Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pengajar Rahmat Santoso; Alvian Demaz Peramutya; Anicitus Agung Nugroho; Imam Safi’i
Journal of Management and Bussines (JOMB) Vol 4 No 2 (2022): Journal of Management and Bussines (JOMB)
Publisher : IPM2KPE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/jomb.v4i2.4587

Abstract

This study aims to determine the relationship between leadership and organizational culture on the performance of the Banten Shipping Polytechnic instructor. The method used is descriptive quantitative with a sample of 40 teachers at Poltekpel Banten. Data was collected through questionnaires distributed via google form. The results showed that there was a positive influence between leadership and teacher performance, between organizational culture and teacher performance, and between leadership and organizational culture. Good leadership will affect organizational culture and teacher performance will be good too. Just as a good organizational culture will also have a good effect on teacher performance. That way, teachers are motivated and become loyal to the organization. In conclusion, leadership, organizational culture, and teacher performance influence each other. Keywords: Organizational Culture, Work Leadership, Teacher Performance
Pengaruh Tingkat Kebisingan Mesin Kapal terhadap Fungsi Pendengaran dan Stress Kerja pada Teknisi Mesin Kapal Heru Widada; Alvian Demaz Peramutya; Anicitus Agung Nugroho; Hari Sunanto
Quantum Teknika : Jurnal Teknik Mesin Terapan Vol 4, No 1 (2022): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jqt.v4i1.15313

Abstract

This study aimed to determine the effect of ship engine noise level on hearing function and work stress on ship engine technicians. The data collection process was carried out within 30 days, from 15 February 2021 to 15 March 2021. This study took a collation at the Merak port of Banten. The method used is a survey using research subjects, ship engine technicians, and the object of research is noise. This study uses primary data in engine maintenance design and the intensity of noise distribution on the ship's engine. The research sample was 2 units of machines with engine criteria aged 1 year and 6 years. The equipment used in this study is a sound level meter, an object to measure the noise that has been calibrated. This research uses the descriptive analysis method. The results showed that the noise value at full rpm was 70.3-104 dB (A) and 59.2-77.5 dB (A) when in a stationary state. Referring to the data, the age of the machine does not affect the noise level. As a preventive measure against something that can become an obstacle regarding noise on board, it is necessary to use ear protection devices such as ear protection devices called earplugs. Noise can be minimized by regularly lubricating the engine and installing silencers to prevent sound from spreading to other rooms so that it can reduce the risk due to noise that causes stress, headaches, high blood pressure and other diseases
Analisis Keterampilan dan Pengetahuan Kru Mesin Menggunakan Alat Pemadam Kebakaran dalam Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran di Kamar Mesin MT. Ketaling Hari Sunanto; Alvian Demaz
Journal Marine Inside Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.534 KB) | DOI: 10.56943/ejmi.v1i2.12

Abstract

Salah satu penyebab kecelakaan kapal yang menyebabkan materi dan jiwa adalah kebakaran diatas kapal. Sebagai syarat diterimanya Anka Buah Kapal (ABK) untuk bekerja diatas kapal haruslah memiliki basic keterampilan dalam upaya penanganan dan pencegahan diatas kapal namun masih banyak anak buah kapal yang belum mampu memaksimalkan keterampilan tersebut sehingga masih banyak kelalaian-kelalaian dalam bekerja yang menyebabkan terjadinya kebakaran diatas kapal. Dari hasil penelitian bahwa anak buah kapal memiliki kekurangan ilmu pengetahuan keterampilan menangani kebakaran, bahkan membedakan sebuah peralatan dan penandaan pun masih belum optimal, tentu saja hal ini ada sebabnya yakni jarang terlaksananya kegiatan pelatihan diatas kapal untuk familiarisasi anak buah kapal terhadap masalah tersebut adalah alasan utama penyebab hal tersebut. Adanya pemberian pengetahuan dan sosialisasi dari officer yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan ini harus berjalan maksimal sehingga kejadian kebakaran diatas kapal MT. Ketaling menjadi sebuah pembelajaran untuk para anak buah kapal lainnya bahkan untuk perusahaan yang bersangkutan.
Perancangan Prototipe Kapal Latih Dengan Sistem Penggerak Tenaga Surya Menggunakan Software Solidworks Mujiono, Mujiono; Riyanto, Riyanto; Peramutya, Alvian Demaz; Effendi, Yafid; Rosyidin, Ali
Motor Bakar : Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2023): Motor Bakar: Jurnal Teknik Mesin
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/mbjtm.v7i2.9984

