dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel foraminifera bentik menggunakan corer (pipa paralon). Hasil penelitian foraminifera bentik ditemukan sebanyak 29 spesies dengan total individu sebanyak 229 individu. Pada kawasan terumbu karang spesies tertinggi ditemukan pada spesies Spiroloculina sp. dengan kelimpahan 339,70 ind/m2 (15,75%) dan Spriloculina hyalina 305,73 ind/m2 (14,17%), sedangkan pada ekosistem mangrove spesies tertinggi ditemukan pada spesies Calcarina calcar dengan kelimpahan 356,69 ind/m2 (20,59%), Pada kawasan ini, sedimen yang dihasilkan dominan pasiran. Hal diduga karena di kawasan perairan Pantai Lamreh memiliki arus dan gelombang yang kuat sehingga menghambat terjadinya pengendapan sedimen yang berukuran halus. Kata kunci: Kelimpahan, Foraminifera, Sedimen, Terumbu karang, Mangrove, Pantai Lamreh.
Kelimpahan Biota Penempel yang Terdapat Pada Mangrove di Muara Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh Abdul Maulud; Syahrul Purnawan; Nurfadillah Nurfadillah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.3 KB)

Abstract

Alue Naga estuary area is a mangrove rehabilitation site which provides many attaching biota. This research aims to discover the abundance of attaching biota attached on mangroves in the area of Alue Naga obtain estuary, Syiah Kuala District, Banda Aceh City. This research was conducted in July 2016, and the method used was purposive sampling. The result of the research show that 17 biota species were found attaching to mangroves. The abundance of attaching biota ranges 0.9-1.56 ind/m², which the highest abundant species was Alectryonella picatul. The mangrove density found ranges 0,25 - 0,5 ind/m², which is a kind from Rhizophora apiculata. The dominant index on studied area on root of stem and leaves are in low category. The conclusion shows that dominant index is low, and there are no dominant species.       Kawasan Muara Alue Naga merupakan kawasan rehabilitasi mangrove dan banyak terdapat biota penempel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan biota penempel yang terdapat pada mangrove di kawasan muara Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Penelian ini di lakukan pada bulan Juli 2016. Metode yang digunakan purpossive sampling. Hasil penelitian ditemukan 17 spesies biota yang menempel dengan mangrove. Kelimpahan biota penempel berkisar 0,9 – 1,56 ind/m², dengan kelimpahan jenis tertinggi yaitu Alectryonella picatul. Kerapatan mangrove yang di temukan berkisar 0,25 - 0,5 ind/m², dari jenis Rhizophora apiculata. Indeks dominansi pada area penelitian yaitu pada akar batang dan daun berada pada katagori rendah. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa indeks dominansi rendah dan tidak ada spesies yang mendominansi.
Jenis dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Laguna Gampong Pulot Kecamatan Leupung Aceh Besar Teuku Marman; Syahrul Purnawan; Irma Dewiyanti
Akuatika Indonesia Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v1i2.29156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton serta hubungannya dengan parameter fisik-kimia perairan. Penelitian telah dilakukan pada bulan Desember 2014 di Laguna Leupung. Pengambilan sampel plankton dilakukan pada 6 stasiun pengamatan dengan menggunakan plankton-net. Identifikasi plankton dilakukan di Laboratorium Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala. Genus yang ditemukan sebanyak 25 genera yang berasal dari kelas Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Kelas Bacillariophyceae tergolong sedang dengan kelimpahan rata-rata 1202,02 ind./l, sedangkan kelas Dinophyceae berkisar 621,13 ind./l dan Cyanophyceae 208,49 ind./l yang tergolong dalam kelimpahan rendah. Genus yang dominan ditemukan adalah Rhizosolenia sebesar 26%. Nilai indeks Keanekaragaman berkisar 1,88 - 2,63, dan termasuk kedalam kategori sedang. Berdasarkan Principal Component Analysis diketahui parameter fisik-kimia berpengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton di perairan Laguna Leupung.
Identifikasi awal sampah apung anorganik di muara Sungai Krueng Aceh, Kota Banda Aceh Sri Agustina; Syarifah Putri Nuraini; Syahrul Purnawan; Edwin Efendy Wijaya Siregar
Depik Vol 9, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.233 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.1.15237

