Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Resiliensi Psikologis dan Pengaruhnya terhadap Kualitas Hidup terkait Kesehatan pada Remaja di Panti Asuhan Bellatrix Dwi Rachmawati; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika
Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA Vol 11, No 1 (2019): ANALITIKA JUNI
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/analitika.v11i1.2314

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi psikologis dan peranannya terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada remaja panti asuhan. Sampel dalam penelitian ini adalah 200 remaja panti asuhan yang dipilih dengan teknik convenience sampling dari 12 panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Penelitian yang dilakukan menggunakan adaptasi alat ukur resiliensi dan kualitas hidup terkait kesehatan. Hasil uji regresi menemukan bahwa resiliensi psikologis memiliki peran terhadap seluruh dimensi kualitas hidup terkait kesehatan. Resiliensi psikologis berperan sebesar 16,3% pada dimensi kesejahteraan fisik, 8,2% pada dimensi kesejahteraan psikologis, 8,1% pada dimensi hubungan orang tua dan otonomi, 5,0% pada dimensi dukungan sosial dan teman sebaya dan 5,5% pada dimensi lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk pembuatan program-program yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup terkait kesehatan pada remaja panti asuhan.
PERAN KONSEP DIRI TERHADAP RESILIENSI PADA PENSIUNAN Dwiaprinda Rachmawati; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 3, No 1 (2014): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v3i1.52

Abstract

Abstract. Someone who works in agency would have retirement. As elderly,retired person would have some changes in the aspect of physical, social,and emotional. The changes would have an impact on their view aboutthemselves, named self-concept. In the other side, to have goodpsychological well being, they should have ability to bounce back and adaptin their retirement life. Based on the theoretical perspective, self concept isone of the factors that affect resilience, a person's ability to be able tobounce back from hard times. The study was conducted to look at the role ofself-concept on the resilience of pensioners. The design of this study isassociative. The sampling technique used in this study is incidentalsampling with a sample size of 80 people. Self-concept and resiliencemeasurement is using questionnaire. The results of the study showed thevalue of F = 81.53 and p = 0.000 (p 0.01), which means self-conceptpredicts resilience significantly. Magnitude of the role of self-concept to theresilience is 51.1% and the remaining 48.9% is influenced by other factors.It can be concluded that self-concept contribute significantly to thepensioners resilience.Keywords: Self Concept, Resilience, RetirementAbstrak. Seseorang yang bekerja dalam suatu instasi tentunya akanpensiun. Saat memasuki usia pensiun, yang merupakan masa dewasa akhir,seseorang akan mengalami berbagai perubahan seperti fisik, sosial, danemosional. Perubahan-perubahan tersebut mempengaruhi pandanganmengenai diri sendiri, atau dengan kata lain, konsep diri para pensiunantersebut. Di sisi lain, agar lebih sejahtera secara psikologis, para pensiunanjuga harus mampu beradaptasi dan bangkit dari kesulitan yang dialamipada masa pensiun. Berdasarkan teori, ditemukan bahwa konsep dirimerupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan seseoranguntuk dapat bangkit kembali dari masa sulit atau disebut dengan resiliensi.Penelitian dilakukan untuk melihat adakah peran konsep diri terhadapresiliensi pada pensiunan. Desain yang digunakan dalam penelitian iniadalah asosiatif. Teknik pemilihan sampel menggunakan incidentalsampling dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang. Pengukuranmenggunakan kuesioner konsep diri yang dibuat sendiri oleh peneliti dankuesioner resiliensi yang diadaptasi dari Wagnild dan Young. Hasil darianalisis regresi diperoleh nilai F= 83,51dengan p= 0,000 (p 0,01), yangartinya konsep diri dapat memprediksi resiliensi secara signifikan.Besarnya peran konsep diri terhadap resiliensi yaitu 51,1% dan sisanya48,9% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep diri berperan secara signifikan terhadapresiliensi pensiunan.Kata Kunci: Konsep Diri, Resiliensi, Pensiunan
Pengaruh Rasa Kesadaran terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Mahasiswa Annisa Awaliyah; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v5i2.498

