Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ISOLASI BAKTERI HETEROTROF DI SITU CIBUNTU, JAWA BARAT DAN KARAKTERISASI RESISTENSI ASAM DAN LOGAM Kurnia, Kesi; Sadi, Nina Hermayani; Jumianto, Syafitri
Life Science Vol 5 No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri heterotrofik sangat berperan penting dalam sistem perairan karena kemampuan aktivitas metabolismenya. Mereka berinteraksi dengan logam dan mineral dalam lingkungan alam dan sintetis, mengubah keadaan fisik dan kimianya, logam dan mineral tersebut juga dapat mempengaruhi aktivitas, pertumbuhan dan kelangsungan hidup bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri resisten logam dan asam di Situ Cibintu, Cibinong, Jawa Barat. Sampel air diambil dari 3 titik di Situ Cibuntu dan dianalisa distribusi bakteri haterotrofiknya. Isolat bakteri ditanam di media Triptone Glucose Yeast (TGY). Selanjutnya dilakukan resistensi terhadap logam timbal (Pb) dan asam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumah bakteri heterotrof di Situ Cibuntu sebanyak 3.5x103 cfu mL-1. Mayoritas (73%) isolat bakteri resisten terhadap logam dan sebanyak 47% resisten terhadap asam (pH 4). Bakteri yang resisten didominasi oleh Gram negatif. Penelitian ini memberikan pengetahuan mengenai kemampuan adaptasi bakteri heterotrof pada lingkungan logam dan asam. Heterotrophic bacteria play an important role in aquatic systems because of their ability of metabolic activities. They interact with metals and minerals in natural and synthetic environments, altering their physical and chemical state, with metals and minerals also able to affect activity, microbial growth and survival. The study aim to isolate and characterize the lead (Pb) and acid resistant of heterotrophic bacteria strains isolated from pond Cibuntu, Cibinong, West Java. Water samples were collected from three points around pond Cibuntu and analyzed the distribution of heterotrophic bacteria. The bacterial isolates were screened on Triptone Glucose Yeast (TGY) agar plates. Lead (Pb) metal and acidic tolerance were tested. In the present study, the population density of heterotrophic bacteria were recorded 3.5x103 cfu mL-1. The majority (73%) of bacteria isolates were resistant to lead and 47% to acid (pH 4). The most abundant type of bacteria resistant was Gram negative. This experiment provides the base to link the adaptation capabilities of heterotrophic bacteria in metal and acid environment.
Pemberdayaan Masyarakat Desa Jampang Melalui Biokonversi Sampah dengan Maggot BSF Jumianto, Syafitri; Rahayu, Kun Mardiwati; Sasaerila, Hidayat Yorianta
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 1, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v1i1.3199

Abstract

Maggot atau larva (belatung) yang berasal dari lalat tentara hitam (black soldier fly/BSF/Hermetia Illucens) asli Amerika Utara ini aman untuk dikembangbiakan. Dengan maggot BSF yang mampu mengurai sampah, menjadi alternatif solusi terhadap masalah sampah. Sampah organik merupakan makanan bagi maggot dan sanggup mengurai 80% sampah. Sisa penguraian sampah oleh maggot yang disebut kasgot (berkas maggot) bisa dijadikan pupuk organik/kompos. Potensi maggot dengan karakter yang dimilikinya tersebut merupakan salah satu agen biokonversi sampah organik yang berdampak positif. Telah dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat  di Desa Jampang yaitu pelatihan budidaya maggot sebagai pengurai sampah organik dan bahan pakan ternak serta berpotensi ekonomi. Pelatihan ini diikuti oleh 28 peserta dari perwakilan masyarakat di Desa Jampang. Berdasakan hasil survei dari peserta, rata rata tingkat kepuasan peserta dalam kegiatan ini yaitu sekitar 94 persen peserta merasa puas dan mengusulkan untuk dilaksanakan program selanjutnya.Kata Kunci: Sampah organik, Maggot, Black soldier fly, Biokonversi
Penyuluhan menggunakan Whatsapp Chatbot dalam Meningkatkan Pengetahuan Anemia Remaja di SMP Al Fityan Tangerang Umami, Zakia; Hidayah, Nurul; Lubis, Syakira Kiyasa; Iskandar, S Jaceyntha Sarah; Irawan, Andi Muh Asrul; Wijihastuti, Risa Swandari; Jumianto, Syafitri
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 3, No 1 (2023): Desember 2023
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v3i1.2394

