Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PERFORMA TELUR TETAS BURUNG PUYUH JEPANG (Coturnix coturnix japonica) BERDASARKAN PERBEDAAN BOBOT TELUR Mirza Fantiana; Rachmat Somanjaya; Dini Widianingrum
AGRIVET JOURNAL Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitan dilaksanakan di Laboratorium Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Majalengka, mulai tanggal 10-30 Juni 2016. Tujuan penelitian yaitu untuk mengukur besarnya pengaruh perbedaan bobot telur terhadap performa telur tetas burung puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica) dan mengetahui bobot telur yang menghasilkan performa telur tetas paling baik. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu ringan (B1=9,5-10,5 g), sedang (B2=10,6-11,5 g), dan berat (B3=11,6-12,6 g), setiap perlakuan diulang 7 kali, setiap ulangan terdiri atas 5 butir telur, sehingga total telur yang digunakan sebanyak 105 butir. Hasil penelitian menunjukan bahwa bobot telur burung puyuh tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap fertilitas, lama tetas, daya tetas dan jenis kelamin, tetapi berpengaruh nyata terhadap bobot tetas. Telur yang ditetaskan berukuran normal dan ideal. Kategori bobot ringan dan sedang menunjukan performa yang baik, dan kategori terbaik yaitu kategori berat yang lebih banyak menghasilkan betina sekitar 57,14 %. Kata Kunci : Performa Telur Tetas, Puyuh, Bobot Telur 
KARAKTERISTIK SIFAT FISIK KOMPOS FESES SAPI POTONG MENGGUNAKAN BIOAKTIVATOR DARI LIMBAH RUMAH TANGGA Ali Nurdin; Oki Imanudin; Rachmat Somanjaya
AGRIVET JOURNAL Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

penggunaan bioaktivator limbah rumah tangga organik serta mengukur perbandingan penggunaan bioaktivator dari limbah tangga organik untuk menghasilkan sifat fisik kompos feses sapi potong yang paling baik. Metode penelitian secara eksperimental dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) sebanyak 5 perlakuan yaitu 0 ml, 25 ml, 50 ml, 75 ml dan 100 ml diulang sebanyak 4 kali. Parameter kualitas fisik yang diuji meliputi fluktuasi suhu, warna, bau, tekstur dan persentase penyusutan kompos. Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukan warna kompos coklat kehitaman, bau menyerupai tanah dan tekstur yang halus. Peningkatan suhu pada hari ke 12-13 dan berangsur turun sampai akhir pengomposan (hari ke 21). Penambahan bioaktivator sebanyak 100 ml (P5) merupakan dosis terbaik dalam menghasilkan kualitas fisik kompos yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. 
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PETERNAK DENGAN TINGKAT TATALAKSANA PEMELIHARAAN SAPI PERAH ULFA INDAH LAELA RAHMAH; RACHMAT SOMANJAYA
AGRIVET JOURNAL Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai hubungan antara karakteristik peternak dengan tingkat tatalaksana pemeriharan sapi perah telah dilaksanakan pada bulan juni di Desa Girimulya Kecamatan Banjaran. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik peternak dengan tingkat tatalaksana pemeriharaan sapi perah. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode survai. Data primer diperoleh dengan cara wawancara yang berpedoman pada kuesioner kepada 33 peternak sapi perah yang menjadi anggota koperasi Mekar Mulya di Desa Girimulya Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka. Data dianalisis dengan menggunakan rumus Korelasi Rank Spearman dan kemudian diinterprestasikan menurut aturan Guildford. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat karakteristik peternak di Desa Girimulya Kecamatan Banjaran berada pada kategori sedang dengan nilai (10,60). Tingkat tatalaksana pemeliharaan sapi perah di Desa Girimulya Kecamatan Banjaran berada pada kategori baik dengan nilai (89,1). Secara komulatif terdapat hubungan yang cukup kuat antara karakteristik peternak dengan tingkat tatalaksana pemeliharaan sapi perah (rs = 0,672).Kata Kunci: Karakteristik Peternak; Tatalaksana Pemeliharaan Sapi Perah
POTENSI WILAYAH KABUPATEN MAJALENGKA TERHADAP PENYEDIA HIJAUAN PAKAN DAN SUMBER PROTEIN HEWANI ASAL TERNAK Rachmat Somanjaya
AGRIVET JOURNAL Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daya tampung suatu daerah administratif terhadap populasi ternak pemakan hijauan dapat dioptimalkan melalui perhitungan daya dukung hijauannya sebagai bahan makanan ternak. Selain itu produksi hasil peternakan di suatu daerah dapat diketahui kontribusinya dalam penyediaan sumber protein hewani asal ternak. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi wilayah dalam penyediaan hijauan makanan ternak dan potensi peternakan sebagai penyedia kebutuhan protein hewani di Kabupaten Majalengka. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah studi literatur dengan model pendekatan Analisis Deskriptif melalui pemanfaatan data sekunder. Hasil studi menujukan bahwa populasi ternak masih dapat ditambahkan di wilayah Kabupaten Majalengka. Sedangkan kontribusi ketersediaan protein hewani asal ternak di wilayah Kabupaten Majalengka adalah sebesar 43,63% dari total kebutuhan protein hewaninya per individu. Kata Kunci: daya dukung hijauan pakan, protein hewani.
