Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pemberdayaan Kader Kesehatan dalam Upaya Menurunkan Stres pada Wanita Menopause melalui Metode Teknik Relaksasi ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) di Desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang Sutiyarsih, Emy; Sakti, Ifa Pannya; P, Eli Lea Widhia
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i10.22005

Abstract

ABSTRAK Menopause merupakan proses peralihan dari masa produktif ke nonproduktif yang disebabkan penurunan hormon estrogen dan progesteron yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik dan psikologis yang dapat menimbulkan kecemasan bahkan stres. Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat “Pemberdayaan Kader Kesehatan Dalam Upaya Menurunkan Stres Pada Wanita Menopause Melalui Metode Teknik Relaksasi ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response)” dilaksanakan di Desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Di Desa Gunungronggo terdapat lima posyandu dikelola oleh 45 kader dua tenaga kesehatan penanggungjawab desa. Permasalahan yang dihadapi para kader adalah belum berkembangnya pengetahuan kader kesehatan tentang konsep menopause dan cara mengatasi stres karena perubahan yang terjadi pada wanita menopause. Kegiatan untuk mengatasi permasalahan terutama stres tersebut, pengabdi mengadakan kegiatan pelatihan kader kesehatan tentang upaya menurunkan stres pada wanita menopause melalui metode teknik relaksasi ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). Tujuan dari PkM ini adalah meningkatkan kemampuan kader kesehatan dalam upaya menurunkan stres pada wanita menopause melalui metode teknik relaksasi ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). Kegiatan dilaksanakan selama 3 kali pertemuan tanggal 01 – 03 Juli 2025. Hasil evaluasi rerata pengetahuan peserta tentang konsep menopause dan cara mengatasi stres karena perubahan yang terjadi pada wanita menopause didapatkan hasil rerata sebesar 53 dan postest  75 dan hasil rerata postest demonstrasi teknik relaksasi ASMR nilai Baik yaitu 81. Diharapkan kader kesehatan dapat membagikan informasi kepada para wanita menopause atau keluarganya  dengan tetap dalam pengawasan  tenaga kesehatan penanggungjawab wilayah.  Kata Kunci: Menopause, Stres, ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response)ABSTRACT Menopause is a transition process from a productive to a non-productive period caused by a decrease in the hormones estrogen and progesterone, which causes physical and psychological changes that can cause anxiety and even stress. The Community Partnership Program activity "Empowering Health Cadres in Efforts to Reduce Stress in Menopausal Women Through the ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) Relaxation Technique Method” was carried out in Gunungronggo Village, Tajinan District, Malang Regency. In Gunungronggo Village, there are five integrated health posts managed by 45 cadres, two health workers in charge of the village. The problem faced by the cadres is the lack of development of health cadres' knowledge about the concept of menopause and how to overcome stress due to changes that occur in menopausal women. Activities to overcome problems, especially stress, the community service provider held a health cadre training activity it aims to reduce stress in menopausal women through the ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) relaxation technique method. The purpose of this community dedication is to improve the ability of health cadres in efforts to reduce stress in menopausal women through the ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response) relaxation technique method. The activity was carried out for 3 meetings on July 1 to 3, 2025. The results of the evaluation of the average knowledge of participants about the concept of menopause and how to overcome stress due to changes that occur in menopausal women menopause obtained an average result of 53 and a post-test of 75 and the average result of the post-test demonstration of the ASMR relaxation technique was good, namely 81. It hoped that health cadres can share information with menopausal women or their families while remaining under the supervision of the health workers responsible for the area. Keywords: Menopause, Stress, ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response)
The Relationship Between Nursing Agency and Self Care Behavior In Hypertensive Elderly Sakti, Ifa Pannya; Luhung, Monika
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 12, No 3 (2024): EDITION NOVEMBER 2024
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v12i3.6084

