Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PROSES MORFOLOGIS PEMBENTUKAN KATA RAGAM BAHASA WALIKA Wahyu Dwi Putra; Krisanjaya Krisanjaya; Lilianan Muliastuti
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7 No 1 (2016): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.25 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.071.05

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembentukan kata dan fungsi sosiolinguistik yang terdapat pada bahasa Walikan Malang. Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan pembaca mengenai pembentukan kata khususnya pada bahasa Walikan Malang. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi salah satu referensi pembelajaran pembentukan kata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan dengan teknik analisis isi. Setelah dilakukan penelitian, data yang didapatkan kemudian dipilah menjadi dua klasifikasi, yaitu pembentukan kata monomorfemis dan pembentukan kata polimorfemis. Hasil didapatkan setelah dilakukan analisis pada tiap klasifikasi besar tersebut terbagi atas dua bagian. Pertama, pada pembentukan kata polimorfemis kosakata polimorfemis bahasa Walikan yang diperoleh berjumlah 33 kata. Kata-kata polimorfemis tersebut dibentuk melalui proses afiksasi dan proses morfologis bahasa Indonesia dengan afiks di- dan sufiks –an, reduplikasi, komposisi, akronim, sehingga diperoleh gambaran mengenai kosakata polimorfemis bahasa Walikan. Kedua, kosakata monomorfemis bahasa Walikan, kosakata monomorfemis merupakan gabungan kata dengan kategori nomina, verba, adverbia, dan adjektiva, serta perubahan posisi suku kata yang disertai perubahan bunyi dan perubahan posisi suku kata secara keseluruhan. Kata kunci: pembentukan kata, polimorfemis, dan monomorfemis.
GABUNGAN KOMBINASI PROPOSISI (REKURSIF) DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK RECTOVERSO KARANGAN DEE Aji Bagoes Risang Panengah; Krisanjaya Krisanjaya; Edi Puryanto
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7 No 2 (2016): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.971 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.072.04

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai gabungan kombinasi proposisi (rekursif) dalam kumpulan cerita pendek Rectoverso karangan Dee. Metode yang digunakan dsalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi.Penelitian ini difokuskan pada pola-pola gabungan kombinasi proposisi atau rekursif dalam wacana kumpulan cerita pendek Rectoverso karangan Dee. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut.Kumpulan cerita pendek Rectoverso karya Dee menggunakan dua pola gabungan kombinasi proposisi (rekursif) yaitu pola 1 atau gabungan antara kombinasi proposisi koordinasi dan relativisasi dan pola 2 atau gabungan kombinasi proposisi koordinasi dan komplementasi. Sedangkan pola 3 atau gabungan kombinasi proposisi relativisasi dan komplementasi sama sekali tidak muncul. Pola gabungan kombinasi proposisi (rekursif) yang paling banyak muncul adalah pola 1 atau gabungan antara kombinasi proposisi proposisi koordinasi dan kombinasi proposisi relativisasi yaitu sebanyak 87,5%. Sementara itu, pola 2 atau gabungan kombinasi proposisi koordinasi dan komplementasi digunakan sebanyak 12,5%. Dominasi kemunculan pola 1 gabungan kombinasi proposisi (rekursif) disebabkan karena penulis banyak menggunakan bentuk kombinasi proposisi koordinasi untuk menghubungkan proposisi-proposisinya dengan menggunakan konjungsi koordinatif karena cara tersebut merupakan bentuk pengombinasian yang paling mudah. Selain itu, penulis juga banyak menggunakan kombinasi proposisi relativisasi untuk membatasi proposisi agar maksud yang ingin disampaikan tidak melebar dan lebih fokus dengan cara membatasi bagiannya. Kombinasi proposisi koordinasi dan relativisasi yang telah digunakan kemudian dipadukan kembali dengan cara rekursif sehingga terbentuklah pola 1 gabungan kombinasi proposisi. Kata Kunci: Kombinasi Proposisi, Gabungan Kombinasi Proposisi, Cerita Pendek
TRANSITIVITAS TEKS ANEKDOT KOMUNIKASI JENAKA KARYA DEDDY MULYANA Tias Oktaviani; Miftahul Khairah Anwar; Krisanjaya Krisanjaya
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8 No 1 (2017): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.512 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.081.07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui transitivitas dalam teks anekdot Komunikasi Jenaka. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Fokus dalam penelitan ini adalah transitivitas yang merupakan realisasi dari fungsi ideasional yang terdapat dalam teks anekdot Komunikasi Jenaka. Objek penelitian ini adalah kumpulan teks anekdot Komunikasi Jenaka karya Deddy Mulyana, yang dianalisis sebanyak limabelas teks terpilih. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tabel kerja transituvitas yang mencakup unsur-unsur dalam transitivitas berserta subkategorinya. Hasil dari penelitian ini adalah, proses material mendominasi cerita yang hakikatnya sesuai dengan sifat realis yang dimiliki teks anekdot. Kemudian, sirkumtan lokasi yang menyatakan tempat dan waktu menjadi pelengkap paling banyak digunakan pengarang. Selain itu, dalam penelitian ini ditemukan 61 pola kalimat dalam transitivitas teks anekdot tersebut. Kata kunci: transitivitas, fungsi ideasional
STRUKTUR DAN MAKNA VERBA PADA PERSIDANGAN PERMOHONAN JUDICIAL REVIEW TERHADAP UNDANG-UNDANG: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK DI MAHKAMAH KONSTITUSI Asep Supriyana; Krisanjaya Krisanjaya; Asisda Wahyu
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8 No 2 (2017): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.097 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.082.06