UJI ORGANOLEPTIK BAKSO BERBAHAN BAKU DAGING SAPI YANG DISUBSTITUSI DAGING DOMBA Aaf Falahudin; Rachmat Somanjaya; Tatan Rustandi
AGRIVET JOURNAL Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the effect and the best dose of beef meatballs substituted with lamb meat on the organoleptic properties of meatballs. The experimental design used was a Completely Randomized Design with 5 treatments and 4 replications. The treatments applied are as follows: B0 = 100% beef + 0% lamb meat, B1 = 75% beef + 25% lamb meat, B2 = 50% beef + 50% lamb meat, B3 = 25% beef + 75% lamb meat, B4 = 0% beef + 100% lamb meat. The results showed that hedonic panelists still liked the color and texture of all beef meatballs substituted with lamb meat on a hedonic scale rather like to like. However, for the smell and taste of meatballs, lamb substitutes are used for a maximum of 50% without affecting the level of preference.
UJI TINGKAT KESUKAAN TELUR AYAM RAS HASIL PERENDAMAN MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN MELINJO CICI LUPITASARI; RACHMAT SOMANJAYA; OKI IMANUDIN
AGRIVET JOURNAL Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap telur yang direndam menggunakan ekstrak daun melinjo. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) sebanyak 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas P0= 0%, P1= 5%, P2=10%, P3=15% dan P4=20%. Parameter tingkat kesukaan menggunakan metode hedonik meliputi tekstur, warna, rasa dan aroma telur. Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan bila terdapat perbedaan. Hasil pengujian tingkat kesukaan tekstur menunjukan bahwa perlakuan P0, P1 dan P2 tidak berbeda nyata,dan berbeda nyata dengan P3 dan P4. P3 tidak berbeda nyata dengan P4, dengan nilai rata-rata  2,84 – 3,80. Hasil pengujian tingkat kesukaan warna menunjukan bahwa perlakuan P0, dan P1 tidak berbeda nyata,dan berbeda nyata dengan P2, P4 dan P3. P2 tidak berbeda nyata dengan P4 dan P3 dengan nilai 2,56 – 3,72. Hasil pengujian tingkat kesukaan rasa menunjukan bahwa perlakuan P0 dan P1 tidak berbeda nyata,dan berbeda nyata dengan P2, P3 dan P4. P2 tidak berbeda nyata dengan P3 dan P4. dengan nilai rata-rata 2,20 – 3,48. Hasil pengujian tingkat kesukaan aroma menunjukan bahwa perlakuan P0 dan P1 tidak berbeda nyata,dan berbeda nyata dengan P2, P3 dan P4. P2 tidak berbeda nyata dengan P3 dan P4 berkisar antara 2,52 – 3,32 dengan kriteria tidak suka sampai agak suka. Berdasarkan  penelitian ini disimpulkan bahwa telur tanpa menggunakan perendaman ekstrak daun melinjo lebih disukai dibandingkan dengan telur yang  direndam menggunakan ekstrak daun melinjo. 
