Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PETROLOGI DAN PETROGRAFI SATUAN BREKSI VULKANIK DAN SATUAN TUF KASAR PADA FORMASI JAMPANG, DAERAH CIMANGGU DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT Verdiana, Puteri Rasdita M.; Yuniardi, Yuyun; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 3 (2014): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.627 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v12i3.8378

Abstract

The research area is located at Cimanggu Region, Langkaplancar and Pamarican Subdistrict, Ciamis, Tasikmalaya, and Pangandaran District, West Java Province. Geographically, research area located at coordinate 07o27’35,7768” to 07o32’35,7768” South Latitude and 108 o23’,482” to 108 o28’1,4844” East Longitude. Broad of research area is + 100 km2. According to unofficial lithostratiraphy, research area divided into five unit, that is Volcanic Breccia Unit, Coarse Tuff Unit, Carbonateous Sandstone Unit, Tuffaceous Sandstone, and Fine Tuff Unit.Petrology and petrography analysis of Volcanic Breccia Unit and Coarse Tuff Unit (Jampang Formation) are based on megascopic description of hand specimen sample and microscopic description of thin section. Volcanic Breccia Unit consist of volcanic breccia that composed by porphyry andecite-porphyry basalt clast with trachitic texture and crystal tuff as matrix, also porphyry andecite lava with trachitic texture and altered because secondary minerals (chlorite and secondary quartz) was identified at thin section. Coarse Tuff Unit consist of interbedding coarse tuff and fine tuff, but coarse tuff was dominant. Based on petrography analysis, coarse tuff is crystal tuff that composed by volcanic glass as matrix, and quartz and plagioclase as mineral fragment.
ANALISIS KELURUSAN DAN SURVEY GEOMAGNETIK DARAT UNTUK INVESTIGASI PENYEBARAN MINERAL STUDI KASUS: PROSPEK SINGGAHAN, TRENGGALEK, JAWA TIMUR Iswara, I Gusti Agung Bagus Adinatha; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.31222

Abstract

Daerah penelitian terletak pada wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur yang terdapat pada Zona Pegunungan Selatan yang telah mengalami fase pengangkatan. Penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara analisis kelurusan dan survey geofisika geomagnetik dan aplikasinya terhadap indikasi sebaran mineralisasi.. Penelitian dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis dan aplikasi pengolahan citra untuk mengidentifikasi kelurusan secara otomatis, di lanjutkan dengan menggambarkan densitas kelurusan yang kemudian dihubungkan dengan kondisi anomali dari survey geomagnetik yang telah dilakukan koreksi diurnal dan IGRF pada daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, anomali geomagnet dan densitas kelurusan memiliki keseragaman walaupun terdapat sedikit perbedaan pada lokasi namun dapat digambarkan sebagai arah dari sebaran strukturnya dibawah permukaan. Anomali dan densitas tinggi tersebut di interpretasikan sebagai prospek terendapkannya mineralisasi.
DEPOSITIONAL ENVINRONMENT AND PALEOCURRENT THE MIDDLE OF WARUKIN FORMATION BASED ON SEISMIC AND WELL LOG DATA IN NORTH-EAST PART BARITO BASIN, SOUTH KALIMANTAN Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Mohammad, Febriwan; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.31550

