Claim Missing Document
Check
Articles

Gog and Magog (Yakjuj wa Makjuj) Stories in Sundanese Manuscripts Faiz Karim Fatkhullah; Tajudin Nur; I. Syarief Hidayat; Undang Ahmad Darsa
OKARA: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 13 No. 1 (2019): OKARA: Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ojbs.v13i1.2233

Abstract

Gog and Magog will appear in the end of the world as a sign of doom. Their mysterious figure, making the story Gog and Magog interesting as well as a debate among experts. This study aims to reveal the reception of the Sundanese to the story of Gog and Magog which is represented by three Sundanese texts: Saifu Ad-Dharīb (SaD), Lajaj Dajal (LD), and Nawādirul 'Ulūm (NU). This study used a descriptive qualitative method with the reception theory approach. Of the three manuscripts, there are a diversity reception informing the advantages and disadvantages of each manuscript. The reception of who is Magog, LD's text calls them communist descendants. Regarding its existence, the SaD manuscripts say they are on Mount Qaf. Related to their numbers, the three manuscripts mention the numbers very much; SaD mentioned they have 400,000 troops, and each of them gave birth to 1000 offspring. NU's manuscripts reveal all objects will be destroyed and humans will become their prey. SaD's manuscripts mention their deaths due to massive winds; LD manuscripts say they died from being attacked by thousands of mosquitoes, while NU manuscripts say they died of disease.
Islam dan Panorama Keagamaan Masyarakat Tatar Sunda Undang Ahmad Darsa
JURNAL INDO-ISLAMIKA Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : JURNAL INDO-ISLAMIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/idi.v7i1.14817

Abstract

This article uses the terms “Tatar Sunda” to refer geographically to a region that stretches from the Sunda Strait (Selat Sunda/Ujung Kulon) to some of the Central Javanese territorries bordering with Cipamali/Kalipamali in Brebes in the Central Java and Kali Serayu in South of Central Java next to Cilacap. This paper argues that the religious life in the Sundanese Tatar historically and culturally took place peacefully. This paper bases this argument on the Sundanese manuscripts saying that the Hinduization process in the Tatar Sunda was mostly derived from the Hindu kingdoms’ elites in the Tatar Sunda. In contrast, the process of Islamization in the Tatar Sunda was instigated from the lower classes (ordinary people). Meanwhile, some of these elites and some of the Sundanese people were able to welcome and accept Islam. Moreover, some of these Hindu elites were voluntarily converted to Islam. 
Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi Di Kabupaten Pangandaran Nina Herlina Lubis; Undang Ahmad Darsa
PANGGUNG Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.229 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v25i1.16

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dan lapangan mengenai potensi sosial, ekonomi, politik, dan budaya Kabupaten Pangandaran yang dibiayai oleh Dikti tahun Anggar- an 2014. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana sejarah seni ronggeng itu? Apakah penyajian seni ronggeng tersebut mengalami perubahan dari waktu ke waktu? Bagaimana upaya pemerintah dalam melestarikan seni ronggeng? Untuk menjawab pertanyaan itu, metode penelitian yang dipergunakan adalah metode sejarah karena penelitian ini dilaku- kan dalam perspektif historis. Dalam implementasinya, metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Untuk keperluan analisis, tulisan ini dileng- kapi dengan konsep dan teori kesenian yang relevan dengan permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya, kesenian ronggeng menunjukkan sifat sakral karena terkait dengan kepercayaan samanisme dan dalam perkembangannya, bergeser menjadi bersifat profan. Unsur-unsur negatif yang melekat dalam kesenian ronggeng, secara perlahan dihapus atau diubah sehingga dipandang tidak lagi melanggar norma sosial. Kata kunci: Pangandaran, ronggeng, sejarah, kesenian tradisional
Ciri, Peran, dan Kedudukan Seorang Istri terhadap Suami dalam Naskah Babad Awak Salira Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma'mun; Undang Ahmad Darsa
Manuskripta Vol 11 No 1 (2021): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v11i1.172