Abstract

Nurses as nursing agencies play a crucial role in efforts to control blood pressure, especially in elderly, through educational programs that promote self-care behavior and healthy lifestyle changes. The aim of this study is to analyze the relationship between nursing agencies and self-care behavior in elderly with hypertension in the Prolanis Group of Tajinan Health Center, Malang Regency. This research uses quantitative, retrospective and cohort design. The study population consist of all elderly suffering from hypertension who are members of the Prolanis group at Tajinan Community Health Center, Malang Regency, totaling 142 people. A purposive sampling technique was employed, with inclusion criteria of elderly people aged over 60, having suffered from hypertension for 1 year, receiving pharmacological therapy for hypertension from the Tajinan Community Health Center, regularly participating in Prolanis activities for the past 3 months, and demonstrating effective communication abilities. To assess the perception of nursing agency, the study uses the Patient Satisfaction with Nursing Care (PSNC) questionnaire. Self-care behavior assessment are measured using the Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HMSBQ). The final sample was 60 elders, with data collection conducted between May and June 2024. Data analysis was performed using simple linear regression with SPSS. The results indicate a significant relationship between nursing agencies and self-care behavior in elderly with hypertension (p value = 0.000 0.05). The finding suggest that the role of nursing agencies is very influences on self-care behavior in elder with hypertension, indicating that elderly people have high level of trust in the health information provided by nurses. 
Pemberdayaan lansia penderita hipertensi dalam pengaturan diet rendah garam menggunakan DASH (Dietary Approach To Stop Hypertension) di puskesmas Tajinan kabupaten Malang Sakti, Ifa Pannya; Luhung, Monika
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25193

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana meningkatnya darah sistolik berada diatas batas normal yaitu lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Asupan garam yang tinggi dapat dikaitkan dengan risiko hipertensi dan membatasi asupan garam telah diusulkan untuk menjadi metode pencegahan hipertensi. Tujuan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang diet rendah garam menggunakan DASH (Dietary  Approach  to Stop Hypertension) dan meningkatkan kemampuan lansia dalam pemilihan bahan pengganti garam di kelompok Prolanis Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang. Metode pelaksanaan kegiatan PkM pada waktu materi adalah dalam bentuk ceramah dan Focus Group Discussion, dilanjutkan dengan demonstrasi tentang pemilihan bahan pengganti garam. Kegiatan PkM telah dilaksanakan pada tanggal 20 – 22 Mei 2024 bertempat di aula Puskesmas Tajinan dengan jumlah peserta adalah 25 lansia penderita hipertensi. Pengukuran tingkat pengetahuan lansia melalui pengisian kuesioner pre-test dan post-test oleh lansia, sedangkan pengukuran kemampuan lansia melalui penilaian observasi kegiatan redemonstrasi lansia dalam memilih bahan pengganti garam yang telah disiapkan oleh tim pengabdi. Hasil nilai rata-rata pre-test 56,95 dan pos-test 83,64, hasil penilaian redemostrasi 100% lansia mampu melakukan pemilihan bahan pengganti garam. Peningkatan nilai rata-rata pre-test ke post-test menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat bagi para peserta. Oleh sebab itu pemberian edukasi kesehatan kepada para lansia penderita Hipertensi dan keluarganya perlu untuk dilaksanakan secara berkala, agar tekanan darah para lansia penderita Hipertensi dapat terkontrol dengan baik. Kata kunci: DASH; diet rendah garam; hipertensi; lansia. Abstract Hypertension is a condition where the increase in systolic blood pressure is above the normal limit, namely more than 140 mmHg and diastolic blood pressure is more than 90 mmHg. High salt intake may be associated with the risk of hypertension and limiting salt intake has been proposed to be a method of preventing hypertension. The aim of this community service activity is to increase the elderly's knowledge about a low salt diet using DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) and increase the ability of the elderly in selecting salt substitutes in the Prolanis group at the Tajinan Health Center, Malang Regency. The method for implementing community service activities during the material is in the form of lectures and Focus Group Discussions, followed by a demonstration on selecting salt substitute materials. Community service activities were carried out on 20 – 22 May 2024 at the Tajinan Community Health Center hall with the number of participants being 25 elderly people with hypertension. Measuring the level of knowledge of the elderly through filling out pre-test and post-test questionnaires by the elderly, while measuring the ability of the elderly through assessing the observation of elderly demonstration activities in selecting salt substitutes that have been prepared by the service team. The average pre-test score was 56.95 and post-test 83.64, the results of the redemostration assessment were 100% of the elderly were able to choose salt substitutes. The increase in the average score from pre-test to post-test shows that this activity provides benefits for the participants. Therefore, providing health education to elderly people suffering from hypertension and their families needs to be carried out regularly, so that the blood pressure of elderly people suffering from hypertension can be well controlled. Keywords: DASH; elderly; hypertension; low salt diet.
Pemberdayaan kader posyandu dalam meningkatkan peran family caregiver terhadap pemenuhan kebutuhan lansia Sakti, Ifa Pannya; Handini, Febrina Secsaria
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21745