Abstract

Energi terbarukan pada bidang maritim sangatlah diperlukan, hal ini dilakukan untuk peningkatan efisiensi, khususnya penggunaan tenaga surya merubah energi listrik sebagai sistem penggerak pada kapal latih. Saat ini kapal latih masih banyak menggunakan bahan bakar minyak bumi, tentunya berakibat menipisnya cadangan minyak bumi. Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi dampak lingkungan, penggunaan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, menjadi sangat penting. Pemanfaatan tenaga surya dalam penggerak kapal adalah langkah menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan. Tenaga surya dapat mengurangi biaya bahan bakar dan pemeliharaan. Kapal latih dengan tenaga surya dapat digunakan untuk tujuan pelatihan dan pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil serta efisiensi energi dengan penggunaan surya cell sebagai sistem pengerak pada kapal latih. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan observasi dengan melakukan pengamatan secara langsung kapal latih. Serta studi literatur sebagai referensi dalam menganalisa perhitungan dan desain kapal latih dengan menggunakan software Solidworks. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah surya cell 18 panel, tiap panel menghasilkan daya 114 WP, dan daya yang dihasilkan oleh surya cell adalah 2592 W.
Pelaksanaan perawatan pada lifeboat untuk menunjang keselamatan di MT. Gede Widodo, Agus; Demaz Peramutya, Alvian; Shabrina, Tsania Adlina Nur
Journal Marine Inside Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v5i2.69

Abstract

Lifeboat merupakan salah satu bagian dari peralatan keselamatan di kapal. Lifeboat digunakan ketika terjadi keadaan darurat yang mengharuskan seluruh awak kapal dan penumpang untuk meninggalkan kapal. Lifeboat sangat dibutuhkan sebagai penunjang keselamatan di atas kapal. Lifeboat perlu diperiksa dan dirawat agar lifeboat dapat digunakan dengan baik sesuai dengan fungsinya. Pengecekan dan perawatan peralatan keselamatan harus dilakukan secara berkala agar kondisi peralatan keselamatan tersebut selalu berada dalam keadaan baik dan dapat berfungsi dengan maksimal sesuai dengan peraturan SOLAS 1974 (Safety of Life at Sea) Bab III tentang peralatan keselamatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan perawatan pada lifeboat untuk menunjang keselamatan di Kapal MT. Gede. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data deskriptif dan analisis data dari hasil pengamatan di kapal MT. Gede serta referensi dari sumber-sumber terkait. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa perawatan dan pemeliharaan alat keselamatan lifeboat telah sesuai dengan jadwal plan maintenance system yang telah ditentukan. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan para awak kapal mengenai prosedur perawatan lifeboat dan padatnya trayek pelayaran di Kapal MT. Gede juga menghambat proses perawatan dan pemeliharaan lifeboat menjadi tidak optimal. A lifeboat is a piece of safety equipment on a ship. Lifeboats are used when an emergency requires all crew members and passengers to leave the ship. Lifeboats are needed to support safety on ships. Lifeboats must be checked and maintained to be appropriately used according to their function. Checking and maintenance of safety equipment must be carried out periodically so that the condition of safety equipment is always in good condition and can function optimally according to SOLAS 1974 (Safety of Life at Sea) Chapter III regulations regarding safety equipment. This research aims to identify the implementation of maintenance on lifeboats to support safety on MT Gede Ship. This research uses a qualitative approach with descriptive data and data analysis from observations on the MT Gede ship and references from related sources. The research results found that lifeboat safety equipment was cared for and maintained according to the predetermined maintenance system plan schedule. However, the crew members need to learn about lifeboat maintenance procedures and the busy shipping routes on MT ships. Gede also prevents the lifeboat care and maintenance process from being optimal.
Inovasi kapal bertenaga panel surya sebagai implementasi energi baru terbarukan dalam transportasi laut Semuel Palembangan; Nursyamsu Nursyamsu; Rudi Harun Irwansyah; Alvian Demaz Peramutya; Rahmat Santoso; Amirullah Amirullah; Ade Taopik Hidayatuloh; Rabbani Ischak
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.137

