Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Layanan kesehatan mental digital: Urgensi riset dan penerapannya di Indonesia Ratih Arruum Listiyandini
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 10 No 1 (2023)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu789

Abstract

Layanan melalui teknologi digital dan berbasis internet sudah menjadi salah satu kebutuhan di dalam sistem kesehatan mental di Indonesia. Namun, efektivitas klinis dan keamanan dari pemberian layanan kesehatan mental digital masih perlu untuk terus diuji dan diteliti lebih lanjut, khususnya mengenai intervensi klinis digital yang lebih peka secara budaya. Di dalam catatan editorial kali ini, saya menyoroti mengenai berbagai bentuk layanan kesehatan mental digital yang tersedia saat ini di Indonesia, potensi manfaatnya, dan urgensi agar para peneliti di Indonesia terlibat dalam pengujian mengenai keamanan dan efektivitas dari layanan seperti ini pada populasi Indonesia.
Mengukur rasa syukur: Pengembangan model awal Skala Bersyukur versi Indonesia Ratih Arruum Listiyandini; Andhita Nathania; Dessy Syahniar; Lidwina Sonia; Rima Nadya
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 2 No 2 (2015)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu39

Abstract

Bersyukur memiliki keuntungan secara emosi dan interpersonal. Dengan melihat dan merasakan penderitaan sebagai sesuatu yang positif, maka seseorang akan bisa meningkatkan kemampuan coping barunya baik secara sadar maupun tidak. Pembuatan alat ukur bersyukur diharapkan dapat membantu penelitian, pemeriksaan, atau intervensi terkait rasa syukur pada populasi di Indonesia. Subjek penelitian berjumlah 264 orang terdiri dari 90 orang pria (34%) dan 174 orang wanita (66%). Rentang umur responden dari 20 sampai 75 tahun. Berdasarkan uji psikometri yang dilakukan melalui konsistensi internal dan uji validitas konstruk, skala bersyukur versi Indonesia memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Skala ini dapat mengukur satu kontruk yang sama secara konsisten, dapat membedakan individu dengan rasa syukur tinggi dan rendah, dan valid untuk mengukur konstruk bersyukur melalui tiga faktor, yaitu sense of appreciation, perasaan positif, dan ekspresi rasa syukur. Dengan standar psikometri yang sudah baik, maka skala bersyukur versi Indonesia yang dipaparkan dalam penelitian ini sudah dapat digunakan untuk mengukur rasa syukur dalam konteks penelitian maupun intervensi klinis pada populasi di Indonesia.
Gambaran Kesadaran, Akses Informasi, dan Pengalaman terkait Layanan Kesehatan Mental pada Masyarakat di Indonesia Putri, Mirasstity Akacia; Bimantoko, Iqbal; Herton, Nezzia; Listiyandini, Ratih Arruum
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i1.1961

Abstract

The study aims to examine mental health issues in Indonesia in several aspects including individuals’ awareness of mental health, individuals’ experience when accessing mental health information, services, and treatment as well as maintenance behavior after receiving treatment. This study is conducted using the cross-sectional method with a quantitative approach. The survey was distributed via social media platforms, and was completed by a total of 406 participants, ranging from 18-25. Data were then analyzed using the descriptive analysis technique.  Findings of the study include: 1) individuals’ awareness of the issue surrounding mental health was relatively high, 2) accessibility of mental health information was good although, may be further improved, 3) stigma surrounding mental disorders, financial hardships, and poor access to mental health professionals/therapists, are the deterring factors for receiving treatments, 4) there are many strategies to improve treatment satisfaction, such as community-based interventions, bettering the quality of digital mental health platforms, as well as the quality and quantity of mental health professionals across Indonesia. Overall, despite high individual awareness of mental health and accessibility to mental health information, there were many gaps identified within the mental health care in Indonesia that can massively benefit from interventional programs.
Measuring Mindfulness in one minute or less: A 10-item short version of the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) in Indonesian Fourianalistyawati, Endang; Listiyandini, Ratih Arruum; Sahidah, Titi; Kumalasari, Dewi; Grasiaswaty, Novika
Jurnal Online Psikogenesis Vol 11 No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v11i1.3797

