Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

MOTIF TANAMAN KOPI PADA BAJU TALUAK BALANGO Indah Erda Ningsih; Dini Yanuarmi; Rahmad Washinton; Mirda Aryadi; Fadri Rahmat
Style : Journal of Fashion Design Vol 2, No 1 (2022): Style: Journal of Fashion Design
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/style.v2i2.3267

Abstract

The coffee plant has a taproot, straight down, short and strong. The taproot is approximately 45-50 cm long, which basically has 4-8 side roots that descend down 23 cm. Coffee leaves are long, striped to the sides, wavy, dark green, and tapered at the ends. Leaves grow and are arranged side by side in the armpits of the stems, branches and twigs. A pair of leaves located in the same plane and branches that grow horizontally.The shape of the coffee plant that has been described, the creators make it as a source of ideas as an ornamental motif. The coffee plants that are used as motifs are the flower parts, leaves, fruit, and twigs that are applied to the balango taluak. Taluak balango is clothing for men in Minangkabau, the hallmark of the taluak balango shirt is using seams on the side of the shirt where there is a siba with a length below the waist, a round neck without a collar and slightly slit to the chest. The balango taluak shirt is usually worn with a trouser suit, worn in events, traditional ceremonies, religious and other formal events. The method used in the creation of this work is the method of exploration, design and embodiment with an aesthetic approach. This work is expected to be able to contribute to the wider community, by introducing the depiction of coffee plant motifs on balango taluak. The balango taluak used and used in the Minangkabau area does not have specific provisions related to its decorative motifs.
Exploration of Fabric Applique Techniques in Designing Art of Beat Style Fashion Nur Tasya; Dini Yanuarmi; Mirda Aryadi; Fadri Rahmat
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/4zpwd594

Abstract

Art of beat style fashion is an art from that demonstrates freedom of expression, creativity, and a unique artistic flair. This style emerged as a rejection of mainstream aesthetics by showcasing a distinctive, artistic, and individual visual character. One of the techniques used in this fashion is fabric applique, which can create decorative, complex, and artistic surface designs. The method of creation is carried out through exploration, design, embodiment, and presentation. The exploration stage involves gathering references and developing the art of beat style concept. The design stage includes sketching, color selection, and material selection, as well as experimenting with fabric applique techniques combined with thread applique, thread embroidery, sashiko, and ruffle. The implementation stage involves pattern making, cutting the material, applying decorative techniques, and finishing the garment. The creations are presented in three levels of fashion: ready to wear entitled neon reverie, ready to wear deluxe entitled chaos in color, and haute couture entitled spectrum renjana. The three works utilize bright, contrasting colors such as red, yellow, purple, and pink. The works are presented throught a fashion show with an artistic concept that supports the eccentric and expressive character of the garments. Through this presentation, the art of beat style character and application of fabric draping techniques are maximally displayed, resulting in unique, innovation works with a strong visual identity Keywords: Art of beat style, fabric embroidery, rope embroidery, embroidery, aesthetics   Abstrak Busana art of beat style adalah bentuk seni yang menunjukkan kebebasan dalam berpenampilan, kreativitas, serta nuansa artistik dan unik. Gaya ini tumbuh sebagai bentuk penolakan terhadap estetika yang umum dengan menunjukkan karakter visual yang khas, artistik, dan individual. Salah satu teknik yang dipakai  dalam busana ini adalah teknik lekapan kain yang mampu menciptakan desain permukaan yang dekoratif, kompleks, dan bernilai seni. Metode penciptaan dilakukan melalui eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan penyajian. Tahap eksplorasi dilakukan melalui pengumpulan referensi dan pengembangan konsep art of beat style. Tahap perancangan meliputi pembuatan sketsa, pemilihan warna, material, serta eksperimen teknik lekapan kain yang dipadukan dengan teknik lekapan benang, sulam benang, sashiko, dan ruffle. Tahap perwujudan dilakukan melalui proses pembuatan pola, pemotongan bahan, penerapan tenik hias, hingga penyelesaian busana. Hasil penciptaan diwujudkan dalam tiga tingkatan busana yaitu ready to wear dengan judul karya “neon reverie”, ready to wear deluxe dengan judul “chaos in color”, dan haute couture dengan judul “spectrum renjana”. Ketiga karya mengaplikasikan warna-warna cerah dan kontras seperti merah, kuning, ungu, dan pink.. Karya disajikan melalui pergelaran busana (fashion show) dengan konsep artistik yang mendukung karakter eksentrik dan ekspresif dari busana. Melalui penyajian tersebut, karakter Art of Beat Style dan penerapan teknik lekapan kain dapat ditampilkan secara maksimal sehingga menghasilkan karya unik, inovatif, dan memiliki identitas visual yang kuat. Kata Kunci: Art of beat style, lekapan kain, lekapan benang, sulam, estetika
Busana Kontemporer Dengan Motif Rasi Bintang Taurus Syifa Salsabil; Fadri Rahmat; Dini Yanuarmi; Fendi Nofrian
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1341

