Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The construction of children's cultural identity in the digital era: an analysis of the family's role in Ternate City Umar, Sitirahia Hi; Abbas, Irwan; Wibowo, Irham; Mas’ud, Fadil
Jurnal Fundadikdas (Fundamental Pendidikan Dasar) Vol. 8 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/fundadikdas.v8i2.14020

Abstract

This study examines the role of the family in shaping children’s cultural identity in the digital era, with a focus on communities in Ternate City. Amid rapid technological advancement and the pervasive influence of global culture through digital media, families face significant challenges in transmitting local cultural values to younger generations. The urgency of this issue lies in the growing threat of cultural homogenization and the potential erosion of local traditions if not actively preserved. Using a qualitative descriptive method, this study investigates how families act as digital cultural curators by integrating cultural literacy and digital literacy in everyday life. Data were collected through interviews, observations, and documentation to capture the ways in which parents and elders instill cultural values while guiding children’s engagement with digital platforms. The findings indicate that families play a central role in constructing children’s cultural awareness through practices such as storytelling, participation in local traditions, and the supervised use of digital media. These strategies not only maintain the continuity of cultural heritage but also enhance children’s critical skills in navigating digital spaces. The novelty of this research lies in positioning the family as a key agent of cultural preservation in the digital landscape. By framing the family as digital cultural curators, this study contributes a conceptual model for strengthening children’s cultural identity amid the pressures of globalization and digital transformation.
Ekologi Kewarganegaraan: Membangun Relasi Harmonis antara Warga, Negara, dan Lingkungan Fadil Mas'ud; Irham Wibowo
Media Sains Vol. 25 No. 1 (2025): Terbitan Juni 2025
Publisher : Pendidikan MIPA Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69869/tn6n8007

Abstract

Krisis ekologis global yang ditandai oleh perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan degradasi keanekaragaman hayati telah menimbulkan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi konsep kewarganegaraan. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara konseptual dan praktis pendekatan ekologi kewarganegaraan sebagai upaya membangun relasi harmonis antara warga, negara, dan lingkungan. Melalui metode kualitatif-deskriptif berbasis kajian literatur, penelitian ini menganalisis berbagai sumber ilmiah dan kebijakan lingkungan nasional maupun global. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekologi kewarganegaraan menempatkan warga negara sebagai agen etis dan ekologis yang berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Negara diposisikan sebagai fasilitator yang membentuk sistem sosial-politik yang mendukung keadilan ekologis, sementara pendidikan kewarganegaraan menjadi instrumen strategis dalam menanamkan nilai-nilai ekologis sejak dini. Dengan mengintegrasikan kesadaran ekologis dalam praktik kewarganegaraan, pendekatan ini menawarkan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang adil secara sosial, demokratis secara politik, dan lestari secara ekologis. Artikel ini merekomendasikan perlunya reformulasi kurikulum kewarganegaraan dan penguatan partisipasi warga dalam kebijakan lingkungan sebagai langkah konkret menuju masa depan berkelanjutan.
Narasi Lingkungan di Media Digital dan Pembentukan Kesadaran Kewarganegaraan Ekologis Fadil Mas'ud; Izhatullaili Izhatullaili; Yosep Copertino Apaut; Irham Wibowo; Daud Yefkanius Nassa
Media Sains Vol. 25 No. 2 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Pendidikan MIPA Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69869/f7yv8614

Abstract

Isu lingkungan semakin menjadi perhatian publik seiring meningkatnya krisis ekologis dan peran media digital dalam membentuk opini serta partisipasi warga negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi lingkungan di media digital serta kontribusinya terhadap pembentukan kesadaran kewarganegaraan ekologis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis narasi dan analisis wacana kritis terhadap konten media digital yang mengangkat isu lingkungan, dengan fokus konteks lokal Nusa Tenggara Timur. Data dikumpulkan melalui observasi digital dan dokumentasi pada platform media sosial dan portal berita daring, kemudian dianalisis secara tematik dan kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi lingkungan di media digital membentuk tiga pola utama, yaitu narasi krisis ekologis, narasi tanggung jawab moral warga negara, dan narasi aksi kolektif berbasis komunitas. Narasi tersebut berkontribusi pada pembentukan kesadaran kewarganegaraan ekologis melalui dimensi kognitif, afektif, dan konatif. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa narasi lingkungan masih cenderung menekankan perubahan perilaku individual dan belum secara optimal mengintegrasikan dimensi struktural, seperti kebijakan publik dan tata kelola lingkungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan narasi lingkungan yang kontekstual, kritis, dan partisipatif dalam membangun kewarganegaraan ekologis yang berkelanjutan di era digital. 
PENDIDIKAN MORAL BERBASIS PANCASILA SEBAGAI ANTITESIS PERILAKU ECHO CHAMBER DI KALANGAN MAHASISWA PPKn UNIVERSITAS KHAIRUN Irham Wibowo; Wahyudin Noe; Fadil Mas'ud; Dorkas Yufice Ariyanti Kale
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 2 (2025): Edisi Khusus
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i2.24649

