Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Strategi Integrated Marketing Communication (IMC) Café Pupuk Bawang dalam Memperkuat Positioning Merek Widodo, Herru Prasetya; Rinata, Asfira Rachmat; Fianto, Latif; Ghofur, Mochamad Abdul
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 7 No 1 (2025)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v7i1.2487

Abstract

Integrated Marketing Communication (IMC) is crucial in the marketing world as it helps create a consistent and unified message for the audience. With IMC, companies can communicate their messages more effectively, through various mutually supporting channels, be it advertising, sales promotions, social media, public relations, and others. This study aims to determine the application of Integrated Marketing Communication (IMC) in strengthening the positioning of Café Pupuk Bawang in Batu City. The method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that IMC is implemented through several aspects such as customer relations, direct promotions, social media, and strengthening brand image. Despite obstacles due to the Covid-19 pandemic, Café Pupuk Bawang was able to maintain its existence through consistent and integrated marketing communications. Pupuk Bawang Café needs to promote itself through various marketing communication activities summarized in Integrated Marketing Communication (IMC), as explained previously, namely the existence of marketing promotion activities in integrated elements, namely Relationships, Structures, Brands, Communication Tools, Messages, Employees, Technology, and Agencies in strengthening positioning. Pupuk Bawang Batu Cafe has performed its duties well, although not as well as possible due to the Covid-19 outbreak. Abstrak Integrated Marketing Communication (IMC) sangat penting dalam dunia pemasaran karena membantu menciptakan pesan yang konsisten dan terpadu untuk audiens. Dengan IMC, perusahaan dapat mengkomunikasikan pesan mereka secara lebih efektif, melalui berbagai saluran yang saling mendukung, baik itu iklan, promosi penjualan, media sosial, public relations, dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Integrated Marketing Communication (IMC) dalam memperkuat positioning Café Pupuk Bawang di Kota Batu. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IMC dijalankan melalui beberapa aspek seperti hubungan pelanggan, promosi langsung, media sosial, dan penguatan citra merek. Meski terdapat kendala akibat pandemi Covid-19, Café Pupuk Bawang mampu mempertahankan eksistensinya melalui komunikasi pemasaran yang konsisten dan terintegrasi. Pupuk Bawang Café perlu mempromosikan diri melalui berbagai kegiatan komunikasi pemasaran yang terangkum dalam Integrated Marketing Communication (IMC), seperti pada penjelasan sebelumnya yaitu adanya kegiatan promosi pemasaran pada elemen yang terintegrasi yaitu Relationships, Structures, Brands, Communication Tools, Pesan, Karyawan, Teknologi, dan Instansi dalam memperkuat positioning. Kafe Pupuk Bawang Batu telah menjalankan tugasnya dengan baik, meski tidak sebaik mungkin karena wabah Covid-19.
BUDAYA PARTISIPASI PENGGEMAR KURT COBAIN DALAM KOMUNITAS MUSIK GRUNGE MALANG Rinata, Asfira Rachmad; Widodo, Herru Prasetya; Yusran, Muhammad Ronaldo
PAWITRA KOMUNIKA : Jurnal Komunikasi dan Sosial Humaniora Vol 1 No 2 (2020): Volume 1 Nomor 2 Desember 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Majapahit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana budaya pertisipasi penggemar Kurt Cobain dalam komunitas musik grunge di Malang. Musik menjadi salah satu media dan sarana dalam mengungkapan pikiran, isi, hati, perasaan manusia dalam bentuk suara. Salah satu genre musik yang diminati masyarakat adalah genre grunge, dan Kurt Cobain adalah salah satu musisi grunge yang memiliki banyak penggemar fanatis hingga sekarang yang turut berpartisipasi aktif dalam suatu komunitas musik grunge di Malang. Budaya partisipasi penggemar Kurt Cobain membentuk minat, sikap, motivasi dan eksistensi tersendiri bagi penggemarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa terdapat budaya partisipasi penggemar kurt cobain di komunitas musik grunge Malang terlihat dari Minat penggemar dalam menjadikannya sebagai role model dalam berpakaian, penampilan ketika perform, dan beberapa lagu yang diciptakan. Hal tersebut menimbulkan sikap seperti mengeksklusifkan idolanya dan mempengaruhi tujuan tertentu saat bermusik. Selain itu budaya partisipasi juga terlihat dalam motivasi penggemar fanatisnya, seperti mendorong keinginan untuk memulai bermusik dengan aliran grunge. Aspek lainnya adalah eksistensi, terdapat beberapa usaha yang dilakukan seperti campaign “kami tetap ada” yang dituangkan dalam event dan kaus yang mereka produksi sendiri.
Identity Branding: Kampoeng Kajoetangan Sebagai Wisata Ikonik Kota Malang Widodo, Herru Prasetya; Ghofur, Muhammad Abdul; Ince, Alfrida Nona
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v6i1.528

