Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS RASIO PROTEKSI ANTIULSER SARI BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton) MENGGUNAKAN MENCIT SEBAGAI MODEL HEWAN COBA Nyi Mekar Saptarini; Dadan Suryasaputra; Atep Misbah Saepulhak
Majalah Obat Tradisional Vol 16, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.333 KB) | DOI: 10.22146/tradmedj.8343

Abstract

Peptic ulcer were been caused by an imbalance between the aggressive factors and a number of defense mechanisms. Pepino (Solanum muricatum Aiton) fruit predicted had antiulcer activity. This study is aimed to test the antiulcer activity of pepino fruit juice in Swiss-Webster mice model which induced by 50 µL concentrated acetic acid. The steps in this study consist of making of fruit juice, phytochemical screening, testing of antiulcer activity at 300, 500, dan 800 µL/20 g BW in doses, and data analyzed using ANOVA. The concentration of pepino fruit juice was 2.5 g/mL. Phytochemical screening showed that pepino fruit juice contain alkaloids, flavonoids, and tannins with protection ratio were 6.02, 23.15, and 63.29% at 300, 500, dan 800 µL/20 g BW, respectively.
STUDI HUBUNGAN KUANTITATIF STRUKTUR-AKTIVITAS, MOLECULAR DOCKING DAN EVALUASI IN VITRO BEBERAPA FLAVONOID TANAMAN SEBAGAI COX-2 INHIBITOR Dadan Suryasaputra; Rina Anugrah; Algi Ikhsan; Rismaya Rismaya
Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.384 KB) | DOI: 10.22236/farmasains.v6i1.2562

Abstract

Flavonoid merupakan senyawa turunan polifenol, yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan dianggap sebagai kelompok baru antinflamasi dengan menghambat enzim COX-2, contohnya hesperidin, diosmin, dan ginkgetin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi beberapa flavonoid (luteolin, kaemferol, apigenin, kuersetin, kuersitrin, katekin, baikalein, rutin, dan mirisetin) sebagai inhibitor selektif COX-2 secara hubungan kuantitatif struktur aktivitas (HKSA), molecular docking dan potensinya terhadap enzim COX-2 secara in vitro. Flavonoid yang diprediksikan menggunakan HKSA memiliki aktivitas adalah rutin, quersitrin, mirisetin dan quersetin dengan nilai aktivitas log(1/IC50prediksi) berturut-turut 7.52 μM; 6.25 μM; 5.48 μM; dan 5.46 μM. Dari hasil uji molecular docking terhadap enzim COX-2 diperoleh 4 flavonoid potensial yaitu; mirisetin, kuersetin, catechin, and apigenin, dengan RMSD 0,2301 ± 0,0185 dan nilai ΔG-nya berturut-turut: -8.57; -8.34; -8.68; and -8.54 (kcal/mol). Ligan yang memiliki potensi terhadap reseptor target dilakukan pengujian aktivitas inhibisi COX-2 secara in vitro dilakukan dengan teknik ELISA yaitu rutin, quersetin dan mirisetin, dengan persen inhibisi 42,9%; 40,26%; 53,53% dan celecoxib sebagai pembanding dengan 57,32% inhibisi. Ketiga flavonoid ini berpotensi dikembangkan sebagai inhibitor COX-2.
POTENSI KRIM ANTIOKSIDAN GETAH JARAK TINTIR (Jatropha mulfida L.) DALAM MENGHAMBAT ENZIM TIROSINASE SECARA IN SILICO SEBAGAI ALTERNATIF AGEN PEMUTIH Farah Salsabilla Saidah Azhar; Sheila Nur Hasanah; Renata Ananda Marthasedana; Meyra Pratami Dewilestari; Sri Restu Andriyani; Wulan Anggraeni; Dadan Suryasaputra; Akhirul Kahfi Syam; Hestiary Ratih
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10700

