Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Narasi Jilbab dan Realitas Simulakra di Akun Instagram @buttonscarves Putri Maulina; Ainal Fitri; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunikasi Global Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkg.v12i1.31232

Abstract

Buttonscarves menjadi brand fashion jilbab yang menargetkan perempuan muslim dengan kelas sosial menengah ke atas sebagai konsumennya. Melalui akun Instagram @buttonscarves, produsen fashion jilbab ini berupaya menarik perhatian konsumen dengan menciptakan beragam narasi sehingga terciptanya realitas-realitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana realitas perempuan muslim dan jilbab diciptakan dalam narasi Buttonscarves di akun Instagram @buttonscarves. Peneliti juga menggunakan sudut pandang Baudrillard tentang Simulakra dan Hiperrealitas. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Jean Barudrillard terhadap sembilan teks berupa video dan foto yang ada di akun tersebut di sepanjang tahun 2022. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram @buttonscarves menciptakan simulasi realitas terhadap perempuan Muslim berjilbab. Narasi simulakra dalam Instagram @buttonscarves menunjukkan hiperrealitas nilai- nilai perempuan Muslim dan jilbab yang dapat membius khalayak perempuan Muslim. Sehingga jilbab tidak lagi dipandang dari nilai-nilai aslinya, namun menjadi realitas simulakrum murni dari citra yang diciptakan oleh Buttonscarves. Buttonscarves is a hijab fashion brand that targets Muslim women belonging to the middle and upper social classes. Through the Instagram account @buttonscarves, this hijab fashion producer attracted consumers’ attention by constructing narratives that shape distinct realities. This study delves into how the Buttonscarves’ narratives on the @buttonscarves create the reality of Muslim women and the headscarf. In analyzing this phenomenon, Baudrillard's concepts of Simulacra and Hyperreality serve as theoretical underpinnings. Employing a qualitative approach, this research adopts the Jean Baudrillard Semiotics Analysis method to analyze nine texts, encompassing videos and photos posted throughout 2022. The study's findings shed light on the Instagram account’s ability to engender a simulated reality of Muslim women wearing headscarves. Simulakra's narrative on Instagram @buttonscarves shows the hyperreality of Muslim women's values and the headscarf that can anesthetize Muslim women audiences. Consequently, the headscarf is no longer seen from its original values but becomes a pure simulacrum reality of the image created by Buttonscarves.
Negosiasi Identitas Praktik Filantropi Digital Rumah Garda Indonesia Rizky Amalia Syahrani; Ainal Fitri; Fathayatul Husna; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunika Islamika : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Kajian Islam Vol 10, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jki.v10i1.16955

Abstract

Maximizing public service through a humanistic communication approach Ainal Fitri; Asmaul Husna; Yuhdi Fahrimal; Futri Syam
Community Empowerment Vol 9 No 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.11064

Abstract

Optimal public service by an institution is closely tied to effective communication practices. However, at the West Aceh Police, the desire to maximize public services is impeded by communication problems between police officers and the public during service provision. This issue has prompted community service activities aimed at enhancing public services by improving communication skills, particularly through a humanistic approach. The training involved 30 members of the West Aceh Police and utilized various methods such as lectures, discussions, basic communication techniques training, and public speaking exercises. The objective was to identify communication shortcomings in service provision, evaluate them based on participants' experiences, and rectify them to enhance performance. Results revealed that participants frequently encountered communication failures with the public and had yet to fully implement a humanistic communication approach. However, the training significantly improved participants' ability to analyze and reflect on communication failures, empowering them to devise their own solutions.
Narasi Jilbab dan Realitas Simulakra di Akun Instagram @buttonscarves Putri Maulina; Ainal Fitri; Dony Arung Triantoro
Jurnal Komunikasi Global Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkg.v12i1.31232