Abstract

Fenomena echo chamber di ruang digital memengaruhi pola interaksi mahasiswa, termasuk mahasiswa PPKn Universitas Khairun, yang cenderung membatasi diri dalam kelompok homogen sehingga memperkuat confirmation bias. Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena tersebut, menelaah relevansi nilai-nilai Pancasila sebagai antitesis, serta merumuskan strategi implementasi pendidikan moral berbasis Pancasila. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen, dengan analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa echo chamber melemahkan tradisi dialogis dan kritis di lingkungan akademik, misalnya mahasiswa lebih sering mengonsumsi informasi yang sejalan dengan pandangan mereka dan mengabaikan perbedaan perspektif. Di sisi lain, nilai-nilai Pancasila, khususnya kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan, relevan untuk membangun sikap terbuka dan inklusif. Strategi implementasi yang ditawarkan meliputi integrasi dalam kurikulum, penerapan pedagogi dialogis, penguatan budaya akademik, serta literasi digital berlandaskan Pancasila. Dengan demikian, pendidikan moral Pancasila dapat berfungsi sebagai antitesis echo chamber sekaligus membentuk generasi mahasiswa yang kritis, toleran, dan berkarakter kebangsaan.
Civic Resilience di Era VUCA: Peran Literasi Bahasa dalam Pembentukan Warga Negara Reflektif di Kota Kupang Fadil Mas'ud; Izhatullaili Izhatullaili; Dorkas Yufice Ariyanti Kale; Irham Wibowo
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 3 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i3.25847

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi bahasa dalam memperkuat civic resilience atau ketangguhan kewarganegaraan di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dengan fokus pada konteks sosial multikultural Kota Kupang. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kebijakan pendidikan serta aktivitas literasi publik. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi bahasa berperan penting dalam membentuk warga negara reflektif yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi etis, dan bertindak bermoral. Integrasi literasi bahasa dalam pendidikan kewarganegaraan memperkuat tiga kompetensi utama: civic literacy, civic communication, dan civic empathy. Praktik pembelajaran berbasis teks reflektif, analisis wacana media, dan dialog etis terbukti meningkatkan kemampuan menalar dan kesadaran moral siswa. Civic resilience di Kupang tumbuh melalui sinergi antara rasionalitas, bahasa, dan moralitas yang menopang kohesi sosial dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan model civic-linguistic education sebagai paradigma baru pendidikan kewarganegaraan berbasis literasi bahasa reflektif untuk memperkuat ketangguhan warga negara di era VUCA.
Teacher Training & Assistance in Creating Creative Learning Media Using the Canva Application : Pelatihan & Pendampingan Guru dalam Pembuatan Media Pembelajaran Kreatif Menggunakan Aplikasi Canva Iwan Abdy; Dwi Widyastuti Nurharyanto; Hutri Handayani Isra; Irham Wibowo; Roni Kurniawan
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 8 No. 3 (2024): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era 5.0 has greatly influenced all aspects of life, including education. Era 5.0 is an era where all activities have experienced digitalization. In the education sector, digitalization is carried out on learning devices. One way to do this is by using the Canva application. The Canva application has several advantages: it is easy to access via various gadgets, and teachers have been given special access to get a premium account. Based on this, the Khairun University FKIP service team held a service at SDN 48 Ternate City. The service activity is "Training and Mentoring Teachers in Making Creative Learning Media using the Canva Application". This activity will occur from 15 May to 17 June 2024, starting at 09.00 WIT - 16.10 WIT, and will occur in class IV at SDN 48 Ternate City. This school was chosen because it is a school that is partnered with the Khairun University Primary School Teacher Education (PGSD) study program. The result of this socialization activity is an article published as a form of publication of the activity. The wider community can access this article as an example of activities that train teachers to have digital awareness. Furthermore, this activity hopes that learning integrated with technology with the aim of the independent curriculum to form a generation with a global perspective can be realized.
Mitigasi Kekerasan Seksual melalui Transformasi Literasi Hukum: Analisis Sosio-Legal pada Lingkungan Sekolah di Kota Kupang Raditya Maharani; Fadil Mas'ud; Yosep Copertino Apaut; Irham Wibowo
Haumeni Journal of Education Vol 6 No 1 (2026): Edisi Juni 2026
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v6i1.28257

