Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan antara Tingkat Spiritual dengan Tingkat Depresi pada Lansia : Literature Review Ana Safitri; Dwi Rahmah Fitriani
Borneo Student Research (BSR) Vol 3 No 2 (2022): Borneo Student Research
Publisher : Borneo Student Research (BSR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan studi: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan antara tingkat spiritual dengan tingkat depresi pada lansia. Metodologi: Peningkatan jumlah lansia mengakibatkan penurunan derajat kesehatan yang berakibat sebagian lansia akan mengalami kemunduran baik secara baik secara sosial maupun psikologis yang mempengaruhi aktivitas dalam kehidupannya,dan banyak lansia yang mengalami kehilangan pekerjaan karna dianggap sebagai individu yang tidak produktif, dapat juga mempengaruhi tingkat spiritualnya sehingga menyebabakan munculnya depresi. Depresi ialah gangguan mental ditandai dengan suasana hati yang menurun, kehilangan minat pada hal-hal tertentu, perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan dan kehilangan energi. Hasil: berdasarkan hasil penelitian menggunakan systematic literature review dengan mengumpulkan data pustaka yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksluesi. Perempuan cenderung memiliki tingkat spiritual yang tinggi, teman sebaya, keluarga dan lingkungan juga dapat mempengaruhi tingkat spiritual. Semakin tinggi spiritual pada lansia maka semakin rendah tingkat depresi pada lansia. Manfaat: hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan perbandingan serta menjadi data yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam proses menjadi data yang dapat dijadikan sebagai sumber acuan dalam proses penelitian selanjutnya, hasil riset ini bisa digunakan sebagai masukan serta pengetahuan untuk keluarga dalam merawat lansia dan khususnya dalam interaksi sosial serta depresi pada lansia, dan dapat menambah pengetahuan bagi profesi keperawatan dan menjadi sumber pengetahuan bagi mahasiswa sehingga menjadi sumber informasi dan sumber pembelajaran.
Cardiovascular Disease, Comorbidities, and Late Adult in Indonesia: a Cross-Sectional Population-Based National Survey Tri Wahyuni; Dwi Rahmah Fitriani; Joanggi Wiriatarina Harianto; Ritanti Ritanti
Media Keperawatan Indonesia Vol 5, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.782 KB) | DOI: 10.26714/mki.5.3.2022.208-215

Abstract

The aging population is predominantly predisposed to heart illness. Age is an autonomous danger factor for cardiovascular disease (CVD) in adults, but this risk is exacerbated by additional factors, including comorbidities. This study aimed to determine the prevalence of cardiovascular disease and the association between comorbidities and cardiovascular disease among late adults in Indonesia. This cross-sectional research utilizes the data national population survey from the Indonesia Family Life Survey wave 5 (2015). Multistage stratified random sampling was utilized to choose the respondents to respond to a structured questionnaire interview, laboratory test, and anthropometric measurements. Multivariable logistic regression was utilized to determine the association. The result was respondents’ age mean was 48.31 (±5.83) years. CVD prevalence was 2.36% (95% CI: 2.07 – 2.70). The final model of a multivariable analysis using multiple logistic regression indicated that CKD (adj. OR = 3.04, 95%CI 1.76 – 5.24, p = <0.001), hyper cholesterol (adj. OR = 2.77, 95%CI 1.20 – 3.90, p = <0.001), stroke (adj. OR = 2.66, 95%CI 1.36 – 5.24, p = 0.004), having hypertension (adj. OR = 1.83, 95% 1.35 – 2.49, p = <0.001), high blood sugar (adj. OR = 1.82, 95%CI 1.17 – 2.86, p = 0.008), were significantly associated with CVD among late adults. Other significant covariate was age (adj. OR = 1.04, 95%CI 1.01 – 1.06, p = 0.003) and sex (adj. OR = 1.43, 95%CI 1.07 – 1.92, p = 0.015). The conclusion was comorbidities, age, and sex was associated with CVD among late adults in Indonesia.
Analysis of Factors Related to Student Stress Levels During Online Learning at Muhammadiyah University East Kalimantan Dwi Rahmah Fitriani; Mukhripah Damaiyanti; Rini Ernawati; Yulia Saputri; Zulliani Akbar; Utami Wahyu Lestari
Proceedings of the International Conference on Nursing and Health Sciences Vol 4 No 1 (2023): January-June 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/picnhs.v4i1.1721

