Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : AL-Fikr

Telaah Historis Terhadap Keadilan Sahabat Tasmin Tangngareng
AL-Fikr Vol 14 No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the equitableness of the Prophet’s companion (‘adalah al-sahabah) through historical and methodological perspective. The term of ‘adl means ‘straight’, ‘balance’,  ‘impartial’ or ‘put something on the right place’. In the Hadith perspective, ‘adl (equitably) is a man who constantly commands the right and forbids the wrong. Thus, its clear that ‘adl is a nature or a character of somebody which lead him to the right action. The term of ‘sahabah’ rooted from sa-hi-ba means ‘owner’ or ‘accompany’. In Hadith perspective, sahabah is a man who had been living along with The Prophet Muhammad for a or several years or involved once or several times in a war together with The Prophet Muhammad. Sahabah also means a man who met The Prophet Muhammad in the belief circumstances. Majority of ulamas (muslim scholar) said that the ‘adalah al-sahabah is guaranteed, so that they do not have to be criticized. However, the debate of ‘adalah al-sahabah among ulamas can be deal with redefinition of ‘adl as this article aims.
Nikahmut`Ah dalam Perspektif Hadis Nabi (Analisis Kritis Berdasarkan Kualitas) Tasmin Tangngareng
AL-Fikr Vol 21 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas secara mendalam tentang  nikah mut`ah dalam perspektif hadis Nabi saw., analisis kritik berdasarkan kualitas hadis. Kritik hadis sangat urgen untuk dilakukan, oleh karena hadis merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Selain itu, hadis tidak seluruhnya tertulis pada zaman Nabi saw., dan munculnya pemalsuan hadis sesudah zaman Nabi, serta proses penghimpunan hadis-hadis dalam kitab-kitab hadis memakan waktu yang lama sesudah wafatnya Nabi, dan periwayatan hadis lebih banyak berlangsung secara makna. Dengan kritik hadis berdasarkan  unsur-unsur kaidahnya, maka dapat dirumuskan dan ditentukan macam-macam  kualitas hadis, apakah sahih, hasan atau da`if. Kualitas hadis tersebut erat kaitannya dengan boleh atau tidaknya hadis tersebut dijadikan hujjah. Dengan melalui takhrij al-hadis diperoleh data bahwa hadis-hadis tentang nikah mut`ah dimuat dalam berbagai kitab-kitab  hadis, berjumlah 65 riwayat. Sahih al-Bukhariy memuat 10 riwayat. Sahih Muslim memuat 22 riwayat. Sunan Abi Dawud memuat 2 riwayat. Sunan al-Nasa`iy memuat 6 riwayat. Sunan al-Turmuziy, memuat 2 riwayat. Sunan Ibnu Majah, memuat 4 riwayat. Sunan IbnuMajah, memuat 4 riwayat. Sunan al-Darimi, memuat 4 riwayat. Musnad Ahmadbin Hanbal, memuat 2 riwayat. Muwatta Malik, memuat 1 riwayat. Berdasarkan kritik sanad (naqd al-sanad), ternyata hadis-hadis tentang kebolehan  nikah mut`ah, dan kebolehan nikahmut`ah ditetapkan masa berlakunya untuk waktutertentu berkualitas sahih, sanad Ahmad bin Hanbal masing-masing melalui jalur Muhammad bin Ja`far dan Waki`. Demikian pula hadis-hadis tentang larangan nikah mut`ah pada perang khaibar, fathu Makkah dan larangan nikah mut`ah sampai hari kiamat dari sanad al-Nasai, al-Darimi dan Muslim, masing-masing melalui jalur Sulaiman bin Dawud, Muhammad bin Yusuf dan Muhammad bin Abdullah berkualitas sahih, telah memenuhi unsur-unsur kaidah kesahihan sanad, yakni seluruh periwayatnya siqat. Sanadnya muttasil, terhindar dari syaz, dan illat. Sehingga dapat dinyatakan bahwa sanadnya berkualitas sahih lizatih.. Oleh karenaitu, hadis-hadis tentang nikah mut`ah yang telah dikritik sanadnya dapat dipertanggung jawabkan kualitas dan kehujjahannya. Berdasarkan kritik matan (naqd matn), ternyata hadis-hadis tentang kebolehan  nikah