Abstract

Perancangan busana kontemporer dengan penerapan motif rasi bintang taurus dilatarbelakangi oleh ketertarikan terhadap fenomena astronomi yang memiliki potensi sebagai sumber ide penciptaan busana. Rasi bintang taurus dipilih karena memiliki karakter visual yang terstruktur serta melambangkan keteguhan dan kestabilan. Tujuan penciptaan karya ini adalah mewujudkan konsep rasi bintang taurus ke dalam busana kontemporer melalui pengolahan bentuk, warna, tekstur, dan teknik dekoratif. Metode penciptaan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan melalui observasi dan studi pustaka, tahap perancangan melalui penyusunan moodboard, pembuatan sketsa, dan pemilihan desain, sedangkan tahap perwujudan dilakukan dengan menerapkan teknik sashiko, lekapan benang, splatter painting, makrame, dan payet. Hasil penciptaan berupa tiga karya busana kontemporer, yaitu Midnight Luminescence pada kategori ready to wear, The Taurean Umbra pada kategori ready to wear deluxe, dan The Sovereign Eclipse pada kategori haute couture. Ketiga karya menginterpretasikan visual rasi bintang taurus melalui penggunaan warna navy, hitam, dan gold serta detail dekoratif yang merepresentasikan konstelasi bintang. Karya yang dihasilkan menunjukkan bahwa fenomena astronomi dapat diolah menjadi sumber inspirasi yang memiliki nilai estetis dan konseptual dalam desain busana kontemporer.
Cheongsam Pada Busana Kontemporer Dengan Motif Siriah Gadang Alya Putri; Desra Imelda; Dini Yanuarmi; Fadri Rahmat
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1342

Abstract

Karya berjudul “Cheongsam pada Busana Kontemporer dengan Motif Siriah Gadang” bertujuan untuk mewujudkan perpaduan busana tradisional cheongsam ke dalam bentuk busana kontemporer. Cheongsam dijadikan sumber inspirasi utama karena memiliki karakter siluet yang khas. Visualisasi cheongsam diwujudkan melalui pengolahan bentuk busana kontemporer dengan tetap mempertahankan ciri khas cheongsam, seperti kerah shanghai, serta penerapan motif siriah gadang sebagai unsur dekoratif utama. Motif Sirih Gadang dipilih karena memiliki nilai filosofis yang melambangkan kebersamaan, penghormatan, dan nilai adat istiadat masyarakat Minangkabau. Pemilihan warna dalam karya ini menggunakan warna merah sebagai warna utama yang melambangkan identitas dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa, warna emas sebagai warna pengaplikasian motif sirih gadang yang merepresentasikan kemegahan dan nilai adat Minangkabau, serta warna hitam sebagai warna tambahan untuk menciptakan keseimbangan dan mempertegas kesan elegan pada busana. Material yang digunakan dalam penciptaan karya ini meliputi kain bridal, kain drill, dan kain songket sebagai kain kombinasi untuk memperkuat unsur wastra Nusantara. Metode penciptaan dimulai dari tahap persiapan melalui studi literatur, observasi visual, perumusan konsep, hingga perwujudan karya. Karya ini mengacu pada trend forecasting Cultural Fusion yang menekankan penggabungan unsur budaya Tionghoa dan Minangkabau ke dalam desain busana kontemporer secara harmonis tanpa menghilangkan identitas masing-masing budaya. Teknik yang digunakan dalam karya ini adalah stilisasi motif, dan embellishment dengan pendekatan adi busana. Hasil penciptaan diwujudkan ke dalam tiga tingkatan busana, yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan karakter desain yang berbeda pada setiap tingkatannya.
Penciptaan Busana Art Of Beat Style Dengan Teknik Lekapan Benang Dan Kancing Hafiza Khairunnisa; Mega Kencana; Dini Yanurmi; Fadri Rahmat
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1361

