Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Narasi Jilbab dan Realitas Simulakra di Akun Instagram @buttonscarves Putri Maulina; Ainal Fitri; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunikasi Global Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkg.v12i1.31232

Abstract

Buttonscarves menjadi brand fashion jilbab yang menargetkan perempuan muslim dengan kelas sosial menengah ke atas sebagai konsumennya. Melalui akun Instagram @buttonscarves, produsen fashion jilbab ini berupaya menarik perhatian konsumen dengan menciptakan beragam narasi sehingga terciptanya realitas-realitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana realitas perempuan muslim dan jilbab diciptakan dalam narasi Buttonscarves di akun Instagram @buttonscarves. Peneliti juga menggunakan sudut pandang Baudrillard tentang Simulakra dan Hiperrealitas. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Jean Barudrillard terhadap sembilan teks berupa video dan foto yang ada di akun tersebut di sepanjang tahun 2022. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram @buttonscarves menciptakan simulasi realitas terhadap perempuan Muslim berjilbab. Narasi simulakra dalam Instagram @buttonscarves menunjukkan hiperrealitas nilai- nilai perempuan Muslim dan jilbab yang dapat membius khalayak perempuan Muslim. Sehingga jilbab tidak lagi dipandang dari nilai-nilai aslinya, namun menjadi realitas simulakrum murni dari citra yang diciptakan oleh Buttonscarves. Buttonscarves is a hijab fashion brand that targets Muslim women belonging to the middle and upper social classes. Through the Instagram account @buttonscarves, this hijab fashion producer attracted consumers’ attention by constructing narratives that shape distinct realities. This study delves into how the Buttonscarves’ narratives on the @buttonscarves create the reality of Muslim women and the headscarf. In analyzing this phenomenon, Baudrillard's concepts of Simulacra and Hyperreality serve as theoretical underpinnings. Employing a qualitative approach, this research adopts the Jean Baudrillard Semiotics Analysis method to analyze nine texts, encompassing videos and photos posted throughout 2022. The study's findings shed light on the Instagram account’s ability to engender a simulated reality of Muslim women wearing headscarves. Simulakra's narrative on Instagram @buttonscarves shows the hyperreality of Muslim women's values and the headscarf that can anesthetize Muslim women audiences. Consequently, the headscarf is no longer seen from its original values but becomes a pure simulacrum reality of the image created by Buttonscarves.
Negosiasi Identitas Praktik Filantropi Digital Rumah Garda Indonesia Rizky Amalia Syahrani; Ainal Fitri; Fathayatul Husna; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunika Islamika : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Kajian Islam Vol 10, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jki.v10i1.16955

Abstract

Narasi Jilbab dan Realitas Simulakra di Akun Instagram @buttonscarves Putri Maulina; Ainal Fitri; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunikasi Global Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkg.v12i1.31232

Abstract

Buttonscarves menjadi brand fashion jilbab yang menargetkan perempuan muslim dengan kelas sosial menengah ke atas sebagai konsumennya. Melalui akun Instagram @buttonscarves, produsen fashion jilbab ini berupaya menarik perhatian konsumen dengan menciptakan beragam narasi sehingga terciptanya realitas-realitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana realitas perempuan muslim dan jilbab diciptakan dalam narasi Buttonscarves di akun Instagram @buttonscarves. Peneliti juga menggunakan sudut pandang Baudrillard tentang Simulakra dan Hiperrealitas. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Jean Barudrillard terhadap sembilan teks berupa video dan foto yang ada di akun tersebut di sepanjang tahun 2022. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram @buttonscarves menciptakan simulasi realitas terhadap perempuan Muslim berjilbab. Narasi simulakra dalam Instagram @buttonscarves menunjukkan hiperrealitas nilai- nilai perempuan Muslim dan jilbab yang dapat membius khalayak perempuan Muslim. Sehingga jilbab tidak lagi dipandang dari nilai-nilai aslinya, namun menjadi realitas simulakrum murni dari citra yang diciptakan oleh Buttonscarves. Buttonscarves is a hijab fashion brand that targets Muslim women belonging to the middle and upper social classes. Through the Instagram account @buttonscarves, this hijab fashion producer attracted consumers’ attention by constructing narratives that shape distinct realities. This study delves into how the Buttonscarves’ narratives on the @buttonscarves create the reality of Muslim women and the headscarf. In analyzing this phenomenon, Baudrillard's concepts of Simulacra and Hyperreality serve as theoretical underpinnings. Employing a qualitative approach, this research adopts the Jean Baudrillard Semiotics Analysis method to analyze nine texts, encompassing videos and photos posted throughout 2022. The study's findings shed light on the Instagram account’s ability to engender a simulated reality of Muslim women wearing headscarves. Simulakra's narrative on Instagram @buttonscarves shows the hyperreality of Muslim women's values and the headscarf that can anesthetize Muslim women audiences. Consequently, the headscarf is no longer seen from its original values but becomes a pure simulacrum reality of the image created by Buttonscarves.
Adaptation of Popular Culture in Digital Fatwa on Social Media Dony Arung Triantoro; Fathayatul Husna; Rizky Amalia Syahrani; Futri Syam; Ainal Fitri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7607

Abstract

The development of modern information technology and mass education does not necessarily weaken traditional religious authorities such as Habib. One of Habib's efforts to survive amidst the development of contemporary information technology is to deliver fatwas with popular culture. Fatwa is the main channel for Habib to establish and strengthen his authority. This article examines the adaptation of popular culture in digital fatwas on social media. This study uses a qualitative method. The data collection technique was carried out through netnography. Then, the data was analyzed using thematic analysis. The results of this research show that there are several forms of adaptation of popular culture carried out by Habib Husein Ja'far in conveying his fatwa on social media. First, Habib Husein Ja'far adapted slang language in conveying his fatwa on social media. Second, Habib Husein Ja'far adopted Japanese culture. Third, Habib Husein Ja'far visualized his fatwa in modern comics. Based on these findings, this study concludes that the development of modern technology has provided opportunities for habib to deliver their fatwas digitally. The form of the fatwa delivered by Habib adopts the form of popular culture, thereby attracting the attention of modern young Muslims.Perkembangan teknologi informasi modern dan pendidikan massal tidak lantas melemahkan otoritas keagamaan tradisional seperti habib. Salah satu upaya yang dilakukan habib untuk bertahan di tengah perkembangan teknologi informasi modern adalah dengan mengemas fatwa melalui budaya populer. Fatwa menjadi saluran utama bagi seorang habib untuk membentuk dan menguatkan otoritasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi budaya populer dalam fatwa digital di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui netnografi. Kemudian data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa bentuk adaptasi budaya populer yang dilakukan Habib Husein Ja’far dalam menyampaikan fatwanya di media sosial yaitu: Pertama, Habib Husein Ja’far mengadaptasi bahasa slang dalam menyampaikan fatwanya di media sosial. Kedua, Habib Husein Ja’far mengadaptasi budaya Jepang. Ketiga, Habib Husein Ja’far memvisualisasikan fatwanya ke dalam komik modern. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi modern telah memberikan peluang kepada habib untuk menyampaikan fatwanya secara digital. Bentuk fatwa yang disampaikan oleh habib mengadopsi bentuk budaya populer, sehingga menarik perhatian anak muda Muslim modern.