Abstract

Explorations in the Barito basin has started nearly 100 years and was marked by the discoveryof the Tanjung Field in 1938 (Maso at all 1993). The middle of Warukin Formation is one of thereservoir formation in the Barito basin of North-Northeast. Barito Basin is located betweenSundaland in the west and Meratus in the east (Satyana, Awang.1994). An understanding of thedepositional environment and paleo-current will be very useful for the exploration and fielddevelopment optimization of oil and gas. The data used in this researcher seismic 3D data and well data. From the existing data createdseismic facies maps and correlation maps well with the markers used datum is the Top FormationMiddle Warukin. Downlap termination pattern found on the seismic line 75H - 37 at the lower limit indicates thetime of formation of this facies occur sea level rise. Configuring the parallel reflection pattern -subparallel and divergent indicate the depositional environment is shelf / platform or deltaplatform (Serra, O, 1990). Coarsening upward to fining upward pattern relatively evolved fromwireline log analysis, in which a pattern is formed on the shore face transgressive delta thenserrated pattern formed in the shelf. Based on the seismic data and log data as well as supportingdata from the regional geology of the Barito Basin, it can be interpreted that the study area isformed on the delta depositional environment - shelf. Paleo-current study area can be determined based on seismic facies maps and regionalconditions Barito Basin. Of seismic facies maps can be interpreted Paleo-current direction isrelative to the south - west with relative sediment supply from the north - east.
IDENTIFIKASI PROSPEK ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DI KECAMATAN CILAKU, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT ilmi, irpan; Taufan, Yoqi Ali; Denis, Mutebi; Nur, Andi Agus; Syafri, Ildrem
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.827 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i3.19927

Abstract

Survei geolistrik ini dilakukan untuk mengetahui sebaran batuan andesit dan perlapisan pasir yang terdapat dibawah permukaan (di dalam bumi). Batuan tersebut memiliki nilai tahanan jenis kelistrikan (resistivitas) yang berbeda antara material-material lainnya dengan memanfaatkan sifat kelistrikan batuan untuk memetakan kondisi geologi di bawah permukaan. Kegiatan survei 2D geolistrik dilakukan selama 4 hari, yaitu dari 14-17 November 2017, di Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pengukuran geolistrik ini dilakukan dengan menggunakan metoda resistivity konfigurasi Wenner dua dimensi, seta penyelidikan dilakukan sebanyak 21 lintasan pengukuran berarah Utara – Selatan, titik elektroda 0 berawal di utara dan titik elektroda 48 di selatan. Dari hasil pengukuran dan pengolahan data lapangan dapat dibuat model 2D penampang geolistrik untuk setiap lintasan, peta anomali lateran kedalam, dan 3D gabungan dari seluruh lintasan. Anomali sebaran di daerah penyelidikan dapat di bagi dalam beberapa kelompok anomali yaitu : 1. Anomali rendah, dengan kisaran nilai resistivitas 0 Ωm - 30 Ωm yang -menyebar pada kedalaman 0 – 10 m. Anomali ini di tandai dengan warna biru, di duga lapisan zona akuifer pasir terisi air. 2. Anomali sedang, dengan kisaran nilai resistivitas 30 Ωm - 90 Ωm. Anomali yang diduga lapisan pasir, lempung dan anomali ini juga dapat berupa pasir lempungan dengan banyak konkresi yang bersifat gampingan. Pada kedalaman 40-50 m lapisan ini terdapat menyebar di utara daerah penyelidikan. 3. Anomali tinggi dan sangat tinggi, dengan kisaran anomali lebih dari 100 Ωm. Anomali ini terdapat di tenggara daerah penyelidikan. Anomali ini ditandakan warna merah yang merupakan daerah paling menarik untuk untuk dijadikan prospek.Kata kunci : Geolistrik, Andesit, Cilaku, Resistivitas, Model 2D
POTENSI AKUIFER KAMPUS ARJASARI BERDASARKAN PENGAMATAN NILAI TAHAN JENIS BATUAN Mohamad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.285 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i2.13383

