Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), Penguatan Manajemen Usaha, dan Digitalisasi Pemasaran pada Kelompok Pengolah Hasil Perikanan Sari Mina Segara di Desa Sangsit I Gede Arie Mahendra Putra; Luh Putu Wrasiati; A.A. Gde Agung Nanda Perwira; Made Dita Dewi Devani; Carolline Octovinarti Ina Kasi Langkeru; Ida Ayu Tisna Wahyuniari
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1933

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Kelompok Sari Mina Segara di Desa Sangsit, Kabupaten Buleleng, yang terdiri atas 13 pelaku UMKM pengolah hasil perikanan. Permasalahan utama mitra meliputi rendahnya penerapan standar keamanan pangan, keterbatasan fasilitas produksi higienis, lemahnya manajemen usaha, dan belum optimalnya pemasaran digital yang berdampak pada rendahnya efisiensi produksi, terbatasnya jangkauan pasar, serta rendahnya daya saing produk. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan mitra dalam menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP), memperkuat pengelolaan usaha, dan mengembangkan pemasaran digital berbasis marketplace dan media sosial. Metode pelaksanaan dilakukan melalui observasi awal, identifikasi kebutuhan mitra, pelatihan, dan pendampingan intensif pada aspek produksi, manajemen usaha, dan digital marketing. Evaluasi program dilakukan menggunakan pretest dan posttest, observasi penerapan GMP, serta pengukuran ketercapaian indikator luaran program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 85% mitra memahami standarisasi proses produksi dan mampu menerapkan GMP, melampaui target awal sebesar 75%. Selain itu, tiga produk olahan telah memperoleh izin edar P-IRT dan 92% anggota kelompok memahami manajemen usaha serta pemasaran digital. Integrasi pelatihan GMP, penguatan manajemen usaha, dan pemasaran digital mampu meningkatkan higienitas produksi, efisiensi kerja, dan jangkauan pemasaran produk secara lebih luas. Program ini berkontribusi terhadap penguatan daya saing dan keberlanjutan usaha UMKM perikanan berbasis pangan lokal.
Enhancing the functional beverage qualities of teter leaf (Solanum erianthum) with various drying temperatures I GEDE ARIE MAHENDRA PUTRA; PUTU JULYANTIKA NICA DEWI; DEWA AYU ANOM YUARINI; I WAYAN RYANTAMA SWASTIKA BRAJA; I GUSTI AYU KRISMA WIDYA SARASWATI; DINA PUTI KARTIKA
Asian Journal of Agriculture Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/asianjagric/g100183

Abstract

Abstract. Putra IGAM, Dewi PJN, Yuarini DAA, Braja IWRS, Saraswati IGAKW, Kartika DP. 2026. Enhancing the functional beverage qualities of teter leaf (Solanum erianthum) with various drying temperatures. Asian J Agric 10 (1): g100183. https://doi.org/10.13057/asianjagric/g100183. Teter plant (Solanum erianthum) is cultivated and widely available in Taro Village, Bali, Indonesia, and its leaves have been known for their bioactive compounds with health benefits. Traditionally, the leaf is processed by the local community into loloh don teter, a herbal beverage prepared without preservatives with a short shelf life. To enhance stability and functional potential, this study developed teter leaf herbal tea and evaluated the effect of drying temperature on its chemical and sensory characteristics. A Completely Randomized Design (CRD) was used with four drying temperatures (40, 50, 60, and 70°C) for 24 h, with four replications; a total of 16 experimental units. The parameters analyzed included yield, moisture content, antioxidant activity (DPPH), total phenols, tannins, flavonoids, vitamin C, and sensory attributes (color, aroma, taste, and overall acceptance). Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Tukey’s post hoc test (α=0.05). Drying temperature had no substantial effect on yield but significantly influenced moisture content, antioxidant activity, total phenols, tannins, flavonoids, vitamin C, and overall sensory acceptance. Teter leaf dried at 50°C (T2) produced the best quality. It was evident from the stable panelist preference scores in the neutral category for color (3.41), aroma (3.36), taste (3.23), and overall acceptance (3.27). The T2 sample showed the best performance across various parameters, with a primary focus on 19.49% yield, 8.60% moisture content, 85.55% antioxidant activity, total phenols at 40.72 mg GAE/g, tannins at 0.80 mg TAE/g, flavonoids at 28.76 mg QE/g, and vitamin C at 8.13 mg AAE/g. In conclusion, drying at 50°C represents an optimal processing condition that preserves bioactive compounds and maintains acceptable sensory quality, supporting the development of teter leaf herbal tea as a stable functional beverage with high antioxidant potential.
EKSPLORASI POTENSI FLAVOR LOKAL PADA PRODUK JELLY STICK INOVATIF: EVALUASI KUALITAS DAN SENSORI Alizza Zahira Prameswari; I Gede Arie Mahendra Putra; Jesika Margaretha br Ginting; Yolanda Presilia; Erline Evangeline Yosephine; Tri Gladies Octo Ginting; Ni Kadek Dwi Heni Antari
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 11 No. 2 (2026): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/8k9t9v80