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yang kontras dengan rendahnya efektivitas mitigasi hukum di Kota Kupang. Masalah utama terletak pada paradigma literasi hukum yang masih bersifat tekstual-formalistik sehingga gagal menembus hambatan kultural seperti budaya bungkam (culture of silence) dan normalisasi pelecehan. Penelitian ini bertujuan merumuskan model mitigasi kekerasan seksual melalui transformasi literasi hukum yang kontekstual bagi SMA di Kota Kupang. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosio-legal, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumen di tiga SMA di Kota Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi UU TPKS di sekolah terhambat oleh struktur institusi yang rapuh dan budaya hukum patriarkis yang melanggengkan victim-blaming. Literasi hukum yang ada saat ini cenderung searah dan tidak menyentuh relasi kuasa serta otonomi tubuh. Sebagai rekonstruksi solusi, penelitian ini menawarkan "Model Partisipatif Terintegrasi Berbasis Nilai Lokal". Model ini mengintegrasikan literasi substantif ke dalam kurikulum tersembunyi, pemberdayaan agen sebaya, serta mekanisme pelaporan yang berpusat pada korban dengan mereinterpretasi nilai kekerabatan lokal. Rekomendasinya, sekolah harus melakukan dekonstruksi budaya hukum secara fundamental untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang benar-benar aman dan transformatif.
Dinamika Sistem Ambang Batas Pencalonan Presiden Dan Wakil Presiden Pada Pemilihan Umum di Indonesia Wibowo, Irham; Wicaksono, Muhammad Arif; Sarina, Sarina; Mas'ud, Fadil
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Order
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.38551

Abstract

Sistem Ambang Batas Presiden (Presidential Threshold) merupakan salah satu mekanisme penting dalam pemilihan umum di Indonesia yang menentukan syarat dukungan partai politik atau gabungan partai untuk dapat mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep, dasar hukum, serta implikasi penerapan presidential threshold terhadap dinamika politik dan demokrasi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-normatif dan analisis deskriptif, memanfaatkan data dari peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, serta literatur ilmiah terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketentuan ambang batas pencalonan presiden, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemilu, bertujuan untuk memperkuat sistem presidensial dan mendorong penyederhanaan partai politik. Namun, penerapannya menimbulkan perdebatan karena dianggap membatasi hak partai politik baru serta mengurangi ruang partisipasi politik. Kesimpulannya, meskipun presidential threshold memiliki fungsi strategis bagi stabilitas pemerintahan, diperlukan evaluasi kebijakan agar mekanisme ini tidak bertentangan dengan prinsip keterbukaan dan inklusivitas demokrasi di Indonesia.
Contestation of Religious Identity in the Cultural Heritage Sites: A Case Study of the Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Indonesia Fahmi Prihantoro; Irham Wibowo; Adieyatna Fajri; Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 9 No. 2 (2024): Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v9i2.5028

Abstract

This article explores the contestation of religious identity at the Masjid Gedhe ‘Grand Mosque’ of Kauman Yogyakarta, a provincial cultural heritage site in Yogyakarta. The study focuses on two events between October 2019 and March 2020: the rejection of the Muslim United #2 event by the Keraton ‘Palace’ and the refusal by the local Kauman community to hold a Nahdhatul Ulama anniversary at the mosque. The series of events can be read as an effort by each party to contest the power they have. This research is a descriptive study guided by a constructivist research philosophy and historical approach, which focuses on understanding cultural identity through the lens of social context. The study employs a combination of primary sources, such as photo archives and documents, alongside secondary sources, including articles from online news portals, to analyze two specific events. Data is collected through these sources and analyzed using Stuart Hall's cultural identity theory, providing a framework for interpreting the findings and examining how religious identity is contested at the Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. The result highlights how the Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta became a contested space for religious identity between different groups, with each event reflecting ongoing power dynamics and cultural negotiations. The rejection of both the Muslim United #2 and the NU Anniversary events illustrates how identity is shaped and contested through representation and authority, where power structures, both institutional and community-based, played key roles in defining the mosque's religious and cultural identity.
PERAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN MEDIA DALAM MENGAWASI PRAKTIK KORUPSI DI ERA DIGITAL Fadil Mas'ud; Irham Wibowo; Muhammad Arif Wicaksono
Jurnal GeoCivic Vol 9 No 1 (2026): GEOCIVIC EDISI 2026
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v9i1.11784

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran partisipasi masyarakat dan media dalam mengawasi praktik korupsi di era digital. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola pengawasan publik, dari yang bersifat konvensional menjadi lebih terbuka, cepat, dan partisipatif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi literatur dan analisis deskriptif terhadap berbagai fenomena pengawasan berbasis digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran strategis sebagai agen kontrol sosial melalui pemanfaatan media sosial, platform pelaporan daring, serta gerakan digital yang mampu menekan praktik korupsi. Di sisi lain, media berfungsi sebagai sarana diseminasi informasi, investigasi, serta pembentuk opini publik yang mendorong transparansi dan akuntabilitas. Kolaborasi antara masyarakat dan media menghasilkan efek pengawasan yang lebih luas dan efektif, terutama dalam mengungkap kasus korupsi yang sulit dijangkau oleh lembaga formal. Namun demikian, tantangan yang dihadapi meliputi penyebaran informasi hoaks, rendahnya literasi digital, serta potensi kriminalisasi terhadap pelapor. Oleh karena itu, diperlukan penguatan regulasi, peningkatan literasi digital, serta perlindungan hukum bagi partisipan aktif. Kesimpulannya, sinergi antara masyarakat dan media di era digital merupakan faktor kunci dalam memperkuat sistem pengawasan terhadap praktik korupsi secara berkelanjutan.