Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PROBIOTIK MENINGKATKAN KONSENTRASI HEMOGLOBIN PADA TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDA ESCHERICHIA COLI Sari, Efris Kartika; Wihastuti, Titin Andri; Ardiansyah, Wahyu
Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 1 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.881 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.005.01.3

Abstract

Infeksi bakteri Escherichia coli (E. coli) dapat menyebabkan gangguan sistem hematologi, di antaranya berupa penurunan konsentrasi hemoglobin. Konsumsi probiotik dianggap sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Lactobacillus spp. terhadap konsentrasi hemoglobin pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi oleh lipopolisakarida (LPS) E. coli. Rancangan penelitian ini adalah true experimental dengan desain randomized post test only control group. Dua puluh satu ekor tikus putih dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu: (1) kelompok tikus tanpa perlakuan sebagai kontrol negatif (n = 7), (2) kelompok tikus yang diinduksi LPS E. coli (n = 7), dan (3) kelompok tikus yang dipapar Lactobacillus spp. dan diinduksi LPS E. coli (n = 7). Konsentrasi hemoglobin diukur dengan metode oksihemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan  konsentrasi hemoglobin antara kelompok tikus dengan paparan probiotik dan diinduksi LPS E. coli (8,9±0,3 mmol/L) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (8,0±0,8 mmol/L), dan kelompok yang hanya diinduksi LPS E. coli (8,4±0,5 mmol/L) (p < 0,05). Disimpulkan bahwa Lactobacillus spp. dapat meningkatkan konsentrasi hemoglobin pada tikus putih yang diinduksi LPS E. coli. Kata kunci: hemoglobin, Lactobacillus spp., lipopolisakarida E. coli
Tinjauan Literatur :PERBANDINGAN qSOFA DAN SIRS DALAM MENGIDENTIFIKASI PASIEN DENGAN SEPSIS DAN MEMPREDIKSI MORTALITASNYA: REVIEW ARTIKEL Sari, Efris Kartika
Majalah Kesehatan FKUB Vol 6, No 4 (2019): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.73 KB) | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2019.006.04.7

Abstract

Sepsis merupakan penyebab utama kondisi sakit kritis dan mortalitas di dunia. Kondisi sepsis membutuhkan identifikasi segera karena penundaan identifikasi sepsis dapat berakibat pada peningkatan angka mortalitas pasien. Review artikel ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan qSOFA dan SIRS dalam mengidentifikasi pasien dengan sepsis dan memprediksi mortalitasnya. Artikel didapatkan melalui pencarian menggunakan online database yaitu PubMed dengan menggunakan kata kunci qSOFA, SIRS, sepsis. Hasil pencarian mengidentifikasi hasil yang relevan dengan kata kunci sejumlah 35 artikel, kemudian dipilih 9 artikel untuk dikaji. Hasilnya terdapat satu studi pada 886 pasien yang menyatakan bahwa qSOFA dan SIRS belum optimal dalam mengidentifikasi sepsis. Terdapat dua studi dengan jumlah total 3.542 pasien yang menyatakan bahwa kriteria SIRS lebih baik dalam mengidentifikasi sepsis dan memprediksi mortalitas pasien. Selanjutnya, terdapat enam studi dengan jumlah total 167.172 pasien yang menyatakan keunggulan qSOFA dibandingkan dengan SIRS dalam mengidentifikasi sepsis dan memprediksi mortalitas pasien. Skor qSOFA lebih unggul dari kriteria SIRS dalam mengidentifikasi pasien sepsis dengan disfungsi organ yang berisiko tinggi mengalami kematian, sedangkan kriteria SIRS lebih unggul dari skor qSOFA dalam mengidentifikasi pasien sepsis yang belum mengalami disfungsi organ dan berisiko rendah mengalami kematian.   
HUBUNGAN SKOR SOFA DENGAN MORTALITAS PADA PASIEN SAKIT KRITIS Sari, Efris Kartika; Hayati, Yati Sri; Rokhmawati, Nila Lestari
Majalah Kesehatan FKUB Vol 8, No 3 (2021): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.majalahkesehatan.2021.008.03.4

Abstract

Sepsis merupakan suatu kondisi yang berisiko meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien sakit kritis. Gugus Tugas Sepsis-3 merekomendasikan Skor Sequential (Sepsis-related) Organ Failure Assessment (SOFA) untuk mengidentifikasi kondisi sepsis pada pasien sakit kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan skor SOFA dengan mortalitas pasien sakit kritis di ruang rawat intensif Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yang menggunakan data sekunder berupa rekam medik pasien. Skor SOFA dihitung pada saat pasien masuk ke ruang rawat intensif. Sejumlah 115 rekam medik yang lengkap yaitu memenuhi kebutuhan perhitungan skor SOFA dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata skor SOFA pasien adalah 7,25±3,85, dengan mortalitas pasien di ruang rawat intensif sebesar 55,6%. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor SOFA pasien yang hidup dan yang meninggal (p < 0,05), dan ada hubungan antara skor SOFA dengan mortalitas (p < 0,05). Disimpulkan bahwa skor SOFA saat pasien masuk berhubungan dengan mortalitas pasien sakit kritis di ruang rawat intensif. 
Hubungan Sleep Hygiene Terhadap Tingkat Insomnia pada Lanjut Usia Setyoadi, Setyoadi; Purnamawati, Ni Putu Ika; Sari, Efris Kartika
Jurnal Keperawatan Malang Vol 8 No 1 (2023): Jurnal Keperawatan Malang (JKM)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIKes Panti Waluya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36916/jkm.v8i1.197