mut`ah, dan kebolehan nikah mut`ah ditetapkan masa berlakunya untuk waktu tertentu berkualitas sahih. Demikian pula hadis-hadis tentang larangan nikah mut`ah pada perang khaibar, fathu Makkah dan larangan nikah mut`ah sampai hari kiamat darisanad al-Nasai, al-Darimi dan Muslim, masing-masing  melalui jalur Sulaiman bin Dawud, Muhammad bin Yusuf dan Muhammad bin Abdullah berkualitas sahih, telah memenuhi unsur-unsur kaidah kesahihan matan  yakni terhindar dari syaz dan illat. Sehingga dapat dinyatakan bahwa matannya berkualitas sahih lizatih. Oleh karena itu, hadis-hadis tentang nikah mut`ah yang telah dikritik matannya dapat dipertanggung jawabkan kualitas dan kehujjahannya
HAK-HAK BURUH DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI SAW. Tasmin Tangngareng
AL-Fikr Vol 23 No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel  ini, mengkaji tentang hak-hak buruh dalam perspektif  hadis nabi saw. Hadis yang berkaitan dengan hak buruh, sering digunakan sebagai dasar ataupun dalil dalam permasalahan pengupahan dan perlindungan buruh, oleh karena itu, peneliti memandang perlu untuk meneliti hadis yang berkaitan dengan hal tersebut dari sudut kualitas dan analisis pemahaman hadis nabi.Penelitian ini adalah penelitian hadis bersifat penelitian library research  dengan menggunakan metode  maudu’i .Selanjutnya menganalisis hadis-hadis yang kualitasnya sahih, baik dari segi sanad maupun matan,sehngga dapat dijadikan sebagai hujjah dalam beragama, dengan melalui pendekatan historis, sosiologis dan teologis normatif. Hasil kajian yang diperoleh dari penelitian ini adalah ditemukan tiga hadis terkait tentang hak-hak buruh, yaitu hadis tentang perlindungan buruh dengan kualitas hadis sahih, hadis tentang menyegerakan pembayaran upah buruh dengan kualitas hadis hasan lighairi dan hadis tentang membayar upah buruh dengan kualitas shahih lighairi. Pada hadis hak perlindungan buruh terkandung didalamnya tiga nilai sebagai konsep dasar hak buruh yaitu nilai-nilai persaudaraan, persamaan, kemanusiaan. Sedangkan pada hadis tentang membayar upah buruh harus adil dan dapat diterima kedua belah pihak antara majikan atau pemodal dan buruh. Implikasi dari penelitian ini diharapkan masyarakat dapat lebih mengetahui tentang larangan maupun perintah nabi Muhammad saw, dengan tujuan untuk memberikan hak yang selayaknya atau melindungi buruh dari kezaliman majikan atau pemodal
PROBLEMATIKA PEMBINAAN KARAKTER ANAK; ANALISIS KRITIS HADIS MAUDU´I ST magfirah nasir; Tasmin Tangngareng
AL-Fikr Vol 24 No 1 (2022): Jurnal Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan hakekat dan tahrij hadis yang berkaitan dengan pembinaan karakter anak. Penelitian ini menggunakan kajian hadis MauÌui yang merumuskan persoalan: Bagaimana hakekat pembinaan karakter anak dalam keluarga dan bagaimana analisis hadis MauÌui tentang pembinaan karakter anak. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan dan pembinaan merupakan suatu keharusan bagi anak, sebab dengan pendidikan, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hadis yang telah diteliti ini dapat dijadikan hujah dalam mendidik dan membina anak, karena dari hadis-hadis tersebut menggambarkan bahwa mendidik anak harus dengan cara bertahap. Selain itu orang tua dan para pendidik hendaklah memperhatikan dan memberikan pembinaan kepada anak sejak dini, dengan pola pendidikan dalam syariat agama.
TAFSIR AQIDAH TENTANG NERAKA (TAFSIRAN TERHADAP QS. AL-NISA/4: 14) Tasmin Tangngareng; I Gusti Bagus Agung Perdana Rayyn; Al-Fiana Mahar
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 25 No 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v25i1.34871

