Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Korelasi Rank Spearman pada Hubungan antara Kemiskinan dan Kejadian Underweight pada Balita di Jawa Barat Dea Yustia Diningrum; Suliadi
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.14183

Abstract

Abstract. Nutritional problems in toddlers are important indicators of public health, specifically in developing countries like Indonesia. Nutritional challenges in Indonesia include issues related to undernutrition (underweight, stunting, and wasting), overnutrition (obesity or overweight), and micronutrient deficiencies. Although stunting often receives the most attention in national health programs, the issue of underweight still requires special focus, as it can be the procursor to more serious nutritional problems. Poverty is one of the main factors influencing the nutritional status of children under five. Economic disadvantages limit families’ access to nutritious food, healthcare, education, and adequate sanitation. This study used Spearman rank correlation analysis to examine the relationship between poverty and the incidence of underweight among toddlers in West Java Province in 2023. It is obtained that there is a significant relationship between poverty and the incidence of underweight among toddlers in West Java Province, which falls into the category of a strong relationship, with a positive direction between the two variables. Thus, the higher the level of poverty, the higher the incidence of underweight among toddlers in West Java. Abstrak. Masalah gizi pada balita merupakan salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Tantangan gizi di Indonesia meliputi masalah undernutrition (berat badan kurang, stunting dan kurus), overnutrition (obesitas atau kegemukan), serta kekurangan gizi mikro. Meskipun stunting sering menjadi fokus utama dalam program kesehatan nasional, masalah underweight (berat badan kurang) tetap memerlukan perhatian khusus karena kondisi ini dapat menjadi awal dari masalah gizi yang lebih serius. Kemiskinan adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi status gizi balita. Ketidakmampuan ekonomi membatasi akses keluarga terhadap makanan bergizi, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan sanitasi yang layak. Peneliti menggunakan analisis korelasi rank Spearman untuk mengkaji hubungan antara kemiskinan dan kejadian underweight pada balita di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2023. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara kemiskinan dan kejadian underweight pada balita di Provinsi Jawa Barat yang termasuk dalam kategori hubungan yang kuat dan terdapat arah hubungan yang positif di antara kedua variabel. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kemiskinan, semakin tinggi pula kejadian underweight pada balita di Jawa Barat.
Hubungan antara Rata-Rata Lama Sekolah dengan Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia Tahun 2023 Tasyah Syarmilati; Suliadi
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.14318

Abstract

Abstract. The relationship between average years of schooling and poverty rates is important for social and economic development. Average years of schooling, which measures the number of years of formal education received by the population, and poverty rates, which indicate the percentage of the population below the poverty line, are indicators of social welfare. Data from the Central Statistics Agency (BPS, 2023) shows that the average years of schooling in Indonesia in 2023 were 8.6 years, the poverty rate was 9.57%, and the open unemployment rate was 5.8%. Based on this phenomenon, it is important to have a deep understanding of the relationship between average years of schooling and unemployment in order to design more effective policies. The method used is Pearson correlation because the data from both variables follow a normal distribution. The results of the study showed that the relationship between average years of schooling and the open unemployment rate in Indonesia in 2023 is included in the moderate category. Although the average length of schooling has increased, open unemployment has also increased, indicating a significant relationship that needs to be considered in education and employment policies. Abstrak. Hubungan antara rata-rata lama sekolah dan angka kemiskinan penting untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Rata-rata lama sekolah, yang mengukur jumlah tahun pendidikan formal yang diterima penduduk, dan angka kemiskinan, yang menunjukkan persentase penduduk di bawah garis kemiskinan, merupakan indikator kesejahteraan sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah di Indonesia pada 2023 adalah 8,6 tahun, angka kemiskinan 9,57%, dan tingkat pengangguran terbuka 5,8%. Berdasarkan fenomena tersebut pentingnya pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara rata-rata lama sekolah dan pengangguran untuk merancang kebijakan yang lebih efektif. Metode yang digunakan adalah korelasi Pearson karena data dari kedua variabel mengikuti ditsribusi normal. Korelasi Pearson memberikan nilai antara -1 dan 1, di mana nilai 1 menunjukkan hubungan positif sempurna, nilai -1 menunjukkan hubungan negatif sempurna, dan nilai 0 menunjukkan tidak adanya hubungan linear antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara rata-rata lama sekolah dan tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada 2023 termasuk dalam kategori sedang. Meskipun rata-rata lama sekolah meningkat, pengangguran terbuka juga mengalami peningkatan, menunjukkan hubungan signifikan yang perlu diperhatikan dalam kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan.
Uji Mann-Whitney Perbedaan Harapan Lama Sekolah antara Provinsi Sumatera Selatan dengan Aceh Tahun 2023 Ghea Putri Amalia P; Suliadi
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v4i2.14669