Abstract

Penelitian ini bertujuan memperoleh pemerian lengkap mengenai struktur dan makna verba yang mencakup: 1) parameter verba, 2) konstruksi verba, (3) kategorisasi verba, dan 4) makna verba dalam ranah hukum. Penelitian deskriptif kualitatif ini memiliki variabel: 1) aspek materiil Undang-Undang yang dilakukan judicial review di Mahkamah Konstitusi, dan 2) UU Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Struktur dan makna verba yang dikaji dalam penelitian ini bertumpu pada medan leksikal atau distingtive feature kata-kata atau ungkapan yang menjadi materi perkara. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat verba tindakan yaitu diperiksa, melimpahkan, diangkat, dan diberhentikan. Struktur dan peran verba dari aspek formal linguistic meliputi transitif maupun intransitif, berdiatesis aktif dan pasif, aspektualitas inseptif, perfektif, dan progresif. Verba yang muncul berciri komponen semantik tindakan yang bersifat dinamis [+dinamis], [+sengaja], dan [-/+kinesis]. Saran yang patut disampaikan adalah bahwa kajian interdisipliner selayaknya memberi manfaat lebih banyak dalam penemuan hukum suatu perkara pengujian materiil undang-undang. Kata Kunci: struktur dan makna verba, medan leksikal, juducial review
AFIKSASI PADA KARANGAN ANAK DI SDN JATIWARINGIN 1: SUATU KAJIAN BERDASARKAN PEMEROLEHAN BAHASA Nada Amelia; Krisanjaya Krisanjaya; Miftahulkhairah Anwar
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.577 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.02

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai afikasi yang terdapat pada karangan anak di SDN Jatiwaringin 1, Kota Bekasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Masalah pada penelitian ini terdapat pada afiksasi yang terdapat pada karangan anak di SDN Jatiwaringin 1. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kunci, sedangkan instrumen pendukung dibantu oleh tabel analisis kerja. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Oktober 2017 s.d. Januari 2018. Objek pada penelitian ini adalah 30 karangan anak kelas 5 di SDN Jatiwaringin 1. Hasil penelitian ini menunjukkan dari 30 karangan anak yang diteliti, ditemukan 17 bentuk afiks yang terdapat pada proses prefiksasi, sufiksasi, konfiksasi, dan klofiksasi. Proses infiksasi tidak ditemukan pada data. 17 bentuk afiks tersebut membentuk tiga ketegori kelas kata, yaitu verba, nomina, dan ajektiva. Pembentukan kata dengan afiksasi ditemukan pada bentuk dasar berupa kata dasar, reduplikasi, kompositum dan kosakata asing. Afiksasi yang dikaji berdasarkan pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa berdasarkan usia kronologisnya, bentuk afiksasi yang terdapat pada karangan anak kelas 5 SD di SDN Jatiwaringin 1 telah melampaui usia kronologis pemerolehan bahasa anak 5 tahun. Sementara itu, dilihat dari satuan pembentuk morfem yang dikaji melalui PUR, pemerolehan bahasa anak kelas 5 di SDN Jatiwarigin 1 telah berada pada tahap 5 dari lima tahapan pemerolehan bahasa pertama. Kata Kunci: Afiksasi, Karangan Anak, Pemerolehan Bahasa
LITERASI MEDIA UNTUK MENGANTISIPASI BERITA PALSU (HOAX) DI MEDIA SOSIAL BAGI MASYARAKAT PULAU TIDUNG KEPULAUAN SERIBU Aulia Rahmawati; Krisanjaya Krisanjaya
Bahasa Indonesia Vol 16 No 01 (2019): Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.508 KB) | DOI: 10.21009/sarwahita.161.07