Abstract

One of the cities in East Java Province is Malang City, which offers a number of tourist destinations, including Kajoetangan Village, Arema Blue Village, Jodipan Colorful Village, Malang Square, and Malang Monument. Of the many tourist attractions available, Kampoeng Kajoetangan is one of the new tourist attractions that requires identity branding. The purpose of creating identity branding is to introduce these tourist attractions to the wider community or tourists, give them their own identity, and be a differentiator from other tourist attractions. Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan Malang is one of the cultural tourism villages that, with its characteristics, has Dutch architectural houses as well as religious cemeteries and culinary tours. The results of this study indicate that the identity branding of Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan is generally applied to almost all of them. A brand as a product has components that form a brand identity, including attractions, facilities and infrastructure, transportation, culinary, and religious tourism. Brand as organization has several components, including institutions, which include government, pokdarwis, society, and culture. A person's brand has several components, including managers and pokdarwis themselves. Brand as a symbol, which has several components, including a logo, brand name, tagline, and also a brand story. Abstrak Salah satu kota di Provinsi Jawa Timur adalah Kota Malang yang menawarkan sejumlah destinasi wisata, antara lain Kampung Kajoetangan, Kampung Biru Arema, Kampung Warna-Warni Jodipan, Alun-Alun Malang, dan Tugu Malang. Dari sekian banyak tempat wisata yang tersedia, Kampoeng Kajoetangan tersebut merupakan salah satu tempat wisata baru yang membutuhkan adanya branding identitas. Tujuan dari membuat branding identitas tersebut untuk memperkenalkan tempat wisata tersebut ke masyarakat luas atau wisatawan serta mempunyai identitas sendiri dan menjadi pembeda dengan tempat wisata lainnya. Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan Malang merupakan salah satu kampung wisata budaya yang dengan ciri khas mempunyai rumah berarsitektur Belanda dan juga Makam Religi dan wisata Kuliner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa branding identitas Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan pada umumnya hampir diterapkan semuanya. Brand as product memiliki komponen-komponen yang membentuk brand identitas diantaranya atraksi,fasilitas dan infrastruktur, transportasi, kuliner dan wisata religi. Brand as Organization memiliki beberapa komponen diantaranya kelembagaan yang meliputi pemerintah, Pokdarwis dan masyarakat serta budaya. Brand as Person memiliki beberapa komponen juga diantaranya Pengelola dan juga Pokdarwis sendiri. Brand as Symbol yang memiliki beberapa komponen antara lain logo, nama merek, tagline dan juga kisah merek.
Identity Branding: Kampoeng Kajoetangan Sebagai Wisata Ikonik Kota Malang Widodo, Herru Prasetya; Ghofur, Muhammad Abdul; Ince, Alfrida Nona
Jurnal Komunikasi Nusantara Vol 6 No 1 (2024)
Publisher : Unitri Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jkn.v6i1.528