Abstract

Abstrak Kondisi pada lansia menyebabkan peningkatan kebutuhan pendampingan untuk menjalankan aktivitas harian. Pendampingan dapat dilakukan oleh anggota keluarga yang tinggal serumah maupun yang tidak tinggal serumah dengan lansia atau yang lebih dikenal dengan family caregiver. Jumlah lansia yang tinggal dengan family caregiver di RW 1 Kelurahan Sukoharjo Kota Malang sebanyak 88 lansia. Jumlah Kader posyandu lansia RW 1 Kelurahan Sukoharjo adalah 18 orang.  Kegiatan PkM dilakukan di Balai RW 01 Kelurahan Sukoharjo Kota Malang. Kegiatan PkM dilaksanakan selama tiga kali pertemuan pada tanggal 4 – 6 Desember 2023.  Kegiatan PkM yang dilaksanakan adalah edukasi konsep peran family caregiver, pemenuhan kebutuhan dasar pada lansia, dan simulasi cara membersihkan genetalia pada lansia. Kehadiran peserta pada hari ke-1 dan ke-3 sebanyak 18 orang (100%), sedangkan hari ke-2 sebanyak 17 orang (94,44%). Nilai rata-rata pre-test 68,33 dan post-test 85, terdapat peningkatan kognitif sebesar 19,61%. Pada penilaian observasi simulasi cara membersihkan genetalia setelah BAK dan BAB para kader didapatkan nilai rata-rata 92. Berdasarkan hasil evaluasi dapat diartikan kegiatan PkM telah memberikan dampak positif secara signifikan kepada kader. Oleh sebab itu perlu dilakukannya pemberian edukasi kesehatan kepada para kader secara berkala agar para kader dapat memberikan informasi yang benar juga kepada para family caregiver di wilayahnya. Kata kunci: kader; family caregiver; kebutuhan dasar; lansia. Abstract Conditions in the elderly cause an increase in the need for assistance to carry out daily activities. Accompaniment can be provided by family members who live at home or who do not live at home with the elderly better known as family caregivers. The number of elderly people living with family caregivers in RW 1, Sukoharjo Village, Malang City is 88 elderly people. The number of elderly posyandu cadres in RW 1 Sukoharjo Village is 18 people. PkM activities were carried out at RW 01 Hall, Sukoharjo Village, Malang City. PkM activities were carried out over three meetings on 4 - 6 December 2023. PkM activities carried out were education on the concept of the role of the family caregiver, fulfilling basic needs for the elderly, and simulating how to clean the genitalia of the elderly. The attendance of participants on days 1 and 3 was 18 people (100%), while on day 2 there were 17 people (94.44%). The average pre-test score was 68.33 and post-test 85, there was a cognitive increase of 19.61%. In the simulation observation assessment of how to clean the genitalia after urinating and defecating, the cadres obtained an average score of 92. Based on the evaluation results, it can be interpreted that PkM activities have had a significant positive impact on the cadres. Therefore, it is necessary to provide health education to cadres regular basis so that cadres can provide correct information to family caregivers in their area. Keywords: cadres; family caregivers; basic needs; elderly.
Positive correlation of Hypertension and Cognitive Function of Elderly Nanik Dwi Astutik; Felisitas A Sri S; Ifa Pannya Sakti
Journal of Ners and Midwifery Vol 9 No 3 (2022)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v9i3.ART.p311-320

