Pingkan P. Egam
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PUSAT PENELITIAN PERIKANAN DI KOTA BITUNG, Arsitektur Biomimetik Putri S. Kuada; Pingkan P. Egam; Rachmat Prijadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.40957

Abstract

Kota Bitung merupakan kota penghasil ikan terbesar di Sulawesi Utara sekaligus pemasok pemenuhan konsumsi ikan di provinsi Sulawesi Utara. Sehubungan dengan itu, untuk mewadahi aktivitas perikanan yang ada di kota Bitung maka dihadirkan perancangan Pusat Penelitian Perikanan yang bisa menjadi prospek yang sangat baik untuk menunjang aktivitas perikanan yang ada di kota Bitung. Adapun penerapan prinsip desain dan tema Arsitektur Biomimetik adalah untuk mengatasi permasalahan yang timbul dengan keterkaitan antara objek Pusat Penelitian Perikanan dengan lokasi yang akan dibangun objek tersebut. Arsitektur biomimetik menggunakan alam sebagai model, acuan dan pedoman untuk memecahkan masalah dalam perancangan objek Pusat Penelitian Perikanan. Dengan adanya Pusat Penelitian Perikanan diharapkan dapat menunjang aktivitas perikanan yang ada di Sulawesi Utara khusunya kota Bitung dan juga dapat meningkatkan ekonomi kemasyarakatan dalam sektor perikanan.Kata kunci :Penelitian, Perikanan, Arsitektur Biomimetik, Kota Bitung, Sulawesi Utara
PERANCANGAN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT DI KOTA MANADO, Behavior Modifier Priscilia R. Lalenoh; Pingkan P. Egam; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.43269

