Qisthi Faradina Ilma Mahanani
UIN Raden Mas Said Surakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Islam and Politics in Indonesia : Historical Perspective Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Mega Alif Marintan; Irma Ayu Kartika Dewi; Moh Ashif Fuadi
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 3 No. 1 (2022): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.164 KB) | DOI: 10.22515/isnad.v3i1.5395

Abstract

This research explains the dynamic perspective of Islam and politics in Indonesia. The relationship between Islam and the political situation in Indonesia is not always harmonious. With qualitative methods through the study of literature, this research resulted in the conclusion that Islamic and political ndication are two aspects that converge in its development that has never been interrupted from the previous period. The existence of Islam in Indonesia is largely determined by the objective conditions built by the Muslims themselves through qualifications and political capacities that are insightful in the formation of the intellectuality of their people. The condition of Muslims today has indeed progressed, but institutionally politically it has regressed. Therefore, discussing Islamic and political issues is felt increasingly urgently by Muslims themselves. The engineering of the conversation and its implementation includes a doctrinal Understanding of Islam that is contextual to the political growth of the nation, a coaching system that can liberate people from material and spiritual backwardness, and leadership that is not only charismatic, but also dedicative and professional. Keywords: Islam, Politic, Perspective, Historical
KAJIAN HISTORIS TAREKAT QADIRIYAH NAQSYABANDIYAH AL-MANDHURIYAH TEMANGGUNG: Eksistensi dan Pengaruh Sosial Keagamaannya Muhammad Husna Rosyadi; Moh. Ashif Fuadi; Latif Kusairi; Martina Safitry; Qisthi Faradina Ilma Mahanani
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 4 No. 1 (2023): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v4i1.7428

Abstract

Abstrak Penelitian ini menjelaskan tentang dinamika tarekat qodiriyah wa naqsyabandiyah di Temanggung yang disebarkan oleh K.H. Mandhur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi dan penulisan sejarah. Penulis menitikberatkan pada sumber primer berupa peninggalan catatan-catatan K.H. Mandhur, dan wawancara terhadap keturunan K.H. Mandhur serta data pendukung penelitian terdahulu dari sumber buku, artikel, atau berita online. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa: K.H. Mandhur merupakan seorang kiai yang berpengaruh di Temanggung, sehingga pesatnya perkembangan tarekat qodiriah wa naqsyabandiyah di Temanggung tak lain adalah karena perannya dalam menyebarkan tarekat tersebut. Adapun sanad tarekat K.H. Mandhur berasal dari Kiai Umar Payaman yang juga merupakan murid Syekh Zarkasi Berjan murid Syekh Abdul Karim al-Bantani. K.H. Mandhur mulai mengenalkan tarekat sebelum Indonesia merdeka yakni sekitar tahun 1920 di daerah Ngebel dan mulai berpindah tahun 1950 mengajarkan tarekat tersebut di pusat Kota Temanggung sampai wafatnya pada tahun 1980. Sepeninggal K.H. Mandhur, kepemimpinan tarekat diteruskan oleh putranya yaitu K.H. Ahmad Bandnudji sampai sekarang. Eksistensi TQN al-Mandhuriyah terbukti membawa dampak sosial-keagamaan dengan adanya interaksi sosial antar jamaah dari berbagai daerah dengan saling bersilaturahmi dan kegiatan para jamaah seperti manakiban, sewelasan, tawajjuhan, peringatan haul K.H. Mandhur, khalwat, selapanan badal. Kata Kunci: Tarekat, TQN al-Mandhuriyyah, K.H. Mandhur, Temanggung.
Menyoal Ketimpangan Relasi Kuasa dan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren: Sebuah Tinjauan Kritis Moh Ashif Fuadi; Mega Alif Marintan; Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Muhammad Aslambik
Musãwa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 22 No. 2 (2023)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2023.222.148-160

Abstract

Fenomena kekerasan seksual yang terjadi di kalangan pesantren menjadi perhatian  banyak pihak, karena sejatinya pesantren merupakan lembaga yang dianggap aman untuk belajar para santri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor ketimpangan relasi kuasa dan persepsi santri terhadap pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Penelitian ini menggunakan mix method dengan pendekatan kuantitatif dalam pengambilan data survei dan pendekatan kualitatif dalam menganalisis data dari responden melalui observasi, wawancara dan studi pustaka dari berbagai sumber tertulis dan media online. Hasilnya yaitu, pertama, perilaku kekerasan seksual khususnya di pesantren merupakan dampak dari ketimpangan relasi kuasa. Kedua, upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren dilakukan dengan monitoring dari pesantren, mau’idzoh atau nasehat kyai, aturan resmi tentang batasan antara laki-laki dengan perempuan, dan kajian kitab kuning tentang pendidikan seksual dan pemahaman gender melalui kitab ‘Uqūdu al-Lujain, Qurratul ‘Uyūn, Fathul Izār, dan fikih wanita. Ketiga, kasus kekerasan seksual yang dilakukan oknum pesantren melalui doktrinnya, dapat menurunkan tingkat kepercayaan sehingga perlu tindakan pencegahan dengan kerjasama yang terintegrasi dan penegakan hukum yang seimbang. [ The phenomenon of sexual violence in Islamic boarding schools (pesantren) has become everybody’s concern lately. This institution should be considered safe place  for santri to live and learn.This study aims to determine the influence of inequality factors on power relations in sexual violence and to know students' perceptions of the prevention of sexual violence in pesantren. This study uses a mixed-method with a quantitative approach in taking survey data and a qualitative approach in analyzing data from respondents through observation, interviews and literature studies from various written sources and online media. The results are, first, sexual violence in pesantren predominantly stems from disparities in power relation. Second, Prevention strategies within pesantren encompass close monitoring, mau'idzoh (advice) guidance from kyai, establishment of clear boundaries between genders, and incorporating sex education and gender awareness through Kitab Kuning texts through the book of 'Uqū du al-Lujain, Qurratul 'Uyūn, Fathul Izār, and fikih women. Third, cases of sexual violence committed by pesantren through their doctrines can reduce trust so that preventive measures  are needed with integral cooperation and balanced law enforcement.]
PREVENTION EFFORT OF SEXUAL VIOLENCE FROM POWER INEQUALITY RELATIONS IN ISLAMIC BOARDING SCHOOLS IN INDONESIA Moh Ashif Fuadi; Rosyadi, Muhammad Husna; Mega Alif Marintan; Qisthi Faradina Ilma Mahanani; Muhammad Aslambik
Harmoni Vol. 23 No. 1 (2024): Januari-Juni 2024
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v23i1.720