Abstract

Buttonscarves menjadi brand fashion jilbab yang menargetkan perempuan muslim dengan kelas sosial menengah ke atas sebagai konsumennya. Melalui akun Instagram @buttonscarves, produsen fashion jilbab ini berupaya menarik perhatian konsumen dengan menciptakan beragam narasi sehingga terciptanya realitas-realitas tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana realitas perempuan muslim dan jilbab diciptakan dalam narasi Buttonscarves di akun Instagram @buttonscarves. Peneliti juga menggunakan sudut pandang Baudrillard tentang Simulakra dan Hiperrealitas. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Jean Barudrillard terhadap sembilan teks berupa video dan foto yang ada di akun tersebut di sepanjang tahun 2022. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram @buttonscarves menciptakan simulasi realitas terhadap perempuan Muslim berjilbab. Narasi simulakra dalam Instagram @buttonscarves menunjukkan hiperrealitas nilai- nilai perempuan Muslim dan jilbab yang dapat membius khalayak perempuan Muslim. Sehingga jilbab tidak lagi dipandang dari nilai-nilai aslinya, namun menjadi realitas simulakrum murni dari citra yang diciptakan oleh Buttonscarves. Buttonscarves is a hijab fashion brand that targets Muslim women belonging to the middle and upper social classes. Through the Instagram account @buttonscarves, this hijab fashion producer attracted consumers’ attention by constructing narratives that shape distinct realities. This study delves into how the Buttonscarves’ narratives on the @buttonscarves create the reality of Muslim women and the headscarf. In analyzing this phenomenon, Baudrillard's concepts of Simulacra and Hyperreality serve as theoretical underpinnings. Employing a qualitative approach, this research adopts the Jean Baudrillard Semiotics Analysis method to analyze nine texts, encompassing videos and photos posted throughout 2022. The study's findings shed light on the Instagram account’s ability to engender a simulated reality of Muslim women wearing headscarves. Simulakra's narrative on Instagram @buttonscarves shows the hyperreality of Muslim women's values and the headscarf that can anesthetize Muslim women audiences. Consequently, the headscarf is no longer seen from its original values but becomes a pure simulacrum reality of the image created by Buttonscarves.
Adaptation of Popular Culture in Digital Fatwa on Social Media Dony Arung Triantoro; Fathayatul Husna; Rizky Amalia Syahrani; Futri Syam; Ainal Fitri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol. 9 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/islam_realitas.v9i2.7607

Abstract

The development of modern information technology and mass education does not necessarily weaken traditional religious authorities such as Habib. One of Habib's efforts to survive amidst the development of contemporary information technology is to deliver fatwas with popular culture. Fatwa is the main channel for Habib to establish and strengthen his authority. This article examines the adaptation of popular culture in digital fatwas on social media. This study uses a qualitative method. The data collection technique was carried out through netnography. Then, the data was analyzed using thematic analysis. The results of this research show that there are several forms of adaptation of popular culture carried out by Habib Husein Ja'far in conveying his fatwa on social media. First, Habib Husein Ja'far adapted slang language in conveying his fatwa on social media. Second, Habib Husein Ja'far adopted Japanese culture. Third, Habib Husein Ja'far visualized his fatwa in modern comics. Based on these findings, this study concludes that the development of modern technology has provided opportunities for habib to deliver their fatwas digitally. The form of the fatwa delivered by Habib adopts the form of popular culture, thereby attracting the attention of modern young Muslims.Perkembangan teknologi informasi modern dan pendidikan massal tidak lantas melemahkan otoritas keagamaan tradisional seperti habib. Salah satu upaya yang dilakukan habib untuk bertahan di tengah perkembangan teknologi informasi modern adalah dengan mengemas fatwa melalui budaya populer. Fatwa menjadi saluran utama bagi seorang habib untuk membentuk dan menguatkan otoritasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi budaya populer dalam fatwa digital di media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan melalui netnografi. Kemudian data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa bentuk adaptasi budaya populer yang dilakukan Habib Husein Ja’far dalam menyampaikan fatwanya di media sosial yaitu: Pertama, Habib Husein Ja’far mengadaptasi bahasa slang dalam menyampaikan fatwanya di media sosial. Kedua, Habib Husein Ja’far mengadaptasi budaya Jepang. Ketiga, Habib Husein Ja’far memvisualisasikan fatwanya ke dalam komik modern. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan teknologi modern telah memberikan peluang kepada habib untuk menyampaikan fatwanya secara digital. Bentuk fatwa yang disampaikan oleh habib mengadopsi bentuk budaya populer, sehingga menarik perhatian anak muda Muslim modern.
Identitas, Fesyen Islam Populer, dan Syariat Islam: Negosiasi dan Kontestasi Muslimah Aceh Putri Maulina; Dony Arung Triantoro; Ainal Fitri
Cakrawala: Jurnal Studi Islam Vol 18 No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/cakrawala.9419