Abstract

Community Service is carried out by donating Training to Anticipate Fake News (Hoax) on Social Media, which is a pro-active form and participation of Universities in the Thousand Islands Police Resort program through the local government in overcoming the problem of media literacy (dissemination of hoax news), so that people can distinguish which information is correct and which information is fake or hoax so that the acceleration and effectiveness of development programs can be achieved which is marked by the better quality of public understanding related to false information (hoax) on social media. Media Literacy Training Anticipating Fake News (Hoax) in Social Media uses the Empowering 8 (E8) model approach. Post test results from 26 participants who took part in the training, there was a significant increase in value, namely as many as 26.56 points from the average value of the pre test value of 55 points with a value range of 20 to 70 points, to 74.56 points with a value range of 60 to 80 points Pengabdian kepada masyarakai ini dilaksanakan dengan mengadakan Pelatihan Literasi Media Mengantisipasi Berita Palsu (Hoax) Di Media Sosial, yang merupakan wujud pro aktif dan partisipasi Perguruan Tinggi terhadap program Polres Kepulauan Seribu melalui pemerintah setempat dalam mengatasi persoalan literasi media (penyebaran berita hoax), agar masyarakat bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana informasi yang palsu atau hoax sehingga dapat tercapai akselerasi dan efektivitas program pembangunan yang ditandai oleh semakin baiknya kualitas pemahaman masyarakat terkait informasi yang palsu (hoax) pada media sosial. Pelatihan Literasi Media Mengantisipasi Berita Palsu (Hoax) Di Media Sosial menggunkan pendekatan model Empowering 8 (E8). Hasil post test dari 26 peserta yang mengikuti pelatihan, terdapat peningkatan nilai yang cukup signifikan, yakni sebanyak 26.56 poin dari nilai rata-rata nilai pretest adalah 55 poin dengan rentang nilai 20 s.d 70 poin, menjadi 74.56 poin dengan rentang nilai 60 s.d 80 poin
PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIS MEMBACA INFORMASI HUKUM DI MEDIA SOSIAL BAGI WARGA KAMPUNG SAWAH KELURAHAN JATIMURNI BEKASI Krisanjaya; Erfi Firmansyah; Aulia Rahmawati
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.935 KB)