Abstract

Anemia adalah kondisi yang ditandai dengan penurunan hemoglobin dalam darah. Menurut data Riskesdas 2018, 26,8% anak berusia 5-14 tahun dan 32% anak berusia 15-24 tahun mengalami anemia. Aktivitas ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia. Sasaran kegiatan ini adalah 92 siswa kelas 7 s.d. 9 SMP Al-Fityan Tangerang. Metode yang digunakan adalah edukasi gizi dengan cara penyuluhan menggunakan media power point dan whatsapp chatbot. Pengetahuan siswa diukur sebelum dan setelah edukasi dengan menggunakan kuesioner yang diakses melalui google form. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan secara signifikan antara sebelum dan sesudah edukasi gizi (p<0,005). Sehingga, dapat disimpulkan bahwa edukasi gizi dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang pencegahan anemia pada remaja.Kata kunci: Canva, literasi komputasi, Microsoft Exce
Peran Universitas Al Azhar Indonesia dalam Pencegahan Covid.19 pada Masyarakat Desa Jampang Kabupaten Bogor Rahayu, Kun Mardiwati; Jumianto, Syafitri; Ahmad, Abdul Kadir
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 1, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v1i1.3190

Abstract

World Health Organization (WHO) pada tanggal 12 Maret 2020 mengumumkan Covid-19 sebagai pandemik. Virus ini dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Di Kabupaten Bogor setiap harinya kasus meningkat, serta wilayah zona hijau di Kabupaten Bogor kini hanya 2 kecamatan, 6 kecamatan berstatus zona orang dan 40 kecamatan berstatus zona merah. Berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran virus ini baik berupa pengembangan vaksin, mengedukasi masyarakat mengenai prokes 5M, bantuan sosial akibat dampak Covid 19, dan lain sebagainya. Langkanya produk pencuci tangan ditengah ancaman pandemi Program studi Biologi, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) berperan dalam pencegahan covid.19 dengan melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Jampang. Kegiatan yang dilakukan meliputi sosialisasi pencegahan Covid 19, berupa penyebaran brosur, spanduk, pembuatan, dan pendistribusian hand sanitizer ke lingkungan pelayanan umum di Desa Jampang. Pendistribusian hand sanitizer di wilayah Desa Jampang meliputi 10 lokasi yaitu kantor Desa Jampang, kantor kecamatan, puskesmas kecamatan, masjid Al Hidayah, masjid An Nuur, Puskesmas Jampang, klinik Shalahuddin, RST Dompet Dhuafa, lembaga Insani Dompet Dhuafa, Koperasi Syariah Pelita Jampang Gemilang. Pendistribusian ini dibarengi dengan upaya edukasi yaitu dengan melakukan sosialisasi adaptasi kebiasaan baru, pentingnya memakai masker, mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak untuk mencegah covid 19 dengan pemasangan spanduk dan penyebaran brosur. Setiap instansi mendapatkan 1 dirigen hand sanitizer ukuran 5 liter, 1 botol hand sanitizer ukuran 1liter dan 20 botol hand sanitizer ukuran 60 ml, spanduk dan brosur. Dari kegiatan ini masyarakat mengetahui manfaat hand sanitizer dan dapat menggunakan hand sanitizer secara baik dan benar sehingga dapat memutus rantai covid 19.Kata kunci: Hand sanitizer, Desa Jampang, Covid 19
Analisis Business Model Canvas (BMC) Budidaya Pelet Maggot Black Soldier Fly (BSF) Maksum, Asep; Jumianto, Syafitri; Effendi, Yunus
Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat (SENDAMAS) Vol 4, No 1 (2024): Desember 2024
Publisher : UniversitasAl Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/psn.v4i1.3446