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan berbagai flavor lokal serta menentukan formulasi terbaik dalam menghasilkan jelly stick dengan karakteristik fisikokimia dan sensoris yang optimal. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (tanpa penambahan flavor), ekstrak temulawak (5%), ekstrak jahe gajah (5%), dan ekstrak lengkuas (5%). Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan flavor berpengaruh signifikan terhadap atribut sensoris warna, tekstur, rasa, dan penerimaan keseluruhan (p < 0,05), namun tidak berpengaruh signifikan terhadap aroma. Karakteristik terbaik diperoleh pada perlakuan ekstrak jahe gajah (5%). Produk memiliki kadar air 86,80%, gula reduksi 0,319 mg/g, total fenol 43,60 mg/kg GAE, aktivitas antioksidan 57,10%, dan kapasitas antioksidan 16,98 mg/L GAEAC. Nilai warna L* 34,8; a* 19,17; dan b* 33,97 menunjukkan warna coklat tembaga. Analisis tekstur menunjukkan hardness 0,567 N, springiness 1,025, gumminess 0,909, chewiness 0,932 N·mm, dan resilience 0,113. Penambahan flavor lokal meningkatkan kualitas dan penerimaan konsumen terhadap produk jelly stick, terutama pada penggunaan ekstrak jahe gajah.
Pengaruh Waktu Ekstraksi Dengan Metode Microwave Assisted Extraction (Mae) Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum Pictum L.Griff) I Nyoman Adi Wibawa; Ni Luh Ari Yusasrini; I Gede Arie Mahendra Putra
Itepa : Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan Vol. 14 No. 3 (2025): ITEPA
Publisher : Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/itepa.2025.v14.i03.p01

