Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGUATAN DESA SIAGA BENCANA BERBASIS PEMBERDAYAAN KADER DAN REMAJA DALAM PEMULIHAN KESEHATAN PASCABANJIR DI KABUPATEN LANGKAT Amila Amila; Mido Ester J. Sitorus; Fitria Priyulida; Marthalena Simamora; Jelvan Berahmat Hulu; Sadestina Br Sembiring; Tuah Mulie
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 02 (2026): APRIL 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banjir besar pada akhir November 2025 di Desa Jati Sari, Kabupaten Langkat, menyebabkan kerusakan infrastruktur, terhambatnya layanan dasar, dan meningkatnya risiko kesehatan fisik serta psikososial, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, bayi, dan penyandang disabilitas. Keterbatasan layanan kesehatan dan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat memperburuk kondisi pascabencana. Program PKM ini bertujuan meningkatkan kemandirian kesehatan dan kesiapsiagaan bencana melalui pemberdayaan kader posyandu dan remaja, serta penguatan Desa Siaga Bencana berbasis kolaborasi. Kegiatan meliputi sosialisasi partisipatif, pelatihan kapasitas, penerapan inovasi kesehatan dan sanitasi, serta pendampingan dan evaluasi berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, penguatan peran kader dan remaja, perbaikan akses layanan kesehatan dan sanitasi, serta meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat. Program ini menjadi fondasi bagi pengembangan Desa Siaga Bencana yang berkelanjutan.
ANALISIS HUBUNGAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT, ORGANIZATIONAL TRUST, DAN WORK ENVIRONMENT TERHADAP KINERJA PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS SEKUPANG BATAM Alma Pradifta; Jenny Marlindawani; Mido Ester J. Sitorus; Kesaktian Manurung; Rinawati Sembiring
Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Vol 10 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup
Publisher : UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tinggi dan menempati peringkat kedua setelah India. Rendahnya pencapaian indikator success rate (SR) menjadi tantangan utama bagi tim pelaksana Program TB, yang dipengaruhi oleh faktor organisasi, petugas, lingkungan, dan manajemen program. Tujuan: mengetahui pengaruh perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam. Metode: secara kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Sekupang Batam yang berjumlah 63 orang. Penentuan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan total sampling sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 63 sampel. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat, bivariat dan multivariat. Hasil: Terdapat hubungan perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam. Variabel yang paling berhubungan terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam work environment (X3).. Kesimpulan: Terdapat hubungan perceived organizational support, organizational trust dan work environment terhadap kinerja penanggulangan tuberkulosis di Puskesmas Sekupang Batam
The Relationship Between Environmental Health Factors and the Incidence of Stunting Mido Ester J. Sitorus; Ivan Elisabeth Purba; Donal Nababan
An Idea Health Journal Vol 6 No 03 (2026)
Publisher : PT.Mantaya Idea Batara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53690/ihj.v6i03.764

Abstract

Background: Stunting is a form of chronic undernutrition that impairs children’s linear growth and development, particularly during the first 1,000 days of life. It remains a major public health problem in many developing countries. Stunting is defined as a length- or height-for-age z-score below −2 standard deviations according to the World Health Organization child growth standards. Environmental health conditions may indirectly contribute to the occurrence of stunting. This study aimed to examine the association between environmental health factors and stunting among children in the working area of the Batang Beruh Health Center, Sidikalang. Methods: This study employed an analytical observational design with a quantitative cross-sectional approach. A total of 64 respondents were recruited using convenience sampling. Data were analyzed using univariate analysis and bivariate analysis with the chi-square test.. Result: Drinking water sources were significantly associated with stunting status (p < 0.001). A significant association was also found between the physical quality of drinking water and stunting (p < 0.001). In contrast, drinking water treatment was not significantly associated with stunting (p = 0.366). Latrine ownership and waste management were significantly associated with stunting status (both p < 0.001). Conclusion: Drinking water sources, the physical quality of drinking water, latrine ownership, and waste management were significantly associated with stunting. However, drinking water treatment was not associated with stunting. Health center personnel should strengthen community education regarding safe water, sanitation, and appropriate waste management practices as part of stunting prevention efforts among children under five.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA MASYARAKAT DI DESA DEBOS, KECAMATAN SUAI, KABUPATEN COVALIMA, TIMOR-LESTE Deonísio António do Carmo; Otniel Ketaren; Mido Ester J. Sitorus
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14241

Abstract

ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health problem with a high prevalence, particularly in areas where environmental conditions and household behaviors are not conducive to good health. This study aimed to analyze the relationship between environmental factors and the incidence of ARI among residents of Debos Village, Suai Subdistrict, Covalima Municipality, Timor-Leste. A quantitative analytical study with a cross-sectional design was employed. A total of 200 respondents were selected using a purposive sampling technique. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test to determine the association between environmental factors and ARI incidence. The results showed that the prevalence of ARI was 79.5%. Variables that were significantly associated with ARI incidence included the use of solid fuels (p = 0.004), household crowding (p = 0.007), smoking inside the house (p = 0.010), and exposure to extreme hot weather (p = 0.004). In contrast, open waste burning and household ventilation were not significantly associated with ARI incidence. The use of solid fuels and exposure to extreme hot weather were the most statistically significant factors associated with ARI. This study concludes that environmental factors and household behaviors play an important role in increasing the risk of ARI. Therefore, environmental health interventions are needed through improving housing quality, promoting the use of cleaner household fuels, and providing community education to support ARI prevention and control. ABSTRAK Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi yang tinggi, terutama pada wilayah yang memiliki kondisi lingkungan dan perilaku rumah tangga yang kurang mendukung kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor lingkungan dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Desa Debos, Kecamatan Suai, Kabupaten Covalima, Timor-Leste. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 200 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian ISPA. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA sebesar 79,5%. Variabel yang terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA meliputi penggunaan bahan bakar padat (p = 0,004), kepadatan hunian (p = 0,007), kebiasaan merokok di dalam rumah (p = 0,010), dan paparan iklim panas ekstrem (p = 0,004). Sebaliknya, pembakaran sampah terbuka dan kondisi ventilasi rumah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA. Penggunaan bahan bakar padat dan paparan iklim panas ekstrem merupakan faktor dengan tingkat signifikansi tertinggi terhadap kejadian ISPA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor lingkungan dan perilaku rumah tangga berperan penting dalam meningkatkan risiko ISPA, sehingga diperlukan intervensi kesehatan berbasis lingkungan melalui perbaikan kualitas hunian, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih, serta edukasi masyarakat untuk mendukung pencegahan dan pengendalian ISPA.