Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : al-fikr

Maqamat Makrifat Hasan Al Basri dan Algazali Abdullah Abdullah
AL-Fikr Vol 20 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan di Dunia adalah kesenangan maka seharusnya semua orang menjadikan dunia adalah negeri tempat beramal. Barangsiapa yang bertemu dengan dunia dalam rasa benci kepadanya atau zuhud, akan berbahagialah dia dan beroleh faedah dalam persahabatan itu. Tetapi barangsiapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaannya tersangkut kepadanya, akhirnya dia akan sengsara. Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dapat tertahankan deritanya.Tafakur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat membawa kepada meninggalkan kejahatan itu. Barang yang fana walau bagaimanapun banyaknya, tidaklah dapat menyamai barang yang baqa (kekal), walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari dunia yang cepat datang dan cepat pergi ini, dan yang penuh dengan tipuan.Menurut Hasan al-Basri, zuhud adalah, "memerlakukan dunia ini hanya sebagai jembatan yang hanya sekedar untuk dilalui dan sama sekali tidak membangun apa-apa di atasnya.” Konsep dasar pendirian tasawuf Hasan al-Basri adalah zuhud terhadap dunia, menolak  kemegahannya, semata menuju kepadaAllah, tawakal, khauf, dan raja', semuanya tidaklah terpisah. Jangan hanya takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan itu dengan pengharapan. Takut akan murka-Nya, tetapi mengharap karunia-Nya. Bagi Al-Ghazali rasio manusia tidak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedang hati (qalb) bisa mengetahui hakikat segala sesuatu dan mampu mengetahui rahasia Tuhan. Ketika qalbu bersih di waktu itulah Tuhan menurunkan cahaya-Nya kepada seorang sufi, sehingga yang dilihatnya hanyalah Tuhan dan disinilah menunjukkan bahwa seseorang telah sampai ketingkat ma;rifah. Ma’rifah serupa ini diakui oleh ahli sunnah yang menyebabkan tasawuf diterima bagi kaum syariat, yang sebelumnya ditentang oleh mereka karena telah menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam
Titik Temu Konsepsi Keselamatan dalam Islam dan Katolik Abdullah Abdullah
AL-Fikr Vol 15 No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article elaborates the concept of salvation based on Islam and Chatolic. It is clearly stated that both religios define salvation as happiness, escaped from the danger, perfect condition, and healthy life. Generally speaking, the main focus of this article is how do Islam and Chatolic describes the epistemology of salvation. The author found that God has already explained the concept of salvation either on Quran or al-Kitab. Both holy books clearly stated that no god except the One. In other words, these religios generated an understanding of the concept of monotheism. At least, as contended by the author, there are two different approaches to see the concept of salvation. Firstly, esoteric approach, this concentrates on how religions can be seen internally as well as substantively. To put simply, religions tend to get same direction, namely one God. Secondly, exoteric approach, religions may be approached through different ways of worship. Religion followers look different on doing worship, but, basically, they go on the same direction.