Abstract

Biological changes in the elderly are one of the triggers for the emergence of hypertension which can cause changes in cognitive function. The purpose was to analyze the correlation between hypertension and cognitive function in the elderly. The design was correlation descriptive research design with the cross-sectional approach. The sampling technique was purposive sampling, the number of samples of respondents was 56 people. The research was conducted at Integrated Healthcare Center Elderly, Malang City. The instrument used to while the cognitive function in the elderly uses the MMSE. Analysis used the Spearman rank test with an alpha value of 0.05 (95% CI). The results showed that there was a significant correlation between hypertension and cognitive function in the elderly (r=0.532 and p=0.000). The direction of the correlation is positive, meaning that the more severe hypertension suffered by the elderly, the more severe they will tend to experience more severe cognitive function impairments. Based on the results of this study, it is recommended for people with hypertension do blood pressure screening and undergo hypertension treatment regularly. This is very important so that prevention and treatment can be carried out earlier to prevent more severe cognitive impairment.
Analisa Tingkat Kepuasan Pasien Tentang Pelayanan Kesehatan Lansia Sakti, Ifa Pannya; Handini, Febrina Secsaria; Sulartri, Anastasia Sri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 21, No 2 (2025): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v21i2.1847

Abstract

pasien lansia merupakan indikator utama dalam menilai mutu pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pasien lansia terhadap pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Tajinan, Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Tajinan, menggunakan teknik sampling accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangibles, empathy, reliability, responsiveness, dan assurance. Proses pengumpulan data dilaksanakan pada 7 – 12 Juli 2025 dengan jumlah responden yang didapat sebanyak 97 lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi tangibles, mayoritas responden merasa puas (78,4%). Pada dimensi tangibles sebesar 78,4%, empathy sebesar 75,3%, reliability sebesar 85,6%, responsiveness sebesar 75,4%, dan assurance sebesar 76,3% lansia menyatakan puas terhadap pelayanan yang diterima. Secara umum, tingkat kepuasan lansia berada pada kategori tinggi, yaitu sebanyak 83,5% responden merasa puas, dan 12,4% merasa sangat puas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Tajinan sudah berjalan dengan cukup baik, namun tetap perlu dilakukan evaluasi dan peningkatan berkelanjutan terutama pada dimensi dengan skor terendah. Pada penelitian ini untuk memperoleh gambaran umum mengenai persepsi dan penilaian lansia terhadap mutu pelayanan yang mereka terima. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi pihak puskesmas dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan lansia ke depan. 
Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia Wildiana Fajariyah, Bekki; Vinsur, Elizabeth Yun Yun; Prihanto, Yafet Pradikatama; Sakti, Ifa Pannya
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.649

Abstract

Lansia beresiko tinggi mengalami Indeks Massa Tubuh (IMT) abnormal, yang umumnya disebabkan oleh penurunan aktivitas fisik mereka. Kondisi ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak, khususnya di area perut dan pinggul, berdampak negatif Gangguan keseimbangan dan kekuatan sendi meningkatkan risiko jatuh pada lansia; penelitian ini menganalisis hubungan IMT dan risiko jatuh di Desa Sempal Wadak dengan pendekatan kuantitatif korelasional cross-sectional pada lansia prolanis, dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut: (1) usia 60 tahun atau lebih, (2) peserta prolanis aktif, (3) bersedia menjadi responden secara sukarela, dan (4) mampu berkomunikasi secara verbal. Kriteria eksklusi meliputi: (1) kondisi akut yang memerlukan rawat inap, (2) gangguan kognitif berat (skor MMSE kurang dari 18), dan (3) data pengukuran tidak lengkap. Dengan menggunakan rumus Slovin, diperoleh 94 responden. Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Morse Fall Scale digunakan untuk menilai risiko jatuh di lansia. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,000 dan koefisien korelasi Spearman 0,000 (karena 0,000 < 0,05), menunjukkan adanya hubungan signifikan antara IMT dan risiko jatuh. Koefisien korelasi adalah 0,467, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi IMT seseorang, semakin besar risiko jatuh. Hal ini disebabkan oleh Kelebihan berat badan dan penurunan kekuatan otot mengganggu keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh. Lansia perlu lebih memperhatikan gaya hidup mereka, khususnya terkait asupan nutrisi dan aktivitas fisik
Pemberdayaan kader posyandu lansia dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dengan terapi modalitas berkebun Ellia Ariesti; Ifa Pannya Sakti; Anastasia Sri Sulartri; Eli Lea Widhia Purwandhani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29232

