Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Studi penambahan chemical pada produk migas guna mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan proses distribusi Saputra, Ahmad Rialdi Rangga; Safitri, Ardini Nadia; Setiawan, Hanif Ash Shiddiq; Karina, Reva; Venriza, Oksil
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 7 No. 4 (2024): October
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v7i4.37668

Abstract

The distribution of fuel impacts the environment through emissions and combustion residues. This study evaluates hydrocarbon compounds in petroleum products with ethanol addition to enhance octane ratings and reduce emissions. Gravimetric methods assessed ash content, FTIR analyzed organic compound absorption via functional groups, and UV-Vis spectrophotometry measured toluene levels through absorbance. Results showed ethanol blending with biodiesel reduced ash content from 74.48 mg/L to 64.99 mg/L, a 9.4% decrease, indicating a positive environmental impact. UV-Vis analysis revealed increased toluene content, reflecting higher octane value and potential emission reductions. Additionally, blending Pertamax with ethanol showed increased oxygenated compounds, such as alcohols and esters, at a 1600 nm wavelength. In conclusion, adding ethanol positively affects the environment by reducing emissions and improving octane ratings. However, further analysis is needed to comprehensively assess its environmental impact.
Pengembangan Teknologi Energi Baru Terbarukan pada Produk Migas dengan Basic Flame Oil Rizaldi, Abigail Eki; Abdullah, Alviola Kevine; Satrio, Muhammad Rafi; Gustavia, Nayla Winda; Venriza, Oksil
Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri) Vol 19, No 2 (2025): Jurnal PASTI
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/10.22441/2441/pasti.2025.v19i2.008

Abstract

Transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Studi ini mengevaluasi pencampuran biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester atau FAME) dengan Pertadex menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan metode gravimetri bertujuan untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan yang dievaluasi menggunakan metode ash content. Hasil menunjukkan bahwa pencampuran FAME meningkatkan kadar abu (ash content), dari rata-rata 44,26% pada Pertadex murni menjadi 74,64% pada campuran 10% FAME. FTIR mengidentifikasi gugus karbonil (C=O) pada panjang gelombang 1745 cm⁻¹, yang meningkat signifikan pada konsentrasi FAME lebih tinggi. Meskipun demikian, gugus CH₂ dan CH₃ tetap dominan, menunjukkan stabilitas struktur hidrokarbon. Kombinasi ini menghasilkan bahan bakar dengan potensi emisi lebih rendah dan kandungan biofuel yang lebih tinggi, mendukung kebijakan Net Zero Emissions 2060. Namun, kadar abu yang meningkat memerlukan kontrol mutu lebih ketat untuk mencegah dampak negatif pada efisiensi pembakaran. Hasil studi ini menegaskan perannya metoda spektrofotometri dan gravimetri dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. Rekomendasi diberikan untuk pengujian lebih lanjut terkait dampak kinerja mesin dan analisis ekonomi untuk memastikan implementasi yang optimal dan berkelanjutan.
Optimization of Crude Oil Transmission Process by Installing Electric Heat Tracing in Off-Plot Piping Oksil Venriza; Cut Reza Wahyuni
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 47 No 3 (2024)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.47.3.1631

Abstract

Crude oil transmission is distributing crude oil from one plane to another. Problems that often occur in the crude oil transmission process are freezing or crystallization of paraffin when the temperature in the environment reaches the Pour Point Temperature. Usually, this can be overcome by injecting Pour Point Depressant into crude oil. However, using Pour Point Depressant is still ineffective if used continuously. This is because Pour Point Depressant can affect the quality of crude oil and increase environmental risks and if the transmission process is carried out on a large scale, it will also require large costs to meet these needs. Therefore, this research examined the application of constant wattage type Electric Heat Tracing as an alternative to Pour Point Depressant in the off-plot piping section, precisely in the PT ABC transmission pipe network. By carrying out transient simulations using OLGA version 2022.1.1 software, several scenarios for the most optimal Electric Teat Tracing installation in the crude oil transmission process were developed while minimizing the costs incurred. From the simulations carried out, it is known that the constant wattage type Electric Teat Tracing with a capacity of 3 x 100 kW can maintain the pipe temperature above the Pour Point Temperature value, namely 111ºF with 2 installation spots KP 1+700 to KP 3+200 and KP 5+800 to KP 7 +300. Apart from that, the use of Electric Heat Tracing is also more economical compared to Pour Point Depressant injection.
The Effect Additives in Avtur for Increasing Electrical Conductivity with Statistical Quality Control Method Oksil Venriza; Doni Putra Pratama
International Journal of Artificial Intelligence Research Vol 6, No 1.2 (2022)
Publisher : Universitas Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.339 KB) | DOI: 10.29099/ijair.v6i1.377