Abstract

Mahasiswa merupakan individu yang berada dalam masa dewasa transisi sehingga dibutuhkan kesejahteraan psikologis yang optimal dalam menghadapi tugas perkembangannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dimensi-dimensi rasa kesadaran (mindfulness) terhadap kesejahteraan psikologis pada mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 200 orang mahasiswa dari wilayah Jabodetabek, yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian menggunakan adaptasi skala Five Facet Mindfulness Quisionare (FFMQ) untuk mengukur rasa kesadaran dan adaptasi skala Scale of Psychological Well-Being (SPWB) untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa rasa kesadaran memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, yaitu pada dimensi penerimaan diri dan penguasaan lingkungan. Dimensi rasa kesadaran yang berpengaruh terhadap penerimaan diri adalah mengamati dan tidak menghakimi pengalaman internal, sedangkan dimensi rasa kesadaran yang berpengaruh terhadap penguasaan lingkungan adalah mengamati. Dengan demikian, menjadi penting untuk mahasiswa mengembangkan rasa kesadaran dengan menerima dan mengamati berbagai pengalaman internal maupun eksternal agar lebih mampu menerima diri sendiri dan menguasai tantangan hidup sehari-hari.
Self-Compassion dan Resiliensi pada Remaja Panti Asuhan Annisa Zahra Kawitri; Bellatrix Dwi Rahmawati; Ratih Arruum Listiyandini; Rina Rahmatika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 7, No 1 (2019): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.953 KB) | DOI: 10.24854/jps.v7i1.879

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dengan resiliensi pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Sampel penelitian ini adalah 140 remaja panti asuhan dengan karakteristik usia 14-18 tahun yang dipilih dengan teknik convenience sampling dari 12 panti asuhan di Jakarta dan Bekasi. Penelitian ini mengunakan adaptasi alat ukur Self Compassion dan resiliensi. Hasil uji korelasi menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-compassion dengan resiliensi pada remaja di panti asuhan (r=0,439, p=0.00). Hasil penelitian dapat menjadi acuan mengenai pentingnya memberi perhatian terhadap self-compassion dalam mengembangkan resiliensi bagi remaja yang tinggal di panti asuhan
Hubungan antara Mindfulness dengan Depresi pada Remaja Endang Fourianalistyawati; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 5, No 2 (2017): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.59 KB) | DOI: 10.24854/jps.v5i2.500

Abstract

Depresi merupakan gangguan mental yang umum terjadi di dunia, namun tetap menjadi suatu faktor kontribusi pada penurunan kecepatan penyembuhan berbagai penyakit lain. Prevalensi gangguan depresif mayor merupakan salah satu yang tertinggi dan angka tersebut terus meningkat sepanjang sepuluh tahun belakangan ini. Beberapa faktor yang berperan terhadap penurunan depresi banyak dilakukan. Salah satu penelitian di Amerika menunjukkan bahwa individu yang mengalami depresi atau simtom depresi cenderung memiliki tingkat mindfulness yang rendah, dibuktikan dengan aktivitas neural yang bertolak belakang pada individu yang depresi dan individu yang memiliki tingkat mindfulness yang tinggi. Mindfulness merupakan kemampuan seorang individu untuk sadar dan memerhatikan setiap detil kejadian yang sedang terjadi saat itu. Dengan kemampuan disposisional untuk mindful, individu dapat menerima setiap pengalaman yang terjadi dengan reseptif dan terbuka, sehingga kecil kemungkinan individu untuk melakukan ruminasi. Individu dengan kemampuan mindfulness yang tinggi cenderung memiliki tingkat depresi yang rendah, sebaliknya individu yang dengan tingkat depresi tinggi diketahui memiliki tingkat mindfulness yang rendah. Hanya sedikit publikasi yang telah mendiskusikan depresi pada remaja secara menyeluruh, meskipun beberapa penelitian telah menemukan bahwa awal kemunculan depresi dimulai sejak awal periode kehidupan tersebut. Mengetahui hubungan antara mindfulness dan depresi pada remaja di Indonesia diperlukan sebagai landasan awal untuk penelitian selanjutnya dan memberikan panduan untuk terapi mindfulness dalam mengatasi depresi pada remaja di Indonesia. Menggunakan metode kuantitatif dan desain korelasional, Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) dan kuesioner depresi yaitu BDI, disebarkan kepada 200 remaja. Dari hasil analisis menggunakan korelasi Spearman, diketahui bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara mindfulness dan depresi, terutama pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi skor mindfulness pada dimensi acting with awareness dan non judging of inner experience, maka semakin rendah skor depresi yang dimiliki remaja.
Peran Dukungan Suami bagi Kesejahteraan Psikologis Jurnalis Perempuan Riani Putriyani; Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Online Psikogenesis Vol 6, No 1 (2018): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v6i1.630