Abstract

Abstract. Inferential statistics are often referred to as inductive statistics which are statistics used to analyse sample data and the result will be generalised or concluded for the population from which the sample was taken. Inferential statistics are categorised into two, namely parametric statistics and nonparametric statistics. One of the test used on two independent samples is the Mann-Whitney Test. The Mann-Whitney test can be used when the data is not normally distributed. The advantage of the Mann-Whitney test is that it can be used if the number of each sample is not the same. Expected Years of Schooling (EYS) is defined as the years of schooling (in years) that a child is expected to experience at a certain age in the future. It is assumed that the probability that the child will remain in school at subsequent ages is equal to the probability of the population being in school per the current population of the same age. Expected years of schooling are calculated for the population aged seven years and above. Hypothesis testing using the Mann-Whitney test shows that there is a significant difference between the expected years of schooling of districts/cities in South Sumatra Province and the expected years of schooling of districts/cities in Aceh Province in 2023. Abstrak. Statistika inferensial sering disebut sebagai statistika induktif yang merupakan statistik yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan atau disimpulkan untuk populasi dari asal sampel itu diambil. Statistika inferensial dikategorikan menjadi dua, yaitu statistika parametrik dan statistika nonparametrik. Salah satu pengujian yang digunakan pada dua sampel saling bebas ada Uji Mann-Whitney. Uji Mann-Whitney dapat digunakan ketika data tidak berdistribusi normal. Kelebihan dari uji Mann-Whitney yaitu bisa digunakan jika jumlah masing-masing sampel tidak sama. Harapan Lama Sekolah (HLS)/Expected Years of Schooling (EYS) didefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini. Angka harapan lama sekolah dihitung untuk penduduk berusia tujuh tahun ke atas. Uji hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara harapan lama sekolah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dengan harapan lama sekolah kabupaten/kota di Provinsi Aceh tahun 2023.
Algoritma Pemilihan Variabel untuk Klasifikasi dan Penerapannya pada Klasifikasi Desa-Kelurahan Desi Permatasari; Suliadi
Jurnal Riset Statistika Volume 4, No. 1, Juli 2024, Jurnal Riset Statistika (JRS)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrs.v4i1.3876

