Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Religious Moderation of Millennial Generation at Islamic Higher Education in Eastern Indonesia Zuhri, Barsihannor; Tahir, Gustia; Arbianingsih, Arbianingsih; Aksa, Aksa
AL-TAHRIR Vol 23 No 2 (2023): Islamic Studies
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v23i2.6911

Abstract

This research examines the religious moderation of the millennial generation in Islamic Higher Education in Eastern Indonesia and identifies the most dominant factors contributing to religious moderation. Cross-Sectional Study (CSS) method measures religious moderation through four pillars at the same time: national commitment, religious tolerance, conflict avoidance (non-violence) and accommodation of local culture. The respondents of this research are   millennial generations studying at the Islamic Higher Education in Eastern Indonesia. This research used the Consecutive Sampling with a total sample of 592 people. The research results show that religious moderation among millennial students in Eastern Indonesia is categorized as low concerning national commitment, religious tolerance, avoiding conflict (non-violence), and accommodation of local culture. The most dominant factors influencing the religious moderation of the millennial generation are social media and religious extra-campus curriculum. 
Sulh-i Kul dan Integrasi Sosial: Genealogi Kebijakan Pluralisme Sultan Akbar dalam Sejarah Islam Mughal Aksa, Aksa; Barsihanoor; Gustia Tahir
JURNAL JAWI Vol 9 No 1 (2026): Authority and Islamic Societies
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202693110200

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara genealogis konsep Sulh-i Kul sebagai fondasi kebijakan pluralisme dan instrumen integrasi sosial dalam sejarah Islam Mughal, serta mengevaluasi relevansinya dalam merespons problem pluralisme kontemporer. Permasalahan utama yang dikaji adalah bagaimana konsep Sulh-i Kul terbentuk dalam konteks historis Kekaisaran Mughal, bagaimana implementasinya dalam pengelolaan masyarakat multikultural, dan sejauh mana konsep tersebut relevan bagi pengembangan wacana pluralisme dewasa ini. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan kebijakan keagamaan Dinasti Mughal, khususnya pada masa pemerintahan Akbar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sulh-i Kul tidak hanya merupakan kebijakan toleransi yang bersifat pragmatis, tetapi juga merepresentasikan suatu paradigma epistemologis dan etis yang menempatkan perdamaian universal sebagai basis integrasi sosial dalam masyarakat yang majemuk. Secara historis, konsep ini lahir dari dialektika antara kebutuhan stabilitas politik dan kesadaran akan pluralitas sosial, kemudian berkembang menjadi kerangka normatif yang memungkinkan koeksistensi harmonis lintas agama, etnis, dan budaya. Kesimpulannya, Sulh-i Kul memiliki relevansi yang penting dalam menjawab tantangan pluralisme modern melalui penguatan nilai inklusivitas, dialog antartradisi, dan keadilan sosial, sehingga dapat dijadikan rujukan teoritis dalam pengelolaan keberagaman di masyarakat kontemporer.