Abstract

Online learning needs to be a concern because it has positive and negative impacts, this can cause student stress due to various influencing factors. Procrastination is the tendency to postpone a task or job. Social support is something that needs attention and is associated with material and non-material support for students. Self-efficacy is the ability possessed by individuals to achieve certain desired results in carrying out an action or task. This study aimed to determine the relationship between procrastination, social support, and self-efficacy and student stress during online learning. The purpose of this study was to analyze the relationship between procastination factors, social support and self-efficacy with student stress levels during online learning. This study employed descriptive correlational design with crosssectional approach and examined 707 students of Muhammadiyah University East Kalimantan with a purposive sampling method. Procastination was measured using the APS (0.901), social support using the MSPSS ( 0.85), and self-efficacy using GSE ( 0.83). Stress was measured using DASS (0.755). The instrument used is the Indonesian language version which has been tested for validity and reliability. The results show that respondents had 247 (34.9%) high procrastination, 318 (45%) moderate social support, 364 (51.5%) high self-efficacy. Respondents experienced severe stress 261 (36.9%). The results of the gamma correlation test obtained a p value of 0.000 < (0.05) there is a significant relationship between procrastination, social support and self-efficacy with student stress levels during online learning. It is hoped that educational institutions and parents can play an active role in reducing other factors that cause stress during online learning.
Penyuluhan Kesehatan tentang Diabetes Mellitus dan Pemeriksaan Gula Darah di Era Pandemi Covid-19 di Kelurahan Sempaja Timur Tri Wahyuni; Joanggi Wiriatarina Harianto; Dwi Rahmah Fitriani
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat Vol 1 No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat: Oktob
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal Bekerjasama dengan CV Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu bagi warga RT 27 Kelurahan Sempaja Timur Kota Samarinda bertujuan untuk melakukan screening diabetes mellitus dan meningkatkan pengetahuan warga tentang DM selama masa pandemi COVID-19. Kegiatan ini merupakan bagian tridarma perguruan tinggi untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat agar dapat mempertahankan kesehatannya di masa pandemi dengan penyakit yang dideritanya, serta meminimalkan komplikasi yang mungkin akan berdampak. Metode dalam pengabmas melalui Tindakan pemeriksaan GDS serta penyuluhan tentang penyakit DM selama masa pandemi. Terdapat 62 warga yang berpartisipasi, dengan 6 warga yang memiliki kadar GDS diatas nilai normal. 2 dari 6 penderita DM adalah penderita baru yang selama ini tidak tahu jika menderita DM, sedang 4 warga mengatakan sudah lebih dari 4 bulan tidak melakukan pemeriksaan karena kondisi COVID-19 yang meningkat di fasilitas Kesehatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan warga yang memiliki kelebihan BB sebanyak 15 (24,2%) orang, obesitas sebanyak 27 (43,5%) orang. Untuk pemeriksaan gula darah sewaktu, teridentifikasi 6 (9,7%) orang yang mengalami pre-diabetes mellitus dan 6 (9,7%) yang memiliki kadar gula darah diatas 200 gr/dl atau kategori menderita DM.
Pendidikan Kesehatan Untuk Mencegah Masalah Kesehatan Jiwa Selama Pandemi Covid-19 Dwi Rahmah Fitriani; Tri Wahyuni; Joanggi Wiriatarina; Aqmarina Abidah; Alfif Fikrianur; Achmad Riyadi
