Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pengaruh Edukasi Mencintai Diri Sendiri terhadap Tingkat Kepercayaan Diri Mahasiswa di Universitas Yatsi Madani 2025 Ripqotun nissah; Ida Faridah; AYG Wibisono
Jurnal Jembatan Efektivitas Ilmu dan Akhlak Ahlussunah Wal Jama'ah Vol 6 No 2 (2025): Juni
Publisher : LPPM UNU CIREBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52188/jeas.v6i2.1386

Abstract

Self-confidence is a crucial psychological factor that supports academic, social, and emotional development among university students. Low self-confidence is often associated with anxiety, stress, and adjustment difficulties in higher education settings. Recently, educational approaches based on self-love have gained attention as effective strategies to enhance students’ self-confidence. The concept of self-love involves self-acceptance, appreciation of one’s own existence, and fostering a positive attitude towards oneself without reliance on external validation. This study is a literature review aimed at analyzing and synthesizing empirical findings from ten previous studies investigating the influence of self-love education on students’ self-confidence. The data sources consist of relevant national and international journals published within the last five years. The analysis examines research design, intervention methods, and findings from each study. The results consistently indicate that self-love education, especially delivered through reflective modules and affirmative techniques, significantly improves students’ self-confidence. This approach effectively strengthens positive self-perception, reduces social anxiety, and enhances psychological resilience. The reviewed literature also emphasizes the importance of integrating self-love-based educational programs into university curricula as part of sustainable mental health strategies.
HUBUNGAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN BODY IMAGE REMAJA DI SMK PERSADA PASAR KEMIS KABUPATEN TANGERANG Diah Ayu Tiara; Siti Rochmani; Ida Faridah
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/d697dg64

Abstract

Perkembangan teknologi digital membuat media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja. Penggunaan media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan, namun juga memengaruhi pembentukan identitas diri dan persepsi tubuh. Remaja sebagai kelompok usia yang rentan sering terpapar standar kecantikan di media sosial sehingga berisiko mengalami ketidakpuasan tubuh (body image negatif). Hal ini dapat berdampak pada kepercayaan diri maupun kesehatan mental remaja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dengan body image pada remaja di SMK Persada Pasar Kemis Kabupaten Tangerang. Desain Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasi dan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara penggunaan media sosial dengan body image remaja di SMK Persada Pasar Kemis Kabupaten Tangerang (p-value < 0,05). Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin cenderung remaja memiliki body image negatif.
Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih Pada Santriwati Di Pondok Pesantren RJ Iin Nabila; A.Y.G Wibisono; Ida Faridah
Gudang Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): GJIK - AGUSTUS
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjik.v4i2.2267

Abstract

Pendahuluan: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri, faktor yang berperan terhadap terjadinya ISK adalah personal hygiene yang kurang baik, khususnya dalam menjaga kebersihan area genital, yang dapat meningkatkan risiko masuknya mikroorganisme ke saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian infeksi saluran kemih pada santriwati di Pondok Pesantren RJ. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Teknik Sample: Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling, dengan jumlah responden 156 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner personal hygiene dan gejala ISK. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa 82 responden (52,6%) memiliki personal hygiene buruk dan 120 responden (76,9%) mengalami gejala ISK. Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0,001 dan OR = 3,900, yang menandakan adanya hubungan signifikan antara personal hygiene dengan kejadian ISK. Kesimpulan: Personal hygiene yang buruk meningkatkan risiko terjadinya ISK pada santriwati sehingga diperlukan edukasi dan penerapan personal hygiene yang baik sebagai upaya pencegahan ISK, terutama melalui peningkatan pengetahuan, kebiasaan hidup bersih, dan pemeliharaan kebersihan organ reproduksi secara rutin dan benar.
Hubungan Pengetahuan Dan Status Kesehatan Mental Terhadap Tingkat Depresi Pada Siswa SMA Negeri 18 Kabupaten Tangerang Milka Merita Azizam; AYG Wibisono; Ida Faridah
Gudang Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): GJIK - AGUSTUS
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjik.v4i2.2268