Abstract

This article discusses the aqidah interpretation of QS. al-Nisa/4:14 which explains about hell. In this article there are several important topics that will be the focus of the discussion, namely, first is the study of verses in vocabulary terms, their relation to other arguments and the interpretation of scholars, second is the description of the content of the creed in QS. al-Nisa/4:14. Therefore, it is necessary to explain these things so as not to cause misunderstanding in understanding the verse. The study of this problem was carried out by conducting a literature review with a linguistic approach and an interpretive science approach. So the conclusion is that there are differences of opinion among scholars in understanding and explaining the verse, there are scholars who are more inclined to disobedience, both forms of torture and forms of immorality, there are scholars who interpret that the verse speaks of disbelief in the Shari'a, and there are scholars who tend to interpret that the verse contains an order not to change the decree of Allah swt.
Haid Perspektif Al-Qur’an; Analisis Terhadap Ayat Kesehatan Reproduksi Wanita QS. Al-Baqarah/2: 222-223 Tangngareng, Tasmin; Rayyn, I Gusti Bagus Agung Perdana; Mahar, Al-Fiana
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 25 No 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v25i2.39305

Abstract

This article describes menstruation that occurs in women as a monthly cycle and also as a form of self-purification and purification of the female reproductive organs. In this article, there are several important topics that will be discussed, namely, an overview of QS. al-Baqarah, a study of verses on menstruation or reproductive health in women, as well as commentators' views on the verses of menstruation or reproductive health in women. Therefore, it is important to discuss the discussion so as not to cause misunderstandings and add insight about menstruation and maintaining reproductive health in women. This discussion is reviewed by conducting library research using an interpretive approach and health sciences. The conclusion is that menstruation is a natural cycle that occurs in every woman as a form of self-purification and cleaning of dirt in the reproductive organs.
Kitabat Al-Hadis, Tadwin dan Tasnif: Suatu Tinjauan Historis Tangngareng, Tasmin; Rayyn, I Gusti Bagus Agung Perdana; Mahar, Al-Fiana
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 26 No 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v26i1.42849

Abstract

Artikel ini membahas tentang sejarah penulisan, kodifikasi dan klasifikasi kitab-kitab hadis. Dalam artikel ini terdapat beberapa topik penting yang akan menjadi fokus bahasan yaitu, peristilahan terkait dengan penulisan, kodifikasi dan klasifikasi hadis, perbedaan pandangan yang terjadi dikalangan ulama dan juga tinjauan historis terkait dengan kitab-kitab hadis. Oleh karena itu maka perlu kiranya menjelaskan hal-hal tersebut agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami sejarah perkembangan kitab-kitab hadis. Pengkajian masalah ini dilakukan dengan cara melakukan kajian pustaka dengan pendekatan kebahasaan dan pendekataan sosio-historis yang bertujuan untuk mengetahui peristilahan terkait dengan sejarah kitab-kitab hadis, perbedaan pandangan dikalangan ulama hadis dan tinjauan historisnya. Maka kesimpulannya bahwa proses lahirnya kitab-kitab hadis melalui tiga proses, yaitu; kitabat al-hadis, tadwin dan tasnif. Walaupun dalam proses tersebut terjadi perbedaan dikalangan ulama hadis. Adapun terkait dengan tinjauan historis kitab-kitab hadis, berkembang dari masa ke masa yang dapat ditinjau dari berbagai aspek sejarah penghimpunan hadis, kondisi perawi hadis, kriteria hadis yang dihimpun, sistematika penyusunan kitab dan berdasar pada segi kuantitas hadis.
Telaah Historisitas dan Penulisan Hadis Pada Masa Kenabian Tasmin Tangngareng; Asmita; Rayyn, I Gusti Bagus Agung Perdana
Jurnal Ushuluddin: Media Dialog Pemikiran Islam Vol 28 No 01 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jumdpi.v28i01.58018

Abstract

This article discusses the historicity and writing of hadith during the prophetic period. In this article, several important points will form the core of the discussion, namely the historicity of hadith during the prophetic period and the writing of hadith during the same period. It is therefore necessary to explain these matters to avoid confusion and misunderstanding regarding the historicity of hadith and the writing of hadith during the prophetic period. The study of this issue was conducted by conducting a literature review with a historical approach to the historical development of hadith studies. The conclusion is that during the time of the Prophet, known as 'Ashr al-Wahy wa al-Takwin, traditions were transmitted to the Companions through oral transmission, practice, and direct consent. In Arabian society where there was little tradition of writing, memorisation became the main means of transmission. The Prophet conveyed them in a contextual manner, both in public assemblies and in private. Although the writing of traditions was banned to preserve the purity of the Qur'an, some companions recorded them with the Prophet's permission. This prohibition was preventive in nature and was later replaced by the permission to write when the people were able to distinguish between the Qur'an and the hadith. The difference in the Prophet's attitude towards writing shows his caution in maintaining the authenticity of revelation. Thus, although not yet formally documented, hadith during the time of the Prophet was taught systematically and methodically