Abstract

Abstract Phenolic secondary metabolite compounds such as flavonoids and anthocyanins contained in purple leaves function as antioxidants. One of the antioxidant properties of ethanol extract of purple leaves is the ability to capture DPPH free radicals. A possible method to obtain these compounds is Microwave Assisted Extraction (MAE). The MAE method is a method that utilizes rapid and efficient solvent heating involving microwave radiation. Extraction time is a factor that can affect antioxidant activity. Research on purple leaf extract using MAE method aims to determine the right extraction time in producing the highest antioxidant activity and the effect of purple leaf extraction time on antioxidant activity. This study uses a complete randomized design (CRD) with extraction time treatment consisting of five levels, namely; 1, 3, 5, 7 and 9 minutes. The treatment was repeated three times to obtain an experiment of 15 units. The data obtained were analyzed using variance analysis and the treatment influenced the test parameters followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the extraction time on purple leaves using the MAE method had a very significant effect on yield, total flavonoids, total phenols, total anthocyanins and IC50. Extraction time of 5 minutes can produce extracts with the highest antioxidant activity based on IC50 of 75.07 ppm and classified as strong antioxidants, yield of 37.74%, total phenols 56.06 mg GAE/g, total flavonoids 15.06 mg QE/g and total anthocyanins 43.29 mg/L. Keywords: Antioxidant, Purple leaves, Microwave Assisted Extraction, Time, Extraction Abstrak Senyawa metabolit sekunder golongan fenol seperti flavonoid dan antosianin yang terkandung dalam daun ungu berfungsi sebagai antioksidan. Salah satu sifat antioksidan ekstrak etanol daun ungu adalah kemampuan untuk menangkap radikal bebas DPPH. Metode yang digunakan untuk mendapatkan senyawa tersebut adalah Microwave Assisted Extraction (MAE). Metode MAE merupakan salah satu proses memanfaatkan radiasi gelombang mikro dengan cara memanaskan pelarut secara cepat dan efisien. Waktu ekstraksi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan. Penelitian ekstrak daun ungu menggunakan metode MAE bertujuan untuk menentukan waktu ekstraksi yang tepat dalam menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi dan pengaruh waktu ekstraksi daun ungu terhadap aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu ekstraksi yang terdiri dari lima taraf, yaitu; 1,3,5,7 dan 9 menit. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali hingga diperoleh 15 unit percobaan. Data yang didapat dianalisis menggunakan sidik ragam dan perlakuan berpengaruh terhadap parameter uji dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa waktu ekstraksi pada daun ungu menggunakan metode MAE menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap rendemen, total flavonoid, total fenol, total antosianin dan IC50. Ekstraksi waktu 5 menit mampu menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan tertinggi berdasarkan IC50 sebesar 75,07 ppm dan tergolong antioksidan kuat, rendemen 37,74%, total fenol 56,06 mg GAE/g, total flavonoid 15,06 mg QE/g dan total antosianin 43,29 mg/L. Kata kunci: Antioksidan, Daun ungu, Microwave Asissted Extraction, Waktu, Ekstraksi
Pengaruh Perbandingan Terigu Dengan Tepung Milet (Panicum Miliaceum L.) Kecambah Fermentasi Terhadap Karakteristik Bakpia Rachel Angel Br Hombing; Ni Made Indri Hapsari Arihantana; I Gede Arie Mahendra Putra
Itepa : Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan Vol. 14 No. 3 (2025): ITEPA
Publisher : Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/itepa.2025.v14.i03.p05

Abstract

Abstract Bakpia is a traditional Chinese pastry filled with a sweet or savory filling and made with a flour-based dough. With the increasing consumption of wheat-based products, the use of fermented millet flour (FMF) has emerged as a promising alternative to reduce dependency on wheat and enhance the nutritional value of the product. This study aims to evaluate the impact of varying ratios of wheat flour to FMF on the characteristics of bakpia and determine the optimal ratio for achieving the best quality. The research employs a Completely Randomized Design (CRD) with six different ratios of wheat flour to FMF: 100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, and 50:50. Each combination is tested three times, resulting in a total of 18 experimental units. The collected data are analyzed using analysis of variance (ANOVA), and if significant differences are found, the analysis is further extended with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) to assess differences among treatments. The results indicate that the ratio of wheat flour to FMF significantly affects various parameters, including moisture content, protein content, crude fiber content, fat content, tannin content, hardness, and sensory evaluations such as color, aroma, texture, taste, taste scoring, and overall acceptance. The optimal ratio is found to be 80% wheat flour and 20% FMF, which produces bakpia with a moisture content of 9.93%, protein content of 9.78%, crude fiber content of 2.18%, fat content of 37.82%, tannin content of 0.09%, and a hardness level of 17.79 N. Panelists rated bakpia with this ratio as having a somewhat preferred color, a preferred aroma, a preferred texture, a slightly bitter and somewhat preferred taste, and an overall positive acceptance. Keywords : bakpia, wheat flour, fermented sprouted millet flour Abstrak Bakpia adalah kue tradisional China yang memiliki isian dan kulit berbahan dasar terigu. Dengan meningkatnya konsumsi produk berbasis terigu, penggunaan tepung millet kecambah fermentasi (TMKF) muncul sebagai alternatif yang potensial untuk mengurangi ketergantungan pada terigu serta meningkatkan nilai gizi produk, namum memerlukan konsentrasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan terigu dan TMKF terhadap sifat-sifat bakpia, serta untuk menentukan rasio terbaik guna menghasilkan kualitas yang optimal. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam taraf perbandingan antara terigu dan TMKF, yaitu: 100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, dan 50:50. Setiap kombinasi diuji sebanyak tiga kali, sehingga total unit percobaan mencapai 18. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians, dan apabila terdapat perbedaan signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengevaluasi perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perbandingan terigu dan TMKF secara signifikan mempengaruhi berbagai parameter, termasuk kadar air, kadar protein, kadar serat kasar, kadar lemak, kadar tanin, tingkat kekerasan, serta penilaian panelis terhadap warna, aroma, tekstur, rasa, skoring rasa, dan penerimaan keseluruhan. Variasi terbaik ditemukan pada rasio 80% terigu dan 20% TMKF, yang menghasilkan bakpia dengan kadar air 9,93%, kadar protein 9,78%, kadar serat kasar 2,18%, kadar lemak 37,82%, kadar tanin 0,09%, serta tingkat kekerasan 17,79 N. Panelis menilai bakpia dengan rasio ini memiliki warna yang agak disukai, aroma yang disukai, tekstur yang disukai, rasa yang agak sepat dan agak disukai, serta penerimaan keseluruhan yang positif. Kata kunci : bakpia, terigu, tepung millet kecambah fermentasi
Pengaruh Konsentrasi Maltodekstrin dan Glukomanan Terhadap Karakteristik Serbuk Minuman Instan Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Ida Ayu Ambararacmi Padangratha; Gusti Ayu Kadek Diah Puspawati; I Gede Arie Mahendra Putra
Itepa : Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan Vol. 15 No. 2 (2026): ITEPA
Publisher : Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/itepa.2026.v15.i02.p04