Abstract

Married woman who are working as journalist have their own challenge to achieve optimal psychological well-being. This research aims to investigate how is the role of husband’s social support towards psychological well-being of female journalists. The study used quantitative approach and cross-sectional design. By snowball sampling method, research was conducted to 100 female journalist using adapted scale of psychological well-being (SPWB) and social support questionnaire constructed by the researcher. Based on regression analysis, social support from husband positively and significantly influence psychological well-being of female journalists, with mostly contributes to environmental mastery dimension and life purpose. Thus, it is imperative for female journalist husband to give support for their spouse in order to enhance the psychological well-being of female journalists.
Program Penyuluhan Pra Nikah untuk Meningkatkan Pengetahuan mengenai Pernikahan Islami Karimulloh Karimulloh; Ratih Arruum Listiyandini; Chandradewi Kusristanti
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v4i2.2893

Abstract

Islam mengatur cara memilih pasangan yang ideal dan menjelaskan hak dah kewajiban yang akan dilaksanakan setelah mereka berumah tangga. Namun meningkatnya perceraian di Indonesia adalah sebuah pertanda mengenai ketidaksiapan pasangan suami istri terhadap hak dan kewajiban mereka dalam melaksanakan tugasnya. Penyuluhan persiapan pranikah perpektif Islam ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah sehingga dapat mempersiapkan mereka dalam memilih pasangan hidup dan mengemban tanggung jawab dalam pernikahan. Penyuluhan ini memberikan tema-tema menarik seperti konsep memilih pasangan hidup, proses ta’aruf dan Khitbah, hak dan kewajiban suami istri, serta mempersiapkan keturunan yang sholih dari sisi Islam dan psikologi. Partisipan penyuluhan adalah remaja akhir dan dewasa muda yang belum menikah baik laki-laki maupun perempuan. Hasil penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan partisipan mengenai persipan pranikah perspektif IslamKata kunci: pra-nikah; pernikahan; islam; penyuluhan Islamic Perspective Pre-Marriage Extension Program to Increase Knowledge of Islamic MarriageABSTRACT Islam regulates how to choose the ideal partner and explains the rights and obligations that will be carried out after they are married. However, the increasing rate of divorce in Indonesia is a sign of the unpreparedness of married couples towards their rights and obligations in carrying out their duties. Education of Islamic perspective premarital preparations has been done done to increase the knowledge of the late adolescents regarding the concept of sakinah, mawaddah, wa rahmah and also to prepare their readiness to choose partner based on Islamic criteria and for being more thoughtful about responsibility in marriage life. This program provides interesting themes such as the concept of choosing a spouse, the process of ta'aruf and khitbah, the rights and obligations of husband and wife, and offspring issues from the side of Islam and psychology. Participants are single late teenagers and young adult, both men and women. Outreach results indicate an increase in participants' knowledge regarding the concept of marriage in Islamic perspective.Key words: pre-marital; marriage; islam; education
Pengaruh Resiliensi dan Empati terhadap Gejala Depresi pada Remaja Endah Mujahidah; Ratih Arruum Listiyandini
JURNAL PSIKOLOGI Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v14i1.5035