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat Vol 1 No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat: Oktob
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal Bekerjasama dengan CV Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat yang terinfeksi Covid-19 di Wilayah Kota Samarinda masih tinggi sampai tanggal 15 Agustus 2021,dimana berdasarkan data Kelurahan Sempaja Timur dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda cenderung tinggi. Pandemi Covid-19 menyebabkan ancaman kesehatan secara global sehingga perlu upaya dari pemerintah berupa kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Melalui program tersebut, masyarakat merasakan dampak isolasi sosial karena ketakutan terpaparnya infeksi dan turunnya pendapatan karena kehilangan pekerjaan sehingga menyebabkan tekanan psikologis terutama pada individu sudah memiliki riwayat peristiwa traumatis sebelumnya ataupun para penyintas pasca Covid 19. Tekanan psikologis dapat berupa terjadinya stress berupa ketakutan dan kekhawatiran akan kesehatan, ketakutan dan kesedihan karena tidak dapat bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Respon stress dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga memperburuk kondisi. Untuk membantu masyarakat mempertahakan kesehatan jiwa, dianggap perlu melakukan upaya penyampaian informasi dengan metode pendidikan kesehatan tentang mempertahankan kesehatan jiwa di masa pandemi. Sasaran pendidikan kesehatan secara langsung adalah warga Bengkuring sebanyak 64 orang yang berada dalam Wilayah Kelurahan Sempaja Timur menggunakan media tambahan leaflet. Setelah diberikan pendidikan dan promosi kesehatan, masyarakat memberikan respon dan umpan balik positif terhadap materi yang disampaikan.
Penyuluhan Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Hipertensi di Masa Pandemi Joanggi Wiriatarina Harianto; Tri Wahyuni; Dwi Rahmah Fitriani; Andi Nindya Markang; Devita Nurul Jannah; Priyo Handayono
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat Vol 1 No 1 (2021): Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat: Peduli Masyarakat: Oktob
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal Bekerjasama dengan CV Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wabah COVID-19 baru-baru ini telah menyebar dengan cepat dalam skala global. salah satu pertimbangan klinis yang paling mengkhawatirkan adalah adanya komorbiditas. Salah satu komorbiditas yang sering ditemui pada pasien dengan COVID-19, adalah hipertensi. Pengalaman klinis awal menunjukkan bahwa usia yang lebih tua dan adanya sejumlah penyakit penyerta, termasuk hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, dan penyakit pernapasan kronis meningkatkan risiko kematian pada pasien COVID-19. Hipertensi menyebabkan kerusakan organ akhir yang dapat mengakibatkan hipertrofi ventrikel dan fibrosis, yang selanjutnya meningkatkan kerentanan jantung penderita hipertensi pada infeksi COVID-19. Faktor resiko terjadinya hipertensi antara lain usia, jenis kelamin, dan pola aktifitas olahraga. Penyuluhan Kesehatan terkait upaya pencegahan hipertensi pada masa pandemi kepada warga masyarakat Bengkuring di Kelurahan Sempaja Timur Samarinda Kalimantan Timur, meliputi pengertian hipertensi, faktor resiko hipertensi, pencegahan, pengobatan dan kaitan hipertensi dengan pandemi Covid-19 saat ini. Selain penyuluhan Kesehatan yang diberikan, dilakukan juga pemeriksaan Kesehatan, terutama tekanan darah.
Analysis of Factors Related To Adolescents Preparedness in The Disaster-Prone Areas In Lempake Village, Samarinda Dwi Rahmah Fitriani; Alfi Ari Fakhrur Rizal; Milkhatun Milkhatun; Ni Wayan Wiwin Astiningsih
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2020): November
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjik.v9i2.489

