Mahsun
STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Gambaran Ca’oca’an yang Melegalisasi Pernikahan Dini Studi Analisis Wacana Kritis dan Analisis Gender Muniri; Biati, Lilit; Mahsun
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/al-fikrah.v2i2.60

Abstract

Penelitian ini, mengambil sampel desa Batokorogan dan desa Kokop Kecamatan Kokop Kabupaten Bangkalan. Dilakukan untuk mengetahui pendapat masyarakat setempat, tentang tiga ca’oca’an yang bernuansa legalisasi pernikahan dini, antara lain: (1) “oreng bhini’ mon omor eyattas 12 taon, mon gita’ andhi’ bhekal eyanggep ta’ pajuh (Perempuan yang berumur di atas 12 tahun, jika belum mempunyai tunangan dianggap tidak laku)”, (2) “Andhi’ ana’ bhini’ bhedeh neng kennengan kala, mon bedeh se mentah dulih beghi” (Mempunyai anak perempuan berada di posisi kalah, kalau ada yang meminang segera terima), (3) “Je’ pasakolah ana’eh mon lo’ deddiyeh prabhen toah” (Jangan disekolahkan anakmu, agar tidak menjadi perawan tua). Tiga ca’oca’an ini, sengaja dilestarikan melalui mekanisme klasifikasi, negasi, dan hasrat kekuasaan kaum laki-laki, untuk menciptakan rasa takut pada perempuan menjadi ta’ pajuh lakeh dan menjadi prabhen toah. Penciptaan rasa takut dengan mekanisme tersebut masuk kategori kekerasan psikis, yang menyebabkan kaum perempuan merasa tidak percaya diri, tidak mampu membuat keputusan mandiri, dan tidak berdaya melakukan penolakan atas keputusan lingkungan sosialnya untuk tidak melakukan pernikahan dini.
Penerapan Kebijkan Rapor Elektronik pada Kurikulum 2013 Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Hamidi; Mahsun
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 3 No. 1 (2020)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan kebijakan rapor elektronik pada kurikulum 2013 merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah pendidikan. Banyak kendala yang dihadapi karena berbagai faktor yang seringkali mempengaruhi penerapan kebijakan. Kebijakan yang telah melewati tahapan-tahapan belum tentu berhasil dalam penerapannya. Untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan kebijakan, maka kendala harus diatasi sedini mungkin. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas penerapan kebijakan rapor elektronik pada kurikulum 2013 dan berbagai kendala yang dihadapi dalam kebijakan tersebut, yaitu sejauh mana efektivitas penerapan rapor elektronik sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini adalah: 1) Penerapan kebijakan rapor elektronik pada kurikulum 2013 merupakan inovasi baru dalam pendidikan dan bertujuan untuk memantau, mengevaluasi proses kemajuan pembelajaran, serta meningkatkan hasil belajar siswa secara berkelanjutan. Selain itu, untuk sinkronisasi nilai yang ada di lembaga atau sekolah dengan server Dapodik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2) Kendala dalam penerapan kebijakan rapor elektronik diantaranya, adalah sering terjadi sistem update. Selain itu, jaringan internet terkadang kurang baik sehingga penggunaan raport elektronik sangat sedikit peminatnya.
KONSEP DASAR PENDIDIKAN ISLAM DAN KARAKTER Mahsun
Milenial Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.144 KB) | DOI: 10.34556/millennial.v1i1.87

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang peran pendidikan agama Islam di sekolah dalam pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu pilar pendidikan karakter yang paling utama. Pendidikan karakter akan tumbuh dengan baik jika dimulai dari tertanamnya jiwa keberagamaan pada anak, oleh karena itu materi PAI di sekolah menjadi salah satu penunjang pendidikan keagamaannya, diajarkan al-Quran dan hadis sebagai pedoman hidupnya, diajarkan fiqih sebagai rambu-rambu hukum dalam beribadah, mengajarkan sejarah Islam sebagai sebuah keteladan hidup, dan mengajarkan akhlak sebagai pedoman prilaku manusia apakah dalam kategori baik ataupun buruk. Oleh sebab itu, tujuan utama dari Pembelajaran PAI adalah pembentukan kepribadian pada diri siswa yang tercermin dalam tingkah laku dan pola pikirnya dalam kehidupan sehari-hari. Yang demikian, menjadi nilai penting dalam membentuk karakter siswa sehingga terinternalisasi dengan baik ke dalam kedirian siswa. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran PAI di sekolah salah satunya juga ditentukan oleh penerapan metode pembelajaran yang tepat yang harusnya dipakai oleh para pendidik.
PERANAN PENTING PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI MAHASISWA DAN DOSEN DI LINGKUNGAN PERGURUAN TINGGI Mahsun
Milenial Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.341 KB) | DOI: 10.34556/millennial.v1i2.149