Abstract

Abstrak Pada lanjut usia terjadi penurunan kebugaran dan kesegaran jasmani, salah satu penyebabnya adalah kurangnya melakukan aktivitas fisik. Salah satu cara untuk mengoptimalkan fungsi kognitif lansia adalah dengan menggunakan terapi modalitas. Peningkatan kualitas hidup dilakukan melalui pemberdayaan potensi mereka dalam aktivitas sehari-hari, memperoleh dukungan dari berbagai pihak dalam pemberian layanan perawatan yang komprehensif, dan memberikan kebahagiaan untuk meningkatkan kualitas hidup. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari pihak Puskesmas Tajinan bahwa selama ini di Desa Gunungronggo belum ada pelatihan tentang terapi modalitas berkebun untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan kader posyandu lansia dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dengan terapi modalitas berkebun. Tujuan dari kegiatan PkM ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader posyandu lansia dalam menerapkan terapi modalitas berkebun untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan dengan diberikan tes sebanyak 10 pertanyaan kepada peserta untuk menilai kemampuan kognitif para peserta. Hasil yang didapat Pengetahuan kader lansia tentang cara meningkatkan kualitas hidup lansia didapatkan nilai rerata dari pre-test dari 14 peserta yang hadir pengetahuan responden pada kategori baik dengan nilai 81,43. Hasil post-test yang dilaksanakan pada pertemuan terakhir, nilai rata-rata dari post-test pada 14 peserta yang hadir, pengetahuan responden pada kategori baik dengan nilai 86,43. Kemampuan kader posyandu lansia dalam menerapkan terapi modalitas berkebun untuk meningkatkan kualitas hidup lansia didapatkan hasil nilai rata-rata kategori sangat baik dengan nilai 84,14. Hal ini menunjukkan pengetahuan kader posyandu lansia mengalami peningkatan sebesar 5%. Kata kunci: terapi modalitas; berkebun; kualitas hidup; kader lansia. Abstract At In the elderly there is a decrease in fitness and physical fitness, one of the causes is the lack of physical activity. cause is the lack of physical activity. One way to optimize cognitive function of the elderly is by using modality therapy. modality therapy. Improving the quality of life is done through empowering their potential in daily activities, obtaining support from support from various parties in providing comprehensive care services, and providing happiness to improve quality of life. providing happiness to improve quality of life. Based on information obtained from the Tajinan Community Health Center that there has been no training in Gunungronggo Village. about gardening modality therapy to improve quality of life of the elderly. The solution to the problem is the implementation of community service activities to increase knowledge and empowerment of elderly posyandu cadres in improving the quality of life of the elderly with gardening modality therapy. The purpose of this this PkM activity is to increase the knowledge and ability of posyandu cadres for the elderly in applying modality therapy gardening modality therapy to improve quality of life of the elderly. Evaluation was carried out before and after activity by giving a test of 10 questions to participants to assess the cognitive abilities of the participants. assess the cognitive abilities of the participants. Results The results obtained Knowledge of elderly cadres about how to improve the quality of life the elderly obtained a value of average value of the pre-test of 14 participants who attended the respondent's knowledge in the good category with a value of 81.43. The ability of elderly posyandu cadres to applygardening modality therapy to improve the quality of life of the elderly, the average value of the category is very good with a score of value of 84.14. This shows that the knowledge of elderly posyandu cadres has increased by 5%. Keywords: modality therapy; gardening; quality of life; elderly cadre
Pemberdayaan kader kesehatan: pelatihan strategi manajemen perilaku pengasuhan anak Ati, Maria Prieska Putri Panglipur; Sakti, Ifa Pannya
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.37944