Abstract

Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam secara ketat, namun demikian masyarakatnya tidak begitu saja menolak kehadiran fashion Islam populer. Penelitian ini berupaya mengkaji tentang negosiasi dan kontestasi Muslimah Aceh dalam menggunakan fashion Islam populer. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan naratif. Penelitian ini menemukan bahwa Muslimah Aceh menggunakan fashion Islam populer dengan beragam pemaknaan yang kompleks. Selain itu, penerapan syariat Islam di Aceh, khususnya terkait aturan penggunaan busana Islam, tidak secara utuh diterima oleh Muslimah di Aceh. Sebagian mereka menegosiasikan, mengapropriasi dan mengkontestasikan penerapan aturan berbusana Islam dengan praktik penegakan syariat Islam itu sendiri. Meskipun demikian, konsumsi fashion Islam populer di kalangan Muslimah Aceh membawa identitas mereka menjadi hibrid, yaitu menjadi Muslimah sejati sekaligus modern. Identitas hibrid ini terbentuk karena dua hal yaitu dominasi kebijakan syariat Islam di Aceh dan tren industri fashion Muslim populer di Indonesia.
Gender-based Dayah: The Role of Female Ulama in Trauma Recovery Strategies for Sexual Violence Victims in Aceh Fathayatul Husna; Ainal Fitri
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 18, No 2 (2023): October
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/sa.v18i2.17416

Abstract

This article delves into the escalating cases of sexual violence in Aceh and the imperative need for trauma recovery efforts. Umi Hanisah, an Acehnese female ulama and founder of Dayah Diniyah Darussalam, the sole gender justice-oriented Islamic boarding school in Aceh, is pivotal in addressing this issue. Employing a descriptive qualitative approach, this research explores Umi Hanisah’s endeavors to heal the trauma of child victims of sexual violence. Data collection includes in-depth interviews, observation of the Dayah environment, documentation, and literature studies. Findings reveal Umi Hanisah’s authoritative approach in accommodating and recovering victims through a religious lens. She contends that the Islamic religious approach can emancipate victims from the chains of trauma, supplemented by Aceh’s local wisdom values as a foundation for trauma recovery, empowering victims to reintegrate into their communities.
Enhancing disaster communication literacy based on traditional games among West Aceh students Dony Arung Triantoro; Raudhatun Nafisah; Fathayatul Husna; Futri Syam; Rizky Amalia Syahrani; Ainal Fitri; Ashabul Yamin Asgha; Mirza Adia Nova; Ismu Ridha
Transformasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 19 No. 2 (2023): Transformasi Desember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/transformasi.v19i2.8642

