Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Kajian Durasi Pengobatan dan Dampaknya terhadap Anemia serta Profil Hematologi pada Penderita Kusta Multibasiler: Penelitian Ladyka Viola Aulia Armawan; Noni Farah; Sharfina Maulidayanti; Asbar Tanjung
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2590

Abstract

Kusta multibasiler (MB) merupakan bentuk kusta yang paling menular dan sering disertai komplikasi sistemik seperti anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) dengan kejadian anemia serta mengevaluasi profil hematologi pasien kusta MB di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada April–Juni 2024 di empat puskesmas. Seluruh pasien kusta MB yang memenuhi kriteria inklusi (n=30) dijadikan sampel dengan teknik total sampling. Pemeriksaan hematologi menggunakan alat Hematology Analyzer dan data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil menunjukkan bahwa 60% responden mengalami anemia, dengan mayoritas dalam kategori ringan (50%). Rata-rata kadar hemoglobin adalah 11,64 g/dL dan nilai minimum mencapai 3,8 g/dL. Namun, uji statistik tidak menunjukkan hubungan bermakna antara lama terapi dan kejadian anemia (p=1,000). Hasil menunjukkan bahwa meskipun anemia sering terjadi pada pasien kusta MB, durasi terapi tidak berpengaruh signifikan. Faktor lain seperti efek samping obat, status gizi, komorbiditas, dan inflamasi kronis diduga turut berkontribusi. Pemantauan hematologi rutin penting untuk deteksi dan penanganan anemia selama terapi MDT.
Evaluation of mangosteen peel extract in the kato-katz technique for enhanced visualization of helminth eggs Tanjung, Asbar; Maulidayanti, Sharfina; Br Situmorang, Ing Mayfa
Journal of Indonesian Medical Laboratory and Science Vol 6 No 2: Oktober 2025
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Teknologi Laboratorium Medik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53699/joimedlabs.v6i2.299

Abstract

Background: Mangosteen rind (Garcinia mangostana) contains anthocyanins, which have potential as natural dyes. One promising application is as a substitute for malachite green in the Kato-Katz technique, a fecal examination method used to detect helminth eggs such as Ascaris lumbricoides. Objectives: To evaluate the effectiveness of mangosteen peel extract at various concentrations (25%, 50%, 75%, and 100%) as an alternative staining agent in the Kato-Katz method. Materials and Methods: This laboratory-based experimental study utilized fecal samples positive for A. lumbricoides, which were examined using the Kato-Katz method with selophane tape soaked in mangosteen rind extract. Observed parameters included egg count per gram of feces (epg), clarity of egg morphology, and background contrast under the microscope. Results: The 75% concentration yielded the best performance, with optimal background staining, clear egg morphology, and the highest average egg count (853 eggs per gram). Concentrations of 25%, 50%, and 100% showed lower effectiveness. Conclusions: A 75% concentration of mangosteen rind extract is effective as a natural dye substitute for malachite green in the Kato-Katz method, providing good visual contrast and supporting accurate identification of helminth eggs
Aktivitas Antijamur Ekstrak Biji Kopi Hijau Robusta (Coffea canephora) Terhadap Candida albicans. Situmorang, Ing Mayfa Br; Salsadila, Putri; Maulidayanti, Sharfina; Tanjung, Asbar
Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Pharmaceutical and Biomedical Sciences Journal (PBSJ)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/pbsj.v6i2.39149

Abstract

Acne is a disease that can be caused by bacteria, one of which is Staphylococcus epidermidis. Acne can be treated with active compounds derived from natural ingredients such as cucumbers and tomatoes. Gel masks peel off. This study aims to determine the average diameter of the inhibition zone, the difference in the average diameter of the inhibition zone, and the antibacterial activity of the peel-off from a mixture of cucumber (Cucumis sativus) and tomato  (Solanum lycopersicum) with a concentration of 5%, 10 %, 15%, 20% against  Staphylococcus epidermidis. This experimental study uses a Completely Randomized Design (CRD) consisting of one factor and 6 levels. The results showed that the average diameter of the inhibition zone of the anti-acne peel-off gel mask preparation of cucumber and tomato extracts against Staphylococcus epidermidis at a concentration of 5%, 10%, 15% and 20% were 16.38 mm, respectively. ; 24.88 mm; 29.88 mm and 34.88 mm. There was a significant difference in the average diameter of the inhibition zone of the peel off mixture of cucumber and tomato extracts with a concentration of 5%, 10%, 15%, and 20%; against Staphylococcus epidermidis. gel mask preparation peels off from a mixture of cucumber and tomato extracts against Staphylococcus epidermidis at a concentration of 5%, 10% concentration, 15% concentration and 20% concentration, namely strong, very strong, very strong and very strong.   Keywords: staphylococcus epidermidis, gel mask peel-off, cucumber, tomato
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PATILAWA (LANTANA CAMARA LINN) SEBAGAI INSEKTISIDA TERHADAP KEMATIAN NYAMUK AEDES SP Aulya, Muhammad Sultanul; Tanjung, Asbar
SAINTIFIK@: Jurnal Pendidikan MIPA Vol 9, No 2 (2024): SAINTIFIK@: Jurnal Pendidikan MIPA EDISI OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/saintifik.v9i2.8504