Abstract

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapakan manusia supaya mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam, bertaqwa dan berakhlaq mulia dalam mengamalkan agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur’an dan Hadist Nabi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya Pendidikan agama Islam bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi, dan manfaatnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan, dengan pendekatan deskriptif eksploratif. Hasil penelitian memberikan jawaban (1) Secara hakikat pendidikan agama Islam sangat penting bagi mahasiswa dan dosen karena dapat membentuk manusia bertaqwa, dan patuh kepada Allah Swt, dalam menjalankan ibadah dengan menekankan pembinaan kepribadian muslim yakni pembinaan akhlaqul karimah, (2) Manfaat Pendidikan agama Islam bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan Perguruan Tinggi, adalah dapat menciptakan hubungan yang selaras dan seimbang antara manusia dan sang khaliq, manusia dengan dirinya sendiri, juga terhadap makhluq lain, serta alam semesta.
MENGUNGKAP SEJARAH PESANTREN RAUDLATUL ULUM ARRAHMANIYAH PRAMIAN SRESEH SAMPANG-MADURA (1770 – 1986) Muniri; Mahsun; Hamidi
Milenial Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.376 KB) | DOI: 10.34556/millennial.v1i2.179

Abstract

Membahas tentang sejarah berdirinya Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) Pramian Sreseh Sampang-Madura. Penulis membatasi sajian sejarahnya, dimulai dari kiprah Kyai Abdul Qahir. Beliau sosok Kyai yang membabat alas mulai dari dusun Nangger hingga lokasi yang saat ini menjadi Pesantren RUA, dusun Pramian. Sepeninggal beliau, lokasi Pesantren dipindah dari bhere’ léké ke témor léké pada tahun 1808 oleh anak mantunya, Kyai Abdurrahman dari Kwanyar. Kemudian kepengasuhan dilanjutkan oleh anak mantu dari Kyai Abdurrahman, yang bernama Kyai Muharram. Pada masa itu, Pesantren semakin berkembang, tapi terkendala VOC yang mengeluarkan kebijakan ‘sewa tanah’ dan ‘tanam paksa’ pada tahun 1808. Kebijakan ini, berlangsung hingga kepengasuhan Kyai Hanbali. Akibat penerapan kebijakan yang makin massif, Pesantren RUA tidak begitu berkembang. Setelah Kyai Hanbali sudah lanjut usia. Urusan pesantren dipasrahkan kepada Kyai Ali (anak mantu). Pada masa kepengasuhan Kyai Ali, pernah diundang oleh Raja Bangkalan dengan maksud tanah Pesantren RUA akan dijadikan tanah perdikan (bebas pajak), namun gagal karena suatu hal. Pada Tahun 1920-an, kepengasuhan dilanjutkan oleh Kyai Hasbullah hingga wafatnya tahun 1930. Kyai Hasbullah dibantu oleh ponakannya, bernama Kyai Ali Mas’ud putra dari Kyai Ali. Sepeninggalnya, Kyai Ali Mas’ud melanjutkan kepengasuhan Pesantren hingga tahun 1986.
Konsep Merdeka Belajar dan Pentingnya Kemampuan Memetakan Dunia Kerja Hafid; Mahsun
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 3 No. 2 (2020)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/al-fikrah.v3i2.68

