Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Implementasi Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Scoping Review Yohanes Rindo Ari Wijoyo; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.721

Abstract

Latar Belakang: Komunikasi terapeutik merupakan kompetensi inti keperawatan sekaligus mekanisme penting untuk mewujudkan pelayanan yang berpusat pada pasien. Bukti yang tersedia masih tersebar pada berbagai konteks seperti rawat inap, rawat jalan, gawat darurat, intensive care, onkologi, psikiatri, dan pelayanan primer, sehingga belum mudah dipetakan dalam satu kerangka yang utuh. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai implementasi komunikasi terapeutik perawat dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025. Studi yang diikutkan terdiri atas 12 studi cross-sectional, 4 studi kualitatif, 3 studi kuasi-eksperimental/pre-eksperimental, dan 1 studi survei. Hasil: Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) komunikasi terapeutik meningkatkan kepuasan pasien/keluarga dan persepsi mutu layanan; (2) komunikasi yang efektif menurunkan kecemasan serta memperkuat motivasi, efikasi diri, dan adaptasi pasien; (3) implementasi dipengaruhi faktor individual, relasional, dan organisasional seperti beban kerja, kecerdasan emosional, burnout, privasi, empati, kecukupan tenaga, serta hambatan sosiokultural; dan (4) program pelatihan yang terstruktur dapat meningkatkan self-efficacy komunikasi dan kompetensi interaksi perawat. Kesimpulan: Komunikasi terapeutik perawat bukan hanya keterampilan interpersonal, tetapi juga pengungkit peningkatan mutu pelayanan. Penguatan kompetensi ini memerlukan dukungan manajerial, penataan beban kerja, pelatihan yang sensitif terhadap konteks layanan, dan indikator monitoring yang mengintegrasikan pengalaman pasien dengan performa keperawatan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underreporting Dan Blaming Culture Pada Insiden Keselamatan Pasien: Scoping Review Raudha Raudha; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.722

Abstract

Latar Belakang:Insiden keselamatan pasien memerlukan pelaporan sistematis guna mencegah kesalahan berulang. Namun, tingkat pelaporan global masih rendah akibat dominasi budaya menyalahkan di lingkungan klinis. Pemetaan faktor pendorong underreporting masih terbatas, khususnya di fasilitas kesehatan negara berkembang yang menghadapi keterbatasan sumber daya. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan risiko kesalahan klinis yang dapat dihindari. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan faktor yang mempengaruhi underreporting serta blaming culture dalam pelaporan insiden keselamatan pasien melalui pendekatan scoping review yang terstruktur.Metode:Kajian menerapkan kerangka kerja Arksey dan O’Malley dengan pedoman PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada Scopus, PubMed, dan Google Scholar periode 2015 hingga 2025. Tiga puluh delapan artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik berdasarkan domain organisasi, psikologis, sistem pelaporan, dan budaya keselamatan.Hasil: Underreporting dan budaya menyalahkan dipengaruhi empat domain utama, yakni hierarki kaku dan beban kerja tinggi, ketakutan sanksi serta persepsi ketidakbermanfaatan pelaporan, kompleksitas sistem pelaporan, dan absennya just culture berorientasi pembelajaran. Intervensi non-punitif, pelatihan kepemimpinan transformatif, dan penyederhanaan alur pelaporan terbukti meningkatkan kepatuhan pelaporan secara signifikan. Kesimpulan : Underreporting dan blaming culture bersifat multifaktorial serta saling memperkuat secara sistemik. Transformasi budaya keselamatan menuntut perubahan kebijakan institusional, penguatan prinsip keadilan, dan evaluasi berkelanjutan. Riset longitudinal dan adaptif konteks lokal sangat diperlukan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perilaku pelaporan tenaga kesehatan secara komprehensif. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi manajemen risiko yang lebih adaptif.
Beban Kerja Perawat Penanggung Jawab Asuhan Dalam Kaitannya Dengan Kepatuhan Dokumentasi Asuhan Keperawatan: Scoping Review Sulastri Sulastri; Cau Kim Jiu; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.766

Abstract

Latar Belakang: Beban kerja perawat berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan dokumentasi, namun scoping review komprehensif khusus perawat penanggung jawab asuhan masih terbatas. Tujuan: Memetakan bukti yang ada mengenai hubungan beban kerja perawat penanggung jawab asuhan dengan kepatuhan dokumentasi asuhan keperawatan. Metode: Scoping review dilakukan mengikuti panduan PRISMA-ScR dan JBI, mencari di database Scopus, PubMed, dan jurnal Indonesia periode 2005-2026. Hasil Utama: Sebelas studi utamanya dari Indonesia menunjukkan hubungan terbalik konsisten antara beban kerja perawat dan kelengkapan/kepatuhan dokumentasi, dengan pendekatan mixed-methods mendominasi. Faktor utama meliputi jumlah pasien, durasi shift, dan kompleksitas sistem dokumentasi. Kebaruan/Orisinalitas: Review ini unik fokus pada "perawat penanggung jawab asuhan" dalam konteks Indonesia, mengisi celah scoping review spesifik beban kerja. Kontribusi: Menyediakan sintesis bukti untuk formulasi kebijakan, standardisasi beban kerja, dan pengembangan sistem dokumentasi elektronik guna meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas asuhan.
Analisis Kesesuaian Diagnosis, Intervensi, Dan Luaran Keperawatan Berbasis SDKI/SIKI/SLKI Dalam Simrs Dengan Kondisi Klinis Pasien Rawat Inap RSU Yarsi Pontianak: Scoping Review Rinanda Adi Hardika; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.780

