Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PELAKSANAAN AJUDIKASI OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI PENYELESAIAN SENGKETA PELAYANAN PUBLIK abdul madjid podungge
Gorontalo Journal of Public Administration Studies Vol 3, No 1 (2020): Gorontalo Journal Of Public Administration Studies
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.253 KB) | DOI: 10.32662/gjpads.v3i1.974

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana kewenangan lembaga negara Ombudsman Republik Indonesia dalam bertindak sebagai pemutus sengketa pelayanan publik dan bagaimana kekuatan Putusan Ajudikasi Ombudsman Dalam Penyelesaian Sengketa Pelayanan Publik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian normatif. Pendekatan sejarah, pendekatan perundang-undangan dan pendekatan perbandingan.Hasil artikel menunjukkan bahwa: Pertama, dalam ketentuan dalam Undang-Undang Pelayanan Publik dan Undang-Undang Ombudsman serta peraturan pelaksanaanya, mengenai putusan ajudikasi yang dilakukan Ombudsman dalam penyelesaian sengketa pelayanan publik, kekuatan mengikat putusan tersebut belum final dan mengikat, karena putusan tersebut memiliki nilai sebagai rekomendasi. Hal ini sejalan dengan ketentuan peraturan perundangan mengenai hal tersebut, dalam hal ini undang-undang Ombudsman, yang mengatur bahwa hasil pemeriksaan Ombudsman terhadap laporan dan pengaduan masyarakat atas pelayanan publik (sengketa pelayanan publik adalah bagian dari hal ini) adalah rekomendasi. Kedua, Bentuk putusan Ombudsman merupakan rekomendasi, maka sesuai ketentuan yang berlaku dapat dilakukan upaya hukum lebih lanjut, yang mekanismenya serupa dengan upaya administrasi (administratief beroep) yang berujung pada penjatuhan sanksi administrasi dan publikasi media. Bila ditemukan adanya perbuatan melawan hukum dan unsur tindak pidana maka, dapat dilakukan proses pemeriksaan sampai putusan di Pengadilan Tata Usaha Negara dan/atau Pengadilan Umum. 
Kerangka TheoLegis Berbasis Tafsir Surah Al-Buruj Pada Pembuktian Peradilan Tata Usaha Negara Abdul Madjid Podungge; Devika Rahayu Daud; Irfan Gani
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8163

Abstract

Penegakan keadilan substantif dalam penyelesaian sengketa administrasi di Indonesia terhambat oleh patologi legal tunnel vision akibat formalisme hukum positif yang kaku. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi kualifikasi perbuatan administratif yang adaptif melalui pengembangan kerangka kerja TheoLegis. Menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, komparatif, dan historis, penelitian ini mengeksplorasi dekonstruksi rigiditas prosedural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi model pembuktian hibrida kontemporer dengan dimensi spiritual transendental Surah Al-Buruj dalam Tafsir Al-Jawahir melahirkan model TheoLegis. Kerangka ini mampu memurnikan alat bukti secara material melampaui keabsahan formal dokumen melalui konsep legal shifts, yang memaksa pejabat publik memenuhi kewajiban administratif secara objektif berdasarkan keselarasan fakta makro-kosmos. TheoLegis meruntuhkan dominasi absolut asas praduga keabsahan (praesumptio iustae causa) dan mendorong keberanian moral hakim untuk melakukan koreksi yuridis di persidangan. Sebagai kontribusi orisinal, penelitian ini menawarkan cetak biru pembaruan hukum acara peradilan tata usaha negara yang transparan, akuntabel, dan berintegritas moral tinggi demi mengejawantahkan adagium fiat justitia ruat caelum. Inovasi ini memberikan perlindungan hukum yang humanis dan transformatif bagi hak-hak konstitusional warga negara.
Redefining Regional Supervisory Authority: Smart Eco Supervision as a Preventive Administrative Sanction Instrument Abdul Madjid Podungge; Risti Ristianingsih Badu; Abdul Wahab Podungge; Robby Hunawa
Nomos : Jurnal Penelitian Ilmu Hukum Vol. 5 No. 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/nomos.v5i4.3827

