Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Perubahan Penggunaan Lahan Di Pesisir Desa Pangarengan Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang Jawa Timur Rahmansyah, Winarko Arif; Wardhani, Maulinna Kusumo; Sulistyo Rini, Dyah Ayu
Jurnal Kelautan Vol 17, No 3: Desember (2024)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v17i3.23696

Abstract

ABSTRAKIdentifikasi perubahan pemanfaatan lahan di wilayah pesisir perlu dilakukan secara berkala. Hal ini penting dilakukan untuk membantu memahami pengaruh perubahan lahan terhadap ekosistem. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di pesisir Desa Pangarengan Kecamatan Pangarengan Kabupaten Sampang dalam kurun waktu 10 tahun (2013-2023) menggunakan data citra satelit Landsat 8 OLI. Analisis citra satelit menggunakan Google Eart Engine (GEE) dengan metode klasifikasi tutupan lahan terbimbing (supervised classification).dan uji akurasi menggunakan confussion matrix. Kelas lahan mencakup mangrove, pemukiman, badan air, tambak, lahan kosong, dan sawah. Hasil penelitian menunjukkan perubahan signifikan terhadap perubahan lahan kosong (pasif) menjadi lahan produktif berupa lahan pergaraman dan pertanian. Penambahan luasan lahan pergaraman dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah produksi garam sehingga terjadi ekspansi lahan. Selain itu juga terjadi pertambahan luasan lahan pada tahun 2023 yang kemungkinan dikarenakan pertamabahan luasan mangrove. Uji akurasi sebesar 86% dan dalam kategori sangat baik (acceptable result). Berdasarkan hasil penelitian ini, diperlukan penilaian ecosystem service value untuk menunjang pengelolaan yang konservatif dan efektif.Kata kunci: klasifikasi, perubahan penggunaan lahanABSTRACTChanges in land use in coastal areas need to be identified periodically. This study is important to help understand the impact of land use changes on the ecosystem. The purpose of this study was to identify changes in land use on the coast of Pangarengan Village, Pangarengan District, Sampang Regency, over 10 years (2013-2023) using Landsat 8 OLI satellite imagery data. Satellite image analysis using Google Eart Engine (GEE) with a supervised land cover classification method and accuracy testing using a confusion matrix. Land classes include mangroves, settlements, water bodies, ponds, vacant land, and rice fields. The results of the study showed significant changes in the change of vacant land (passive) into productive land in the form of salt and agricultural land. The increase influenced the increase in the amount of salt production in the area of salt land, so land expansion occurred. In addition, there was also an increase in land area in 2023, which was likely due to the addition of a mangrove area. The accuracy test was 86% and in the outstanding category (acceptable result). Based on the results of this study, an ecosystem service value assessment is needed to support conservative and effective management.Key words: classification, land-use change
Pelatihan Pemetaan Partisipatif Ekosistem Mangroves di Desa Martajasah Kabupaten Bangkalan Rachman, Herlambang Aulia; Sari, Alfi Hermawati Waskita; Hidayah, Zainul; Wardhani, Maulinna Kusumo; Hidayati, Nurul; Ahnaf, Hariadi; Indri, Ristrianas
Jurnal Ilmiah Pangabdhi Vol 10, No 2: Oktober 2024
Publisher : LPPM Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/pangabdhi.v10i2.27506

Abstract

The impact of climate change on coastal ecosystems has been a widely discussed topic in recent decades. The coastal ecosystem that is quite essential is mangroves. Community-based mangrove ecosystem management has actually been carried out in several places, but it is still not optimal. One of the obstacles is that the community cannot understand the spatial or spatial context of the mangrove ecosystem area. Therefore, we tried to carry out community service activities on Participatory Mapping of the mangrove ecosystem based on the local community in Martajasah Village, Bangkalan. The results of this activity are several zones or areas of the mangrove ecosystem determined by the community itself. Some of these zones include cultivation, conservation, and tourism zones. Each zone has its own role and function for the community. It is hoped that the results of this activity can be realized into a book on sustainable mangrove ecosystem management in Martajasah Village, Bangkalan Regency.
Faktor Biokonsentrasi (BCF) Dan Faktor Translokasi (TF) Logam Berat Tembaga (Cu) Pada Beberapa Jenis Mangrove Dari Ekosistem Pesisir Bangkalan Madura, Jawa Timur Jihannuma Adibiah Nurdini; Wakhidatun Nafisyah Aljamilah; Aginda Sahara; Maulinna Kusumo Wardhani
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32821