Abstract

The Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) is a scale to measure a person's level of mindfulness. FFMQ has been used extensively in other countries. In multi-construct research, a scale with fewer items is needed but with a qualified psychometric value. The purpose of this study was to obtain a short version of the Indonesian FFMQ which has good psychometric properties. The research was carried out in three stages, namely the adaptation stage, the long form test stage and then the short form test. The sample of this study is Indonesian people who are over 15 years old. The results show that the short form has shown good results. This indicates that the short form version of FFMQ Indonesia has good psychometric properties.
Memajukan riset kesehatan mental di Indonesia: Integrasi nilai budaya, etik, dan ketelitian ilmiah Listiyandini, Ratih Arruum
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu1270

Abstract

This article highlights the urgency of developing a mental health research ecosystem in Indonesia that combines cultural relevance, ethical process, and rigorous scientific methods. Despite the growth of mental health practices, few interventions in Indonesia are both evidence-based and culturally grounded. The author calls for structural support, cross-sector collaboration, and capacity-building to produce contextually relevant, evidence-based interventions rooted in local wisdom and contributing to the global body of mental health science.
Program Penyuluhan Pra Nikah untuk Meningkatkan Pengetahuan mengenai Pernikahan Islami Karimulloh, Karimulloh; Listiyandini, Ratih Arruum; Kusristanti, Chandradewi
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v4i2.2893

Abstract

Islam mengatur cara memilih pasangan yang ideal dan menjelaskan hak dah kewajiban yang akan dilaksanakan setelah mereka berumah tangga. Namun meningkatnya perceraian di Indonesia adalah sebuah pertanda mengenai ketidaksiapan pasangan suami istri terhadap hak dan kewajiban mereka dalam melaksanakan tugasnya. Penyuluhan persiapan pranikah perpektif Islam ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah sehingga dapat mempersiapkan mereka dalam memilih pasangan hidup dan mengemban tanggung jawab dalam pernikahan. Penyuluhan ini memberikan tema-tema menarik seperti konsep memilih pasangan hidup, proses ta’aruf dan Khitbah, hak dan kewajiban suami istri, serta mempersiapkan keturunan yang sholih dari sisi Islam dan psikologi. Partisipan penyuluhan adalah remaja akhir dan dewasa muda yang belum menikah baik laki-laki maupun perempuan. Hasil penyuluhan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan partisipan mengenai persipan pranikah perspektif IslamKata kunci: pra-nikah; pernikahan; islam; penyuluhan Islamic Perspective Pre-Marriage Extension Program to Increase Knowledge of Islamic MarriageABSTRACT Islam regulates how to choose the ideal partner and explains the rights and obligations that will be carried out after they are married. However, the increasing rate of divorce in Indonesia is a sign of the unpreparedness of married couples towards their rights and obligations in carrying out their duties. Education of Islamic perspective premarital preparations has been done done to increase the knowledge of the late adolescents regarding the concept of sakinah, mawaddah, wa rahmah and also to prepare their readiness to choose partner based on Islamic criteria and for being more thoughtful about responsibility in marriage life. This program provides interesting themes such as the concept of choosing a spouse, the process of ta'aruf and khitbah, the rights and obligations of husband and wife, and offspring issues from the side of Islam and psychology. Participants are single late teenagers and young adult, both men and women. Outreach results indicate an increase in participants' knowledge regarding the concept of marriage in Islamic perspective.Key words: pre-marital; marriage; islam; education
Gambaran Tingkat Kesejahteraan Psikologis Penyandang Tunanetra Dewasa Muda Brebahama, Alebanyo; Listyandini, Ratih Arruum
Mediapsi Vol 2 No 1 (2016): JUNE
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2016.002.01.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran tingkat kesejahteraan psikologis pada tunanetra yang berada pada usia dewasa muda, dengan melibatkan 36 orang tunanetra yang berusia antara 20–40 tahun serta berdomisili di DKI Jakarta. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur hasil adaptasi dari Psychological Well-being Scale yang dikembangkan oleh Ryff. Setelah dilakukan uji validitas konstruk dan reliabilitas melalui konsistensi internal diperoleh 31 item dengan α=0,93. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 69% responden memiliki skor kesejahteraan psikologis yang tergolong tinggi, sedangkan 31% lainnya memiliki skor kesejahteraan psikologis yang tergolong rendah. Dimensi kesejahteraan psikologis yang paling tinggi adalah pada aspek personal growth, sedangkan yang paling rendah adalah pada aspek autonomy.