Abstract

Abstract The entry of Islam in Tatar Sunda also influenced the written tradition that was present before. One of the results of cultural acculturation is the ancient manuscript Babad Awak Salira (BAS), which contains Islamic teaching values. The BAS manuscript is identified into the category of the Sundanese manuscript of the Pesantren literature. The teachings of morals contained in the BAS text relate to the characteristics of a woman, the role of a wife, and the position of a wife in Islamic view. The author chooses to use an Islamic perspective because the relationship between the discussion in the value of the content is analyzed with the wife and recommendation in Islamic teachings, as well as the relevance of the value of the content to the conditions of Islamic teachings that enter and affect the written tradition. The results showed the same correlation between the content values ​​contained in the BAS text and the content values ​​in Islamic teachings. In other findings, the BAS text contains high language, because the form of the text is a wawacan (poetry), however, the aesthetic value of past poetry forms does not hinder the delivery of the content value in the text. --- Abstrak Masuknya Islam di Tatar Sunda turut memengaruhi tradisi tulis yang hadir sebelumnya. Salah satu hasil akulturasi budaya adalah naskah kuna Babad Awak Salira (BAS), yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Naskah BAS teridenfikasi masuk ke dalam kategori naskah Sunda pustaka pesantren. Ajaran adab atau akhlak yang terkandung di dalam teks BAS berkaitan dengan ciri wanita salihah, peran seorang istri, dan kedudukan seorang istri dalam pandangan Islam. Penulis memilih menggunakan pandangan Islam, karena keterkaitan pembahasan dalam nilai kandungan dianalisis dengan anjuran istri dalam ajaran Islam, serta relevansi nilai kandungan dengan kondisi ajaran Islam yang masuk dan berpengaruh pada tradisi tulis. Hasil Penelitian menunjukkan korelasi yang sama antara nilai kandungan yang terdapat di dalam teks BAS, dengan nilai-nilai kandungan dalam ajaran Islam. Dalam temuan lain, teks BAS mengandung bahasa yang tinggi, karena bentuk teks merupakan sebuah wawacan (puisi), meskipun demikian, keterikan nilai estetis trhadap bentuk puisi masa lalu tidak menghambat penyampaian nilai kandungan dalam teks.
Wawacan Bin Étam: Gambaran Peran Ibu dalam Pola Asuh dan Pendidikan Anak, Edisi Teks dan Kajian Isi Noor Ilmi Amalia; Undang Ahmad Darsa; Titin Nurhayati Ma'mun
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 9, No 2 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.044 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v9i2.251

Abstract

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Syair Arab tersebut menggambarkan betapa pentingnya peran seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Anak adalah salah satu amanat Allah yang harus dijaga serta diasuh dan dididik dengan sebaik mungkin oleh orang tua, terutama ibu. Naskah Wawacan Bin Étam adalah salah satu naskah Sunda Islami yang ditemukan di daerah Garut, Jawa Barat. Wawacan ini menjadi bukti penguat betapa pola asuh dan pendidikan yang baik dan benar sangat dibutuhkan untuk mencetak karakter anak menjadi pribadi yang baik. Naskah ini pula yang dijadikan objek penelitian oleh penulis. Penulis terlebih dahulu melakukan penelitian dengan cara metode kajian filologis, yaitu metode kajian naskah (kodikologi) dan kajian teks (tekstologi) untuk menghasilkan edisi teks yang bersih dari kesalahan tulis disertai dengan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, agar dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat luas. Selanjutnya akan dilakukan analisis isi dengan teori semiotik dan isotopi untuk mengetahui struktur tema pada naskah  sehingga dapat dipahami makna dari naskah Wawacan Bin Étam.
Sang Hyang Hayu: Sebuah Pengetahuan tentang Kebajikan Undang Ahmad Darsa
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 1, No 2 (2010): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.069 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v1i2.114

