Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Eco-Enzyme Terhadap Kualitas Udara Di Tempat Pembuangan Akhir Sumompo Kota Manado Lidya T. J. Turangan; Herawaty Riogilang; Cindy J. Supit
TEKNO Vol. 22 No. 88 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i88.56707

Abstract

Dari berbagai aktivitas masyarakat di perkotaan tentunya menimbulkan sampah yang lumayan banyak per harinya. Menurut data, kota manado dapat menghasilkan 339,89 ton sampah per hari. Tempat pembuangan akhir sampah (TPA) sumompo merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap akhir dalam proses pembuangannya. Pengelolaan sampah di TPA Sumompo masih menggunakan metode Open Dumping atau dibuang begitu saja. Sejumlah dampak negatif yang ditimbulkan dari keberadaan TPA, salah satunya yaitu pencemaran udara. Dimana pencemaran udara ini adalah perusak terhadap kualitas udara yang ada di lingkungan TPA. Metodologi yang digunakan yaitu metode penelitian kuantitatif, Parameter yang akan dianalisis dalam sampel udara yaitu gas metana (CH4), hidrogen sulfida (H2S). Nilai hasil pengukuran selanjutnya dibandingkan baku mutu gas hidrogen sulfida (H2S), serta nilai ambang batas (NAB) gas metana (CH4). Berdasarkan identifikasi di tempat pembuangan akhir (TPA) Sumompo, penggunaan Eco-Enzyme terbukti efektif dalam menurunkan kadar gas seperti gas metana (CH4) dan hidrogen sulfida (H2S) yang mengakibatkan pencemaran udara di TPA Sumompo. Sehingga dapat memperbaiki kualitas udara di TPA Sumompo. Dari hasil evaluasi pemantauan gas metana (CH4) dan hidrogen sulfida (H2S) sebelum dan sesudah penggunaan Eco-Enzyme, terjadi penurunan kadar gas metana (CH4) dengan rata-rata penurunan 41,5% dan menurunkan kadar gas hidrogen sulfida (H2S) dengan rata-rata penurunan 100%. Kata kunci: Eco-Enzyme, Metana (CH4), Hidrogen Sulfida (H2S), udara TPA
Identifikasi Kadar Merkuri (Hg) Dan Arsen (As) Di Sungai Desa Tobongon Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Nadda N. A. Manoppo; Hendra Riogilang; Herawaty Riogilang
TEKNO Vol. 22 No. 89 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i89.57417

Abstract

Keberadaan sumber daya mineral emas di Desa Tobongon ditandai dengan tingkat kelimpahan yang tinggi, dengan mayoritas masyarakat melakukan aktivitas pertambangan. Masyarakat melakukan penambangan emas melalui teknik amalgamasi yaitu penggabungan emas dengan logam berat Merkuri (Hg). Teknik amalgamasi melibatkan pencampuran batuan yang mengandung emas dan merkuri menggunakan gelondong. Namun demikian, pemanfaatan merkuri (Hg) dapat menimbulkan berbagai permasalahan, seperti pencemaran, kerusakan lingkungan, dan keracunan organisme lain. Untuk memastikan kadar Merkuri (Hg) dan Arsen (As) di sungai sekitar tambang emas masyarakat Desa Tobongon dan kolam limbah pengelolaan emas, peneliti mengumpulkan sampel air dan sedimen sungai dan Kolam limbah pengelolaan emas. Selanjutnya, Laboratorium Air Nusantara (WLN) di Manado melakukan analisis terhadap sampel tersebut. Analisis kadar merkuri (Hg) memberikan hasil sebagai berikut: titik I 0,0213 mg/L, titik II 0,0006 mg/L, dan titik III 0,0002 mg/L. Hasil arsen (As) sebagai berikut: titik I 0,029 mg/L, titik II 0,0042 mg/L, dan titik III 0,024 mg/L. Analisis sedimen mengungkapkan temuan selanjutnya mengenai kadar Merkuri (Hg): Pada titik I, konsentrasinya adalah 375 mg/kg. Pada titik II sebesar 1,94 mg/kg. Pada titik III adalah 12,5 mg/kg. Pada titik I konsentrasi Arsennya sebesar 610 mg/kg, pada titik II sebesar 598 mg/kg, dan pada titik III sebesar 850 mg/kg. Untuk menghindari kenaikan kadar Merkuri (Hg) dan Arsen (As), perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan seperti Fitoremediasi, kolam sedimentasi bertingkat (Settling Pond), Bioremediasi dengan menggunakan bakteri, IPAL Industri Kecil Pelapisan Logam. Kata kunci: Merkuri (Hg), Arsen (As), fitoremediasi, kolam pengendapan bertingkat, bioremediasi dengan bakteri, Desa Tobongon
Pemanfaatan Limbah Industri Tahu Sebagai Pupuk Organik Cair Di Kelurahan Batu Kota Bawah Kecamatan Malalayang Praysela B. Kawuwung; Herawaty Riogilang; Pingkan A. K. Pratasis
TEKNO Vol. 22 No. 89 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i89.57432