Abstract

ABSTRACTGeoelectric measurement was done in order to obtain the presence, depth, thickness, quantity and distribution of aquifers in the study area. Geoelectric was done by applying 1-D Schlumberger configuration (DC sounding). Rock layer with a resistivity value ranges <20 μm indicates rocks with low resistance values, dominates the surface until 50 meters depth with varying thickness. This layer lithology thought to be composed of weathered soil, fine tuff and lapilli tuff. This layer is assumed to act as aquiclude, porous media that can store water but acts as barrier to the flow of groundwater. This lithology group can be filled by water during the rainy season, but in dry season contain very small amount of water. Rock layer with resistivity value ranges between 20 μm - 60 μm interpreted as coarse tuff intercalating with fine tuff, founded at 75 meters depths below the surface. Rock layers with high resistance values (> 60 μm), founded more than 75 meters in the north area, assumed to be volcanic breccia with tuff as matrix, and have small potential to act as aquifer. Keyword: Geoelectric, Schlumberger, Aquifer, Resistivity ABSTRAKPengukuran geolistrik yang dilakukan dalam upaya untuk mendapatkan kehadiran, kedalaman, ketebalan, jumlah dan penyebaran akuifer. Hasil  pengukuran geolistrik (Sounding) dengan konfigurasi Schlumberger Kelompok batuan dengan nilai tahanan jenis berkisar antara  <20 Wm yang mengindikasikan batuan dengan nilai tahanan jenis rendah mendominasi permukaan hingga kedalaman 50 meter dengan ketebalan bervariasi. Lapisan ini diduga memiliki litologi penyusun terdiri atas tanah lapukan, tuf halus dan tuf lapili. Lapisan ini diduga berperan sebagai akiklud, yaitu media berpori yang dapat menyimpan air tetapi tidak dapat mengalirkan airtanah yang dapat terisi oleh air pada musim hujan, namun pada musim kering tidak mengandung air. Lapisan batuan dengan nilai tahanan jenis antara 20 Wm - 60 Wm  diinterpretasi litologi tuf kasar berselingan dengan tuf halus, berada pada kedalaman mulai 75 meter di bawah permukaan. Lapisan batuan dengan nilai tahanan jenis tinggi (>60 Wm), mulai di kedalaman lebih dari 75 meter di bagian utara diperkirakan breksi vulkanik dengan matriks berupa tuf, dan memiliki potensi kecil sebagai akuifer. Kata Kunci: Geolistrik, Schlumberger, Akifer, Resistivitas
ANALISA TANAH LUNAK MENGGUNAKAN METODE STANDAR PENETRATION TEST DAN GROUND PENETRATION RADAR Adsura, Softy Putri; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.30921

Abstract

Berkembangnya teknologi pada saat ini lebih memudahkan dalam identifikasi lapisan permukaan maupun bawah permukaan yang mana dapat dilakukan dengan penggalian ataupun dengan memanfaatkan radar. Untuk mengetahui karakteristik dan persebaran litologi dapat dilakukan analisa dengan pengambilan data secara vertikal maupun horizontal. Pengambilan data secara vertikal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Standar Penetration Test (SPT) sedangkan untuk pengambilan data secara horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR). Ground Penetrating Radar (GPR) atau georadar adalah salah satu alat yang digunakan untuk mendeteksi benda yang terkubur dibawah permukaan dengan memanfaatkan gelombang radio. Pembangunan gedung atau penyelidikan tanah dalam suatu proyek perlu dilakukan analisa secara cepat, tepat, dan efisien sehingga dalam pembangunannya akan berjalan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pengambilan data ini dilakukan di lapangan maupun dilaboratorium untuk mengetahui keselarasan antara kedua metode yang digunakan. Analisa ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui kondisi lapisan bawah permukaan baik secara horizontal maupun secara vertikal secara tepat. Selain itu, analisa ini juga dapat dijadikan acuhan untuk mengurangi resiko yang mungkin terjadi karena dengan analisa ini dapat menentukan tipe tanah dan daya dukung tanah. Adapun hasil analisa daerah telitian menunjukkan daerah telitian tersusun oleh litologi dominan berupa lempung pada kedalaman 0 hingga kurang lebih 16 meter, pada 16 dan seterusnya ditemukan batupasir dengan sifat yang padat, semakin dalam analisa dilakukan semakin kompak batuan yang ditemukan .Kata kunci : Ground Penetrating Radar, Georadar, Standar Penetration Test, Geologi teknik
Determinasi Karakteristik Reservoir Formasi Talang Akar Berdasarkan Data Well Log dan Seismik Sub-Cekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatera Selatan Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Mohammad, Febriwan; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Mutaqin, Deden Zaenudin
Bulletin of Scientific Contribution Vol 20, No 3 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v20i3.44360