Abstract

Ketergantungan sektor maritim pada bahan bakar fosil telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi karbon, pencemaran lingkungan laut, dan tingginya biaya operasional kapal. Tantangan ini menuntut inovasi energi alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan prototipe kapal wisata bertenaga surya sebagai sumber energi utama penggerak. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan, perakitan, pengujian, dan evaluasi kinerja. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapal berbobot 1,3 ton dapat beroperasi dengan kecepatan rata-rata 3,5–4 knot menggunakan enam panel surya berkapasitas 100 WP dan empat baterai 200 Ah, dengan waktu pengisian penuh sekitar 12 jam pada kondisi penyinaran optimal. Temuan ini mengindikasikan bahwa kapal bertenaga surya berpotensi menjadi alternatif transportasi laut yang efisien, ramah lingkungan, serta mendukung penerapan energi terbarukan di sektor maritim.   The maritime sector's reliance on fossil fuels has significantly contributed to increased carbon emissions, marine environmental pollution, and high vessel operational costs. These challenges necessitate the development of environmentally friendly and sustainable alternative energy solutions. This study aims to design and implement a solar-powered tourist boat prototype as the primary propulsion energy source. The research employed a Research and Development (R&D) approach, encompassing needs analysis, design, assembly, testing, and performance evaluation stages. The test results indicate that a 1.3-ton vessel can operate at an average speed of 3.5–4 knots using six 100 WP solar panels and four 200 Ah batteries, with a full charging time of approximately 12 hours under optimal sunlight conditions. These findings suggest that solar-powered boats have the potential to serve as an efficient and environmentally friendly alternative for maritime transportation while promoting the adoption of renewable energy in the maritime sector.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENYELENGGARAAN TIKET ELEKTRONIK DI PELABUHAN PENYEBERANGAN SAMPALAN Surnata; Pierre Marcello Lopulalan; Alvian Demaz Peramutya
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.223

Abstract

Pelabuhan Penyeberangan Sampalan merupakan simpul transportasi laut yang esensial dalam mendukung mobilitas penumpang dan kendaraan. Sebagai upaya modernisasi dan peningkatan efisiensi layanan, pemerintah telah menerapkan sistem tiket elektronik (e-ticketing). Namun, implementasi sistem ini masih dihadapkan pada sejumlah kendala teknis dan operasional, meliputi keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi di kalangan pengguna jasa, minimnya sumber daya manusia (SDM) operasional yang profesional, serta belum selarasnya sistem dengan kebutuhan aktual di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efektivitas penyelenggaraan tiket elektronik di Pelabuhan Sampalan sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhinya. Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada pengguna jasa, serta wawancara mendalam dengan pihak operator. Hasil analisis menunjukkan bahwa efektivitas sistem tiket elektronik dapat ditingkatkan melalui optimalisasi perangkat lunak dan keras, peningkatan kapasitas petugas melalui pelatihan, serta edukasi publik yang berkelanjutan. Sebagai langkah strategis, penelitian ini merekomendasikan integrasi sistem tiket elektronik dengan platform pembayaran digital lokal serta penguatan infrastruktur pendukung guna mewujudkan pelayanan yang lebih cepat, akurat, dan transparan.   Sampalan Ferry Port is an essential maritime transportation hub supporting the mobility of passengers and vehicles. To modernize and enhance service efficiency, the government has implemented an electronic ticketing (e-ticketing) system. However, its implementation still faces several technical and operational constraints, including limited digital infrastructure, low technological literacy among service users, a lack of professional human resources, and a mismatch between the applied system and actual field requirements. This study aims to analyze the effectiveness of the e-ticketing implementation at Sampalan Port and identify its determinant factors. Employing a quantitative descriptive approach, data were collected through field observations, questionnaires distributed to service users, and in-depth interviews with port operators. The analysis reveals that the effectiveness of the e-ticketing system can be improved through the optimization of hardware and software integration, capacity building for operational staff, and continuous public education. As a strategic measure, this study recommends integrating the e-ticketing system with local digital payment platforms and strengthening supporting infrastructure to achieve faster, more accurate, and transparent services.
Implementasi Marpol Annex VI Regulation 14 dalam pembatasan emisi sulphur oxides (SOx) dan particulate matter melalui penggunaan bahan bakar rendah sulfur pada kapal AHTS Era Indonesia Alvian Demaz Peramutya
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.233