Abstract

This study investigates the critical development paradox in Gorontalo, where a 6.07% extractive-driven economic growth inversely correlates with extreme mercury contamination (Igeo) and severe environmental degradation in river basins. This systemic issue stems from acute regulatory discord caused by centralized licensing under the Minerba and Job Creation Laws, creating a supervisory authority vacuum that effectively paralyzes regional oversight mechanisms. Adopting a constructive socio-legal approach triangulated with hybrid spatial data (NDVI/SAR), this article proposes the Smart Eco Supervision model to bridge the critical gap between technical surveillance and legal enforcement. This model integrates high-precision geospatial detection to provide indisputable objective evidence for State Administrative Officers (TUN). Furthermore, it legally reconstructs sanctions into Restorative Administrative Sanctions, mandating scientifically quantifiable restoration methods like phytoremediation instead of mere financial fines. Grounded in Salus Populi Suprema Lex Esto, this framework redefines regional authority by prioritizing citizens' ecological safety as the supreme law, ensuring substantive environmental justice for impacted communities.
ANALISIS YURIDIS PUTUSAN LEPAS (Onslag Van RechtVervolging) DALAM TINDAK PIDANA PEMILU: (Studi Kasus Putusan No.10.Pid.Sus/2024/PN Tmt) Reza Amanda Putri; Abdul Madjid Podungge; Fadel Ilato
The Factum Law Review Journal Volume 3 Issue 2, December 2025
Publisher : Program Studi Hukum - Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas analisis yuridis putusan lepas (onslag van rechtvervolging) dalam perkara tindak pidana pemilu, dengan studi kasus Putusan No.10/Pid.Sus/2024/PN Tmt. Latar belakang penelitian adalah adanya fenomena hukum ketika hakim tidak menjatuhkan pidana terhadap terdakwa meskipun unsur-unsur perbuatan terbukti, dengan alasan bahwa perbuatan tersebut bukan tindak pidana. Hal ini menimbulkan perdebatan terkait kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan hak-hak politik warga negara. Karena itu, penelitian ini penting untuk mengkaji pertimbangan hakim, kesesuaiannya dengan asas legalitas, serta implikasi yuridis terhadap penegakan hukum pemilu di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan ialah metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus (case approach). Bahan hukum yang digunakan meliputi bahan hukum primer berupa undang-undang dan putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder berupa literatur, jurnal, dan pendapat para ahli hukum. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan menelaah pertimbangan hakim, lalu dibandingkan dengan teori hukum pidana dan prinsip penyelenggaraan pemilu yang jujur, adil, serta demokratis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim dalam Putusan No.10/Pid.Sus/2024/PN Tmt menekankan pada tidak adanya sifat melawan hukum dalam perbuatan terdakwa, sehingga tidak dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana pemilu. Putusan lepas ini sejalan dengan asas legalitas yang menghendaki perbuatan hanya dapat dipidana bila diatur jelas dalam undang-undang. Namun, dari perspektif politik hukum pemilu, putusan ini menimbulkan kritik karena berpotensi melemahkan integritas pemilu. Dengan demikian, penelitian menegaskan pentingnya harmonisasi antara asas legalitas hukum pidana dan tujuan penyelenggaraan pemilu demokratis. .Kata kunci: Putusan lepas, Onslag van rechtvervolging, Tindak pidana pemilu ABSTRACT This study examines the juridical analysis of dismissal of prosecution (onslag van rechtvervolging) in election crime cases, with a case study of Decision No.10/Pid.Sus/2024/PN Tmt. The background of this research is the legal phenomenon where judges do not impose a sentence on defendants even though the elements of the act are proven, on the grounds that the act does not constitute a criminal offense. This raises debates regarding legal certainty, justice, and the protection of citizens’ political rights. Therefore, this study is important to examine the judges’ considerations, their conformity with the principle of legality, and the juridical implications for election law enforcement in Indonesia. The research method employed is a normative juridical approach using a case study (case approach). The legal materials consist of primary sources, such as laws and court decisions, and secondary sources, including literature, journals, and expert opinions. The analysis is qualitative, reviewing the judges’ reasoning and comparing it with criminal law theory and principles of fair, honest, and democratic election administration. The study results indicate that the judges’ considerations in Decision No.10/Pid.Sus/2024/PN Tmt emphasize the absence of unlawfulness in the defendant’s actions, so the act cannot be classified as an election crime. This dismissal aligns with the principle of legality, which requires that an act can only be punished if clearly regulated by law. However, from the perspective of election law policy, this decision raises criticism as it may weaken election integrity. Thus, the study highlights the importance of harmonizing the principle of legality in criminal law with the objectives of democratic election administration. Keywords: Dismissal of prosecution, Onslag van rechtvervolging, Election crime
LEGALITAS PROSEDURAL PRAKTIK PENYEHAT TRADISIONAL RUHANI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ADMINISTRASI NEGARA Abdul Madjid Podungge
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 3 (2026): June 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i3.6492

