Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH EKSTRAK ASHITABA TERHADAP KADAR SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSMINASE (SGOT) PADA TIKUS WISTAR DENGAN DIET TINGGI LEMAK Katrina Fadilah Aisyah; Indah Widyaningsih; Dorta Simamora
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 2 (2024): Edisi 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas adalah suatu penyakit akibat ketidak seimbangan energi, dimana asupan energy yang masuk kedalam tubuh tidak seimbang dengan energy yang dikeluarkan oleh tubuh dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan adanya penumpukan lemak pada tubuh sehingga menyebabkan adanya peningkatan dari enzim hati pada penyakit obesitas. Tujuan mengetahui pengaruh ekstrak ashitaba terhadap kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transminase(SGOT) tikus wistart yang diberikan diet tinggi lemak. Populasi dalam penelitian ini adalah tikus wistar jantan berusia 2-3 bulan dengan berat badan 100-200 gram sebanyak 30ekor. menunjukkan sig = 0,263 yaitu > 0,05 sehingga tidak ada perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian ekstrak ashitaba 150mg/kg BB, 300mg/kg BB, dan 600mg/kg BB tidak berpengaruh terhadap kadar SGOT tikus wistar yang diberikan diet tinggi lemak.
Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Timbulnya Acne vulgaris Pada Mahasiswa Puspaciwi, Sanisca; Indah Widyaningsih; Rini Purbowati
Calvaria Medical Journal Vol 2 No 2 (2024): Edisi Desember 2024
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) of University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/cmj.v2i2.128

Abstract

Background: One of the most common skin diseases found in young people is acne. The problem of acne will adversely affect the mentality of the sufferer. This study aims to analyse and determine the relationship between anxiety levels and the onset of Acne vulgaris in medical education students at Wijaya Kusuma University Surabaya class of 2020-2021. Methods: This study used a cross-sectional analytical observational research design, the population in this study were all students of the Faculty of Medicine, Wijaya Kusuma University Surabaya class of 2020-2021, totalling 156 students. The sampling technique is purposive sampling, with the calculation of the slovin formula, so that the number of samples is 70 respondents. The study used primary data and the analysis used was the chi square test. Result: The results showed that the level of anxiety in medical education students at Wijaya Kusuma University Surabaya Class of 2020-2021 was mostly in the high category. The description of the occurrence of Acne vulgaris in scientific students of Wijaya Kusuma University Surabaya class of 2020-2021 is mostly in the frequent category. There is a relationship between anxiety levels and the onset of Acne vulgaris in medical education students at Wijaya Kusuma University Surabaya class of 2020-2021
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK PEPEROMIA PELLUCIDA TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS WISTAR YANG MENDAPATKAN PAJANAN ASAP ROKOK Octavia, Angela; Widyaningsih , Indah; Kadir, Akmarawita
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 3 (2025): Edisi 2025
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paparan asap rokok merupakan salah satu faktor utama yang mengakibatkan kerusakan fungsi ginjal. Hal ini dapat memanfaatkan obat herbal secara tradisional dari tumbuhan seperti ektrak Peperomia pellucida . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak Peperomian Pellucida terhadap kadar ureum dan kreatinin tikus wistar yang mendapatkan pajanan asap rokok. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain randomized post-test only control group. Dalam eksperimental terdapat 28 tikus wistar dibagi menjadi empat kelompok uji, yaitu K0, K1, P1, dan P2. Kelompok K0 adalah kelompok control, kelompok K1 adalah kelompok yang mendapatkan ekstrak Peperomia pellucida  dengan dosis 400mg, P1 adalah kelompok hanya mendapatkan pajanan asap rokok, kelompok P2 adalah kelompok yang mendapatkan ekstrak Peperomia pellucida  dan pajanan asap rokok. Variabel bebas adalah ekstrak Peperomia pellucida  dan pajanan asap rokok, sedangkan, variabel terikat adalah ureum dan kreatinin. Data analisis yang digunakan multivariate analysis of variance (MANOVA) untuk melihat perbedaan tiap kelompok. P-value < 0.05 dianggap signifikan menggunakan SPSS versi 27. Hasil penelitian dari gagasan menunjukkan adanya peningkatan fungsi ginjal pada kelompok yang terpapar asap rokok.
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Infeksi Sarcoptes scabiei dan Personal Hygiene dengan Kejadian Suspek Skabies pada Santri di Pondok Pesantren di Jawa Tengah Zuhaila Ainir Rohmah; Kartika Ishartadiati; Akhmad Sudibya; Indah Widyaningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58428