Abstract

Art of Beat Style merupakan gaya busana yang menonjolkan kebebasan berekspresi melalui bentuk, warna, dan detail yang unik. Penelitian penciptaan ini bertujuan menghasilkan busana Art of Beat Style dengan menerapkan teknik lekapan benang dan kancing yang dipadukan dengan kain wastra berupa batik cap bermotif abstrak. Metode yang digunakan adalah metode penciptaan karya melalui tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan untuk mengkaji sumber ide, karakteristik gaya, material, serta teknik hias yang digunakan. Tahap perancangan meliputi pengembangan konsep, pembuatan desain, pemilihan bahan, warna, dan teknik hias, sedangkan tahap perwujudan meliputi proses produksi hingga penyajian karya. Hasil penciptaan berupa tiga kategori busana, yaitu ready to wear Harmoni, ready to wear deluxe Ritmik, dan haute couture Ekspresia. Ketiga karya menerapkan prinsip keseimbangan asimetris, penggunaan warna kontras, serta teknik lekapan benang dan kancing sebagai elemen dekoratif yang memperkuat karakter Art of Beat Style. Karya akhir dipresentasikan melalui pagelaran busana sebagai media apresiasi hasil penciptaan.
Aplikasi Teknik Cording Pada Busana Vintage Carolina Avelin Rizki Astuti; Dini Yanuarmi; Desra Imelda; Fadri Rahmat
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1363

Abstract

Busana vintage dengan teknik cording, merupakan gaya berbusana yang terinspirasi dari tren fashion masa lampau dan kembali diminati karena memiliki nilai estetika yang khas, elegan, dan klasik. Dalam penciptaan karya busana vintage ini, menerapan teknik cording sebagai hiasan utama pada busana yang memiliki kesan artistik serta memperkuat karakteristik klasik pada busana vintage. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah untuk menciptakan busana vintage yang memiliki nilai estetik melalui pengembangan teknik cording sebagai detail dekoratif pada busana. Proses penciptaan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi, pencarian ide, pembuatan desain, pemilihan bahan, hingga proses perwujudan karya. Inspirasi busana yang diambil dari beberapa era vintage yang dipadukan dengan sentuhan modern agar tetap sesuai dengan perkembangan fashion masa kini. Hasil dari penciptaan karya ini berupa busana vintage dengan teknik cording yang diterapkan pada bagian tertentu busana sebagai pusat perhatian. Penggunaan warna-warna netral seperti broken white, brown, and army green semakin memperkuat kesan vintage yang ingin ditampilkan. Bahan yang digunakan untuk membuat karya ini yaitu kain katun toyobo, katun drill, satin bridal, kawasaki silk, dan kain batik motif kawung sebagai kain kombinasi. Melalui karya ini diharapkan teknik cording dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan hiasan pada busana serta mampu memberikan inovasi baru dalam dunia fashion, khususnya pada penciptaan busana vintage. Hasil karya yang diwujudkan terdiri dari 3 jenis tingkatan busana, yaitu ready to wear dengan judul vintage in thread, ready to wear deluxe whisper of vintage, dan haute couture heritage royale.
Pengaplikasian Teknik Distressed dalam  Visualisasi Rebel Hasya Zalfa Harsan; Fendi Nofrian; Desra Imelda; Fadri Rahmat
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/bx6aph63

Abstract

Fashion is a form of visual non-verbal communication that conveys meaning regarding the wearer's identity, emotion, and ideological values. This meaning is constructed not only through silhouettes but also through material processing using textile manipulation techniques. The creation of this work aims to develop a clothing collection themed around resistance by exploring distressed manipulation techniques. This design concept shifts the psychological analogy of psychological distress, such as slashing, burning, puncturing, and other destructive acts, into a controlled creative process to express a rebellious attitude. As a conceptual balance as well as a preservation of cultural roots, this design integrates Silungkang songket with the bunga pecah lapan motif. The creation method of this work progresses through the stages of idea exploration, design planning, and final artwork execution. The ultimate result of this design consists of three collections: a ready-to-wear collection titled "Muted Scars", a ready-to-wear deluxe collection titled "Unbound Rage", and a haute couture collection titled "The Final Escape". All these works utilize various techniques, including slashing, fraying, patchwork, and burning, complemented by safety pin and chain accents. The visual character is reinforced by the dominance of black, gray, and red, which reflect emotional transition and bravery.
Perancangan Kebaya Kartini Dalam Gaya Kontemporer Della Hentanthy; Fadri Rahmat; Desi Trisnawati; Desra Imelda
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1423