Abstract

ABSTRAK. K-Nearest Neighbor (KNN) adalah salah satu metode klasifikasi non-parametrik yang prinsip pengerjaannya dengan mengklasifikasikan suatu objek dalam data testing berdasarkan kelas mayoritas dari k tetangga terdekatnya (neighbor) pada data training. Salah satu permasalahan yang utama pada KNN yaitu banyak variabel yang harus digunakan dalam pelaksanaannya, terlebih terdapat kasus dimana banyaknya variabel lebih besar dibanding dengan banyaknya pengamatan. Maka dari itu, Beuren & Anzanello (2019) membuat kerangka kerja baru untuk pemilihan variabel dengan menggabungkan beberapa metode, yaitu Mutual Information (MI), Algoritma Kennard Stone (KS), Statistik Anderson Darling (AD), Statistik Kruskal Wallis (KW), K-Nearest Neighbor (KNN), Leave One Out Cross Validation (LOOCV), dan Confusion Matrix. Pada penelitian ini menerapkan metode Beuren & Anzanello (2019) untuk memilih variabel untuk mengklasifikasikan desa/kelurahan ke dalam status perdesaan dan perkotaan di wilayah Bandung Raya. Dengan menggunakan algoritma K-Nearest Neighbor (KNN) dan k = 5 tetangga terdekat dari 24 variabel diperoleh kombinasi variable independent, yaitu Kepadatan Penduduk (X_8) dan Banyaknya Penduduk (X_5) adalah kombinasi yang paling cocok dalam mengklasifikasikan status perdesaan dan perkotaan pada desa/kelurahan yang ada di wilayah Bandung Raya, diperoleh hasil akurasi sebesar 80.72%.
Korelasi Rank-Spearman pada Hubungan Beberapa Variabel Produk Domestik Regional Bruto Trianto Syahbannu Prayoga; Suliadi
Jurnal Riset Statistika Volume 4, No. 2, Desember 2024, Jurnal Riset Statistika (JRS)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrs.v4i2.5162

Abstract

Abstract. Correlation is a statistical measure that quantifies the degree and direction of the relationship between two or more variables. The correlation coefficient shows how much the level and direction of the relationship between these variables. The correlation coefficient value generally has a positive and negative sign (+, -), the sign is to indicate the level and direction of the relationship between the two variables. In correlation analysis there is no term independent variable (X) or related variable (Y). Rank-Spearman correlation is one of the methods to determine the relationship between two variables. The main concept in rank-spearman correlation is to use the rank values of each of the two variables, not using the original values in the data. Rank-spearman correlation can be used when the data distribution does not meet the assumption of normality or has an ordinal data scale. Gross Regional Domestic Product at current prices by expenditure (GRDP Expenditure) describes the use of goods and services produced through production activities in the region, including final demand or expenditure by domestic and international economic actors. Correlation analysis using rank-spearman shows that Household Consumption Expenditure (PK-RT), LNPRT Consumption Expenditure, and Government Consumption Expenditure (PK-P) have a very strong relationship with PMTB and GRDP, while the relationship with Inventory Change and Net Export tends to be weaker or insignificant. Abstrak. Korelasi merupakan ukuran statistik yang mengukur tingkat dan arah hubungan antara dua atau lebih. Koefisien korelasi menunjukkan seberapa besar tingkat dan arah hubungan antara variabel-variabel tersebut. Nilai koefisien korelasi umumnya memiliki tanda positif dan negatif (+, -), tanda tersebut untuk menunjukkan tingkat dan arah hubungan antara dua variabel. Dalam analisis korelasi tidak terdapat istilah variabel bebas (X) maupun variabel terkait (Y). Korelasi Rank-Spearman adalah salah satu metode untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Konsep utama dalam korelasi rank-spearman yakni menggunakan peringkat nilai dari masing-masing dua variabel, tidak menggunakan nilai asli dalam data tersebut. Korelasi rank-spearman dapat digunakan ketika distribusi data tidak memenuhi asumsi normalitas atau memiliki skala data ordinal. Produk Domestik Regional Bruto atas harga berlaku menurut pengeluaran (PDRB Pengeluaran) menggambarkan penggunaan barang dan jasa yang dihasilkan melalui aktivitas produksi dalam wilayah tersebut, mencakup permintaan atau pengeluaran akhir oleh pelaku ekonomi domestik maupun internasional. Analisis korelasi menggunakan rank-spearman menunjukkan bahwa Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT), Pengeluaran Konsumsi LNPRT, dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) memiliki hubungan yang sangat kuat dengan PMTB dan PDRB, sementara hubungan dengan Perubahan Inventori dan Net Ekspor cenderung lebih lemah atau tidak signifikan.
Strategi Pengembangan Objek Wisata Religi : (Studi Kasus Makam Gus Dur Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang) Hudallah; Suliadi
PANOPTIKON: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 1 No 1 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32492/panoptikon.v1i1.23