Abstract

Abstract. Mismanaged anthropogenic debris land-based has generated the waste entering the river runoff. It was documented that the ocean has been affected ecologically by the waste. Therefore, the data availability of riverine inorganic debris is crucial in implementing mitigation strategies. This study was a preliminary study to identify the inorganic debris floating on the Krueng Aceh River. This study aimed to obtain data of floating inorganic debris types and percentages found at the estuary of Krueng Aceh River that can be used as a reference in managing the riverine waste. It was conducted at the estuary of Krueng Aceh River, Banda Aceh, during March to April 2019. The samples were collected twice a week by installing 4 m x 2 m nets on both sides of the river for six hours. It was identified seven categories of inorganic debris were plastic, foamed plastic, metal, glass, rubber, paper and cardboard, and others. Plastic category as the most floated on Krueng Aceh River with the percentage of 77.8% consists of drinking water bottles and cups, bottle caps, cigarettes, cigarettes lighter, bubble wrap, plastic bags, plastic ropes, monofilament line, straws, and drink package rings. The amount of drinking water cups was dominantly trapped (32%) and identified as many as 28 brands. The plastic debris was assumed originating from anthropogenic activities, and mismanaged land-based garbages.It is concluded that the plastic category, especially drinking water cups, was the most floating on the Krueng Aceh River.Keywords: Mineral water bottles, floating plastic debris, Krueng Aceh River Abstrak. Sampah anorganik akibat aktivitas manusia yang tidak dikelola dengan baik telah menghasilkan limbah yang berada di aliran sungai. Sebagian dari sampah–sampah tersebut akan berakhir di lautan sehingga menimbulkan dampak negatif secara ekologi. Oleh karena itu, ketersediaan data sampah anorganik di aliran sungai diperlukan bagi pengelolaan sampah yang lebih baik. Penelitian tentang sampah anorganik di muara Sungai Krueng Aceh merupakan penelitian awal untuk menyediakan data jenis dan persentase sampah anorganik yang ditemukan di muara Sungai Krueng Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis dan persentase sampah anorganik yang terapung di muara Sungai Krueng Aceh sehingga dapat menjadi acuan bagi pengelolaan sampah di aliran sungai. Penelitian ini dilakukan di muara Sungai Krueng Aceh, Kota Banda Aceh pada bulan Maret-April 2019. Pengumpulan sampel dilakukan dua kali dalam seminggu dengan memasang jaring 4 m x 2 m di kedua sisi sungai selama enam jam. Hasil identifikasi dikelompokkan ke dalam tujuh kategori sampah anorganik, yaitu kategori plastik, busa, kaca dan keramik, logam, kertas dan kardus, karet, serta kategori lainnya. Kategori plastik memiliki persentase terbesar dengan nilai 77,8% yang terdiri dari jenis bentuk botol dan gelas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), puntung rokok, pemantik, bubble wrap, kantong plastik, tutup botol, tali plastik, monofilament line, sedotan, dan cincin paket minuman. Persentase AMDK berbentuk gelas lebih tinggi daripada bentuk botol dengan 28 merek yang teridentifikasi. Sampah plastik tersebut diduga berasal dari aktivitas masyarakat di sepanjang Sungai Krueng Aceh dan akibat pengelolaan sampah yang belum baik sehingga sampah memasuki aliran sungai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampah plastik terutama sampah AMDK bentuk gelas ditemukan paling banyak mengapung di Sungai Krueng Aceh.Kata kunci: Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), sampah plastik apung, Sungai Krueng Aceh
The influences of the Indian Ocean Dipole (IOD) on rainfall in South Aceh Ratna Permatasari; Yopi Ilhamsyah; Syahrul Purnawan; Ichsan Setiawan; Mutia Ramadhaniaty; Sutarni Sutarni; Eko Cahyo Pristiwantoro
Depik Vol 11, No 3 (2022): DECEMBER 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.229 KB) | DOI: 10.13170/depik.11.3.25984