Abstract

Aedes sp merupakan vektor dari virus dengue dengan dua spesies yaitu nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Aedes albopictus yang tersebar di seluruh dunia. Aedes aegypti menempati habitat domestik terutama di dalam rumah dan penampungan air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, sedangkan Aedes albopictus berkembang biak pada lubang-lubang pohon, drum, ban bekas yang terdapat di luar rumah. Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan vektor penular penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Penyakit demam berdarah dengue berkembang secara drastis pada beberapa tahun terakhir. DBD hampir ditemukan di seluruh daerah belahan dunia yang memiliki iklim tropis dan subtropis, terutama pada daerah perkotaan dan semiurban. Pada tahun 2010 sampai 2015 beberapa wilayah anggota WHO seperti Amerika, Brazil dan Hawai dilaporkan terjadi peningkatan kasus dari 2,2 juta di tahun 2010 sampai 3,2 juta kasus di tahun 2015. Kasus DBD pada tahun 2018 berjumlah 65.602 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 467 orang. Jumlah tersebut menurun dari tahun sebelumnya, yaitu 68.407 kasus dan jumlah kematian sebanyak 493 orang. Angka kesakitan DBD tahun 2018 menurun dibandingkan tahun 2017, yaitu dari 26,10 menjadi 24,75/100.000 penduduk.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekplorasi penggunaan Daun patilawa (Lantana camara Linn) sebagai insektisida alami terhadap nyamuk Aedes sp. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkpa (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan yaitu variasi konsentrasi 20%, 30%, 40% dan 50%. Kontrol postif yangdigunakan adalah X-Elektrik (transflurin 12,38 g/l)) dan aquadest sebagai kontrol negative.Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun patilawa (Lantana camara Linn) memiliki aktifitas insektisida alami terhadap nyamu Aedes sp pada setiap konsentrasi (20%, 30%, 40% dan 50%), disamping itu hasil penelitian juga menunkkan bahwa efektifitas insektisidal ekstrak daun patilawa (Lantana camara Linn) menunjukkan tren peningkatan efektifitas seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Hasil uji statistik dengan Anova satu arah menunjukkan nilai p0.001 yang berarti perbedaan bermakna pada efektifitas insektisidal pada tiap konsentrasi ekstrak.
Evaluasi Aktivitas Antibakteri Hand Sanitizer Berbasis Jeruk Nipis terhadap Bakteri Gram Positif: Evaluation of the Antibacterial Activity of Lime-Based Hand Sanitizer against Gram-Positive Bacteria Tanjung, Asbar
HEALTH SCIENCE & BIOMEDICAL JOURNAL Vol. 1 No. 2 (2025): August 2025 : Health Science & Biomedical Journal (HSBJ)
Publisher : Literasi Indonesia Emas (PT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kebersihan tangan memegang peranan penting dalam mencegah infeksi mikroba. Air perasan jeruk nipis (Citrus aurantiifolia S.) mengandung senyawa antibakteri alami dan berpotensi digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi hand sanitizer. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan hand sanitizer berbahan dasar jeruk nipis serta mengevaluasi aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Metode: Penelitian ini meliputi determinasi tanaman, uji organoleptik dan fitokimia terhadap air perasan jeruk nipis, formulasi hand sanitizer dengan konsentrasi berbeda (30%, 40%, dan 50%), serta pengujian aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis menggunakan metode difusi cakram. Hasil: Determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan adalah Citrus x aurantiifolia dari famili Rutaceae. Skrining fitokimia mengidentifikasi kandungan saponin dan alkaloid. Formulasi hand sanitizer menunjukkan karakteristik organoleptik yang baik dan nilai pH yang aman untuk penggunaan topikal. Aktivitas antibakteri meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi; formulasi 50% menghasilkan zona hambat sebesar 28,9 mm terhadap S. aureus dan 25,7 mm terhadap S. epidermidis. Kesimpulan: Hand sanitizer berbahan dasar jeruk nipis, terutama pada konsentrasi 50%, menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat dan memiliki potensi sebagai alternatif alami terhadap produk antiseptik komersial.
Electrolyte Dysregulation in Diabetic with Advanced Chronic Kidney Diseases (CKD): Comparative Analysis of CKD Stages 4 and 5 Tanjung, Asbar; Lembagus Wirawan, Riceina Javonda
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v13n2.4197

Abstract

Background: Electrolyte imbalance is common in both diabetes mellitus (DM) and chronic kidney disease (CKD). While they may occur independently, their coexistence can exacerbate metabolic disturbances, thereby accelerating disease progression and impairing quality of life. Objective: to investigates the differences in electrolyte profiles between patients with CKD stages 4 and 5 with DM.Methods: A cross-sectional comparative design study was employed. A hundred participants (50 with CKD stage 4 and 50 with CKD stage 5 with DM) were recruited from a clinical laboratory during May to June 2024. Serum natrium, kalium, and chloride levels were measured alongside urea, creatinine, GFR, and glucose. The Mann-Whitney U test was applied to compare the electrolyte levels between these CKD stages.Results: Of 100 participants, more men participating in this study (66% vs. 34%). Pre-elderly (45-59 y.o.) was the most predominant (61%), followed by elderly (>60 years,  20%), and adult (26-45 y.o., 19%). Both groups showed elevated urea, creatinine, and glucose levels with reduced GFR, confirming advanced CKD and DM. There was no significant difference in glucose level between stage 4 and stage 5. A significant difference (p=0.001) was observed in natrium levels, with stage 5 CKD patients exhibiting lower levels compared to those in stage 4. In contrast, kalium and chloride levels showed no significant difference (p=0.71 and p=0.81, respectively) in both groups.Conclusion: This study highlights the specific vulnerability of natrium homeostasis in advanced CKD with diabetes. Natrium dysregulation observed in stage 5 CKD underscores the need for close monitoring and management of sodium levels in this population.