Abstract

Latar belakang : Kesehatan mental merupakan bagian penting dari Kesehatan remaja yang dapat memengaruhi cara berfikir, merasakan dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Depresi menjadi salah satu masalah Kesehatan mental yang banyak dialami remaja dan dapat berdampak pada penurunan prestasi akademik hingga risiko menyakiti diri sendiri. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan status Kesehatan mental terhadap Tingkat depresi pada siswa di SMA Negeri 18 Kabupaten Tangerang. Metode : penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional populasi penelitian berjumlah 500 siswa kelas X dan Xl, sedangkan sampel sebanyak 222 responden diambil dengan Teknik random sampling. Instrument penelitian berupa kuesioner dan diuji menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan Tingkat signifikat 0,05. Hasil : menujukan bahwa dari 222 responden, Sebagian besar berjenis kelamin Perempuan (61,3%) dan berusia 15-16 tahun (51,8%), Tingkat pengetahuan Kesehatan mental kategori baik (51,8%) dan kategori buruk (48,2%), status Kesehatan mental kategori cukup sebanyak (56,3%), kategori baik (25,7%) dan kategori kurang (18,0%), Tingkat depresi kategori ringan (65,7%), kategori sedang (32,9%) dan kategori berat (1,4%). Kesimpulan : hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pihak sekolah untuk mengoptimalkan peran guru bimbingan konseling dalam memberikan edukasi Kesehatan mental serta melaksanankan deteksi dini gejala depresi pada siswa, sebagai Upaya pencegahan dan penurunan angka kejadian depresi pada remaja.
Hubungan Kebiasaan Menggosok Gigi Dan Mengkonsumsi Makanan Kariogenik Dengan Kejadian Karies gigi Pada Anak Di SDN Tigaraksa IV Kabupaten Tangerang Shinta Ernawati; AYG Wibisono; Ida Faridah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1571

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut memiliki peranan penting bagi kesehatan serta kualitas hidup anak, termasuk dalam hal berbicara, mengunyah, dan berinteraksi. Karies gigi adalah kondisi yang mempengaruhi jaringan gigi dan dimulai dengan kerusakan pada permukaan gigi. Kebiasaan menggosok gigi adalah salah satu aspek penting dalam perkembangan masalah gigi. Makanan yang dapat menyebabkan kerusakan gigi adalah makanan manis yang berpotensi memicu karies gigi. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan kebiasaan menggosok gigi dan mengkonsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada anak di SDN Tigaraksa IV Kabupaten Tangerang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Total sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 4 dan 5 di SDN Tigaraksa IV Kabupaten Tangerang dengan jumlah 160 responden. Hasil Penelitian: Penelitian menunjukkan bahwa 81 responden (50,6%) memiliki kebiasaan menggosok gigi kurang baik, mengkonsumsi makanan kariogenik tinggi sebesar (50,6%), dan 81 responden (50,6%) mengalami karies gigi. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies nilai p-value 0,000, serta mengkonsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies nilai p-value 0,000. Kesimpulan: Kebiasaan menggosok gigi yang kurang baik dan tingginya konsumsi makanan kariogenik meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara menggosok gigi secara benar dan mengurangi makanan kariogenik agar tidak terjadinya karies.
Hubungan Pengetahuan Ibu dan Dukungan Keluarga dalam Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Usia 0-6 Bulan di Puskesmas Sepatan Syafa Nayla Mutiara Pradistia; Lastri Mei Winarni; Ida Faridah
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober: Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v4i4.6945

Abstract

Backgraund: Exclusive breastfeeding for infants aged 0–6 months is influenced by various factors, including maternal knowledge and family support. Low maternal knowledge and insufficient family support are suspected to be among the causes of the suboptimal coverage of exclusive breastfeeding, including in the working area of Puskesmas Sepatan. This study aimed to determine the relationship between maternal knowledge and family support with exclusive breastfeeding in infants aged 0–6 months at Puskesmas Sepatan. This study used a quantitative method with a correlational design and a cross-sectional approach, involving a total sample of 107 respondents selected through total sampling. The results showed that the majority of respondents were aged 20–35 years (90.7%), had a senior high school education (60,7%), had good knowledge (65,4%), received good family support (46,7%), and practiced exclusive breastfeeding (51,4%). Statistical testing showed a significant relationship between maternal knowledge and family support with exclusive breastfeeding (P<0.001). Based on these findings, it can be concluded that maternal knowledge and family support have a significant relationship with the success of exclusive breastfeeding in infants aged 0–6 months at Puskesmas Sepatan. Improving maternal knowledge and strengthening family support are expected to support the success of exclusive breastfeeding programs.
Hubungan Body Image Dengan Kecemasan Sosial Pada Remaja Kelas X Di SMKN 9 Kota Tangerang Fitri Dwi Nurfadhilah; Siti Rochmani; Ida Faridah
Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES) Vol. 4 No. 2 (2026): JURDIKES - DESEMBER
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jurdikes.v4i2.800