Abstract

Latar Belakang: Integrasi standar keperawatan Indonesia (SDKI/SIKI/SLKI) ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan langkah penting menuju praktik keperawatan yang terstandar dan berbasis bukti. Namun, pembangkitan otomatis diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan oleh SIMRS tidak selalu mencerminkan kondisi klinis aktual pasien rawat inap, sehingga menciptakan risiko ketidaksesuaian dokumentasi secara klinis. Sejauh mana dokumentasi keperawatan yang dihasilkan SIMRS sesuai dengan kondisi klinis pasien aktual di rumah sakit Indonesia masih belum terpetakan secara komprehensif. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai kesesuaian diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan berbasis SDKI/SIKI/SLKI dalam SIMRS dengan kondisi klinis pasien rawat inap, mengidentifikasi determinan ketidaksesuaian, serta mendeskripsikan strategi perbaikan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley (2005), diperkuat oleh Levac dkk. (2010), serta dilaporkan mengacu pada PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018). Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025 untuk disintesis. Hasil: Empat tema utama teridentifikasi: (1) kualitas dan akurasi dokumentasi diagnosis keperawatan berbasis SDKI sangat tidak optimal, dengan tingkat akurasi di bawah 50% di beberapa konteks; (2) kesesuaian antara intervensi keperawatan (SIKI) dengan kondisi klinis masih inkonsisten, khususnya dalam hal keterkaitan dengan diagnosis; (3) luaran keperawatan (SLKI) merupakan komponen yang paling jarang dievaluasi dengan bukti kualitas dokumentasi yang terbatas; dan (4) faktor yang berkontribusi pada ketidaksesuaian meliputi kesenjangan kompetensi perawat, pengkajian klinis yang tidak lengkap, keterbatasan desain template SIMRS, beban kerja, dan kurangnya supervisi. Kesimpulan: Kesesuaian dokumentasi SIMRS berbasis SDKI/SIKI/SLKI dengan kondisi klinis pasien rawat inap merupakan kesenjangan mutu yang signifikan dalam praktik keperawatan Indonesia. Penguatan kompetensi klinis, desain ulang template SIMRS, dan implementasi sistem audit serta supervisi terstruktur merupakan strategi esensial untuk meningkatkan kesesuaian dokumentasi.
Evaluasi Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas: Scoping Review Imam Hakam; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.790

Abstract

Evaluasi program kesehatan jiwa di Puskesmas merupakan sarana reflektif untuk peningkatan capaian program di Tahun berikutnya, sehingga membentuk siklus plan, do, check/study, action dan peningkatan mutu layanan kesehatan jiwa. Scoping Review ini bertujuan memetakan bukti tentang evaluasi program kesehatan jiwa di puskesmas. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 575 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 13 studi terbitan Tahun 2020–2026. Studi yang diikutkan terdiri atas 7 studi kualitatif deskriptif, 3 studi kualitatif: case study 2 mixed method, 1 cross-sectional. Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM); (2) Keterbatasan Sarana, Prasarana, dan Pembiayaan; (3) Implementasi Program dan Pelaksanaan Layanan Belum Optimal; (4) Pentingnya Koordinasi dan Kolaborasi Lintas Sektor; (5) Adanya Stigma dan Hambatan Sosial; dan (6) Perlunya Penguatan Sistem Surveilans dan Digitalisasi. Program kesehatan jiwa perlu ditingkatkan di variabel Input, yaitu sumber daya kesehatan, karena pada variabel proses dalam hal konteks pemanfaatan sumber daya kesehatan dengan tantangan indikator kinerja dapat dicapai sehingga tercapai target kinerja yang akan dievaluasi kembali dalam proses Output.
Effectiveness of Discharge Planning Interventions on Hospital Readmission Among Patients with Pulmonary Tuberculosis: A Scoping Review Risma Amalia Safitri; Suriadi Jais; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.792