Abstract

Jeruju leaves are types of mangrove plants that contain phenolic compounds and have been developed as powdered instant drink using maltodextrin encapsulant. Maltodextrin has poor viscosity after applied as encapsulant so it can be combined with encapsulants like glucomannan. The used material can affect the concentration of maltodextrin and glucomannan needed to achieve the product with best characteristics. This research aims to know the effects of maltodextrin and glucomannan concentration on the characteristics of jeruju leaves instant drink powder, and the right maltodextrin and glucomannan concentration to achieve the product with the best characteristics. This research uses Completely Randomized Design Factorial with two factors namely: 1) maltodextrin concentrations (10%; 20%) and 2) glucomannan concentrations (0%; 0.5%; 0.75%; 1%), the repetitions were done twice. The data was analyzed using an Analysis of Variance, if the treatment affects the observed variable, it will be continued with Duncan Multiple Range Test. The result shows that the interaction between maltodextrin and glucomannan had real impact on total phenolic compound, encapsulation efficiency, and antioxidant activity. Each maltodextrin and glucomannan concentration had real impact on yield, meanwhile maltodextrin concentration individually had real impact on ash content and dissolving time. The concentration of  20% maltodextrin and 0.75% glucomannan results in jeruju leaves instant drink powder with the best characteristics: yield 18.48%, water content 3.99%, ash content 1.54%, total phenolic compound 9.19 mg GAE/100g, encapsulation efficiency 84.09%, antioxidant activity 66.38%, dissolving time of 2.54 minutes, color, aroma, taste, and overall acceptance showed slightly liked score.
KARAKTERISTIK SENSORIS DAN KIMIA ABON JAMUR LIAR (Volvariella volvacea) PADA TANDAN BUAH KOSONG KELAPA SAWIT DENGAN PENAMBAHAN SANTAN KELAPA Ahmad Mustangin; Yuni Selvianti Sari; I Gede Arie Mahendra Putra; Chintia Agrefina Brilian; Warastra Nur Annisa; Naomi Jayaputri; Muhammad Eriansyah Al Hakim; Putu Ayu Pranita Astuti
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 11 No. 4 (2026): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/7pe6yq71