Abstract

ABSTRAKMinimnya kesadaran masyarakat kota Manado akan pentingnya merawat Kesehatan Gigi dan Mulut menjadi salah satu penyebab utama kurangnya kunjungan pasien/masyarakat untuk memeriksa dan merawat kesehatan Gigi dan Mulut. Tidak sedikit pula pasien takut berobat ke dokter Gigi, karena biaya pemeriksaan dan perawatan yang sangat mahal. Hal tersebut mendasari perancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang bertujuan untuk mewadahi pelayanan kesehatan pada Gigi dan Mulut secara lengkap, mampu memberikan pelayanan dan kenyamanan dalam pengobatan dan perawatan sampai benar-benar sembuh dengan biaya perawatan yang terjangau untuk semua kalangan masyarakat. Metode perancangan menggunakan metode Glass Box yang memiliki prinsip umum, yaitu objektif, analisis yang lengkap, evaluasi bersifat deskriptif dan dapat dijelaskan secara logis, sasaran dan strategi perancangan ditetapkan terlebih dahulu secara pasti dan jelas sebelum proses analisis. Pengembangan tema Behavior Modifier diharapkan menghasilkan produk rancangan yang dapat mengalami perubahan baik kemasan, pelayanan/fungsi dan paradigma/citra yang baru bagi masyarakat kota Manado.Kata Kunci : Kesehatan, Rumah Sakit, Gigi dan Mulut, Behavior Modifier, Kota Manado
EVALUASI KELAYAKAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN Puput Ch. Tendean; Jefrey I. Kindangen; Pingkan P. Egam
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya permasalahan lingkungan yang menggangu aktivitas makhluk hidup di sebabkan kurangnya ketersediaan lahan dan kondisi lingkungan yang menyimpang tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia tentang pemilihan lokasi TPA. Sejak di mekarkan sebagai kabupaten baru TPA Pinolantungan adalah satu-satunya TPA yang berada di Kabupaten Bolaang Mongonodow Selatan sejak tahun 2013 dengan total luas sebesar 3,5 Ha. Awal mulanya masyarakat hanya membuang sampah di lokasi eksisting TPA saat ini dan berlanjut di tetapkan oleh pemerintah sebagai lokasi TPA. Keberadaan TPA yang tidak memperhatikan dampak lingkungan sekitar dan ketersedian lahan tampung sampah yang terbatas membuat masyarakat merasa di rugikan terhadap dampak yang di timbulkan. Evaluasi terhadap keberadaan lokasi TPA Pinolantungan di nilai sangat di perlukan saat ini sebagai pertimbangan tentang hal-hal yang perlu diperbaiki sesuai dengan UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Tujuan penelitian yaitu menganalis kelayakan TPA dari segi kapasitas lahan pakai TPA dan mengevaluasi kelayakan lokasi TPA secara spasial berdasarkan SK SNI 03-3241-1994. Hasil penelitian di ketahui kapastitas lahan TPA dapat menampung jumlah timbulan sampah selama 3 tahun terhitung dari tahun 2022-2025 dengan total proyeksi timbulan sampah perhari sebesar 65.226 m3/hari. Untuk jangka waktu 10 tahun terhitung sampai tahun 2032 membutuhkan lahan sebesar 8,7 Ha. Kelayakan TPA berdasarkan hasil skoring memiliki nilai 251 dan termasuk kategori kelas interval II yang berarti lokasi TPA Pinolantung tidak layak untuk di jadikan TPA. Kata Kunci: SIG, Evaluasi TPA, Kapasitas Lahan
PENGEMBANGAN KAWASAN PRIORITAS PARIWISATA DI KABUPATEN BANGGAI Evita D.S.A. Kusnanto; Pingkan P. Egam; Suryono Suryono
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banggai merupakan salah satu dari Kabupaten di Sulawesi Tengah memiliki objek pariwisata yang potensial untuk dikembangkan. Pada penelitian ini diambil 4 objek wisata yang dijadikan objek penelitian, yaitu Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong dan Air Terjun Salodik yang merupakan wisata unggulan di Kabupaten Banggai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana wisata unggulan serta menganalisis usulan pengembangan prioritas pariwisata di Kabupaten Banggai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis AHP dengan menggunakan 5 variabel ukur; Daya Tarik Wisata, Aksesibilitas, Akomodasi, Ketersediaan Fasilitas Penunjang dan Ketersediaan Sarana Prasarana. Proses analisis metode AHP ada tiga tahap yaitu (1) tujuan analisis: menentukan prioritas pengembangan objek wisata, (2) kriteria: daya tarik wisata, aksesibilitas, akomodasi, ketersediaan fasilitas penunjang, ketersediaan sarana prasarana, (3) alternatif: Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong, Air Terjun Salodik. Hasil penelitian dari analisis AHP menunjukan bahwa nilai keseluruhan masing-masing alternatif objek wisata di Pantai Kilo Lima sebesar (0,46), Pulau Dua sebesar (0,18), Teluk Lalong sebesar (0,14) dan Air Terjun Salodik sebesar (0,19). Maka objek wisata yang lebih diprioritaskan dalam pengembangan kawasan prioritas pariwisata Kabupaten Banggai yaitu Pantai Kilo Lima dengan bobot nilai (0,46). Kata Kunci : Pengembangan, AHP, Kawasan Prioritas, Kabupaten Banggai
ANALISIS PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PENDUKUNG KAWASAN AGROPOLITAN DI LANGOWAN Rivaldo M. Talumewo; Pingkan P. Egam; Raymond Ch. Tarore
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Langowan termasuk dalam Pengembangan kawasan agropolitan Pakakaan (Kec. Tompaso, Kawangkoan, Kakas dan Langowan). Ketersediaan infrastruktur dalam hal ini infrastruktur pendukung pertanian yang optimal maka dapat memicu perkembagan Kawasan Agropolitan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur pendukung kawasan agropolitan di langowan, menganalisis usulan pengembangan infrastruktur pendukung kawasan agropolitan di langowan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan metode evaluasi dengan metode analisis actual versus planned performance comparisons untuk merumuskan usulan pengembangan. Hasil penelitian infrastruktur pendukung dalam penyediaannya berdasarkan evaluasi dengan standar ialah jalan usaha tani belum memenuhi standar,jalan penghubung antar desa telah memenuhi standar, gudang penyimpanan belum memenuhi standar, bak penampungan air belum memenuhi standar, kios pupuk belum memenuhi standar, penggilingan padi belum memenuhi standar, dan Balai Penyuluhan Pertanian telah memenuhi standar. Terdapat 7 usulan pengembangan Infrastruktur pendukung. Kata Kunci : Agropolitan,Infrastruktur,Evaluasi,Pengembangan
ENTERTAINMENT CENTER DI MANADO. Biophilic Architecture Resky A. F. Th. Durandt; Judy O. Waani; Pingkan P. Egam
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24039