Abstract

Manusia pada dasarnya terikat erat pada alam semesta dan memiliki pandangan akan adanya hubungan secara timbal balik dengan alam semesta. Pandangan demikian, antara lain, tampak dalam masyarakat Sunda sebagaimana digambarkan dalam salah satu teks khazanah naskah Sunda Kuno yang berjudul Sang Hyang Hayu . Naskah tersebut kini menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta, dengan kode kropak: Br.634 (Serat Catur Bumi), Br.636 (Serat Buwana Pitu), Br.637 (Serat Sewaka Darma), dan Br.638 (Serat Dewa Buda). Keempatnya berbahan nipah ditulis dalam model aksara Gunung dengan tinta.  Pada tahun 1988, Ayatrohaédi melakukan transliterasi dan terjemahan Br.638. Penulis sendiri pada tahun 1990/1991 berhasil mentransliterasi ketiga kropak lainnya, termasuk mentransliterasi ulang kropak Br.638. Dilihat dari nama yang tertempel pada tiap-tiap kropak jelas berbeda judulnya, namun ketika dibaca keempat kropak itu isinya sama, semua diawali dengan Ndah Sang Hyang Hayu ‘Inilah Pengetahuan Tentang Kebajikan’. Di antara keempat kropak itu hanya satu yang secara jelas mencantumkan angka tahun, yaitu Br.634: panyca warna catur bumi (1445 Saka/1523 Masehi). Naskah Sang Hyang Hayu ini terdapat pula dalam koleksi Kabuyutan Ciburuy Garut.
Babad Awak Salira: Intertekstualitas Naskah Sunda Islami Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma'mun; Undang Ahmad Darsa
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 12, No 1 (2021): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.312 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v12i1.1151

Abstract

This paper shows that the interrelationship between the texts is present in the ancient manuscripts of the archipelago. Babad Awak Salira (BAS) manuscript is a Sundanese manuscript which contains Islamic teachings. The amount of influence contained in Islamic teachings is presented in several stanzas that are bound by rules or meters. The method used in this research is descriptive analysis, with the use of an intertextuality approach in literary works. The analysis using the intertextuality approach shows that the BAS text has links with other texts; Javanese manuscripts and Islamic books. This paper resulted in the findings of several hipogram or text backgrounds that were “borrowed” in the compilation of BAS. At least 11 hipogram were found to be applied, by conversi, expansi, modification, or exerp. This paper shows that an intertextuality approach can be applied to old manuscript objects. Thus, an intertextuality approach will explore and derive borrowed forms from the background text or hipogram. The cultural linkages between Javanese and Sundanese can be recorded in a manuscript. It is seen from the text, that several Javanese macapat metrums are consistently carried over in the BAS manuscript.
KRITIK NASKAH (KODIKOLOGI) ATAS NASKAH SEJARAH RAGASELA Wening Pawestri; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 9, No 2 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.876 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v9i2.249

Abstract

Terdapat tiga naskah Sêjarah Ragasela yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor katalog Br 603, 101 a NBR 33 a, dan 101 a NBR 33b. Ketiga naskah Sêjarah Ragasela tersebut menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Masing-masing naskah memiliki tebal 35 halaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian filologi yang fokus pada penelitian kritik naskah (kodikologi). Kritik naskah merupakan pengkajian terhadap komponen fisik naskah atau kodeks yang terdiri dari inventarisasi naskah, deskripsi naskah, kekerabatan antarnaskah, dan penentuan naskah edisi.
REFLEKSI NILAI ADAB DAN HUBUNGAN HORIZONTAL DALAM NASKAH BABAD AWAK SALIRA Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma’mun; Undang Ahmad Darsa
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 19 No 2 (2021): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 19 No. 2 Tahun 2021
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.719 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v19i2.995