Abstract

Latar Belakang: Kecemasan sosial disebut sebagai permasalahan kondisi kejiwaan dan banyak remaja terhambat dalam berinteraksi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Salah satu faktor yang berperan terhadap munculnya kecemasan sosial adalah body image, yaitu ketika individu memiliki persepsi pada bentuk serta cara berpenampilan dirinya. Meskipun demikian, dari mereka masih banyak yang merasa tidak percaya diri, khawatir terhadap penilaian orang lain, serta cenderung menghindari situasi sosial. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih dalam tentang body image dan kecemasan sosial pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang. Metode: Kuantitatif cross-sectional. Sampel berjumlah 190 responden dengan menggunakan analisis uji Spearman Rank. Hasil: Mayoritas responden berusia remaja periode tengah (94,7%), responden perempuan (71,6%). Responden bermayoritas body image negatif sejumlah 111 (58,4%), kecemasan sosial tinggi sebanyak 75 orang (39,5%). Analisis Spearman Rank (r = -0,728; p = 0,000). Kesimpulan: Persepsi remaja terhadap kondisi, bentuk, dan penampilan fisiknya memiliki keterkaitan yang kuat, berlawanan arah, dan bermakna dengan tingkat rasa cemas yang dialami ketika berinteraksi dalam lingkungan sosial. Pada remaja kelas X di SMKN 9 Kota Tangerang, pandangan yang semakin negatif terhadap diri dan penampilan fisik dapat berkaitan dengan meningkatnya perasaan khawatir, tidak percaya diri, tidak nyaman, serta takut mendapatkan penilaian negatif dari orang lain. Kondisi tersebut dapat membuat remaja merasa lebih cemas ketika berhadapan, berkomunikasi, maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, remaja yang memiliki pandangan lebih positif dan mampu menerima kondisi fisiknya cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dalam menghadapi berbagai situasi sosial Background: Social anxiety is considered a mental health concern that may hinder many adolescents from interacting and adapting to their environment. One factor associated with the emergence of social anxiety is body image, which refers to an individual's perception of their body shape and appearance. However, many adolescents still experience low self-confidence, worry about others' judgments, and tend to avoid social situations. Based on these conditions, further research is needed to examine body image and social anxiety among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang. Methods: This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 190 respondents were included, and data were analyzed using the Spearman Rank test. Results: Most respondents were in the middle adolescent period (94.7%) and were female (71.6%). The majority of respondents had a negative body image, accounting for 111 respondents (58.4%), while 75 respondents (39.5%) experienced high levels of social anxiety. The Spearman Rank analysis showed a strong negative correlation (r = -0.728; p = 0.000). Conclusion: Adolescents' perceptions of their physical condition, body shape, and appearance have a strong, inverse, and significant association with the level of anxiety experienced when interacting in social environments. Among tenth-grade students at SMKN 9 Kota Tangerang, increasingly negative perceptions of oneself and one's physical appearance may be associated with greater feelings of worry, low self-confidence, discomfort, and fear of negative evaluation by others. These conditions may cause adolescents to experience greater anxiety when meeting, communicating, and interacting with people in their surroundings. Conversely, adolescents with more positive perceptions and greater acceptance of their physical appearance tend to experience lower levels of anxiety in various social situations.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Pada Remaja Putri Di SMK Kesehatan Kabupaten Tangerang Sekar Bela; Siti Rochmani; Ida Faridah
Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES) Vol. 4 No. 2 (2026): JURDIKES - DESEMBER
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jurdikes.v4i2.801