Abstract

Remaja merupakan masa kritis bagi perkembangan seseorang karena dihadapkan pada berbagai tugas perkembangan yang merupakan transisi dalam proses menuju dewasa. Kegagalan remaja dalam mencapai tugas perkembangan membuat remaja rentan mengalami gangguan psikologis seperti depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran resiliensi dan empati terhadap gejala depresi pada remaja. Penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan adaptasi skala Center for Epidemiologic Studies Depression Scale Revised-10 (CESDR-10) untuk mengukur depresi, adaptasi skala resiliensi Connor & Davidson, dan Basic Empathy Scale (BES) dari Jollife & Farrington. Sampel yang digunakan berjumlah 230 orang remaja berusia 12-20 tahun berdomisili di Jakarta yang diambil dengan teknik sampling convenience sampling. Hasil analisis statistik menggunakan uji regresi sederhana menunjukkan bahwa resiliensi memiliki kontribusi bermakna dalam menjelaskan tinggi rendahnya gejala depresi dengan sumbangan efektif sebesar 1,8%, dimana semakin tinggi resiliensi akan diikuti dengan gejala depresi yang lebih rendah. Empati juga dapat menjelaskan kemunculan gejala depresi secara bermakna dengan kontribusi efektif sebesar 2%, yaitu semakin tinggi empati, khususnya empati afektif, maka diikuti dengan meningkatnya gejala depresi pada remaja. Saat dilakukan uji regresi berganda dimana resiliensi dan empati menjadi variabel prediktor secara bersama, maka ditemukan bahwa empati dan resiliensi secara bersama dapat menjelaskan kemunculan gejala depresi secara bermakna dengan total sumbangan efektif sebesar 5,5%. Dalam hal ini, tingginya empati diikuti oleh meningkatnya gejala depresi, namun sebaliknya, resiliensi yang semakin tinggi akan diikuti dengan gejala depresi yang lebih rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa resiliensi dan empati dapat menjadi prediktor yang signifikan dalam menjelaskan kemunculan gejala depresi pada remaja.
The Influence of Perceived Maternal Warmth toward Empathy among Urban Adolescents from Low Socio-Economic Status Family Amanda Rachmawati; Ratih Arruum Listiyandini
PSIKODIMENSIA Vol 19, No 1: Juni 2020
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v19i1.1943

Abstract

This study aims to investigate how far maternal warmth can prredict empathy among urban adolescents who are living in the poverty condition. Sample in this study were 202 adolescents coming from low socio-economic status family in Jakarta, chosen with purposive sampling technique. The instruments that were used are Basic Empathy Scale and subscale of warmth/affection from Parental Acceptance-Rejection Questionnaire. Regression analysis indicate that maternal warmth has signitificant and positive role towards empathy among adolescents living in poverty condition by 7 %. Maternal warmth is also known to contribute on the affective empathy by 2,9 % and on the cognitive empathy by 8,7 %. The results of this study are expected to be a reference to develop educational programs for adolescents and mothers who live in poverty for preventing moral transgression among this population. Keywords: adolescent; empathy; maternal warmth; poverty.
Pengaruh Dukungan Keluarga dan Pasangan terhadap Resiliensi Ibu yang Memiliki Anak dengan Spektrum Autisme Aisya Cinintya Saichu; Ratih Arruum Listiyandini
PSIKODIMENSIA Vol 17, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v17i1.1293

Abstract

Mothers of children with autism spectrum disorder experience more distress. Thus, mothers need psychological resilience, personal qualities that enable one to thrive in the face of adversity. In addition, during the nurturing period of their child, mother also need significant others which can give them social support. This study aims to determine how is the influence of family and partner support towards the resilience of mothers with autism child. The sample in this study was 103 mothers who have children with autism spectrum disorder. Participants were taken by purposive sampling method. The instrument used social support scale which created by reseacher to measure the level of perceived social support, and Indonesian adaptation of a resilience scale to measure resilience. The result of regression analysis showed that social support which contribute more to the resilience of mothers is informational support, both from family (16,2%) and partner (9,1%). Informational support defined as any kind of information or advice from others that can help the people who need in support. The results of this study implied about the value of information and advice from family and spouse for mothers. This kind of support will enable mothers to be more resilience on facing the difficulties that usually happened during the process of nurturing their autism child.