Abstract

Abstract: This paper scrutinizes the commercial evolution of spiritual healing methodologies (Thibb al-Ruhani), as elucidated in Shaykh Muhammad Haqqi al-Nazili’s seminal text, Khazinat al-Asrar Jalilat al-Adzkar (1869). The identified research deficiency is characterized by the limited examination of public law concerning esoteric practices that have historically been segregated from contemporary administrative law frameworks. The imperative for this inquiry arises from the urgent necessity for consumer protection and legal definiteness to alleviate malpractice and religious deception through procedural instruments of state administrative law. Utilizing a normative-legal framework accompanied by statutory and conceptual methodologies, this study elucidates that internal textual rituals embody material actions (feitelijk handelen) that are obligated to adhere to the standards of Procedural Administrative Law. The licensing framework established through Traditional Healer Registration Certificates (STPT) and the Principle of Carefulness are pivotal mechanisms for preserving public order while avoiding the distortion of religious tenets. The innovative aspect encompasses a transformative reconstruction through an adaptive-hybrid "Procedural Metaphysical Administrative Law Standardization Methodology." In conclusion, Procedural Administrative Law functions as the paramount legal foundation, subordinating fluctuating metaphysical realities into unequivocal governance assurance for the protection of public welfare. Keywords: Legal Certainty, Procedural Administrative Law, Thibb al-Ruhani, Traditional Healers. Abstrak: Penelitian ini menganalisis fenomena transformasi praktik pengobatan spiritual (Thibb al-Ruhani) berbasis manuskrip klasik Khazinat al-Asrar Jalilat al-Adzkar karya Syaikh Muhammad Haqqi al-Nazili (1869) yang kini bermutasi menjadi layanan publik komersial. Celah penelitian diidentifikasi pada minimnya tinjauan hukum publik terhadap praktik esoteris yang selama ini cenderung terisolasi dari dinamika hukum administrasi modern. Urgensi studi ini terletak pada kebutuhan mendesak akan perlindungan konsumen dan kepastian hukum guna memitigasi risiko malapraktik serta penipuan berkedok agama melalui instrumen hukum administrasi negara yang bersifat prsedural. Menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini menemukan bahwa prosedur ritual internal dalam teks klasik merupakan tindakan material (feitelijk handelen) yang wajib tunduk pada standar Hukum Administrasi Negara (HAN) Prosedural. Pembahasan mengungkap bahwa mekanisme perizinan melalui Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) dan penerapan Asas Kecermatan menjadi instrumen esensial dalam menjaga ketertiban umum tanpa mendistorsi dogma keagamaan. Kebaharuan penelitian ini terletak pada tawaran rekonstruksi radikal melalui "Metodologi Standardisasi HAN Metafisika Prosedural" yang adaptif-hibrida. Disimpulkan bahwa HAN Prosedural berfungsi sebagai jangkar legalitas tertinggi yang mampu menundukkan ketidakpastian realitas metafisika ke dalam kepastian hukum tata pemerintahan yang absolut demi keselamatan masyarakat. Kata kunci: HAN Prosedural, Kepastian Hukum, Penyehat Tradisional, Thibb al-Ruhani.