Abstract

Latar belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih banyak terjadi pada remaja putri. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri di SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 115 remaja putri dengan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang anemia dan kepatuhan konsumsi TTD. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tentang anemia kategori rendah sebanyak 78 orang (67,8%), sedangkan kepatuhan konsumsi TTD sebagian besar berada pada kategori tidak patuh sebanyak 86 orang (74,8%). Hasil uji Chi-Square diperoleh p-value = 0,000 (≤0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah pada remaja putri di SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Background: Anemia is one of the health problems that commonly occurs among adolescent girls. One of the efforts to prevent anemia is the consumption of Iron Supplement Tablets (IST). Objective: This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption among adolescent girls at SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang. Methods: This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The population and sample consisted of 115 adolescent girls selected using total sampling. Data were collected using questionnaires measuring the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption. Data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. Results: Most respondents had a low level of knowledge about anemia, totaling 78 respondents (67.8%), while 86 respondents (74.8%) were categorized as non-adherent to Iron Supplement Tablets consumption. The Chi-Square test resulted in a p-value of 0.000 (≤0.05). Conclusion: There was a significant relationship between the level of knowledge about anemia and adherence to Iron Supplement Tablets consumption among adolescent girls at SMK Kesehatan Bina Prestasi Tangerang.
Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Pada Remaja Putri Pondok Pesantren Ta’ban Siti Indriyawati; Siti Rochmani; Ida Faridah
Jurnal Dunia Ilmu Kesehatan (JURDIKES) Vol. 4 No. 2 (2026): JURDIKES - DESEMBER
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jurdikes.v4i2.802

Abstract

Latar belakang : Kanker payudara merupakan penyakit yang kini mulai mengancam usia muda, sehingga deteksi dini melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sangat penting dilakukan sejak usia remaja. SADARI adalah pemeriksaan payudara secara teratur dan mandiri oleh wanita itu sendiri yang dapat mengenal tanda-tanda kanker payudara. Meski demikian, fenomena pada remaja putri dengan pemahaman, sikap maupun tindakan SADARI masih tergolong rendah. Rendahnya praktik SADARI juga dipengaruhi oleh edukasi kesehatan payudara yang minim. Ketidaktahuan serta sikap yang belum optimal menjadi kendala utama dalam penerapan SADARI di kalangan remaja. Tujuan : Mengetahui gambaran dan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku periksa payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri Pondok Pesantren Ta’ban. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui desain pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian adalah 110 responden dengan menggunakan analisis uji Chi-Square (x2). Hasil : Mayoritas responden berada pada kategori remaja tengah sebanyak 55 orang (50,0%) dan berpendidikan terakhir SD sebanyak 76 orang (69,1%). Sebanyak 47 orang (42,7%) memiliki pengetahuan SADARI sedang, 48 orang (43,6%) memiliki sikap SADARI cukup baik, dan 64 orang (58,2%) memiliki perilaku SADARI kurang baik. Hasil uji Chi-Square (x2) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p = 0,000) dan sikap (p = 0,048) dengan perilaku SADARI. Kesimpulan : Pengetahuan dan sikap memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku periksa payudara sendiri (SADARI) pada remaja putri Pondok Pesantren Ta’ban. Background : Breast cancer is a disease that is now starting to threaten young people, so early detection through Breast Self-Examination (BSE) is crucial from adolescence. BSE is a regular, independent breast examination by women themselves that can identify signs of breast cancer. However, the phenomenon of BSE among adolescent girls with a relatively low understanding, attitude, and practice of BSE is still relatively low. The low practice of BSE is also influenced by minimal breast health education. Ignorance and suboptimal attitudes are the main obstacles to BSE implementation among adolescents. Objectives: To describe and analyze the relationship between knowledge and attitudes with breast self-examination (BSE) behavior in female adolescents at the Ta’ban Islamic Boarding School. Method: methods in this research Using quantitative methods through a cross-sectional approach design. The sample in the study was 110 respondents. Using the Chi-Square test analysis (x2). Results: The majority of respondents were in the middle adolescent category , as many as 55 people (50.0%) and had a final education of elementary school as many as 76 people (69.1%). A total of 47 people ( 42.7 %) had moderate knowledge of BSE, 48 people ( 43.6 %) had a fairly good BSE attitude, and 64 people ( 58.2%) had poor BSE behavior . The results of the Chi-Square test (x2) showed a significant relationship between knowledge ( p = 0.000) and attitude ( p = 0.048) with BSE behavior. Conclusion: Knowledge and attitude have a significant relationship with Breast self-examination (BSE) behavior in female adolescents at the Ta’ban Islamic Boarding School.