Abstract

[Bahasa]: Aceh Barat sebagai salah satu daerah rawan bencana alam di Indonesia memerlukan langkah-langkah konkrit sebagai upaya mitigasi bencana. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah memberikan pengetahuan tentang literasi komunikasi bencana di kalangan siswa. Studi-studi sebelumnya telah  mengkaji tentang model komunikasi bencana berdasarkan beberapa pengalaman daerah-daerah yang mengalami bencana alam dan non-alam. Namun, belum banyak studi yang mengkaji literasi komunikasi bencana melalui permainan tradisional seperti teka-teki silang (TTS). Oleh karena itu, artikel ini berupaya mengisi kekosongan studi tersebut dengan mengambil studi kasus pada Madrasah Tsnawiyah Negeri (MTsN) 3 Aceh Barat. Data-data artikel ini diperoleh melalui aktivitas penyuluhan dan pendampingan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bersifat insidentil. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa literasi komunikasi bencana perlu didiseminasikan dalam bentuk permainan teka-teki silang. Para siswa yang mengikuti penyuluhan ini lebih aktif menggunakan kemampuan berpikir mereka untuk memahami istilah-istilah dalam kebencanaan. Di samping keaktifan mereka dalam mengisi permainan teka-teki silang tersebut, pada saat yang sama mereka berlatih untuk bekerjasama menyelesaikan permainan tersebut bersama teman-teman mereka. Hal ini merepresentasikan bahwa resiko bencana dapat diminimalisir melalui kerjasama aktif di kalangan masyarakat. Kata Kunci: literasi, komunikasi bencana, permainan tradisional [English]: West Aceh as one of the natural disaster-prone areas in Indonesia requires concrete steps for disaster mitigation. One important step that must be taken is to provide knowledge about disaster communication literacy among students. Previous studies have examined disaster communication models based on some experiences of areas that experienced natural and non-natural disasters. However, few studies have examined disaster communication literacy through traditional games such as crossword puzzles (TTS). Therefore, this article attempts to fill this gap by taking a case study of Madrasah Tsnawiyah Negeri (MTsN) 3 Aceh Barat. The data for this article were obtained through counseling and mentoring activities in the form of incidental community service. The results of this community service show that disaster communication literacy needs to be disseminated in the form of a crossword puzzle game. The students who participated in this counseling were more active in using their thinking skills to understand the terms of disaster. In addition to their activeness in filling out the crossword puzzle game, they practiced working together with their friends to complete the game. This represents that disaster risk can be minimized through active cooperation among the community. Keywords: literacy, disaster communication, traditional games
Communication and culture: Exploring the impact of modernization and social change in Subulussalam city through Dampeng dance Fathayatul Husna; Siti Derhana; Ainal Fitri; Lilis Sariyanti; Futri Syam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42536

Abstract

This article examines the traditional art of Dampeng Dance in Subulussalam City. Dampeng Dance is one of the distinctive traditional art forms of Subulussam, carrying deep social and cultural significance for the local community. Over time, the Dampeng Dance has undergone several transformations, including changes in the composition of dancers, performance duration, and customsThe purpose of this study is to find out how does the presence of the Dampeng dance bring about social change and communication within the community of Subulussalam city through modernization? This is inseparable from the influence of internal and external factors of the dance. This research uses the theory of social change by Soekanto, which is based on two factors: external and internal. The research employs a qualitative method with a descriptive-qualitative approach. Informants were selected through purposive sampling, focusing on individuals with substantial knowledge and understanding of Dampeng Dance tradition in Subulussalam. Data were collected through interviews, observations, and documentations, then analyzed using Reflexive Thematic Analysis. The results of this study are predominantly influenced by internal factors, such as demographic growth, the emergence of new cultural innovations, and internal social conflicts. Meanwhile, external factors such as physical environmental conditions and warfare had little impact, although cross-cultural interactions significantly influence the dance’s style and presentation. These transformations also reflect broader social changes within the community, including of Dampeng Dance is not merely an aesthetic adaptation to modernity but a representation of the complex processes of social change in the life of Subulussalam society.   Artikel ini mengkaji terkait seni tradisional Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Tari Dampeng merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Kota Subulussan yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi bagi masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Tari Dampeng telah mengalami beberapa transformasi, termasuk perubahan komposisi penari, durasi pertunjukan, dan adat istiadat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehadiran Tari Dampeng membawa perubahan sosial dan komunikasi dalam masyarakat Kota Subulussalam melalui modernisasi? Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor internal dan eksternal tarian tersebut. Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial Soekanto, yang didasarkan pada dua faktor: eksternal dan internal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu dengan cara menentukan informan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih terkait Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Sedangkan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, serta dilakukan analisis data dengan menggunakan Reflexive Thematic Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Tari Dampeng lebih dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi pertumbuhan penduduk demografis, munculnya inovasi budaya baru, serta konflik sosial internal. Sementara itu, faktor eksternal berupa kondisi lingkungan fisik dan peperangan tidak memiliki dampak yang berarti, meskipun interaksi budaya lain terbukti memberikan pengaruh kuat terhadap gaya dan bentuk penyajian tari. Transformasi ini turut membawa perubahan sosial dalam masyarakat, seperti pergeseran pola pikir, perilaku dan budaya material. Dengan demikian, perubahan Tari Dampeng bukan sekedar adaptasi estetik terhadap modernitas, melainkan juga representasi dari proses perubahan sosial yang kompleks dalam kehidupan masyarakat Subulussam.