Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Teras Jurnal

Analisis Terpadu Revitalisasi Pelabuhan Liem Hie Djung untuk Layanan Lintas Batas Indonesia-Malaysia Utomo, Edy; Bakri, Muhammad Djaya; Nawir, Daud; Arifin, Muhammad Asfihan Nur; Syarif, Iif Ahmad
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 1 (2026): Teras Jurnal
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i1.1341

Abstract

Abstrak   Pelabuhan Liem Hie Djung (Nunukan, Kalimantan Utara) merupakan simpul layanan lintas batas Indonesia-Malaysia, namun kinerja sisi air dan sisi darat masih dibatasi oleh kedalaman efektif, geometri perairan, dan kapasitas terminal. Penelitian ini menyusun dasar teknis revitalisasi melalui pemodelan bathimetri berbasis SIG dari raster BATNAS resolusi 10 m, survei lapangan, serta analisis kebutuhan fasilitas sisi air-sisi darat. Parameter arus dan pasut ditetapkan dari pengukuran dan analisis pasut setempat, sedangkan tinggi gelombang rencana diperoleh melalui peramalan gelombang. Hasil menunjukkan arus maksimum 0,59 m/s saat surut, tinggi gelombang rencana 0,46 m, serta muka air HWS +4,81 m, MSL +3,29 m, dan LWS +1,81 m. Untuk kapal rencana (LOA 29,50 m; sarat 1,22 m), kebutuhan minimum meliputi kedalaman rencana 2,27 m, lebar alur satu jalur 32,64 m, diameter kolam putar 44,25 m, dan panjang dermaga 81,00 m. Pada sisi darat diperlukan optimasi ruang tunggu, fasilitas pemeriksaan, serta area parkir 2.644 m2. Secara keseluruhan, pra-desain revitalisasi diusulkan bertahap dengan zonasi layanan regional dan internasional.   Kata kunci: Bathimetri, BATNAS, Dermaga, Revitalisasi, SIG.       Abstract   Liem Hie Djung Port (Nunukan, North Kalimantan) is a key border gateway for Indonesia-Malaysia maritime services, yet its waterside and landside performance is constrained by effective depth, basin geometry, and terminal capacity. This study develops a technical basis for revitalization by integrating GIS-based bathymetry modelling from 10 m BATNAS rasters, field surveys, and facility-needs analysis. Currents and tidal levels were derived from local measurements and tidal analysis, while the design wave height was estimated through wave forecasting. Results indicate a maximum current of 0.59 m/s during ebb, a design wave height of 0.46 m, and water levels of HWS +4.81 m, MSL +3.29 m, and LWS +1.81 m. For the design vessel (LOA 29.50 m; draft 1.22 m), the minimum requirements are a 2.27 m design depth, a 32.64 m single-lane channel width, a 44.25 m turning basin diameter, and an 81.00 m berth length. Landside improvements include reorganizing passenger flow, inspection facilities, and 2,644 m2 of parking. Overall, a phased, zoned revitalization is recommended to support border connectivity.   Keywords: Bathymetry, Border, GIS, Revitalization, Terminal
Analisis Forensik Kegagalan Atap Kayu akibat Perubahan Penutup Atap pada Balai Adat Dayak Kalimantan Utara Utomo, Edy; Hernadi, Ahmad
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 1 (2026): Teras Jurnal
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v16i1.1347

Abstract

Abstrak   Keruntuhan atap kayu pada bangunan publik merupakan peristiwa kritis yang menimbulkan risiko keselamatan dan menuntut evaluasi teknis yang akuntabel. Penelitian ini bertujuan menyajikan analisis forensik kegagalan atap kayu pada Balai Adat Dayak “X” di Kalimantan Utara yang terjadi segera setelah pemasangan penutup atap dan pelepasan penyangga sementara. Perubahan penutup atap dari seng (3,26 kg/m2) menjadi sirap kayu ulin (25 kg/m2) meningkatkan beban mati penutup atap sekitar 21,74 kg/m2 (0,213 kN/m2) atau 667% (7,7 x) dibanding kondisi awal, sehingga menaikkan tuntutan layanan elemen atap. Metode penelitian meliputi investigasi lapangan, pengujian laboratorium sifat material kayu, analisis manual gording sebagai elemen balok, serta pemodelan global rangka kuda-kuda menggunakan SAP2000 mengacu SNI 7973:2013. Evaluasi juga mempertimbangkan peran sambungan, pengaku lateral, dan perubahan kondisi pelaksanaan saat penyangga sementara dilepas. Hasil menunjukkan gording eksisting melampaui kriteria kekuatan lentur dan batas lendutan, sedangkan elemen kuda-kuda secara global masih aman terhadap gaya aksial. Temuan ini menegaskan bahwa kegagalan lokal elemen sekunder dapat memicu keruntuhan sistem atap secara keseluruhan. Studi ini memberikan dasar teknis bagi pengendalian perubahan spesifikasi material, pemeriksaan lendutan, dan pengaturan tahapan pelepasan penyangga pada konstruksi atap kayu.   Kata kunci: Atap, Forensik, Gording, Kayu, Keruntuhan     Abstract Public timber-roof collapses are critical events that pose safety risks and require accountable technical evaluation. This study aims to present a forensic analysis of a timber roof failure at the Dayak Traditional Hall “X” in North Kalimantan, which occurred shortly after roof covering installation and the removal of temporary supports. Replacing a metal sheet roof (3.26 kg/m2) with ironwood shingles (ulin) (25 kg/m2) increased the roof dead load by about 21.74 kg/m2 (0.213 kN/m2), equivalent to 667% (7.7 x) relative to the original condition, thereby increasing serviceability demands on roof components. The methodology includes field investigation, laboratory testing of timber material properties, manual analysis of purlins as local elements, and global modelling of the roof truss using SAP2000 in accordance with SNI 7973:2013. The evaluation also considers the role of connections, lateral bracing, and construction-stage changes when temporary supports were removed. Results indicate that the existing purlins exceeded bending strength and deflection limits, while the truss members remained globally safe in terms of axial forces. These findings confirm that local failure of secondary elements can trigger collapse of the specification changes, checking deflections, and managing the timing of temporary support removal in timber roof construction.   Keywords: Roof, Forensic, Purlin, Timber, Collapse