Abstract

Sampah organik adalah segala macam kotoran yang berasal dari sisa makhluk hidup yang mudah terurai secara alami dan bisa dikelola secara maksimal melalui inovasi green economy dengan tetap memperhatikan lingkungan yang memanfaatkan larva Maggot Black Soldier Fly (BSF). Yayasan Jam’iyyatul Mubtadi Cibayawak (JMC) merupakan yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Masalah yang timbul selama ini banyaknya sampah organik dari kegiatan santri dan masyarakat sekitar yang belum memanfaatkan sampah organik secara optimal. Pengolahan sampah organik dikemas dalam sebuah Business Model Canvas (BMC) yang memberikan secara detail potensi ekonomi budidaya pelet maggot di pesantren dengan menggambarkan sembilan blok model BMC. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan memperoleh data melalui wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukan dari BMC yang dibuat bahwa budidaya pelet maggot BSF ini layak dilakukan karena mempunyai value proposition sebagai pengganti pakan ikan air tawar dengan komposisi nilai kandungan protein tinggi dengan harga yang murah. Secara nilai ekonomi, pembudidayaan pelet maggot BSF akan meningkatkan ekonomi pesantren dengan memperoleh laba usaha dengan margin kontribusi sebesar 48% untuk siklus produksi selama 30 hari.Kata Kunci - Budidaya Maggot; Business Model Canvas; Ekonomi Pesantren; Green Economy
Empowering Students in Maggot Cultivation at the Jamiyyatul Mubtadi Cibayawak Islamic Boarding School Jumianto, Syafitri; Rahmawati, Lusi Anindia; Maksum, Asep; Musoffa, Musoffa; Machmud, Aris
International Journal of Engineering, Science and Information Technology Vol 5, No 4 (2025)
Publisher : Malikussaleh University, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52088/ijesty.v5i4.1807

Abstract

Organic waste management remains a critical global challenge, particularly in developing countries where improper handling contributes to environmental degradation and public health risks. In Indonesia, the dominance of organic waste in landfills presents an opportunity for circular economy practices. This study aims to examine the effectiveness of maggot (Black Soldier Fly/BSF) cultivation as a community-based empowerment strategy to enhance waste management, improve student nutrition, and strengthen economic resilience within an Islamic boarding school environment. This research employed a participatory community-based approach involving 300 students at the Jamiyyatul Mubtadi Cibayawak Islamic Boarding School. The intervention consisted of five main stages: preparation and coordination; socialisation and team formation; technical and managerial training; implementation of appropriate technology; and continuous mentoring and evaluation. Organic waste generated from the school kitchen (approximately 200 kg/day) was partially processed (30–50 kg/day) into maggot biomass, which was subsequently utilised as feed for catfish cultivation. Data were collected through observation, production records, and pre- and post-intervention assessments. The findings demonstrate significant improvements across multiple dimensions. Maggot production increased from approximately 0.5 kg/day to 1.6 kg/day following enhanced waste utilisation and the introduction of supporting technologies such as drying and pelletizing machines. Student participation expanded from 5 to 20 active members in the santripreneur group. Nutritional outcomes also improved, as indicated by increased frequency of fish consumption from once to twice per week and a rise in nutritional knowledge scores from 56% to 82%. Additionally, maggot-based feed production improved in quality, achieving a longer shelf life (up to 3 months) and greater efficiency in aquaculture practices, with catfish survival rates exceeding 80%. The study highlights that integrating maggot cultivation with waste management and aquaculture can effectively support a sustainable circular economy model in educational institutions. Beyond environmental benefits, this approach contributes to improved food security, reduced feed costs (up to 40%), and the development of entrepreneurial skills among students. Despite initial constraints in technology and management capacity, targeted training and infrastructure support proved essential in optimising outcomes. This model demonstrates strong potential for scalability and replication in similar community-based settings.