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena sejak wafatnya GusDur Makam Pondok Peantren Tebuireng tidak pernah sepi dari peziarah. Merespon keadaan ini maka Pemerintah Kabupaten Jombang, berupaya mengembangkan sebagai objek wisata religi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui Strategi Pengembangan Objek Wisata Religi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik Pengumpulan Data melalui wawancara secara purposive, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:1.Wisata Religi Makam Gus Dur memiliki potensi dan daya tarik wisata yang cukup besar karena itu berdasarkan data yang telah diungkap bahwa Wisata Religi di makam Gus Dur telah dikelola secara profesional. 2. Pada intinya faktor pendukung pengelola sudah berupaya dengan memberikan fasilitas-fasilitas dan pendukung yang diperlukan peziarah, sedangkan faktor penghambat keterbatasan pengelola Makam Gus Dur dalam memberikan pelayanan kepada peziarah, serta masih kurangnya dukungan dari pemerintah. 3. Peran masyarakat Tebuireng memanfaatkan keberadaan makam Gus Dur di wilayah tersebut untuk mengais rezeki serta mengharap barakah atas hal tersebut, dengan cara membuka stand-stand dagang dan jenis usaha jasa lainnya.
Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Laju Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2010-2022 10060120068, Nabilah Disya Arviani; Suliadi
Bandung Conference Series: Statistics Vol. 5 No. 1 (2025): Bandung Conference Series: Statistics
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcss.v5i1.15881

Abstract

Abstract. Poverty is a condition in which an individual or a group of individuals is unable to fulfill their basic rights to lead a decent life. A low Human Development Index (HDI) will result in low work productivity, consequently leading to lower income. Low income will increase the number of people living in poverty. Similarly, economic growth will increase the number of people living in poverty when there is income inequality that will benefit the wealthy compared to the poor. This study aims to find out the impact of the Human Development Index and the rate of economic growth on poverty in West Bandung Regency 2010-2022. The method used in this study is multiple linear regression analysis with the Human Development Index (HDI) and the economic growth rate as independent variables, and the percentage of the poor population as the dependent variable. Based on the study results, it was found that the Human Development Index (HDI) affects poverty in West Bandung Regency 2010-2022, while the economic growth rate does not affect poverty in West Bandung Regency 2010-2022. Where 91.4% of poverty can be explained by the Human Development Index (HDI) and the economic growth rate. Abstrak. Kemiskinan merupakan keadaan di mana seseorang atau sekelompok orang tidak dapat memenuhi hak-hak dasar mereka untuk menjalani kehidupan yang layak. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah akan mengakibatkan produktivitas kerja yang rendah sehingga perolehan pendapatan akan semakin rendah. Pendapatan yang rendah akan mengakibatkan naiknya jumlah penduduk miskin. Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi yang akan meningkatkan jumlah penduduk miskin ketika terjadi ketimpangan pendapatan yang akan menguntungkan penduduk kaya dibandingkan penduduk miskin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh indeks pembangunan manusia dan laju pertumbuhan ekonomi terhadap kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat tahun 2010-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda dengan variabel independen yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan laju pertumbuhan ekonomi, serta variabel dependen yaitu persentase penduduk miskin. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mempengaruhi kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2010-2022, sedangkan laju pertumbuhan ekonomi tidak mempengaruhi kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2010-2022. Di mana 91,4% kemiskinan dapat dijelaskan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan laju pertumbuhan ekonomi.
Law of Total Probability of Aftershocks in Earthquake Insurance Darwis, Sutawanir; Hajarisman, Nusar; Suliadi; Fatiha Nurfauzan, Arsyi; Aulia, Githa
Statistika Vol. 25 No. 1 (2025): Statistika
Publisher : Department of Statistics, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/statistika.v25i1.3886

