Sitti Rahmatiah
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Sulesana

PEMIKIRAN TENTANG JIWA (AL-NAFS) DALAM FILSAFAT ISLAM Sitti Rahmatiah
Sulesana Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/.v11i2.4538

Abstract

Perbincangan tentang jiwa (al-nafs) dalam dunia Islam sudah di mulai sejak munculnya pemikir-pemikir Islam  di panggung sejarah.  Diawali dengan runtuhnya peradaban Yunani Romawi dan adanya gerakan penerjemahan, komentar serta karya orisinil yang dilakukan oleh para pemikir Islam terutama pada masa Daulah Abbasiyah, esensi dari pemikiran Yunani diangkat dan diperkaya.  Di sisi lain, para filsuf muslim juga terpengaruh oleh pemikiran Yunani dalam membahas nafs (jiwa), sehingga kubu filsafat Islam diwakili oleh Ibnu Rusyd terlibat perdebatan akademik berkepanjangan dengan al-Ghazali.  Dalam kurun waktu lebih dari tujuh abad, nafs (jiwa) dibahas di dunia Islam dalam kajian yang bersifat sufistik dan falsafi.
PERKEMBANGAN ALIRAN SPIRITUALISME DI DUNIA ISLAM (Tarekat Mawlawiyah) Sitti Rahmatiah
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5668

Abstract

Spiritual (atau pemikiran mengenai spiritualitas) dalam Islam di kenal dengan tasawuf atau mistisisme Islam, atau sufisme. Kata spiritual dari kata dasar spirit yang berarti antara lain bagian nonmaterial dari manusia, jiwa; wujud rasional yang berbeda dengan badan material; wujud non-fisik, misalnya Tuhan adalah spirit.  Dewasa ini telah terjadi peningkatan kecenderungan masyarakat terhadap spiritualitas. Fenomena ini ditandai dengan berkembangnya gerakan tarekat, pengajian eksekutif, kursus-kursus tasawuf, training spiritual, dan layanan konsultasi persoalan sosial keagamaan melalui media cetak dan elektronik. Jalaludin Rumi adalah pendiri tarekat Mawlawiyah di Konya, ajarannya terkenal dengan cara dzikir yang berbeda. Jika para sufi berdzikir sambil bersila dan menggoyang-goyangkan kepala, para darwish di aliran ini justru berdiri dan menari berputar-putar seperti gasing.  Jubah mereka berkembang seperti teratai di atas air. Dzikir mereka tidak hanya diiringi oleh bacaan Alquran dan puji-pujian pada Nabi, tetapi juga suara seruling dan rebab serta fabel dari puisi-puisi Rumi. Dalam tarian ini para darwish mengenyampingkan nafsu dan ego mereka dan berkosentrasi pada musik dan lirik yang dimainkan para Mawlana. Mereka berputar seperti planet-planet dan elektron dalam dunia makro dan mikro-kosmos.
GERAKAN DAKWAH SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI St. Rahmatiah
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9948

Abstract

Syekh Yusuf merupakan seorang ulama, sufi dan khalifah tarekat serta pejuang kenamaan pada zamannya. Bukti kongkrit dari perjuangannya adalah kemenangan Raja Banten (Sultan Agung Tirtayasa) atas Belanda ketika dibantu oleh Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf dikenal pada empat negeri, yaitu Kesultanan Banten (Jawa Barat), Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Caylon (Sri Lagka) dan Cape Town (Afrika Selatan). Beliau adalah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Caylon dan Afrika Selatan. Beliau dianggap sebagai bapak pada beberapa kumpulan masyarakat Islam di Afrika Selatan yang berjuang mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan paham adanya perbedaan kulit dan etnis. Syekh Yusuf memiliki pokok-pokok pemikiran serta pengaruh terhadap perkembangan Islam di bidang mistik. Di dalam upaya menjalankan pengajaran dan dakwah Islam melalui tasawuf, Syekh Yusuf selalu mengaitkan tasawufnya dengan aqidah Islamiah.  Akidah yang benar, adalah akidah yang berdasarkan kepada ittiba’ al-Rasûl.  Artinya apa yang patut diyakini oleh hamba terhadap Allah adalah sebagaimana yang telah termaktub dalam Alquran dan al-Sunnah. Keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qada’ dan qadar-Nya, mestilah didasarkan kepada kedua rujukan dasar tersebut. Selain Alquran dan al-Sunnah, Syekh Yusuf memperincikan rukun tasawuf kepada sepuluh perkara, yaitu: Tahrid al-Tauhid, Faham al-Sima’i, Husn al-‘Ishra, Ithar al-Ithar, Tark al-Ikhtiyar, Sur’at al-Wujd, al-Kahf  ‘an al-Khawâtir, Kathrat al-Safar, Tark al-Iktisab, dan Tahrîm al-Iddihâr.