Latar Belakang: Budaya keselamatan pasien merupakan faktor penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien dari segi keselamatan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pengalaman dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien pada staf di rumah sakit. Metode: Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah staf di RS Panti Rahayu yang diambil secara acak lalu dibagi ke dalam empat unit kerja dengan jumlah 150 orang. Variabel bebas dalam penelitian ini, yaitu pendidikan, pengalaman kerja, dan unit kerja, sedangkan variabel terikat, yaitu persepsi budaya keselamatan pasien. Alat ukur menggunakan Hospital Survey on Patient Safety Culture. Analisis statistik menggunakan uji Rank Spearman dan regresi ordinal. Hasil: Persepsi budaya keselamatan pasien di rumah sakit mayoritas termasuk kategori sedang (67,3%) dan dimensi supervisor, manajer atau pemimpin klinis dinilai paling baik (64%). Analisis bivariat menunjukkan hubungan antara pendidikan dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien (p < 0,05) dan pengalaman kerja (p > 0,05). Analisis multivariat menunjukkan pengaruh pendidikan terhadap persepsi budaya keselamatan pasien (p < 0,05 dan R² = 0,181). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pendidikan dan unit kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien. Tidak terdapat hubungan antara pengalaman kerja dengan persepsi budaya keselamatan pasien.