Abstract

Getah Jarak Tintir (Jatropha multifida Linn.) yang berasal dari famili Euphorbiaceae diketahui memiliki kandungan fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sebagai antioksidan, interaksi senyawa metabolit sekunder dalam getah jarak tintir dengan enzim tirosinase, dan mengaplikasikannya dalam bentuk sediaan. Metode pengujian antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan pengujian aktivitas inhibitor enzim tirosinase dilakukan dengan in silico metode molekular docking. Formulasi hand and body cream getah jarak tintir dibuat dalam tiga formula yaitu F0 (basis krim sebagai kontrol), F1 (basis krim dengan 100×IC50 serbuk getah jarak tintir), F2 (basis krim dengan 200×IC50 serbuk getah jarak tintir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa yang mempunyai afinitas kuat dalam menghambat enzim tirosinase yaitu Multifidol dengan nilai ∆G sebesar -6,01 kkal/mol dan KI sebesar 39,37 nM. Hasil pengujian antioksidan dari hasil freeze drying serbuk getah jarak tintir menunjukkan nilai IC50 sebesar 8,33 µg/mL yang termasuk kategori sangat kuat. Persen inhibisi pada krim F1 (konsentrasi zat aktif 8,33 µg/mL) dan F2 (konsentrasi zat aktif 16,4 µg/mL) berturut-turut adalah 25,08% dan 50,57% yang termasuk kategori sangat kuat dan berpotensi sebagai alternatif krim pemutih. Kata kunci: Getah jarak tintir, molecular docking, krim, antioksidan, DPPH  The sap of Jarak Tintir (Jatropha multifida Linn.) from the family Euphorbiaceae was known to contain phenolic and flavonoid compounds that have the potential as natural antioxidants. This study aimed to determine the content of metabolites as antioxidants, the interaction of secondary metabolites in Jatropha sap with tyrosinase enzymes, and to apply them in a dosage form. The antioxidant test method was carried out using the DPPH method and the tyrosinase enzyme inhibitory activity was tested using the molecular docking in silico method. The hand and body cream formulation of the sap was made in three formulas, namely F0 (cream base as control), F1 (cream base + 100×IC50 of the sap powder), F2 (cream base + 200×IC50 of the sap powder). The results showed that the compound that has a strong affinity to inhibit the tyrosinase enzyme is Multifidol with a ∆G value of -6.01 kcal/mol and a KI of 39.37 nM. The freeze-drying of the sap powder had the potential as an antioxidant with an IC50 value of 8.32 g/mL which was categorized as very strong activity. The percentage of inhibition in F1 cream (active substance concentration 8.32 g/mL) and F2 (active substance concentration 16.4 g/mL) were 25.08% and 50.57%, respectively, included in the very strong category and have potential to be alternative whitening cream. Keywords:  the sap of Jarak tintir, molecular docking, cream, antioxidant, DPPH
Perbandingan Efisiensi Sintesis Senyawa 1,2-Difenil-4-Trifluorometil-3,5-Pirazolidindion dengan Teknik Refluks dan Radiasi Microwave Anugrah, Rina; Sukmadewi, Maharani; Rahmayanti, Rima; Mardatillah, Athina; Suryasaputra, Dadan
PharmaCine : Journal of Pharmacy, Medical and Health Science Vol 3 No 1 (2022): PharmaCine : Journal of Pharmacy, Medical and Health Science
Publisher : Bachelor of Pharmacy Study Program, Faculty of Health Sciences, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/pc.v3i1.7244

Abstract

Latar Belakang: Senyawa 1,2-difenil-4-trifluorometil-3,5-pirazolidindion merupakan senyawa turunan 5-pirazolidindion yang berdasarkan hasil penelitian secara in silico berpotensi sebagai inhibitor selektif COX-2. Tujuan dan Metode: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efisiensi sintesis senyawa 1,2-difenil-4-trifluorometil-3,5-pirazolidindion dengan teknik refluks dan teknik radiasi microwave. Sintesis senyawa dilakukan dengan mereaksikan senyawa 1,3-dietil- 2-trifluorometil-propandioat dengan hidrazobenzen dalam pelarut metanol dalam kondisi asam (HCl). Hasil: Hasil sintesis diperoleh senyawa berbentuk serbuk hablur berwarna ungu kebiruan (teknik refluks) dan berwarna ungu keabuan (teknik radiasi microwave). Bobot hasil sintesis senyawa dengan teknik refluks adalah 1,239±0,005 g dan dengan teknik radiasi microwave adalah 2,306±0,007 g. Ada perbedaan secara bermakna antara bobot hasil sintesis senyawa dengan teknik refluks dan teknik radiasi microwave (t hitung > t tabel, P = 0,99). Berdasarkan hasil KLT, senyawa hasil sintesis dengan teknik radiasi microwave lebih murni (satu bercak) dibandingkan dengan teknik refluks (tiga bercak). Berdasarkan pemantauan dengan spektrofotometri UV dan Inframerah, ada kemiripan bentuk spektrum senyawa hasil sintesis dengan teknik refluks (λmaks 290,9 nm) dan teknik radiasi microwave (λmaks 288,3 nm). Simpulan: Sintesis senyawa dengan teknik radiasi microwave lebih efisien dibandingkan dengan teknik refluks. Kata Kunci : 1,2-difenil-4-trifluorometil-3,5-pirazolidindion, sintesis, refluks, radiasi microwave
Perbandingan Metode Sonikasi dan Radiasi Gelombang Mikro dalam Sintesis Isoeugenol dengan Katalis Rutenium(III) klorida Mardatillah, Athina; Suryasaputra, Dadan; Anugrah, Rina; Kartika, Tyara; Widiastia, Estu
Jurnal Kartika Kimia Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Kartika Kimia
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Sciences and Informatics, University of Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jkk.v6i2.212