Abstract

Industri Tahu merupakan industri pangan menghasilkan sumber protein dengan bahan dasar dari kacang kedelai, sebagai salah satu makanan pokok yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, termasuk di Kota Manado. Industri tahu ini menghasilkan limbah padat (ampas tahu) yang bisa digunakan sebagai pakan ternak dan limbah cair yang berasal dari proses pencucian kedelai, perendaman, perebusan, penyaringan, pengepresan, dan pencetakan tahu serta pencucian alat dan lantai (Samsudin et al. 2018). Kelurahan Batukota Bawah merupakan lokasi mayoritas industri tahu, dikarenakan lokasi yang dekat dengan sungai. Limbah cair dari industri produksi tahu rata-rata tidak diolah dan hanya dibuang langsung ke selokan yang mengalir ke sungai sehingga menimbulkan dampak negatif yaitu mencemari sungai dan menurunkan estetika lingkungan sekitar kelurahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengurangi dampak limbah cair dengan memanfaatkannya sebagai pupuk organik cair (POC). Metode penelitian adalah metode eksperiment dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada 2 taraf perlakuan, yaitu tanpa aplikasi POC limbah cair tahu (P0) dan aplikasi 3 liter POC limbah cair tahu (P1). Hasil uji limbah cair tahu setelah difermentasi menunjukkan peningkatan pada BOD, COD, TDS, Kalium, dan Fe, serta penurunan TSS, pH, dan Fosfor. Pengaplikasian POC pada tanaman pakcoy (Brassica Rapa L), bayam (Amaranthus tricolor L), dan sawi putih (Brassica Juncea L) dengan teknik menanam hidroponik (Wick System) menunjukkan bahwa POC dari limbah tahu sangat asam karena kadar POC yang tidak sesuai baku mutu menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 sehingga mempengaruhi perubahan tinggi tanaman. Kata kunci: Sungai Batukota Bawah, limbah industri tahu, pupuk organik cair limbah tahu, tanaman hidroponik
Analisis Kontaminan Bakteri Escherichia Coli Di Sungai Maruasey Gery R. N. Lukas; Hendra Riogilang; Herawaty Riogilang
TEKNO Vol. 22 No. 89 (2024): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v22i89.57705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontaminan bakteri Escherichia coli (E.coli) di Sungai Maruasey dengan fokus pada kualitas air dan sumber pencemaran utama yaitu limbah dari peternakan babi. Metode pengambilan sampel dilakukan di beberapa lokasi strategis sepanjang Sungai kemudian dilakukan analisis terhadap konsentrasi E.coli dalam sampel air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Maruasey mengalami pencemaran bakteri E.coli yang signifikan, terutama di sekitar area peternakan babi. Konsentrasi E. coli yang melebihi batas aman ditemukan di semua titik pengambilan sampel, mengindikasikan adanya potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat yang tinggi terkait dengan penggunaan air sungai ini. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini merekomendasikan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang efektif dan tepat guna di peternakan babi. IPAL diharapkan dapat mengurangi jumlah E. coli dan bahan pencemar lainnya sebelum air dibuang kembali ke Sungai Maruasey. Kata kunci: Escherichia Coli, pencemaran air sungai, instalasi pengolahan air limbah
Pengaruh Kegiatan Perkebunan Terhadap Kualitas Air Danau Moat Di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Gerald Pongoh; Herawaty Riogilang; Revo L. Inkiriwang
TEKNO Vol. 24 No. 95 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i95.67373