Abstract

Latar Belakang: Sarcoptes scabiei varietas hominis adalah penyebab penyakit kulit menular pada kulit dengan terjadinya perubahan pada kulit berupa ruam dan gatal di malam hari. Penularan skabies seringkali disebabkan multifactorial. Tingkat pengetahuan dan personal hygiene yang kurang dapat meningkatkan terjadinya penularan. Penelitian dipakai untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terkait infeksi sarcoptes scabiei dan personal hygiene dengan kejadian suspek skabies pada salah satu pondok pesantren di jawa Tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observational dengan pendekatan cross sectional study. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada 103 responden santri di pondok pesantren tersebut.Uji yang dipakai adalah chi- square dan multivariat regresi logistik. Hasil: Dari 103 responden yang berpartisipasi, 47% tersuspek skabies. Pada analisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan personal hygiene didapati tidak ada hubungan (pvalue>0.05). pada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian skabies didapati terdapat hubungan (p-value <0.05) Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terkait sarcoptes scabiei dengan kejadian suspek skabies dan terdapat hubungan antara personal hygiene dengan kejadian suspek skabies. Terjadinya skabies tidak hanya oleh tingkat pengetahuan dan personal hygiene saja, namun multifactorial. Sehingga perlu dilakukan upaya pengobatan skabies secara serentak dan memberikan edukasi kepada responden yang kurang dalam tingkat pengetahuan dan personal hygiene untuk perbaikan kesehatan masyarakat khusunya terkait penyakit kulit menular.
PEMBERIAN EDUKASI PADA INSIDENSI BALITA STUNTING DI WILAYAH KECAMATAN GUNUNG ANYAR KOTA SURABAYA Wahyuni Dyah Parmasari; Emillia Devi Dwi Rianti; Indah Widyaningsih; Candra Rini Hasanah Putri
Jurnal Terapan Abdimas Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jta.v10i2.22046

Abstract

Abstract. The stunting case in Indonesia is a negative trend that must be eradicated. One of the causes of the incidence of stunting is due to a lack of nutritional intake before the mother becomes pregnant, during pregnancy, and after the child is born and grows. Toddlerhood is the golden period that determines the quality of a human's growth and development. This is one of the visions of the Indonesian government to eradicate malnutrition, especially during childhood. In Surabaya, the percentage of stunting still exists, although it is not significant. The community service was held in the Gunung Anyar work area, which is one of the marginal areas in Surabaya city planning.  The purpose of this service is to provide education to cadres and mothers of stunted toddlers about the incident of stunted toddlers in the Gunung Anyar District, Surabaya City. The method of this service is to educate cadre mothers and mothers who have pre-stunting and stunting children. There are toddlers whose height is 90 cm at the age of 60 months (5 years) and 95 cm at the age of 48 months (4 years), this condition occurs in male toddlers. So toddlers 4 years old are already in ideal conditions, but toddlers 5 years old are not in ideal conditions. The incidence of stunted toddlers still exists, so it is a concern. The incidence of stunting is not large, but it must be a special concern, especially for the Surabaya city government, in alleviating the stunting problem to make the city of Surabaya zero stunting.   Abstrak. Kasus stunting di Indonesia merupakan salah satu trend negatif yang harus dientaskan. Salah satu penyebab adanya Insidensi Stunting dikarenakan adanya kurangnya asupan nutrisi dari sebelum ibu hamil, selama masa kehamilan, dan setelah anak tersebut lahir dan tumbuh. Masa balita merupakan periode emas penentu kualitas tumbuh kembang seorang maniusia. Hal ini salah satu visi dari pemerintah Indonesia untuk mengentasan malnutrisi khususnya masa balita. Di Surabaya presentase stunting masih ada, walaupun tidak signifikan. Pengabdian masyarakat diadakan di wilayah kerja Gunung Anyar, yang merupakan salah satu wilayah marginal dalam tata kota Surabaya. Tujuan pengabdian ini adalah memberikan edukasi pada kader dan ibu balita stunting tentang  insiden si balita stunting di wilayah Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya.  Metode dari pengabdian ini dengan mengedukasi ibu-ibu kader dan para ibu yang memiliki anak pra-stunting dan stunting. terdapat balita yang memiliki tinggi badan 90 cm di usia 60 bulan (5 tahun) dan 95 cm diusia 48 bulan (4 tahun), kondisi tersebut terjadi pada balita laki-laki. Maka dengan balita yang berusia 4 tahun sudah masuk dalam kondisi ideal, akan tetapi utuk balita yang berusia 5 tahun masuk dalam kondisi tidak ideal. Insidensi balita stunting masih ada, sehingga menjadi perhatian. Insidensi Stunting didapat angkanya tidak besar tetapi harus menjadi perhatian khusus, khususnya pemerintah kota Surabaya dalam mengentaskan masalah stunting sehingga menjadikan Kota Surabaya yang Zero Stunting.