Abstract

ABSTRACT The value of moral affects the horizontal relationship that exists between humans. This is recorded in the ancient texts of the Islamic period as evidence of the influence of Islamic teachings that entered the archipelago. The disclosure of this moral value is an effort to "share" the heritage of the ancestors, as well as a reflection on the current conditions that are quite relevant. The Babad Awak Salira (BAS) manuscript, one of the written heritages in Tatar Sunda, contains very strong moral values. The problems revealed in this paper, namely; (1) the values ​​of moral contained in the text of the BAS manuscript; and (2) the effect of moral reflection in the horizontal relationship. This paper aims to reveal the values ​​of moral and their influence on horizontal relationships. This research is a literature research, descriptive analysis. Due to the fact that the object is an ancient text, a philological approach is used to study the BAS text. Seeing this, the relevance of the existence of values ​​in the ancient texts (which are time apart) is so eternal in didactic wraps. The existence of content values ​​can also be seen as a piece of advice and a "treasure" of inheritance in a written tradition in Tatar Sunda, in general in the archipelago. Disclosure of the value of the content of ancient manuscripts, can be seen as an effort to understand and "bridge" the times, considering that the medium of script is no longer conventional at this time. Keywords: Manuscript, Text BAS, Moral values, Moral reflection.   Nilai adab berpengaruh terhadap hubungan horizontal yang terjalin antarmanusia. Hal ini tercatat dalam naskah kuna periode Islam sebagai bukti pengaruh ajaran Islam yang masuk ke Nusantara. Pengungkapan nilai adab ini sebagai upaya “membagikan” warisan nenek moyang, juga sebagai refleksi atas kondisi zaman saat ini yang cukup relevan. Naskah Babad Awak Salira (BAS), salah satu warisan tulis yang ada di Tatar Sunda, mengandung nilai-nilai adab yang kuat. Masalah yang diungkap dalam tulisan ini, yaitu; (1) nilai adab yang ada di dalam teks naskah BAS; dan (2) pengaruh refleksi adab dalam hubungan horizontal. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai adab dan pengaruhnya terhadap hubungan horizontal. Kajian berjenis studi pustaka, bersifat deskriptif analisis. Sehubungan bahwa objek adalah naskah kuna, digunakan pendekatan filologis untuk mengkaji naskah BAS. Melihat hal itu, relevansi keberadaan nilai dalam naskah kuna (yang berjarak zaman) begitu kekal dalam balutan didaktis. Keberadaan nilai kandungan juga dapat dipandang sebagai sebuah petuah dan “harta” warisan dalam sebuah tradisi tulis di Tatar Sunda, secara umum di Nusantara. Pengungkapan nilai kandungan naskah kuna dapat dilihat sebagai upaya memahamkan dan “menjembatani” zaman, mengingat medium aksara sudah tidak konven­sional lagi saat ini. Kata kunci: Naskah kuna, Teks BAS, Nilai Adab, Refleksi Adab.
TRANSMISI TEKS JAWA DALAM NASKAH BABAD AWAK SALIRA Isep Bayu Arisandi; Titin Nurhayati Ma'mun; Undang Ahmad Darsa
Widyaparwa Vol 50, No 1 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.174 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i1.871

Abstract

This paper aims to reveal the transmission of the text structure and the form of translation in the text of Babad Awak Salira (later referred to as AS). The issue that will be examined in this paper is the transmission of structures and forms of translation that exist in AS manuscript texts. Old poetry is bound by a system of conventions in building structure. The tembang macapat convention system is found in the form of wawacan texts that developed in Sunda. These findings were analyzed by structural theory of the ancient poetry and translation. The application of this theory can be reveal the transmission of structure in the text. The method of research is the philological method and the translation method. Each data in this study was collected using a literature study for analysis. The results of this study include; (1) transmission of structure from macapat tembang to wawacan form in AS script texts; and (2) the form of translation in the use of diction used in the AS manuscript text. The use of the tembang macapat convention in the AS text is balanced with the practice of "translation" and adaptation of several terms as an effort to adjust and understand from Javanese (source) to Sundanese (target).Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap transmisi struktur teks dan bentuk penerjemahan dalam teks naskah Babad Awak Salira (selanjutnya disebut AS). Masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah transmisi struktur dan bentuk terjemahan yang ada dalam teks naskah AS. Puisi lama terikat dengan sistem konvensi dalam membangun struktur. Sistem konvensi tembang macapat ditemukan dalam bentuk teks wawacan yang berkembang di Sunda. Temuan ini, dianalisis dengan menggunakan teori struktur puisi lama dan terjemahan. Penggunaan teori tersebut dapat mengungkap transmisi struktur dalam teks. Metode yang digunakan adalah metode filologi dan metode terjemahan. Setiap data dalam tulisan ini dikumpulkan dengan menggunakan studi pustaka untuk dianalisis. Hasil tulisan ini meliputi; (1) transmisi struktur dari tembang macapat menuju bentuk wawacan dalam teks naskah AS; dan (2) bentuk terjemahan dalam penggunaan diksi yang digunakan dalam teks naskah AS. Penggunaan konvensi tembang macapat dalam teks AS diimbangi dengan praktik “terjemahan” dan adaptasi beberapa istilah sebagai upaya penyesuaian dan pemahaman dari bahasa Jawa (sumber) menuju bahasa Sunda (sasaran).