Abstract

Danau Moat merupakan salah satu sumber daya air penting yang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan domestik, perikanan, pariwisata, dan aktivitas lainnya. Namun, meningkatnya aktivitas perkebunan di kawasan daerah tangkapan air berpotensi menimbulkan pencemaran melalui limpasan pupuk kimia/organik, pestisida, limbah sisa panen dan gagal panen serta erosi tanah yang masuk ke badan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air Danau Moat dengan mengukur parameter Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), Total Suspended Solid (TSS), pH, Nitrat (NO₃⁻), dan Fosfat (PO₄³⁻), serta membandingkannya dengan baku mutu air kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter masih berada dalam ambang batas baku mutu. Namun, nilai BOD pada titik I yang berdekatan dengan area perkebunan melebihi standar yang ditetapkan, mengindikasikan tingginya beban bahan organik akibat aktivitas perkebunan. Nilai COD pada titik I tersebut juga berada pada ambang batas, sementara parameter DO, TSS, Nitrat, Fosfat, dan pH relatif memenuhi kriteria kualitas air kelas II. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pencemaran yang bersumber dari aktivitas perkebunan, terutama melalui limpasan permukaan saat hujan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan lahan dan penerapan sistem konservasi daerah tangkapan air (DTA) secara berkelanjutan guna menjaga keseimbangan ekosistem danau serta menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumber daya air bagi masyarakat di sekitar danau moat. Kata kunci: kualitas air, aktivitas perkebunan, BOD, baku mutu air, Danau Moat
Penetapan Prioritas Pengembangan SPAM Berdasarkan Proyeksi Kebutuhan Air Dan Kesiapan Kelembagaan Di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur Herawaty Riogilang; Sisca V. Pandey; Meike M. Kumaat
TEKNO Vol. 24 No. 96 (2026): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v24i96.67917

Abstract

Penguatan layanan air minum di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur tidak dapat bertumpu pada penambahan kapasitas produksi saja. Peningkatan kinerja juga harus menilai mutu air baku, efisiensi distribusi, dan kesiapan kelembagaan pengelola. Artikel ini merumuskan prioritas pengembangan SPAM dengan menelaah proyeksi kebutuhan air, pilihan sumber air baku, hasil pengujian kualitas air, serta kondisi institusi daerah. Penelitian memakai studi kasus deskriptif-analitis dengan memanfaatkan bahan RISPAM 2021, publikasi statistik, regulasi nasional, dan literatur terkini tentang kualitas air serta non-revenue water. Hasil sintesis memperlihatkan bahwa sistem yang ada telah memiliki fondasi operasional, tetapi masih dihadapkan pada ketidaksinkronan data pelanggan, indikasi kehilangan air, dan kapasitas pengelolaan yang terbatas. Sungai Buyat tampil sebagai alternatif sumber air permukaan paling menjanjikan untuk jangka panjang, diikuti Sungai Nuangan dan Poigar-Guaan. Karena seluruh sampel air baku menunjukkan kontaminasi mikrobiologi, pengembangan sumber permukaan harus disertai pengolahan penuh dan desinfeksi yang andal. Prioritas yang direkomendasikan mencakup pemutakhiran data pelanggan, penguatan meterisasi dan penurunan NRW, penegasan sumber utama, peningkatan instalasi pengolahan, serta pembenahan kelembagaan dan kebijakan tarif. Kata kunci: Sistem Penyediaan Air Minum, air baku, kualitas air, kesiapan kelembagaan, Bolaang Mongondow Timur
Hydrogeochemical Characterization and Subsurface Flow Analysis of Volcanic Hot Springs Hendra Riogilang; Octovian Berty Alexander Sompie; Herawaty Riogilang
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 7 No. 4 (2025): August-October
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v7i4.1818

Abstract

Understanding of the hydrogeochemical system of volcanic hot springs in Tompaso, Minahasa, is still limited, especially regarding the origin of water and subsurface flow patterns. This study aims to classify geothermal water types and analyze groundwater flow systems in volcanic environments. A total of 15 hot spring samples were analyzed using field measurements (temperature, pH, electrical conductivity), ion chromatography, titration, and spectrophotometry. Data validation was done with ion balance, and water classification using Piper diagrams. The results showed four main types of water, namely Mg-SO₄, H-SO₄, Na-Cl, and Na-SO₄. Most of the samples are from meteoric water directly heated by the geothermal system, while two samples (HT-11A and HT-11B) were heated by steam. These findings provide a scientific basis for sustainable geothermal exploration and groundwater conservation in volcanic areas with variable geothermal systems at the study site