Abstract

Abstract. Seismic hazard expressed in annual rate of exceedance of a peak ground acceleration traditionally refers to mainshock. A similar seismic hazard, APSHA, has been adopted for aftershock probabilistic seismic hazard. Probabilistic seismic hazard assessment (PSHA) refers to a homogeneous Poisson process to describe mainshock while APSHA models aftershock occurrence as a nonhomogeneous Poisson process whose rate modeled as Omori law. It shown that the combination of PSHA and APSHA results seismic hazard for mainshock-aftershock seismic sequence/cluster (SPSHA/CPSHA). This study shows how to combine results of APSHA and PSHA and proposes a method for earthquake insurance. The study was carried out for West Java region with 206 occurrences consist of 11 clusters. One cluster with 74 aftershocks was chosen for further study. The parameters of SPSHA/CPSHA was estimated using maximum likelihood. The results of SPSHA/CPSHA combined with damage probability matrix (DPM) yields an expected annual damage ratio (EADR) as an indicator of earthquake insurance. The proposed method in this study can be used as a method for computing earthquake insurance premium. Due to limited data further study is needed to obtain accurate and reasonable results.
Formulasi Baru K-Means dalam Pengelompokkan Desa Berdasarkan Ketersediaan Fasilitas Kesehatan Lestari, Indah; Suliadi
Jurnal Riset Statistika Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Statistika (JRS)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrs.v5i2.8293

Abstract

Abstract. K-Means is a popular data clustering method but has limitations in optimizing its objective function. The Lloyd algorithm, as the standard approach to K-Means, also has several weaknesses: 1) It is heuristic and does not guarantee a globally optimal solution; 2) It is highly sensitive to the initialization of cluster centers; 3) It often converges to suboptimal solutions; and 4) It requires distance calculations between samples and centers at each iteration, increasing computational load and storage cost. To address these shortcomings, Nie et al. (2023) proposed a new formulation of K-Means Clustering with the following advantages: 1) It does not require updating cluster centers in every iteration; 2) It needs fewer auxiliary variables; 3) It yields effective and stable results; and 4) It has a faster convergence rate. In this study, the new formulation of K-Means is implemented to cluster villages/sub-districts in West Java Province based on the availability of healthcare facilities. The data used are derived from the Health Sector of the Social Resilience Index in the Village Development Index, consisting of 14 variables and 5,312 village units. Based on the analysis, villages/sub-districts can be grouped into three clusters: Cluster 1 contains 34 villages, Cluster 2 has 21 villages, and Cluster 3 includes 5,257 villages, that gives silhouette score of 0.9160, indicating a strong cluster structure. Abstrak. K-Means merupakan metode pengelompokan data yang populer, namun memiliki keterbatasan dalam optimasi fungsi tujuannya. Algoritma Lloyd sebagai pendekatan umum K-Means juga memiliki kelemahan sebagai berikut: 1) Bersifat heuristik sehingga tidak menjamin solusi optimal; 2) Sensitif terhadap inisialisasi k pusat; 3) Sering berhenti pada solusi kurang optimal; dan 4) Memerlukan perhitungan jarak antar sampel dan pusat pada setiap iterasi, yang meningkatkan beban komputasi serta storage cost. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Nie et al. (2023) mengusulkan formulasi baru K-Means Clustering dengan keunggulan: 1) Tidak perlu menghitung pusat cluster di setiap iterasi; 2) Memerlukan lebih sedikit variabel tambahan; 3) Memberikan hasil yang efektif dan stabil; serta 4) Memiliki tingkat konvergensi lebih cepat. Penelitian ini menerapkan formulasi baru K-Means untuk mengelompokkan 5.312 Desa/Kelurahan di Jawa Barat berdasarkan 14 indikator kesehatan pada Indeks Ketahanan Sosial (IKS). Hasil analisis menunjukkan bahwa desa-desa tersebut terbagi ke dalam tiga cluster. Cluster 1 terdiri atas 34 desa/Kelurahan, cluster 2 terdiri dari 21 desa/Kelurahan, dan cluster 3 terdiri dari 5.257 desa/Kelurahan, yang memberikan nilai silhouette sebesar 0,9160 yang menunjukkan struktur cluster yang kuat.