Abstract

Abstract Kampung Sawah as one of the Betawi communities has its own uniqueness, namely that there are three places of worship close to each other, with Muslims, Christians, and Catholics who still have family relations and have existed long before Indonesia's independence. This harmony is believed to be formed and still lasting because of the same customs, the same culture, the same language, even though the religions are different. This harmony can change if the information technology tools controlled by the citizens are not accompanied by a wise attitude in their use. The solution method adopted is through legal information literacy training through social media accompanied by pretest and posttest as a measure of success. The results of the training show that residents in Kampung Sawah have been able to use this activity as a literacy guide with a wise attitude towards legal information, both when obtaining, managing, and communicating the results of social media that have legal information. The training participants understand how to behave in order to obtain legal electronic information through social media by prioritizing truth value rather than benefits for the recipient, distinguishing electronic information through social media with correct, incorrect, or questionable content. Practical instructions that are designed are very important to improve literacy in reading legal information through social media so that residents and officials of Kelurahan Jatimurni have a wise attitude in obtaining, managing, and communicating legal information in the form of electronic information. Abstrak Kampung Sawah sebagai salah satu komunitas masyarakat Betawi memiliki keunikan tersendiri yaitu terdapat tiga tempat ibadah yang berdekatan, dengan pemeluk agama Islam, Kristen, dan Katolik yang masih ada hubungan keluarga dan terjalin sejak dulu sebelum Indonesia merdeka. Keharmonisan tersebut diyakini terbentuk dan tetap langgeng karena adat-istiadat yang sama, budaya sama, bahasa sama, meskipun agama berbeda. Keharmonisan tersebut dapat berubah apabila alat teknologi informasi yang dikuasai warga tidak dibarengi sikap bijak dalam penggunaannya. Metode pemecahan yang ditempuh adalah melalui pelatihan literasi informasi hukum melalui media social diertai pretes dan postes sebagai takaran keberhasilan. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa warga di Kampung Sawah telah dapat menjadikan kegiatan ini sebagai pedoman berliterasi dengan sikap bijak terhadap informasi hukum, baik pada saat memperoleh, mengelola, maupun mengomunikasikan hasil bermediasosial yang memiliki informasi hukum. Peserta pelatihan memahami bagaimana seharusnya bersikap agar mendapat informasi elektronik yang bermuatan hukum melalui media sosial dengan cara mengutamakan nilai kebenaran daripada manfaat bagi penerima, membedakan informasi elektronik melalui media sosial yang benar isinya, salah isinya, ataupun diragukan isinya. Petunjuk praktis yang dirancang sangat penting untuk meningkatkan literasi membaca informasi hukum melalui media social sehingga warga dan aparatur kelurahan Jatimurni memiliki sikap bijak dalam memperoleh, mengelola, maupun mengomunikasikan informasi hukum berupa informasi elektronik.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN QR CODE UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SISWA DI SIT AL HARAKI DEPOK Aulia Rahmawati; Krisanjaya Krisanjaya; Gres Grasia Azmin
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 8, No 1 (2022): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v8i1.4471

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan sistem pembelajaran di SDIT Al-Haraki.   Dengan adanya pengembangan dan perbaikan sistem di sekolah tersebut akan memberikan manfaat: 1) dapat meningkatkan keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran elektronik; 2) dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran; dan 3) dapat meningkatkan motivasi dan keterampilan siswa dalam menggunakan media elektronik. Untuk mengukur tingkat keberhasilan pelatihan, digunakan Model Evaluasi Empat Level Kirkpatrick yang diinisiasi oleh Donald Kirkpatrick (1996) yakni Reaction, Learning, Behavior dan Result. Namun karena pelaksanaan pelatihan dilaksanakan semasa pandemic Covid 19, maka evaluasi hanya dilakukan terhadap level 1 – 3 saja. Hasil evaluasi yang diperoleh dari hasil respon kuesioner dan penugasan peserta pelatihan, untuk level 1 (reaction), nilai rata-rata keseluruhan aspek sebesar 4.09 (baik), hasil evaluasi level 2 (learning)  berdasarkan penilaian hasil penugasan dan tanya jawab  saat pelatihan berlangsung diperoleh hasil bahwa materi dapat diterima dengan baik, dan hasil evaluasi level 3 (behavior) adalah baik dengan rincian bahwa mayoritas peserta merasa bahwa pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan telah membantu mereka dalam menjalankan tugas secara efektif dengan nilai rata-rata 4.13, meperbaiki efisiensi dan kualitas kinierja dengan nilai rata-rata 4.32, dan merasa berkontribusi terhadap peningkatan output dengan nilai rata-rata 4.25.Kata Kunci: pelatihan guru; media pembelajaran; media elektronik; CQ Code.
ONOMATOPE DALAM MASYARAKAT DESA ADAT KASEPUHAN CIPTAGELAR SUKABUMI JAWA BARAT Aulia Rahmawati; Krisanjaya; Asep Supriyana
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 13 No 2 (2022): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam juga adat dan budaya karena terdapat banyak suku yang hidup berdampingan di dalamnya. Kekayaan adat dan budaya Indonesia ini wajib dijaga dan dipertahankan sebagai warisan leluhur. Hal inilah yang diyakini masyarakat desa Adat Kasepuhan Ciptagelar dengan memegang teguh budaya tradisi leluhur. Muhammad Mahdi berpendapat bahwa masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar mampu mengendalikan terjangan arus modernisasi filter nilai adat yang terlestarikan di lingkungan masyarakat Adat melalui bahasa. Bahasa adalah lambang bunyi yang digunakan oleh anggota masyarakat dalam berinteraksi, berkomunikasi, bahasa juga dapat mengidentifikasi seseorang. Bahasa juga sebagai karakteristik dalam suatu budaya tertentu. Onomatope adalah suatu penamaan benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan itu. Onomatope memiliki sifat arbitrer. Pada setiap bahasa, tiruan bunyi yang digunakan adalah yang didengar oleh penutur asli bahasa tersebut namun dalam bahasa lain, tiruan bunyi tersebut sulit diprediksi. Sebab hal ini berkaitan dengan kesepakatan masyarakat bahasa sebagai pengguna di suatu wilayah tersebut. Dengan kata lain, onomatope di suatu tempat, belum tentu memiliki penamaan bahkan makna yang sama di tempat lain. Salah satu jenis onomatope yang ditemukan dalam masyarakat adat kasepuhan Ciptagelar adalah bunyi peristiwa alam sekitar /suara-suara alam yang merupakan tiruan yang dihasilkan oleh alam, seperti suara debur ombak, desis angin, suara hujan dan lain-lain. Adapun onomatope tersebut yaitu Ngahiliwir, Ngepris, Ngagebrét, Keclak, Gumuruh, Ngarekét.
EKOLEKSIKON KEMARITIMAN SEBAGAI MANIFESTASI PENGETAHUAN EKOLOGIS ORANG PULO DI PULAU PANGGANG, DKI JAKARTA Sigit Widiatmoko; NFN Krisanjaya; Nur Sekhudin
Widyaparwa Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i1.928