Abstract

Abstract This study investigates the prevention efforts against sexual violence in Islamic boarding schools (pesantren) in Indonesia, focusing on implemented strategies. Conducted using a quantitative survey with a descriptive design, data were gathered via questionnaires distributed across various pesantren. Results reveal that prevention is facilitated by studying specific texts on sex education like 'Uqūdu al-Lujain, Qurratul' Uyūn, and Fathul Izār. Additional measures include monitoring student communications via mobile phones, imparting advice (mau'idzoh) from religious teachers (Kiai), and enforcing strict rules on interactions between genders. The study identifies power imbalances as contributing factors, where higher-ranking individuals exploit authority to exert control. Implications suggest that sexual violence erodes public trust, necessitating collaborative preventive actions involving pesantren, communities, and government. Furthermore, stringent legal measures against perpetrators are crucial. This research significantly contributes to the literature on sexual violence prevention in religious educational settings, advocating a comprehensive approach encompassing education, supervision, and robust law enforcement to combat this issue effectively. Abstrak Studi ini menyelidiki upaya pencegahan terhadap kekerasan seksual di pesantren-pesantren di Indonesia, dengan fokus pada strategi yang diterapkan. Dilakukan menggunakan survei kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebar di berbagai pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan difasilitasi melalui studi teks-teks khusus tentang pendidikan seks seperti 'Uqūdu al-Lujain, Qurratul' Uyūn, dan Fathul Izār. Langkah-langkah tambahan meliputi pemantauan komunikasi siswa melalui telepon genggam, pemberian nasihat (mau'idzoh) dari guru agama (Kiai), dan penegakan aturan ketat mengenai interaksi antara gender. Studi ini mengidentifikasi ketidakseimbangan kekuasaan sebagai faktor penyumbang, di mana individu dengan posisi lebih tinggi mengeksploitasi otoritas untuk mengendalikan orang lain. Implikasi dari temuan ini menyarankan bahwa kekerasan seksual merusak kepercayaan publik, memerlukan tindakan preventif kolaboratif yang melibatkan pesantren, masyarakat, dan pemerintah. Selain itu, tindakan hukum yang ketat terhadap pelaku sangat penting. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur tentang pencegahan kekerasan seksual di lembaga pendidikan agama, mendorong pendekatan komprehensif yang mencakup pendidikan, pengawasan, dan penegakan hukum yang kuat untuk mengatasi masalah ini secara efektif.
Pemikiran Ki Bagus Hadikusuma tentang islam dan negara dalam perumusan dasar negara Indonesia (1945-1953) Ilma Mahanani, Qisthi Faradina
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal El Tarikh
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v1i2.6517

Abstract

AbstrakWacana negara Islam dan penerapan syariat Islam telah menjadi isu tak berujung untuk dibahas. Sejarah mencatat masalah ini telah dimulai sejak perumusan dasar negara Indonesia. Ada yang menginginkan syariat Islam harus ditegakkan dan ada juga yang menggunakan sikap toleransi kebangsaan dalam perumusan dasar negara. Para tokoh yang berbicara dalam hal tersebut antara lain: Mohammad Yamin, Mohammad Hatta, Ki Bagus Hadikusuma, Supomo, Sukarno, dan tokoh-tokoh lainnya. Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi pemikiran Ki Bagus Hadikusuma mengenai Islam dan Negara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri: heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini juga menggunakan beberapa pendekatan, antara lain: sosiologis, politik dan agama. Ki Bagus Hadikusuma adalah salah satu tokoh intelektual, pejuang, politikus, sekaligus ulama di Indonesia. Perjuangan Ki Bagus Hadikusuma dalam menegakkan syariat Islam terlihat saat keikutsertaannya dalam panitia BPUPKI dan PPKI. Latar belakang keislaman membuat Ki Bagus Hadikusuma ingin menerapkan syariat Islam dalam dasar negara. Awal perumusan dasar negara, Ki Bagus Hadikusuma mempertahankan 7 kata dalam dasar negara yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang kemudian terjadi penghapusan 7 kata tersebut. Ki Bagus Hadikusuma menanggalkan pemikiran tentang dasar negara Islam dan menerima Pancasila sebagai dasar negara.Kata kunci: Ki Bagus Hadikusuma, Islam, dan negara