Abstract

The results of this study indicated that the characteristics of the respondents were mostly in their early adolescence with 408 people (67.8%), 346 women (57.1%) and 317 people with a high school education background (53.4%). Anxiety factor having moderate anxiety were 436 people (71.9%), the coping mechanism factor of the respondents having an adaptive coping mechanism were 338 people (55.8%) and the respondents social support factor having good social support were 319 people ( 52.6%) and most of the respondents (349 people (57.6%)) had a good preparedness. The results of the bivariate analysis showed that the p value <α (α = 0.05, CI; 95%) which indicates that there is a relationship between anxiety factors, coping mechanisms and social support with adolescent preparedness. The results of multivariate analysis using Logistic Regression (OR value: 5.1) found that the anxiety factor was the most significant factor associated with adolescent preparedness
Correlation Between Spirituality Levels and Anxiety Among First-Year Students in Health Science Programs Elvina, Rodiana; Fitriani, Dwi Rahmah; Astiningsih, Ni Wayan Wiwin
Genius Journal Vol. 6 No. 1 (2025): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v6i1.453

Abstract

Introduction: Students have various academic demands that must be completed, especially often students must complete within a specified period of time. Anxiety can occur because of many things that need to be solved immediately caused by stressors. The purpose of this study is to determine the relationship between spiritual level and anxiety in new students in the health study program of the University of Muhammadiyah East Kalimantan. Objective: The purpose of this study is to determine the relationship between spiritual level and anxiety in new students in the health study program of the University of Muhammadiyah East Kalimantan. Research Method: This study was quantitative with a cross-sectional design, sampling technique using random sampling technique and a research sample size of 271 respondents. The research instruments used the Daily Spiritual Experience Scale (DSES) and Depression Anxiety and Stress Scale (DASS-21) questionnaires, while the statistical test used the Rank Spearman test. Results: The study showed that most of the new students were in the category of high spiritual level, which was 160 respondents (59.0%), while the level of anxiety of students was mostly in the normal category, which was 123 respondents (45.4%). The results of the statistical test showed a correlation coefficient value of -0.429 and a p-value of 0.000 < 0,05. Conclusion: So it means that there is a relationship between spiritual level and anxiety in new students in the health study program of the University of Muhammadiyah East Kalimantan. With the strength of moderate correlation and the direction of negative relationships, which means that the higher the level of spirituality, the lower the anxiety experienced by students.
Correlation Between Spirituality Levels and Self-Esteem Among First-Year Students in Health Science Programs Fitriani, Dwi Rahmah; Sari, Indah Permata; Milkhatun, Milkhatun
Genius Journal Vol. 6 No. 1 (2025): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v6i1.454

Abstract

Introduction: Spirituality is one of the important aspects in human life that can affect various psychological aspects, including self-esteem. New students often face adaptation challenges that can affect their self-esteem. Understanding the relationship between the level of spirituality and self-esteem is important to support student well-being, especially in the Health Study Program of the University of Muhammadiyah East Kalimantan. Objective: This study aims to determine the relationship between the level of spirituality and self-esteem of new students in the Health Study Program, Muhammadiyah University of East Kalimantan. Research Method: This study used a cross-sectional design. Measurement of spirituality levels was carried out using the Daily Spiritual Experience Scale (DSES) which has been adapted into Indonesian, while self-esteem was measured using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). The research sample of 271 new students was selected using the stratified random sampling technique. Data were analyzed using the Spearman test to determine the relationship between the two variables. Results: The results of the study showed that out of 271 respondents, high spirituality levels were found in 59% of respondents, moderate in 40.2%, and low in 0.7%. Meanwhile, high self-esteem was found in 60.5% of respondents, moderate in 39.1%, and low in 0.4%. Statistical tests showed a p value = 0.000 (<0.05), which means there is a significant relationship between spirituality levels and self-esteem. The Spearman correlation value of 0.878 indicates a positive relationship with a very strong correlation strength. Conclusion: There is a significant positive relationship between the level of spirituality and self-esteem of new students in the Health Study Program, Muhammadiyah University of East Kalimantan. This result indicates that increasing spirituality can contribute to increasing students' self-esteem.
Hubungan Komunikasi Keluarga terhadap Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Wilayah Puskesmas Kota Samarinda Sutari, Mira; Damaiyanti, Mukhripah; Fitriani, Dwi Rahmah
ASJN (Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing) Vol 6 No 1 (2025): JULI
Publisher : P3M Universitas Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/asjn.v6i1.1662

Abstract

Latar Belakang: Penderita skizofrenia sering mengalami delusi, seperti mendengar suara tanpa stimulus eksternal (halusinasi auditori), meyakini diri sebagai Tuhan, menyakiti orang lain, serta menarik diri dari interaksi sosial. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kekambuhan adalah komunikasi dalam keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi keluarga dan tingkat kekambuhan pada individu dengan skizofrenia. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan metode korelasional deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah Family Communication Scale (FCS) versi terjemahan Bahasa Indonesia untuk mengukur komunikasi keluarga, serta Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS) versi Bahasa Indonesia untuk mengukur tingkat kekambuhan. Sampel sebanyak 258 responden dipilih dari total populasi 781 pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Kota Samarinda, menggunakan teknik cluster random sampling. Hasil: Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara komunikasi keluarga dan tingkat kekambuhan pasien skizofrenia, dengan nilai p = 0,000 (< 0,05). Kesimpulan: Komunikasi keluarga berhubungan signifikan dengan kekambuhan pasien skizofrenia. Oleh karena itu, disarankan agar layanan kesehatan di Kota Samarinda membentuk forum dukungan keluarga penderita skizofrenia, misalnya melalui grup media sosial seperti WhatsApp dan penyediaan layanan call center khusus sebagai sarana komunikasi, edukasi, dan dukungan berkelanjutan.