Abstract

Penentuan Karakteristik reservoir merupakan suatu upaya untuk mengetahui kualitas reservoir dari suatu tubuh batuan dalam perkiraan prospek atau tidaknya lapisan reservoir tersebut. Penelitian ini dilakukan pada formasi Talang Akar yang masuk kedalam Sub-Cekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatera Selatan, dengan menggunakan data well, data seismik, data SWC dan data Mudlog. Formasi talang akar menunjukan lingkungan delta plain dimana zona reservoirnya yang merupakan bagian bawah dari formasi tersebut termasuk dalam lingkungan fluvial. Pada klasifikasi parasekuen formasi talang akar terdapat siklus regresi-transgresi yang membentuk pola pengendapan progradasi dan retrogradasidalam skala kecil dengan rincian Sumur X1, X2, dan X3 terdapat 4 parasekuen, sedangkan sumur X4 dan X5 berjumlah 5 parasekuen, secara kuantitatif, nilai-nilai perhitungan petrofisika menunjukan bahwa pada zona hidrokarbon mempunyai Sw berkisar 8-46%, porositas 13-30%, sedangkan zona air memiliki Sw 65-100 %, dan porositas 8-25%. Berdasarkan peta kontur struktur dan peta net san top zona C3, ke lima lapisan batupasirnya pada tiap sumur terletak pada antiklin, dimana arah pengendapan yang relative berarah Timur Laut – BaratDaya. Berdasarkan paparan diatas, pada langkah eksplorasinya telah ditentukan bahwa zona reservoir yang ekonomis pada daerah penelitian terdapat pada zona C3 sumur X5. Katakuci : Batupasir, Formasi Talang Akar, Parasekuen, Petrofisika, Prospek, Reservoir.
DELINIATION OF SHALLOW GAS ZONE POTENTIAL USING SUBSURFACE DATA APPROACH IN ‘X’ FIELD KUTAI BASIN Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kuniawan; Mohammad, Febriwan; Natasia, Nanda; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.65622

Abstract

The presence of shallow gas (Shallow Gas) in exploration wells poses significant operational risks, including kicks or blowouts during exploration activities. To mitigate these risks, it is essential to delineate subsurface data and identify areas potentially containing shallow gas. Subsurface interpretation was conducted using various datasets, including electrolysis cutting analysis, well log data (GR, RT, NEU, RHOB) from 39 wells, and gas data obtained from chromatograph-based mud logs. Well correlation was performed to identify anomalies, gas presence, and facies characteristics.The primary stratigraphic marker surfaces indicative of shallow intervals in Field X are, from deeper to shallower, MF2, Fs-s1, s2-Fs, Fs-s3, Fs-s4, Fs-s5, and Fs-s6, with the shallow gas accumulation predominantly observed within the intervals associated with Fs-s2 and Fs-s3, at depths ranging from approximately 950 to 1300 meters below sea level (MSS). These intervals demonstrate isolated gas accumulations, primarily comprising methane (C1), with minor traces of C2, C3, C4, and C5 gases detected in the shallow zone above the marker MF2.Gas analysis indicates a surge in total gas content within the 950-1300 MSS interval, correlating with anomalies identified from the Master Log data. This surge is attributed to limestone and coal layers, as corroborated by gas bearing reservoir mapping.Based on the analyzed data, it can be concluded that shallow gas accumulations are localized within the 950-1300 MSS interval, specifically between the Fs-s2 and Fs-s3 markers. For subsequent drilling activities on Platform M, it is recommended to monitor and consider this depth zone to mitigate related risks effectively.