Pengaruh Enzim Papain Terhadap Keempukan Daging Rachmat Somanjaya
AGRIVET JOURNAL Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah menyusun, mengumpulkan data, dan menganalisa tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengaruh enzim papain terhadap keempukan daging.                Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa enzim papain merupakan enzim proteolitik yang dapat memecah atau menghancurkan rantai protein serabut otot dan tenunan pengikat, sehingga daging akan menjadi lunak atau empuk. Selain dengan penambahan papain, keempukan daging juga dipengaruhi oleh bangsa ternak dan teknik pemasakan.                Dari hasil penelitian dapat diberikan saran bahwa untuk memperoleh keempukan daging pada saat dikonsumsi yaitu dapat dengan cara pemberian enzim papain atau enzim proteolitik lainnya baik antemortem ataupun post mortem. Selain dengan menggunakan enzim proteolitik, teknik memasak juga harus diperhitungkan sesuai dengan kualitas daging yang akan dimasak ­Kata Kunci : Enzim papain, Keempukan daging
PENGARUH PENAMBAHAN MOL JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L.) SEBAGAI BIOSTARTER TERHADAP KUALITAS FERMENTASI LIMBAH IKAN LELE (Clarias sp) DINI WIDIANINGRUM; RACHMAT SOMANJAYA; OKI IMANUDIN
AGRIVET JOURNAL Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian yang berjudul pengaruh penambahan mol jambu biji merah (MJBM) sebagai biostarter terhadap kualitas fermentasi limbah ikan lele (LIL) telah dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Majalengka. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kualitas yang paling baik dari pengolahan limbah ikan lele (LIL) secara fermentasi. Percobaan fermentasi LIL dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan M0 (LIL + 2% EM4), M1 (LIL + 1,5% EM4 + 0,5% MOL jambu biji), M2 (LIL + 1% EM4 + 1% MOL jambu biji merah), M3 (LIL + 0,5% EM4 + 1,5% MOL jambu biji merah) dan M4 (LIL + 2% MOL jambu biji merah) setiap perlakuan diulang 4 kali. Peubah yang diamati meliputi kadar protein kasar, khitin, lemak kasar,  abu dan energi metabolis. Kualitas LIL diuji menggunakan analisis proksimat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas fermentasi yang paling baik terdapat pada M1 (LIL + 1,5% EM4 + 0,5% MOL jambu biji merah) yang mengandung protein kasar 60,28 %, khitin 12,88 %, lemak kasar 11,42 %, abu 71,24 %, dan energy 4017, 09 kkal/kg. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan mol limbah jambu biji merah dan EM4 sebagai biostarter berpengaruh nyata meningkatkan kualitas limbah ikan lele.Kata Kunci :  Fermentasi, Limbah Ikan Lele, Jambu Biji Merah.
Performa Domba Lokal Betina Dewasa Pada Berbagai Variasi Lamanya Penggembalaan Dan Potensi Hijauan Di Daerah Irigasi Rentang Kabupaten Majalengka Rachmat Somanjaya
AGRIVET JOURNAL Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThe reseach about “Local Ewes Performance at Various Variation of Length Grazing and Potential Forage in Rentang Irigation Areaof Kabupaten Majalengka” was conducted from March 25th to July 30th 2015. This research was held to measure the optimum grazing duration on  local ewes performance, and measure the potential and carrying capacity of forage as feed for local sheep grazing in Rentang Irigation Range of Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka.  local ewes sample in this reseach are 62 and they were spread on grazing variation<4 hours are 19, 4-6 hours are 21, and>6hours are 22. The research method used was a survey to farmer sand direct observation of thelocal ewes. Data were analyzed descriptively, todetermine differences inthe average performance of sheep tested with Analisys of Varian (ANOVA one way) and followed by Duncan's multiple rangetest. Furthermore, to determinethe potential offorage, dotiling (protected squaremeters) and the proximate analysis. The results showed that grazing > 6 hoursis along grazing optimum, evidenced bythe parent's performance overallis betterthan other long grazing. Irrigation Range area has a good potential in the supply forage foranimal feed. The total area ofpotentialin the forage supplyis230,459.08m2andable to provideas much grass field 1229.12 tons Dry Matter Digestible/year. The field grass productionis able to accommodate 7,547sheep. Quality of grass fieldis also quite good with acrude protein and TD Nheramounted to11.30and66.26%Key words      : Localsheep, length grazing, Performance of Production, andPotentialForage
KARAKTERISTIK KUANTITATIF PANJANG BADAN DAN TINGGI PUNDAK DOMBA GARUT BETINA CALON INDUK DI UPTD - BPPTD MARGAWATI GARUT Rachmat Somanjaya; Ulfa Indah Laela Rahmah; Rohman Rohman
AGRIVET JOURNAL Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS MAJALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian telah dilaksanakan mulai Bulan Oktober sampai dengan Bulan Desember 2017 di UPTD BPPTD Margawati Garut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur karakteristik kuantitatif panjang badan dan tinggi pundak Domba Garut betina calon induk dan menganalisis perbandingan karakteristik domba Garut yang digunakan sebagai betina calon induk di UPTD BPPTD Margawati Garut dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Metode penelitian yang digunakan adalah sensus terhadap domba betina calon induk sebanyak 40 ekor domba betina calon induk yang ada di UPTD BPPTD Margawati Garut. Analisis data menggunakan prosedur analisis statistika deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai rata-rata panjang badan di UPTD BPPTD Margawati Garut adalah 56,82+1,33 cm, nilai ini telah mendekati dengan Standar Nasional Indoneia (SNI) domba Garut yaitu 57,0 cm, sedangkan nilai rata-rata tinggi pundak adalah 66,55+1,69 cm, nilai ini telah sesuai dengan Standar Nasional Indoneia (SNI) domba Garut yaitu 66,0 cm.