Abstract

Latar belakang: Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dialami oleh lanjut usia. Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan salah satunya adalah kebiasaan sebelum tidur (sleep hygiene). Terdapat 6 komponen yang dinilai dalam kebiasaan sebelum tidur yaitu: pola tidur, penggunaan tempat tidur, tingkat aktivitas, kondisi lingkungan, kondisi psikologi dan diet (konsumsi kopi). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sebelum tidur dengan derajat insomnia pada lanjut usia di Posyandu Lansia Kelurahan Tulusrejo Wilayah Kerja Puskesmas Kendalsari Kota Malang. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah observasional melalui pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 36 lansia lansia yang mengalami insomnia dan dipilih dengan metode purposive sampling. Teknik analisa data menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil uji statistik didapatkan p value 0.000 dan koefisien korelasi (r) = 0.773 yang artinya terdapa hubungan antara kebiasaan sebelum tidur sengan derajat insomnia pada lansia, dengan arah korelasi posotif (+) yang artinya semakin baik kebiasaan sebelum tidur maka semakin rendah derajat insomnia yang dialami oleh lanjut usia. Kesimpulan:Terdapat hubungan antara kebiasaan sebelum tidur (sleep hygiene) terhadap tingkat insomnia pada usia lanjut. Saran yang dapat diberikan untuk penelitian ini yaitu kader posyandu dapat memberikan edukasi kepada lansia mengenai kebiasaan sebelum tidur yang baik pada lansia yang mengalami insomnia
Efforts To Enhance Mental Health Among School-Aged Children During The Covid-19 Pandemic Through The Teacher And Parent Empowerment Hidayah, Ridhoyanti; Nova, Renny; Sari, Efris Kartika
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiat.2022.008.02.10

Abstract

School-aged children, as a developmental stage, are a group at high risk for mental health issues, particularly during this pandemic of COVID-19. Children may be perpetrators, witnesses, or victims of violence or irregularities perpetrated directly or through social media. This community service activity is designed to improve the mental health of children during the COVID-19 pandemic through early detection, prevention, and early treatment of mental health issues through parental and teacher empowerment programs. When children learn online and do more activities at home with their families, there are many factors that affect children's mental health. This is not widely known by the school, teachers, counselors, and parents clearly, which results in the state of the child getting worse. Through an empowerment program, they can discover early deviations that occur and take preventive measures with early treatment efforts during the COVID-19 pandemic.
Pain symptoms and delays healthcare decision-making in acute myocardial infarction Ainan, Shafa; Lukitasari, Mifetika; Sari, Efris Kartika; Ahsan, Ahsan; Rohman, Mohammad Saifur; Satrijo, Budi
Heart Science Journal Vol. 7 No. 1 (2026): Accelerating Clinical Breakthroughs: The Journey from Molecular Discovery to Pa
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.hsj.2026.007.01.16

Abstract

Background: Rapid initiation of reperfusion therapy in acute myocardial infarction (AMI) is vital for a favourable prognosis and is significantly affected by the duration from symptom onset to hospital arrival. Previous studies have indicated that cardiac autonomic neuropathy (CAN), prevalent in diabetic patients, may impair pain perception, potentially delaying healthcare-seeking behaviour Objective: This study aimed to compare chest pain characteristics and healthcare-seeking delays between patients with diabetes mellitus (DM) and without DM (non-DM) myocardial infarction. Methods: A cross-sectional study was conducted involving 93 subjects (35 DM and 58 non-DM) diagnosed with either ST-elevation myocardial infarction (STEMI, n=78) or non-ST elevation myocardial infarction (NSTEMI, n=15). Data on symptoms, including pain quality and healthcare-seeking timing within 72 hours of admission, were gathered via a standardized questionnaire. Result: Logistic regression analysis highlighted stabbing pain as a strong predictor (OR = 3.296, p-Value = 0.038), indicating that patients with this symptom are more than three times more likely to delay seeking care. Patients with DM are more frequently reported back-radiating stabbing pain (p<0.05). No significant differences between the groups were observed in pain symptomatology and decision-making delay, although DM patients were more likely to delay seeking care for over two hours. Conclusion: While pain characteristics showed no significant differences between DM and non-DM myocardial infarction patients, DM patients were prone to later healthcare engagement. This delay could be attributed to the misinterpretation of cardiac symptoms as diabetic complications, underscoring the need for targeted patient education. Therefore, strengthened patient education and routine screening for cardiovascular symptoms in individuals with diabetes are essential to support early detection and timely management.