Abstract

Abstrak Kader kesehatan memiliki 5 sasaran keterampilan, salah satunya adalah bayi dan balita. Keterampilan tersebut berfokus untuk menjamin kesehatan fisik bayi dan balita. Serta stimulasi perkembangannya sesuai dengan usia. Pencapaian tugas perkembangan sesuai dengan usia anak merupakan kewajiban orangtua. Guna mencapai hal tersebut diperlukan manajemen perilaku yang tepat sehingga perlu peran kader kesehatan dalam menyampaikan strategi manajemen perilaku yang efektif. Kegiatan PkM ini dilaksanakan di Balai Desa Purwosekar pada 18-21 November 2025. Sasaran kegiatan PkM ini adalah kader kesehatan di Desa Purwosekar, Tajinan berjumlah 37 orang. Tujuan kegiatan PkM ini adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader kesehatan dalam menerapkan strategi manajemen perilaku dalam pengasuhan anak. Kegiatan yang dilakukan dalam PkM ini yaitu memberikan edukasi dan pelatihan, topik edukasi yang diberikan adalah konsep pola asuh anak dan manajemen perilaku dalam pengasuhan anak, sedangkan kegiatan pelatihan yang diberikan adalah penerapan strategi manajemen perilaku dalam pengasuhan anak. Metode pemberdayaan yang digunakan dalam kegiatan PkM ini adalah metode ceramah, diskusi dan simulasi. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata 3,8 (rentang 1-5) untuk penilaian pengetahuan pola asuh dan 4,4 (rentang 1-5) untuk penilaian pengetahuan manajemen perilaku, sedangkan untuk keterampilan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 56 menjadi 81. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan kader kesehatan dapat mendampingi orangtua anak untuk menerapkan strategi manajemen perilaku yang tepat. Kata kunci: anak; manajemen perilaku;  kader kesehatan;  pola asuh. Abstract Health cadres have five target skill areas, one of which focuses on infants and toddlers. These skills are aimed at ensuring the physical health of infants and toddlers as well as providing developmental stimulation appropriate to their age. Achieving age-appropriate developmental tasks is a fundamental responsibility of parents. To accomplish this, appropriate behavioral management is required; therefore, health cadres play an important role in delivering effective behavioral management strategies to caregivers. This community service activity was conducted at the Purwosekar Village Hall from 18 to 21 November 2025. The target participants were 37 health cadres from Purwosekar Village, Tajinan District. The objective of this community service program was to improve the knowledge and skills of health cadres in implementing behavioral management strategies in child-rearing practices. The activities carried out included education and training. The educational sessions covered topics on parenting concepts and behavioral management in child-rearing, while the training sessions focused on the practical application of behavioral management strategies in childcare. The empowerment methods employed in this program consisted of lectures, group discussions, and simulations. The results of this community service activity demonstrated an increase in knowledge, as indicated by an improvement in the mean score of 3.8 (range 1–5) for parenting knowledge and 4.4 (range 1–5) for behavioral management knowledge. In terms of skills, the mean score increased from 56 to 81. Through this community service activity, it is expected that health cadres will be able to assist parents in implementing appropriate behavioral management strategies in child-rearing. Keywords: children; behavioral management; health cadres; parenting practices.
Pemberdayaan Lansia dalam Penerapan Lima Pilar Diabetes Melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang Monika Luhung; Ifa Pannya Sakti; Eli Lea Widhia Purwandhani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i4.16286