Abstract

ABSTRAKTekanan antropogenik di kawasan pesisir, seperti industri, perikanan, dan transportasi laut, meningkatkan potensi cemaran logam berat, termasuk tembaga (Cu), yang bersifat toksik pada kadar tinggi. Mangrove berperan sebagai agen fitoremediasi melalui kemampuan menyerap dan mengakumulasi logam berat pada jaringan tanaman, terutama akar. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kemampuan serapan beberapa jenis mangrove terhadap Cu di perairan pesisir Martajasah.  Konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis pada masing-masing sampel sedimen, akar, dan daun mangrove dari 7 spesies pohon mangrove dengan total 21 sampel. Parameter lingkungan perairan diukur secara in situ (suhu, salinitas, pH tanah, dan DO). Preparasi sampel dilakukan melalui destruksi basah menggunakan HNO₃ dan H₂O₂, kemudian konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis menggunakan AAS. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) dan translokasi (TF) dihitung untuk menilai akumulasi dan kemampuan mangrove mentransport logam berat Cu dari sedimen menuju akar dan daun. Xylocarpus moluccensis menunjukkan faktor biokonsentrasi tertinggi baik pada akar maupun daun, namun dengan translokasi yang rendah, yang menunjukkan peran potensialnya sebagai bioakumulator sekaligus fitostabilisator di lingkungan pesisir yang terkontaminasi tembaga (Cu). Sebaliknya Avicennia officinalis dengan nilai faktor translokasi tertinggi namun dengan biokonsentrasi rendah mengindikasikan kemampuan penyerapan awal tembaga (Cu) yang rendah dengan mekanisme translokasi tinggi.Kata Kunci: Mangrove, Biokonsentrasi, Translokasi, Logam Berat, TembagaABSTRACTAnthropogenic pressures in coastal areas, including industrial activities, fisheries, and maritime transportation, increase the risk of heavy metal contamination, particularly copper (Cu), which is toxic at elevated concentrations. Mangroves play a crucial role as phytoremediation agents due to their ability to absorb and accumulate heavy metals within plant tissues, especially in the roots. This study aimed to analyze and compare the uptake capacity of several mangrove species toward Cu in the coastal waters of Martajasah. Copper (Cu) concentrations were determined in sediment, root, and leaf samples collected from seven mangrove species, with a total of 21 samples. Environmental parameters, including temperature, salinity, soil pH, and dissolved oxygen (DO), were measured in situ. Sample preparation was conducted using wet digestion with HNO₃ and H₂O₂, followed by Cu analysis using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Bioconcentration Factor (BCF) and Translocation Factor (TF) were calculated to evaluate the accumulation capacity and the ability of mangroves to transport Cu from sediment to plant tissues. Xylocarpus moluccensis exhibited the highest bioconcentration factors in both roots and leaves, but relatively low translocation, indicating its potential role as both a bioaccumulator  and  a  phytostabilizer in Cu-contaminated  coastal  environments, whereas Avicennia officinalis showed the highest translocation factor but low bioconcentration, suggesting limited initial Cu uptake with a more efficient internal translocation mechanism.Kata Kunci: Mangrove, Phytoremediation, Heavy Metal, Copper, Bangkalan
Perkembangan dan Penataan Dalam Pelaksanaan Tugas Pengawas Perikanan di Indonesia Maulinna Kusumo Wardhani; Dewi Ratih Kumalasari
Semeru: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 2 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/semeru.v2i2.1699

Abstract

Kekayaan industri perikanan dan sumber daya alam kelautan yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Negara harus mampu mengelolanya, memanfaatkannya untuk kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya.Penelitian ini dibatasi pada 3 rumusan masalah sebagai berikut. Bagaimana peraturan penangkapan ikan dikembangkan? Bagaimana tugas pengawas perikanan dilaksanakan? Dan Apa saja hambatan yang dihadapi oleh Pengawas Perikanan dalam melaksanakan tugasnya?. Penelitian ini menggunakan pendekatan hukum normatif. Penelusuran mengungkap, UU Nomor untuk pertama kalinya mengatur tentang kewenangan penegakan hukum perikanan. Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Pengawas Perikanan bertugas untuk memantau tertib pelaksanaan penataan peraturan perundang-undangan dibidang perikanan. Hambatan yang dihadapi oleh Pengawas Perikanan dalam melaksanakan pengawasan sumber daya perikanan di Indonesia adalah Kurangnya armada Kapal Pengawas Perikanan, Kurangnya sumber daya manusia yang memadai, Kurangnya efek jera yang ditimbulkan kepada para pelaku tindak pidana perikanan, serta Kurangnya partisipasi dari kesadaran negara lain dalam memerangi Ilegal Fishing.