Abstract

           Kota Manado adalah Ibukota dari Provinsi Sulawesi utara yang merupakan kota kedua terbesar di pulau Sulawesi, berdasarkan Dinas Pariwisata, kota Manado memiliki 84 obyek pariwisata dimana 78 obyek diantaranya merupakan obyek pariwisata buatan. Pengembangan sektor pariwisata diyakini mampu memberi efek bagi kesejahteraan daerah dan mewujudkan manado sebagai Kota Ekowisata sebagai tujuan turis di ujung utara sulawesi.Entertainment Center merupakan bangunan yang mengakomodasi pusat hiburan terpusat, berdasarkan fenomena masyarakat dan pusat rekreasi yang sudah ada apabila obyek tersebut monoton akan ditinggalkan oleh masyarakat, Maka perlu sebuah bangunan hiburan yang menyediakan fasilitas menarik yang terpusat didalam satu area atau kawasan.Tema yang di terapkan dalam proses perancangan objek Entertainment Center adalah “Biophilic Architecture” tema ini mengangkat dan menampilkan sebuah hasil perancangan yang didalamnya menerapkan Prinsip-prinsip dari Biophilic Design (Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces) dengan 14 Patterns dan juga Karakter-karakter Biophilic yang menghadirkan suasana alami dengan elemen-elemen alam seperti tumbuhan, material-material alami dan mengadopsi bentuk-bentuk alam dan juga pemanfaatan alam ke dalam konsepsi perancangan massa . Penerapan tema ini diharapkan mampu menjadi sebuah citra baru terhadap fasilitas rekreasi dan entertainment yang unik di Kota Manado, sehingga dapat menarik minat masyarakat dan juga wisatawan dari luar dengan karakteristiknya serta menjadi icon bangunan pariwisata di Kota Manado yang kemudian dapat berdampak meningkatknya pertumbuhan perekonomian daerah di bidang pariwisata. Kata Kunci : Entertainment Center, Biophilic Architecture, Biophilic Design, Prinsip Biophilic Design(Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces)
PUSAT KESEHATAN SEKSUAL DAN ALAT REPRODUKSI DI MANADO. Arsitektur Perilaku Chelsea E. Songko; Linda Tondobala; Pingkan P. Egam
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25050

Abstract

Kota Manado berkembang dengan begitu pesat. Pertumbuhan penduduk juga semakin meningkat dan pergaulan bebas pun tidak bisa dihindari, semakin hari banyak kaum muda atau remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas dan seks bebas. Oleh karena itu, penyebaran dan penularan HIV/AIDS juga menyebar dengan cepat selain itu masih kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya kaum muda atau remaja tentang pentingnya menjaga kesehatan seksual dan alat reproduksi. Sehingga dari beberapa faktor tersebut maka diperlukan adanya perancangan Pusat Kesehatan Seksual dan Alat Reproduksi di Manado yang bertujuan agar dapat mendapatkan suatu wadah yang membantu pemulihan, pengurangan, dan penanggulangan pergaulan bebas yang menyebabkan penularan HIV/AIDS dan juga masalah-masalah lainnya di kalangan remaja dan juga masyarakat. Dalam peracangan ini diterapkan pendekatan Arsitektur Perilaku yang mempelajari hubungan antara perilaku objek rancangan dengan lingkungan. Arsitektur Perilaku mempertimbangkan perilaku dalam perancangannya dengan memperhatikan kenyamanan, kondisi dan perilaku pengguna, dan juga keamanan dari pengguna. Aplikasi penerapan tema Arsitektur Perilaku dalam perancangan Pusat Kesehatan Seksual dan Alat Reproduksi ini lewat : tata ruang dalam, tata ruang luar, sirkulasi dan entrence, serta pola hubungan ruang. Dengan menghadirkan Pusat Kesehatan Seksual dan Alat Reproduksi di Manado tidak hanya menjadi wadah kesehatan khususnya dibagian seksual dan reproduksi tapi juga sebagai wadah untuk merehabilitasi, bahkan menjadi sarana mengembangkan keterampilan dan pembelajaran tentang kesehatan seksual dan alat reproduksi. Kata kunci : Kesehatan Seksual, Pergaulan Bebas, Arsitektur Perilaku, Kota Manado
HOTEL RESORT DI LUWUK. Neo Vernacular Architecture Andre I. Tahaka; Joseph Rengkung; Pingkan P. Egam
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25551