Abstract

One of the cities in East Java Province is Malang City, which offers a number of tourist destinations, including Kajoetangan Village, Arema Blue Village, Jodipan Colorful Village, Malang Square, and Malang Monument. Of the many tourist attractions available, Kampoeng Kajoetangan is one of the new tourist attractions that requires identity branding. The purpose of creating identity branding is to introduce these tourist attractions to the wider community or tourists, give them their own identity, and be a differentiator from other tourist attractions. Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan Malang is one of the cultural tourism villages that, with its characteristics, has Dutch architectural houses as well as religious cemeteries and culinary tours. The results of this study indicate that the identity branding of Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan is generally applied to almost all of them. A brand as a product has components that form a brand identity, including attractions, facilities and infrastructure, transportation, culinary, and religious tourism. Brand as organization has several components, including institutions, which include government, pokdarwis, society, and culture. A person's brand has several components, including managers and pokdarwis themselves. Brand as a symbol, which has several components, including a logo, brand name, tagline, and also a brand story. Abstrak Salah satu kota di Provinsi Jawa Timur adalah Kota Malang yang menawarkan sejumlah destinasi wisata, antara lain Kampung Kajoetangan, Kampung Biru Arema, Kampung Warna-Warni Jodipan, Alun-Alun Malang, dan Tugu Malang. Dari sekian banyak tempat wisata yang tersedia, Kampoeng Kajoetangan tersebut merupakan salah satu tempat wisata baru yang membutuhkan adanya branding identitas. Tujuan dari membuat branding identitas tersebut untuk memperkenalkan tempat wisata tersebut ke masyarakat luas atau wisatawan serta mempunyai identitas sendiri dan menjadi pembeda dengan tempat wisata lainnya. Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan Malang merupakan salah satu kampung wisata budaya yang dengan ciri khas mempunyai rumah berarsitektur Belanda dan juga Makam Religi dan wisata Kuliner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa branding identitas Kampoeng Wisata Heritage Kajoetangan pada umumnya hampir diterapkan semuanya. Brand as product memiliki komponen-komponen yang membentuk brand identitas diantaranya atraksi,fasilitas dan infrastruktur, transportasi, kuliner dan wisata religi. Brand as Organization memiliki beberapa komponen diantaranya kelembagaan yang meliputi pemerintah, Pokdarwis dan masyarakat serta budaya. Brand as Person memiliki beberapa komponen juga diantaranya Pengelola dan juga Pokdarwis sendiri. Brand as Symbol yang memiliki beberapa komponen antara lain logo, nama merek, tagline dan juga kisah merek.
DAYA TARIK DESTINASI WISATA ALAM & BUDAYA PADANG FULAN FEHAN KAB. BELU NUSA TENGGARA TIMUR Rinata, Asfira Rachmad; Widodo, Herru Prasetya; Loe, Mariela Gradiana
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 13, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v13i1.2638

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to determine the Attraction of Natural Cultural Tourism Destinations in Padang Fulan Fehan. Belu, East Nusa Tenggara by using the concept of destination branding theory by Morgan and Pritchard. The type of research used is descriptive qualitative in order to reveal more deeply the tourist attraction of Padang Fulan Fehan as natural and cultural tourism. The results of the study reveal that to see tourist attractiveness apply five stages of destination branding, namely: (1) market investigation, analysis and strategic recommendations stage by implementing SWOT analysis in the form of strengths, weaknesses, opportunities, and threats (threats) Then, (2) the brand identity development stage only uses the name as the brand identity. Furthermore, (3) the brand launch and introduction stage: communicating the vision through promotion through electronic media, online media, and social media, (4) the brand implementation stage in collaboration with the local community (LMDH) and the government. Meanwhile, (5) monitoring, evaluation, and review stages through social media and monitoring the situation in the field. The attraction of Padang Fulan Fehan in the expanse of savanna meadows and cultural attractions that are displayed at certain moments at traditional eventsKeywords: atractions, branding destination, Padang Fulan Fehan tourism, NTT