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is one of the chronic diseases that can lead to serious complications across all age groups, including the elderly. Various efforts have been made to prevent complications, such as patients' adherence to the five pillars of diabetes mellitus. It is crucial for elderly individuals with diabetes mellitus to have good knowledge as it forms the basis for their thinking and actions. Therefore, empowering the elderly to have a good understanding of the five pillars of diabetes mellitus is necessary. This community service aims to enhance the elderly's understanding of the five pillars of diabetes mellitus. The method used in this community service is empowerment of the elderly through education on the five pillars of diabetes mellitus, utilizing leaflets and PowerPoint presentations. The participants are elderly individuals with diabetes mellitus residing in the Tajinan Malang Community Health Center's service area, who are already members of the prolanis program totaling 25 people. The service activities consist of: 1. Preparation Stage: Obtaining permits, preparing materials, and questionnaires. 2. Implementation Stage: Starting with a pre-test followed by education on diabetes mellitus and its five pillars. 3.Evaluation Stage: Assessing the elderly's understanding using a questionnaire with 10 questions. Each correct answer scores 1point, incorrect answers score 0 points. The average scores of the pre-test and post-test are calculated to measure the improvement in the elderly's knowledge before and after the education. The results obtained from this community service project are as follows: Pre-test results: Knowledge categorized as Fair (60-75%): 44% (11 individuals); Knowledge categorized as Poor (≤ 60%): 56% (14 individuals), Post-test results: Knowledge categorized as Good (76-100%): 32% (8 individuals); Knowledge categorized as Fair (60-75%): 64% (16 individuals); Knowledge categorized as Poor (≤ 60%): 4% (1 individual). The average pre-test knowledge score showed that 56% (14 individuals) had poor knowledge. This improved significantly in the post-test, where the average knowledge score categorized as Fair increased to 64% (16 individuals). Continuous support and guidance for the elderly by the Tajinan Community Health Center's health cadres is essential. Keywords: Empowerment, Elderly, Five Pillars of Diabetes Mellitus     ABSTRAK Diabetes melitus merupakan salah penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius pada semua tingkat usia termasuk lansia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah komplikasi seperti ketaatan penderita dalam melaksanakan prinsip lima pilar diabetes melitus. Penting bagi lansia pengidap diabetes melitus mempunya pengetahuan yang baik karena menjadi dasar seseorang dalam berfikir dan bertindak, sehingga diperlukan pemberdayaan lansia agar mempunyai pemahaman pengetahuan yang baik tentang lima pilar diabetes melitus. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman lansia tentang lima pilar diabetes melitus. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah pemberdayaan lansia melalui edukasi tentang lima pilar diabetes melitus, dengan menggunakan media leaflet dan power point. Peserta adalah lansia diabetes melitus yang tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Tajinan Malang dan sudah menjadi anggota prolanis yang berjumlah 25 orang. Kegiatan pengabdian terdiri dari: Tahap pertama: tahap persiapan: mengurus perijinan, menyiapkan media dan kuisioner. Tahap kedua: pelaksanaan diawali pre tes dilanjutkan edukasi tentang diabetes melitus dan lima pilar diabetes melitus. Tahap ketiga: melakukan evaluasi terhadap pemahaman lansia, evaluasi menggunakan kuisioner berisi 10 butir pertanyaan dan memberikan skor 1 jika jawaban benar, skor 0 jika jawaban salah bobot, selanjutknya dihitung rata-rata pre tes dan pos tes untuk melihat peningkatan pengetahuan lansia antara sebelum dan sesudah edukasi. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu: pre tes pengetahuan kategori Cukup dengan nilai 60-75 % adalah 44 %(11 orang), dan pengetahuan kategori Kurang dengan nilai ≤ 60 % adalah 56 % (14 orang). Hasil posttest pengetahuan kategori Baik dengan nilai 76-100 % adalah 32 % (8 orang), Pengetahuan kategori Cukup dengan nilai 60-75 % adalah 64 % (16 orang) dan Pengetahuan kategori Kurang dengan nilai ≤ 60 % adalah 4 % (1 orang). Rata-rata hasil pretest:pengetahuan responden pada kategori kurang 56 % (14 orang), menjadi meningkat dengan rata-rata hasil posttest: pengetahuan responden kategori Cukup 64 % (16 orang). Perlu dilakukan pendampingan lansia secara berkesinambungan dari kader Kesehatan Puskesmas Tajinan. Kata Kunci: Pemberdayaan, Lansia, Lima Pilar Diabetes Melitus