Abstract

The distributing processing Avtur to customers with a good quality according to standards. The parameter quality of avtur such as density, electrical conductivity, colour, and water content. One of them the electrical conductivity was investigated daily operation of distribution avtur if a demand avtur needed for flight operation, because that standard specifications of electrical conductivity Avtur must be good stability. The electrical conductivity value avtur less than standard operation cause static electrical to appear and became causes a fire. For this reason, a strategy is needed to increasing quality of Avtur by using the Statistical Quality Control (SQC) method. The result of analysis of level decline electrical conductivity to avtur using the SQC method has 6.6335 pS/m per day. Therefore, a strategy is needed to increase the electrical conductivity value, and optimalization for adding additive X. However, a facility to adding additives X has not implementation for receiving processing avtur, than suggestion to add additive injection facility. After implementation of additive injection facility, the value of electrical conductivity requires the addition of additives as become to 211.442 cc comparization before add additive is 103,595 cc.
Optimalisasi Penambahan Odorant pada Gas Mengunakan Metode Time Series di PT. XYZ Isna R Kanyoma; Oksil Venriza; Kushariyadi Kushariyadi
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 57 No 2 (2023)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.57.2.1584

Abstract

Gas alam merupakan sumber energi yang dihasilkan dari fosil tanaman, hewan dan mikroorganisme, bahan bakar tidak berwarna, tidak berodor dan tidak beracun. Odorant merupakan zat kimia yang di tambahkan ke gas alam untuk memberikan bau yang kuat dan khas, tetapi penambahannya masih belum teroptimalkan. Syarat odorant yang digunakan harus memiliki spesifikasi gas alam yang berodor. Dimana aturan pemakaian odorant yang benar pada PT. XYZ sebesar 3 mg/m3, tetapi odorant PT ini memakai odorant sebesar kira-kira 4 - 6 mg/m3 yang mana masih berdasarkan stroke atau waktu. Hasil penilitian ini dapat di optimasi efisiensi odorant pada gas dengan menggunakan metode time series. Dari perhitungan yang di dapatkan rata-rata pemakaian odorant selama 3 bulan sebesar 1,13 mg/m3 sedangkan untuk perhitungan yang di dapatkan dari rata-rata pemakaian odorant selama 3 bulan pada PT YZ sebesar 2,26206E-05 mg/m3 dari hasil kedua hasil perhitungan di atas di hitunglah nilai efisiensi odorant pada gas di dapatkan nilai efisiensi nya sebesar 0,14125 mg/m3 atau 1,41 cc yang mana berdasarkan peritungan efisiensi dari pemakaian ketetapan odoran tersebut untuk pemakaian nilai yang efesien ialah 1,41 cc per stroke yang setara dengan 4.7%. Adapun faktor efisiensi odorant meliputi odorant yang di gunakan, konsentrasi odorant ,suhu, tekanan dan faktor lingkungan lainnya.
Efek Penambahan Katalis Dalam Penerunan Viskositas Pada Proses Penyaluran Produk Biosolar Riza Merlina; Muhammad Ayyasi Resionda; Fauzan Galank Sangadji; Oksil Venriza
Lembaran publikasi minyak dan gas bumi Vol 58 No 2 (2024)
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/LPMGB.58.2.1630