Abstract

Jamur liar (Volvariella volvacea) berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan nabati bernilai tambah karena memiliki kandungan gizi dan dapat diperoleh dari tandan kosong kelapa sawit. Pemanfaatan jamur liar sebagai bahan baku abon dengan penambahan santan kelapa dapat menjadi salah satu alternatif diversifikasi produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi santan kelapa terhadap karakteristik sensoris dan kimia abon jamur liar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga taraf konsentrasi santan kelapa, yaitu 10%, 20%, dan 30%, dengan lima kali ulangan. Parameter yang diamati meliputi karakteristik sensoris berupa warna, aroma, tekstur, rasa, dan penerimaan keseluruhan, serta kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, dan kadar serat kasar. Data dianalisis untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi santan kelapa berpengaruh nyata terhadap karakteristik sensoris, kadar air, kadar abu, kadar protein, dan kadar lemak, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar serat kasar. Penambahan santan kelapa sebanyak 20% menghasilkan tingkat kesukaan tertinggi pada seluruh atribut sensoris, dengan kadar air 6,81%, kadar abu 6,20%, kadar protein 16,61%, kadar lemak 30,50%, dan kadar serat kasar 5,47%. Penambahan santan kelapa sebanyak 20% merupakan formulasi terbaik untuk menghasilkan abon jamur liar dengan karakteristik sensoris yang paling disukai dan karakteristik kimia sesuai hasil penelitian. 
Co-Authors A.A. Gde Agung Nanda Perwira Abilita, Sang Ayu Putu Sollenne Ahmad Mustangin Alizza Zahira Prameswari Ananda Putra Agung Aryawan, Kunti Dewi Dhasi Braja, I Wayan Ryantama Swastika Carolline Octovinarti Ina Kasi Langkeru Chintia Agrefina Brilian Cokorda Anom Bayu Sadyasmara Devani, Made Dita Dewi DEWA AYU ANOM YUARINI DEWA AYU ANOM YUARINI Dewi, I Gusti Agung Bulan Mutiara DINA PUTI KARTIKA Erline Evangeline Yosephine Ery, Ni Kadek Fauzan Maulana Yusuf G.P. Ganda Putra Gede Wahyu Wardana Gusti Ayu Kadek Diah Puspawati I Gusti Agung Bulan Mutiara Dewi I Gusti Ayu Krisma Widya Saraswati I Gusti Ayu Krisma Widya Saraswati I GUSTI AYU KRISMA WIDYA SARASWATI I Komang Eka Wiratnyana Putera I Made Bagus Wisesa Yogiswara I Made Bagus Wisesa Yogiswara I MADE SUDARMA I Nyoman Adi Wibawa I Putu Gede Didik Widiarta I Wayan Mulya Adi Saputra I Wayan Rai Widarta I Wayan Ryantama Swastika Braja I WAYAN RYANTAMA SWASTIKA BRAJA Ibrahim, Nur Syamsi Ida Ayu Ambararacmi Padangratha Ida Ayu Tisna Wahyuniari Ida Ayu Tisna Wahyuniari Ida Bagus Gede Mahatmananda Jesika Margaretha br Ginting Kartika, Dina Puti Kenari, Ni Ketut Ratnamaya Sutra Kirana, Made Karlinda Putri Kunti Dewi Dhasi Aryawan Luh Dian Rna Fajarini Luh Dian Rna Fajarini Luh Putu Wrasiati Luh Putu Wrasiati Luh Putu Wrasiati Made Dita Dewi Devani Made Dita Dewi Devani Made Hardinata Wijakesuma Made Karlinda Putri Kirana Made Surya Pramana Mahardika Maharani, Putu Trisna Miranda, S.A. Muhammad Eriansyah Al Hakim Muhammad Eriansyah Al Hakim Muhammad Eriansyah Al Hakim Muzakki, Wafi Adizara Naomi Jayaputri Ni Kadek Dwi Heni Antari Ni Luh Ari Yusasrini Ni Made Defy Januarinti Ni Made Indri Hapsari Arihantana Permatasari, I.G.A.F. Putri, Maria Rosary Mayaranti Putri, Safa Reska Putu Ayu Pranita Astuti Putu Cempaka Sekarhita Putu Julyantika Nica Dewi PUTU JULYANTIKA NICA DEWI Putu Timur Ina Putu Trisna Maharani Putu Wedanta Darma Wiguna Rachel Angel Br Hombing Sang Ayu Putu Sollenne Abilita Saputra, I Wayan Mulya Adi Savitri, A.A.A. Sutisna, Arlin Ramadhan Tri Gladies Octo Ginting Wahyuniari, Ida Ayu Tisna Wangsaputri, Gabrielle Thasya Warastra Nur Annisa Wiadnyani, A.A.I.S. Widarta, I.W.R. Wiguna, Putu Wedananta Darma Yolanda Presilia Yuni Selvianti Sari Yusuf, Fauzan Maulana