Abstract

This study aimed to examine the influences of the Indian Ocean Dipole (IOD) on rainfall in three districts in South Aceh. The analysis was undertaken using Dipole Mode Index (DMI) data and five years of rainfall (2016 to 2020) in West Labuhan Haji, Tapak Tuan, and Bakongan areas. This research employed a correlation analysis and the Principal Component Analysis, followed by Cluster Analysis to investigate the relationship between IOD and rainfall at the study location. The negative IOD occurred in 2016, and the positive IOD occurred in 2017, 2018, 2019, and 2020. The strongest positive DMI was in October 2019 (1.123˚C), while the strongest negative DMI was in July 2016 (0.661˚C). Generally, the sub-districts of West Labuhan Haji, Tapak Tuan, and Bakongan always have high rainfall. The highest rainfall in West Labuhan Haji was recorded in January 2017 (1014 mm/month), in Tapak Tuan in November 2017 (1073 mm/month), and in Bakongan in July 2020 (605 mm/month). The correlation between DMI and rainfall in the three locations shows different findings. Although it was very small, the IOD affected the rainfall in West Labuhan Haji, Tapak Tuan, and Bakongan. In West Labuhan Haji, the highest correlation was in lag 1 (0.188); in Tapak Tuan, the highest correlation was in lag 2 (0.156), while in Bakongan, the highest correlation was in lag 2 (-0.191). The correlations in these three locations are considered weak. Thus, the IOD is not the main factor affecting the rainfall in West Labuhan Haji, Tapak Tuan, and Bakongan. As South Aceh is located in windward, the orographic effect may influence high rainfall in this region.Keywords:DMIRainfallPrincipal component AnalysisWest Labuhan HajiTapak TuanBakongan
Karakteristik dan kandungan mineral pasir pantai Lhok Mee, Beureunut dan Leungah, Kabupaten Aceh Besar Saniah .; Syahrul Purnawan; Sofyatuddin Karina
Depik Vol 3, No 3 (2014): Desember 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.022 KB) | DOI: 10.13170/depik.3.3.2176

Abstract

Abstract. The objective of this research was to determine the characteristics and mineral content of coastal sand from  Lhokmee, Beureunut, and Leungah Aceh Besar District. The sand analysis was conducted at Material Laboratory of Mathematics and Natural Sciences Faculty, Syiah Kuala University from March to April, 2014. Samples were collected using purpossive sampling method. The observed physical characteristics of this research were sand color, shape and particle size. The mineral content was analysed using X-Ray Diffraction (XRD) and Joint Committee for Powder Diffraction Standard (JCPDS) program. The result showed that Lhok Mee coastal sand was physically characterized as white, sub-angular rounded shape and 0.21 mm of size, while Beureunut coastal sand was light brown, rounded-well rounded shape and 0.19 mm of size, then Leungah coastal sand was black, angular-well rounded shape and 0.13 mm of size. Based on  mineral content showed that Lhok Mee, Beureunut, and Leungah coastal sand were dominated by SiO3, SO3 and Fe3O4, respectively. All identified minerals at all stations were classified as volcanic minerals of lithogenous sediment. Keywords: Beach sands; Color difference; Mineral content; Shape; Particle size. 
Kandungan merkuri pada substrat dasar di kawasan muara Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom, Kabupaten Aceh Jaya Syahrul Purnawan; Rifki Rahman; Sofyatuddin Karina
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.018 KB) | DOI: 10.13170/depik.6.3.8108

Abstract

The objective of this study was to determine the mercury content in sediment in the waters of Aceh Jaya coastal. The research was carried out in the Estuary of Krueng Sabee, Panga, and Teunom River on October 2015. Samples were analyzed using the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) at the Laboratory of Chemistry, Mathematics and Natural Sciences Faculty, Syiah Kuala University. It was found that the Hg content in sediment of Krueng Sabee, Panga, and Teunom were 0.76, 0.68, and 1.03 mg/kg, respectively. Hg metal content in the sediment at all stations remained below the threshold. Despite,  the correlation between Hg content and sediment size in this study was weak, but there was a tendency the finer sediment size the higher Hg content found in sediment. However, heavy metal from water was easier to be deposed and embedded in fine sediment.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran logam berat merkuri (Hg) yang terkandung pada substrat dasar di beberapa muara sungai Kabupaten Aceh Jaya. Pengambilan data dilakukan pada Bulan Oktober 2015 di Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom. Sampel substrat diambil berdasarkan metode coring menggunakan pipa paralon, Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) atau Spektrofotometer Serapan Atom digunakan untuk mendapatkan data kandungan logam berat Hg pada substrat, sementara metode ayak basah digunakan untuk mendapatkan data ukuran butiran. Kandungan merkuri (Hg) dalam substrat Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom masing-masing adalah 0,76; 0,68 dan 1,03 mg/kg. Terlihat kecenderungan substrat dengan butiran yang halus mengandung kadar merkuri yang lebih tinggi, dimana sifat merkuri yang mudah berikatan dengan zat organik mempermudah pengendapan pada bentuk butiran yang halus.