Abstract

Direktur jendral migas merupakan badan yang mengatur standar dan mutu atau spesifikasi bahan bakar minyak. Bahan bakar yang akan didistribusikan harus memenuhi standart spesifikasi untuk menjaga kualitas dan optimalitas bahan bakar. Salah satu spesifikasi yang harus di penuhi pada produk migas biosolar yaitu nilai viskositasnya. Viskositas merupakan tingkat kekentalan suatu fluida. Pada suhu rendah viskositas produk migas akan lebih tinggi, yang dapat menyebabkan minyak sulit untuk mengalir. Kondisi ini berdampak pada proses distribusi melalui moda transportasi pipa.  Penambahan katalis kalium hidroksida (KOH) merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk memurnikan dan menurunkan viskositas biosolar. Proses pemurnian dan penurunan viskositas dilakukan dengan proses pretreatment, blanding, dan pengujian viskositas. Pengaruh konsentrasi KOH yang digunakan didapatkan viskositas biosolar yang turun. Proses blanding dilakukan dengan penambahan KOH dengan perbandingan 1:800 dengan penambahan pelarut 21%. Selanjutnya proses blanding dilakukan dengan menggunakan suhu 80°C dengan waktu 1 jam. Proses pemurnian menghasilkan kurang lebih 90% produk dari contoh yang dibuat. Pengujian viskositas menggunakan produk biosolar murni didapat viskositas 4,1622 mm2/s dan untuk contoh yang dibuat viskositas yang di dapat 3,2698 mm2/s hasil pemurnian biosolar dengan penambahan KOH dan pelarut metanol memiliki potensi baik dalam menurunkan viskositas produk biosolar yang nantinya dapat dilakukan optimalisasi dalam pendistribusian.
Evaluation of Diesel Fuel Product Quality During Storage Processes Using Qualitative Statistical Methods Muhammad Aly Akbar; Faysa Wintang Navira; Rio Adrian Nova; Juakem Kemong; Oksil Venriza
Journal of Applied Sciences, Management and Engineering Technology Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jasmet.2025.v6i1.6784

Abstract

Fuel quality greatly affects engine performance and emissions, making it essential to routinely test its physical characteristics. This study aims to analyze fuel quality by measuring ash content, density, specific gravity (SG), and API gravity of various types of fuels used in Indonesia. The study also evaluates the stability and consistency of fuel quality through repeated tests and identifies the characteristics of each fuel that affect combustion and engine performance, providing recommendations for the most optimal fuel based on the test results. The research was conducted at the PEM Akamigas Quality Control Laboratory to test fuel samples through laboratory analysis using specified equipment and materials. The tools used include filter paper, beakers, volumetric pipettes, funnels, porcelain and optical crucibles, supported by an analytical balance, tweezers, bulb, oven, desiccator, and aluminum foil for various testing stages. The fuels tested include Pertamax Turbo 98, Pertamax 92, X mix (92 mix 98), biosolar, Fatty Acid Methyl Ester (FAME), and Dexlite mixed with FAME. The results of the study show that FAME, Biosolar, and Dexlite have ash content characteristics that affect combustion and engine performance. FAME supports consistent combustion with medium and stable ash content. Biosolar produces environmentally friendly combustion with the lowest ash content, while Dexlite has the highest ash content with high consistency but may leave residue. Pertamax Turbo and Pertamax show high stability and consistency in density, SG, and API gravity, making them reliable fuels for various usage conditions.
Pengembangan Teknologi Energi Baru Terbarukan pada Produk Migas dengan Basic Flame Oil Abigail Eki Rizaldi; Alviola Kevine Abdullah; Muhammad Rafi Satrio; Nayla Winda Gustavia; Oksil Venriza
Jurnal PASTI (Penelitian dan Aplikasi Sistem dan Teknik Industri) Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal PASTI
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/2441/pasti.2025.v19i2.008

Abstract

Transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Studi ini mengevaluasi pencampuran biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester atau FAME) dengan Pertadex menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan metode gravimetri bertujuan untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan yang dievaluasi menggunakan metode ash content. Hasil menunjukkan bahwa pencampuran FAME meningkatkan kadar abu (ash content), dari rata-rata 44,26% pada Pertadex murni menjadi 74,64% pada campuran 10% FAME. FTIR mengidentifikasi gugus karbonil (C=O) pada panjang gelombang 1745 cm⁻¹, yang meningkat signifikan pada konsentrasi FAME lebih tinggi. Meskipun demikian, gugus CH₂ dan CH₃ tetap dominan, menunjukkan stabilitas struktur hidrokarbon. Kombinasi ini menghasilkan bahan bakar dengan potensi emisi lebih rendah dan kandungan biofuel yang lebih tinggi, mendukung kebijakan Net Zero Emissions 2060. Namun, kadar abu yang meningkat memerlukan kontrol mutu lebih ketat untuk mencegah dampak negatif pada efisiensi pembakaran. Hasil studi ini menegaskan perannya metoda spektrofotometri dan gravimetri dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan. Rekomendasi diberikan untuk pengujian lebih lanjut terkait dampak kinerja mesin dan analisis ekonomi untuk memastikan implementasi yang optimal dan berkelanjutan.