Abstract

Artikel ini membahas tentang penerapan konsep merdeka belajar dalam dunia pendidikan. Merdeka belajar menawarkan sebuah kemerdekaan dan keleluasaan kepada lembaga pendidikan untuk mengeksplorasi potensi siswa secara maksimal dengan menyesuaikan minat, bakat serta kecendrungannya. Setelah segala potensi yang dimiliki oleh siswa tereksplorasi dengan maksimal diharapkan siswa mendapatkan kemampuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam menghadapi tantangan globalisasi ekonomi, sosial, teknis dan lingkungan di era industri 4.0. Guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswanya dalam menerapkan konsep merdeka belajar, sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah dan dapat memetakan dunia kerja pasca lulus dari lembaga pendidikannya. Ada beberapa tahapan langkah yang harus dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah, antara lain; 1) membaca sebuah permasalahan, 2) mengembangkan informasi, 3) memilih strategi, 4) menyelesaikan masalah, 5) memeriksa kembali dan meluaskan kajiannya. Tulisan ini, mengaitkan konsep merdeka belajar dengan kemampuan memetakan dunia kerja yang perlu dimiliki oleh guru saat melakukan fasilitasi dan dimiliki siswa sebelum lulus sekolah. Adapaun metode dalam mengkaji hubungan dua variabel ini, memakai metode kualitatif dengan pendekatan pendekatan kajian library research.
RELEVANSI PEMIKIRAN AL-GHAZALI DENGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DI MASA WALI SONGO Mahsun; Hafid
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep pendidikan Islam telah lama dikembangkan oleh para ulama sejak generasi tabi’in. Melalui generasi inilah konsep pendidikan Islam berkembang dalam bentuk yang paling ideal dan lambat laun memberikan kontribusi terhadap eksistensi peradaban Islam. Melalui konsep pendidikan yang semakin berkembang ini, lahirlah ulama-ulama yang telah melahirkan ide-ide dan pemikiran-pemikiran produktif dalam pengembangan bidang pendidikan. Salah satunya adalah Imam Abu Hamis Al-Ghozali, dari renungannya lahirlah berbagai buku yang memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan Islam. Konsep pendidikan Islam inilah yang kemudian menjadi landasan Wali Songo dalam menyebarkan dakwah di tanah Jawa yang jauh dari sumber ajaran Islam di Arab. Dengan menerapkan pemikiran Imam Ghozali, generasi Wali Songo memberikan berbagai gerakan dan sumbangan pemikiran yang membangun peradaban Islam baru di tanah Jawa (Nusantara). Wali Songo lebih banyak memberikan berbagai ajaran terhadap penjajahan nusantara dengan menyampaikan ajaran pemikiran Imam Al-Ghozali. Dengan demikian pemikiran alGhozali sangat relevan dengan konsep pendidikan Islam yang dikembangkan oleh Wali Songo.
MENGUNGKAP PERBEDAAN PANDANGAN ORANG MADURA TENTANG DEFINISI BLATÉR DAN BHAJINGAN Muniri; Mahsun; Ahmad Khoiri; Debby Ayu Febriyanti
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini, membahas tentang definisi Blatér. Melalui wawancara kepada sejumlah tokoh yang mempunyai kedekatan dengan komunitas Blatér, didapatkan sebuah definisi tentang Blatér, yaitu sebagai Sifat dan Sosok. Disebut sebagai ‘sifat’ sekaligus ‘sosok’, manakala Blatér ditandai beberapa karakteristik yang melekat pada dirinya, antara lain; kennenga rembaghan (tempat konsultasi menyelesaikan masalah), bhangal (berani), jeg jeg (konsisten), lambha’/ta’ cerre’ (pemurah/tidak pelit), bennya’ kancana (mempunyai banyak teman/jaringan). Lima karakteristik tersebut, merupakan implementasi dari lima prinsip Blat?r yang dijadikan acuan prilaku sehari-harinya, antara lain; bertauhid, hormat kepada Embho’, hormat kepada ghuru, ajhaga téngka, dan ajhaga harga diri. Konsistensi Blat?r dalam menjaga perkataan dan perbuatan dalam keseharian menandakan diri Blat?r mempunyai pengaruh sosial yang luar biasa, atau dalam istilah lain sebagai manusia besar dalam lingkup terbatas. Berdasarkan katagori tipe manusia, Ordinary people (manusia-manusia biasa), Exceptional actors (tokoh-tokoh dengan kapasitas yang luar biasa), dan Holders of excetional positions (manusia pemimpin dan manusia aksi). Sosok Blatér masuk tipe Holders of excetional positions, karena umumnya Blat?r tidak sepintar Exceptional actors, tapi mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat. Manakala prinsip dan karakteristik Blat?r menjadi satu kesatuan dalam citra diri seseorang, maka dapat disebut sebagai sosok Blat?r.
KEDISIPLINAN SANTRI BARU BERBASIS ADAPTASI KARANTINA (STUDI ANALISIS SANTRI BARU DI PESANTREN AL-HAMIDIYAH SEN-ASEN KONANG BANGKALAN) Mahsun; Hafid; A. Nur Syafiudin; Sofiyatus Solihah
AL-FIKRAH: Jurnal Studi Ilmu Pendidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi pendisiplinan santri baru untuk beradaptasi dengan karantina yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah yang terletak di Desa Sen Asen, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif untuk menemukan efektivitas penegakan disiplin bagi santri baru. Selanjutnya, data dianalisis dan disajikan secara eksploratif. Data penelitian menemukan bahwa bentuk-bentuk adaptasi yang dilakukan yaitu; adaptive dan adjustive. Sedangkan faktor-faktornya, antara lain; faktor fisiologis, psikologis, sosial budaya, serta perkembangan dan kematangan santri baru. Dari faktor-faktor tersebut, kesemuanya saling melengkapi dalam membentuk kedisiplinan santri baru, seperti kondisi fisik dan materi dalam tubuh dan kesehatan fisik, psikologis seperti stimulasi yang diterima oleh santri baru mulai dari dalam kandungan hingga masuk pesantren, sosio-kultural seperti pola asuh orang tua, pergaulan kelompok, pola hidup bermasyarakat, bimbingan murabbi (pengasuh), budaya dan tradisi, serta perkembangan dan kematangan individu.