Abstract

Perancangan kawasan wisata merupakan hal penting dalam meningkatkan kualitas kawasan dalam aspek fisik. Kabupaten Banggai merupakan sebuah wilayah yang memiliki banyak potensi - potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai daerah wisata. Kota Luwuk yang merupakan Ibukota Kabupaten Banggai memiliki potensi alam yang menarik dan natural sehingga dapat dijadikan daya tarik kalangan masyarakat luas untuk mengenal wilayah tersebut. Pengadaan wadah salah satu alternatif dalam pengembangan kebutuhan wisatawan, perancangan Hotel Resort di kota Luwuk merupakan salah satu strategi yang diambil untuk menyediakan wadah bagi penikmat wisata masyarakat luas baik dalam skala domestik maupun mancanegara. Dalam mengangkat potensi budaya lokal tema perancangan diambil “Neo-Vernacular Architecture” dimana tema ini menghadirkan rancangan yang mengangkat karakteristik lokal secara spesifik sebagai identitas budaya lokal. Strategi korelasi tema dan objek rancangan dikolaborasikan dalam elemen arsitektur seperti pada rancangan atap, material lokal yaitu kayu kumea yang diposisikan pada permainan selubung bangunan.Kata Kunci : Pariwisata, Hotel Resort, Neo-Vernacular Architecture.
AQUATIC ARENA DI MANADO. Arsitektur Metafora Shintia F. A. Rungkat; Pingkan P. Egam; Rieneke L. E. Sela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30164

Abstract

Aquatic arena di Manado merupakan wadah untuk melakukan aktifitas atau event olahraga air, namun terdapat kekurangan dalam perkembangan proses pembibitan dan pelatihan bagi atlet renang di Manado untuk generasi yang akan datang. Salah satu faktor kekurangan pada olahraga ini disebabkan oleh fasilitas olahraga renang yang belum memadai sesuai standar kompetisi. Fasilitas aquatic arena di Manado merupakan wadah bagi peminat olahraga air (renang) untuk menjawab kebutuhan. Perancangan objek ini menggunakan arsitektur metafora yang mengidentifikasikan hubungan antara benda dimana hubungan tersebut lebih bersifat abstrak daripada nyata. Lokasi tapak perancangan aquatic arena berada di jalan ring road kecamatan Mapanget kota Manado. Tujuan dari perancangan adalah untuk meningkatkan fasilitas yang dapat mendukung bangunan dan mencari prinsip arsitektur metafora yang dapat diterapkan pada bentuk bangunan. Metode perancangan menggunakan proses desain generasi II oleh Jhon Seizel. Hasil perancangan yang dicapai bangunan mampu mewadahi aktvitas yang berhubungan dengan kegiatan olahraga berenang di Manado serta fasilitas aquatic arena sesuai dengan standar kompetisi dan bentuk bangunan dengan konsep penerapan arsitektur metafora dapat menggambarkan aktivitas yang ada di dalam bangunan.Kata Kunci: Olahraga, Aquatic Arena, Arsitektur Metafora
MIX USE BUILDING HOTEL, RENTAL OFFICE, MALL, DAN CONVENTION DI MANADO. Arsitektur Futuristik Juneidy J. Runtuwene; Pingkan P. Egam; Sonny Tilaar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.32072

Abstract

Kota Manado merupakan salah satu ibu kota Provinsi di indonesia yang berada di provinsi Sulawesi Utara dan merupakan pusat berbagai kegiatan ekonomi, yang terus berkembang seiring pertumbuhan penduduknya. Peluang bisnis di kota Manado dari segi pariwisata, properti, perdagangan dan jasa meningkat pesat. sehingga diperlukannya wadah yang dapat menampung berbagai kebutuhan kegiatan tersebut. Mixed-use building menjadi pendekatan perencanaan dan rancangan yang menyatukan berbagai aktivitas dan fungsi dalam sebuah wadah bangunan tuggal. Mix Use Building di Manado adalah tempat untuk mewadai seluruh kegiatan para pedagang, para wisatawan, para eksekutif muda, serta masyarakat umum dengan tema futuristik arsitektural dalam gubahan bentuk dan ruang arsitektur. Yang mana bentuk mix use building ini didapat dari gabungan ruang yang menggunakan prinsip-prinsip futuristik sehingga membentuk suatu gubahan massa yang mampu beradaptasi dan memperediksi pergerakan zaman. Metode yang diterapkan dalam rancangan adalah metode desain John Zeisel yang melihat proses perancangan sebagai sebuah tahapan spiralstik yang berulang-ulang menuju satu penajaman. Tema Futuristik lebih diprioritaskan penerapannya pada bentuk bangunan serta facade bangunan, yang dirancang sesimple mungkin sehingga bentuk bangunan dapat melewati zaman yang akan datang, dan dapat memfasilitasi semua kebutuhan komersial bisnis yang diperlukan.Kata Kunci : Mix-Use Building, Mall, Hotel, Rental Office, Convention, Manado, Arsitektur Futuristik