Abstract

Transformasi eugenol menjadi isoeugenol diperoleh melalui reaksi isomerisasi, reaksi ini umumnya dipengaruhi oleh katalis dan suhu. Salah satu upaya untuk mempercepat laju reaksi dapat menggunakan bantuan energi agar dapat menghasilkan metode sintesis yang efisien. Metode yang umum digunakan dalam mempercepat laju reaksi diantaranya dengan energi ultrasonik dan energi dari gelombang mikro. Sebanyak 0,24% (b/b) katalis direaksikan dengan eugenol kemudian dilakukan sonikasi serta radiasi gelombang mikro. Analisis karakterisasi pada larutan produk sintesis dengan menggunakan kedua metode menunjukkan adanya perubahan struktur pada ikatan rangkap gugus alkenil eugenol menjadi isoeugenol, yang dibuktikan dengan nilai indeks bias, profil KLT, spektrum IR, dan 1H-NMR. Nilai indeks bias pada larutan produk sintesis dengan menggunakan sonikasi dan radiasi gelombang mikro masing-masing adalah 1,579 dan 1,574. Hasil analisis spektroskopi inframerah terhadap produk-produk sintesis kedua metode terdapat gugus (C=C) alkena pada 1602,25 cm-1 dan gugus metil (–CH3) pada 2938,83 cm-1. Begitu pula hasil analisis spektroskopi 1H–NMR terhadap produk sintesis menghasilkan 12 proton, dan pada geseran kimia δH 1,85 ppm dan δH 1,87 ppm menunjukkan terbentuknya gugus –CH3. Sehingga berdasarkan nilai persen rendemen produk sintesis yang dihasilkan dengan menggunakan metode sonikasi dan radiasi gelombang mikro yang masing-masing sebesar 97,87% dan 82,97%, menunjukkan metode sonikasi lebih efisien.
Analisis Kualitas dan Edukasi Obat yang disimpan di Rumah Warga di RW. 010 Kampung Sekeloa Desa Cangkorah, Batujajar, Kabupaten Bandung Anugrah, Rina; Suryasaputra, Dadan; Pratama, Edo Wahyu; Ridho, Muhammad Farid; Alwi, Sri Wahyuni; Suciyani, Suciyani; Hartanti, Ayu; Hanifah, Bilqiisty; Novitasari, Helma; Hikmah, Hikmah; Damanik, Monika Stella Himsar; Ulva, Nurul; Febrianti, Rizky
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v4i1.296

Abstract

Obat dan suplemen merupakan salah satu kebutuhan masyarakat yang biasanya tersedia di rumah. Masyarakat biasanya menyimpan obat di rumah berupa sumplemen untuk menjaga kesehatan, keperluan darurat, obat rutin yang sedang dikonsumsi dan sisa obat berobat ke dokter. Namun seringkali masyarakat tidak memperhatikan kualitas obat yang ada di rumahnya berkaitan dengan sumber diperoleh, cara menggunakan, cara menyimpan dan membuangnya jika sudah kadaluarsa atau yang biasa dikenal sebagai Dagusibu. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan analisis kualitas obat yang disimpan di rumah warga RW.010 Kampung Sekeloa, Desa Cengkorah serta Edukasi cara menjaga kualitas obat yang disimpan di rumah dan cara menggunakan yang tepat sehingga tercapai tujuan terapinya. Kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 3 Maret 2023 dengan dengan teknik wawancara menggunakan prinsip DAGUSIBU secara door to door (home pharmacy care). Dari kegiatan yang dilakukan menunjukkan terjadi peningkatan signifikan dalam penggunaan obat yang tepat dan rasional.