Abstract

Perancangan ini bertujuan untuk mengubah kebaya Kartini yang punya ciri khas kerah V menjadi lebih modern dan modis agar cocok dipakai untuk acara santai atau nonformal tanpa membuang ciri khas aslinya. Proses pembuatan karya ini dilakukan lewat beberapa tahapan. Pertama adalah tahap eksplorasi, yaitu mencari ide untuk mengembangkan pola baju yang tidak sama antara kiri dan kanan (asimetris), memilih kombinasi kain batik Mega mendung, serta berbagai hiasan seperti bunga dari kain (korsase), payet, dan teknik menempel bahan (lekapan). Kedua adalah tahap perancangan, yaitu membuat gambar sketsa baju yang matang. Ketiga adalah tahap perwujudan, yaitu proses menjahit dan memasang semua hiasan tersebut dengan tangan hingga menjadi baju. Dari proses ini, dihasilkan tiga jenis tingkatan baju, yaitu Ready to Wear baju siap pakai yang simpel dan praktis untuk sehari-hari, Ready to Wear Deluxe baju siap pakai yang lebih mewah dan eksklusif untuk acara formal, serta Haute Couture baju adibusana yang sangat mewah dan dibuat khusus dengan detail yang rumit. Terakhir, semua hasil baju ini dipamerkan dalam tahap penyajian karya melalui acara fashion show agar keindahan dan keunikan dari kebaya Kartini modern ini bisa dilihat langsung oleh masyarakat luas.
Futuristic Urban Style With Reversible Clothing Fadillah Dzil Arsy; Fadri Rahmat; Dini Yanuarmi; Desi Trisnawati
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/w4bmbt03

Abstract

The work entitled “Futuristic Urban Style with Reversible Technique” is a process of designing and realizing clothing that integrates contemporary urban concepts with futuristic aesthetics through an innovative and functionality-oriented design approach. The creation of this work is motivated by the development of a dynamic, expressive urban lifestyle, and is influenced by streetwear culture and global Trends that are moving towards adaptive and sustainable forms of fashion. The concept design was carried out through stages of visual exploration, literature study, Trend analysis, moodboard preparation, alternative sketch creation, and the design selection process which is realized into three levels of clothing   Ready to wear,     Ready to wear deluxe, and Haute couture so that the work show has the theme “backblack”. The three levels represent different design developments based on the level of technical complexity, material exploration, and construction complexity. The artist uses materials such as leather, denim, and textiles with futuristic characters, combined with fabric manipulation quilting techniques and manual abstract paintings as the main visual elements. This work aims to construct a futuristic urban fashion identity that not only prioritizes artistic and experimental values, but also responds to the needs of urban society for practical, flexible, and highly durable clothing. This creation is expected to contribute to the development of contemporary fashion design in Indonesia, especially in the development of reversible techniques and exploration of sustainability-based design. In addition, this work functions as a form of artistic practice that reflects the relationship between future aesthetics, textile technology, and the dynamics of urban culture in the realm of modern fashion.  
Busana Kontemporer  dengan Batik Motif Nebula Orion Fatricia M; Mega Kencana; Desra Imelda; Fadri Rahmat
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 4 (2026): JUNI-JULI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/3knhgh59

Abstract

The creation of this artwork is inspired by the cosmic visual beauty of the Orion Nebula (Messier 42), an astronomical phenomenon featuring a giant molecular cloud that emits dramatic color gradations from hydrogen gas and cosmic dust. These abstract, dynamic, and irregular visual characteristics are transformed into the realm of fashion through the design of contemporary clothing combined with modern batik. The creation methods applied include exploration (observation, literature study), material experimentation, design processes (trends, moodboard, sketches), and the physical realization of the garments. This contemporary clothing collection is classified into three fashion tiers utilizing core materials such as cotton dobby fabric (as the medium for manual batik), black velvet (representing outer space), silk foil, and ombre silk chiffon and pleated tulle. The three categories consist of: Ready-to-Wear (titled Abendstern) which focuses on functional-minimalist male silhouettes; Ready-to-Wear Deluxe (titled Staubwelle) featuring more complex asymmetrical construction, luxurious textures, and a glow-in-the-dark effect; and Haute Couture (titled Himmelskonigin) as the pinnacle of women's high fashion, exploring layered draping techniques and dramatic scattered sequin details. Through the deconstruction of Indonesian heritage textiles (wastra nusantara), this work successfully harmonizes transcendent cosmic imagination with a modern, international fashion outlook, presented through a fashion show at the Hoeridjah Adam Building, ISI Padangpanjang.