Abstract

This study aims to describe the form of lingual units and the meaning of the maritime ecolexicon of orang Pulo in Panggang Island, Jakarta. This study uses a qualitative approach. Data collection was carried out using literature study techniques by reading various literature, direct observation to Panggang Island, and interviewing local community leaders. Based on the results of data analysis, there were 68 maritime ecolexicon with lingual units in the form of 29 monomorphemic ecolexicons, 12 polymorphemic ecolexicons formed through reduplication and compounding processes, and 27 ecolexicon phrases. The meaning of the ecolexicon is categorized as fauna, flora, topography, and climate. The meaning of the ecolexicon in the category of fauna refers to fish, squid, crabs, and shell. The meaning of the ecolexicon in the category of flora refers to land plants and sea plants. The classification of biotic diversity (flora and fauna) is carried out based on traditional taxonomy. Ecolexicon meanings were also found in the topographical category referring to land and sea. The meaning of the ecolexicon in the category of climate refers to winds and ocean currents. All ecolexicons are manifestations of the ecological knowledge of orang Pulo which are obtained from experience, inheritance, and interactions with people outside the orang Pulo.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk satuan lingual dan makna dari ekoleksikon kemaritiman orang Pulo di Pulau Panggang, Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik studi pustaka dengan membaca berbagai literatur, observasi langsung ke Pulau Panggang, dan wawancara tokoh masyarakat setempat. Berdasarkan hasil analisis data, terdapat 68 ekoleksikon kemaritiman terdiri atas satuan lingual berbentuk monomorfemis sebanyak 29 ekoleksikon, polimorfemis sejumlah 12 ekoleksikon yang dibentuk melalui proses reduplikasi dan pemajemukan, dan frasa sebanyak 27 ekoleksikon. Berdasarkan tinjauan makna, ekoleksikon tersebut berkategori fauna, flora, rupabumi, dan iklim. Makna ekoleksikon berkategori fauna mengacu pada ikan, cumi-cumi, kepiting, serta kerang. Makna ekoleksikon berkategori flora mengacu pada tanaman darat serta tanaman laut. Pengklasifikasian ragam biotik (flora dan fauna) tersebut dilakukan berdasarkan taksonomi kerakyatan yang diperoleh secara tradisional. Makna ekoleksikon pun ditemukan berkategori rupabumi yang mengacu pada daratan dan lautan. Makna ekoleksikon berkategori iklim mengacu pada angin dan arus laut. Semua ekoleksikon merupakan manisfestasi pengetahuan ekologis orang Pulo yang diperoleh dari pengalaman, pewarisan, dan interaksi dengan masyarakat luar Pulo.