Abstract

Transportasi laut merupakan sektor strategis yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi global, namun juga menjadi salah satu sumber emisi pencemar udara, khususnya Sulphur Oxides (SOx) dan Particulate Matter (PM). International Maritime Organization (IMO) melalui Marpol Annex VI Regulation 14 menetapkan batas maksimum kandungan sulfur bahan bakar kapal sebesar 0,50% m/m di luar Emission Control Area (ECA) sebagai upaya menekan emisi pencemar udara. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Marpol Annex VI Regulation 14 pada kapal AHTS Era Indonesia serta mengevaluasi tingkat kepatuhan kapal terhadap ketentuan penggunaan bahan bakar rendah sulfur. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi pustaka, observasi lapangan, wawancara dengan awak kapal, serta analisis dokumen bunker (Bunker Delivery Note). Data yang dianalisis meliputi jenis bahan bakar, kandungan sulfur, konsumsi bahan bakar, serta simulasi emisi hasil pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh bahan bakar yang digunakan merupakan Marine Gas Oil (MGO) Low Sulphur dengan kandungan sulfur berkisar antara 0,07–0,11% m/m sehingga memenuhi batas maksimum yang ditetapkan Marpol Annex VI. Simulasi emisi menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan sulfur dan beban mesin, semakin meningkat konsentrasi SO₂, SOx, dan Particulate Matter, meskipun masih berada pada tingkat yang terkendali. Implementasi regulasi didukung melalui pemeriksaan dokumen bunker, penyimpanan sampel bahan bakar, pencatatan konsumsi bahan bakar, serta pengawasan operasional mesin. Kendala utama meliputi keterbatasan ketersediaan bahan bakar rendah sulfur, tingginya biaya operasional, serta belum tersedianya pengukuran emisi secara kontinu. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan bakar rendah sulfur merupakan strategi paling efektif dalam mendukung kepatuhan terhadap Marpol Annex VI Regulation 14 pada kapal AHTS Era Indonesia.   Maritime transportation plays a strategic role in global trade but is also recognized as a significant contributor to air pollution through Sulphur Oxides (SOx) and Particulate Matter (PM) emissions. To mitigate these emissions, the International Maritime Organization (IMO) introduced Marpol Annex VI Regulation 14, which limits the sulphur content of marine fuel to 0.50% m/m outside Emission Control Areas (ECAs). This study aims to analyze the implementation of MARPOL Annex VI Regulation 14 on board AHTS Era Indonesia and evaluate the vessel's compliance with low-sulphur fuel requirements. A qualitative descriptive approach was employed through literature review, onboard observation, crew interviews, and analysis of Bunker Delivery Notes (BDN). The analyzed data included fuel type, sulphur content, fuel consumption records, and simulated exhaust emission data. The findings indicate that all fuel used on board was Marine Gas Oil (MGO) Low Sulphur with sulphur content ranging from 0.07% to 0.11% m/m, well below the IMO limit of 0.50% m/m. Emission simulations demonstrate that increasing sulphur content and engine load lead to higher SO₂, SOx, and particulate matter emissions, although all values remained within acceptable operational conditions. Compliance was supported through systematic fuel documentation, fuel sample retention, fuel consumption recording, and machinery operational monitoring. Major challenges include the limited availability of low-sulphur fuel, increased operational costs, and the absence of continuous emission monitoring systems. The study concludes that the adoption of low-sulphur fuel remains the most practical and effective strategy for ensuring compliance with Marpol Annex VI Regulation 14 aboard AHTS Era Indonesia.