Abstract

Pulmonary tuberculosis remains a major cause of morbidity and health-system burden, particularly in low- and middle-income countries. Despite advances in antituberculosis therapy, the transition from hospital to community is often fragmented, increasing the risk of complications, treatment interruption, and hospital readmission. Discharge planning is increasingly recognized as a peri-discharge intervention that may reduce readmission by supporting treatment continuity, complication monitoring, patient understanding, family involvement, and post-discharge follow-up. This literature review was conducted as part of a scoping review framework following the PRISMA extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) and Joanna Briggs Institute methodological guidance. Literature searches were performed in PubMed, Scopus, Web of Science, and CINAHL. Out of 500 identified articles, 11 studies were included after screening and eligibility assessment. Discharge planning for pulmonary tuberculosis is implemented through nurse-led education, counseling, medication guidance, readiness assessment, family engagement, and continuity of care arrangements. Available evidence indicates that structured nursing interventions are associated with improved knowledge, self-care, adherence, discharge readiness, and lower short-term readmission risk. Five thematic domains were identified: nurse-led interventions, core components, discharge readiness, continuity of care, and socioeconomic/psychosocial barriers. Discharge planning may contribute to lowering readmission among pulmonary tuberculosis patients, but current evidence remains indirect and heterogeneous. Rigorous TB-specific studies with readmission as the primary outcome are urgently needed.
Kebutuhan Informasi Orang Tua tentang Leukemia Anak dan Dampak Terapi: A Scoping Review Tika Desvicasari Hustra; Ramadhaniyati Ramadhaniyati; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.793

Abstract

Leukemia merupakan kanker anak yang paling sering ditemukan dan menimbulkan dampak besar bagi anak maupun orang tua sebagai pengasuh utama. Kebutuhan informasi yang tepat sangat penting untuk membantu orang tua memahami penyakit, menjalani terapi, serta merawat anak selama proses pengobatan. Penelitian ini bertujuan memetakan kebutuhan informasi orang tua terkait leukemia anak dan dampak terapinya melalui scoping review. Penelusuran literatur dilakukan pada database PubMed, Scopus, dan CINAHL, dengan 15 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa kebutuhan informasi utama meliputi diagnosis, terapi, efek samping, perawatan dirumah, dan dampak terapi jangka panjang, dengan kebutuhan yang paling sering belum terpenuhi adalah informasi terkait efek samping jangka panjang. Disimpulkan bahwa pemberian informasi yang berkelanjutan dan berpusat pada keluarga penting untuk meningkatkan kualitas perawatan dan kualitas hidup anak dengan leukemia.
RISK FACTORS FOR DIABETES MELLITUS AND THEIR ASSOCIATION WITH BLOOD GLUCOSE LEVELS IN ADOLESCENTS Freshy Moonyk Sister; Ridha Mardiyani; Wuriani Wuriani; Haryanto Haryanto; Lidia Hastuti; Kharisma Pratama; Syahid Amrullah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i3.622

Abstract

The onset of Diabetes Mellitus (DM) among adolescents worldwide has been increased. Objective: This study aimed to analyze risk factors associated with DM among adolescents including family history, tobacco consumption, blood pressure, blood glucose levels, Body Mass Index (BMI), and physical activity. Method: This cross-sectional study included  211 individuals selected through simple random sampling. Data were obtained using a questionnaire to risk factors of DM (family history, tobacco consumption).  Random Capillary Blood Glucose (RCBG) was measured by glucometer. BMI Z score was calculated using growth standard for adolescents. Blood pressure was determined by automatic monitor in accordance with the American Academy of Pediatrics (AAP) hypertension clinical guidelines. Physical activity were assessed using Physical Activity Questionnaire for Adolescent (PAQ-A).  Then, analysis was carried out using the Spearman rank rho statistical test. Results: Among 211 adolescents, most were normoglycemic (79.6%), low physical activity (78.2 %), obesity (17.5 %), and having elevated blood pressure (46.0%). There was no significant relationship between family history of diabetes, smoking habits, blood pressure, BMI, physical activity and blood glucose levels (p > 0.05). Discussions: Although there was no significant relationship was found, however, the presence of multiple risk factors indicates that early metabolic risk may already exist, while the prediabetes phase in adolescents often remains unrecognized. Conclusion: These findings emphasize the importance of early preventive strategies and lifestyle interventions to reduce future metabolic risk. Future research is required to identify other risk factors of DM.Keywords : Adolescents, diabetes mellitus, glucose, risk factors
Efektivitas Hand Hygiene Terhadap Pencegahan Healthcare Associated Infections (HAIs): A Systematic Literature Review Peni Ariyani; Feranema Widyanti; Rahayu Rahayu; Alvi Roelanda; Dedi Radhamudi; Anang Ihsan; Zainudin Zainudin; Suriadi Jais; Cau Kim; Haryanto Haryanto
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.59500

Abstract

Latar Belakang: Healthcare Associated Infections (HAIs) merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan yang masih menjadi tantangan utama di rumah sakit. HAIs berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas, mortalitas, lama rawat inap, serta biaya pelayanan kesehatan. Hand hygiene merupakan intervensi paling sederhana, efektif, dan ekonomis dalam memutus rantai transmisi mikroorganisme penyebab infeksi. Meskipun demikian, kepatuhan tenaga kesehatan terhadap praktik hand hygiene masih bervariasi sehingga diperlukan kajian komprehensif mengenai efektivitasnya dalam pencegahan HAIs.Tujuan: Menganalisis efektivitas hand hygiene terhadap pencegahan Healthcare Associated Infections (HAIs) berdasarkan bukti ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2020-2025.Metode: Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020. Pencarian artikel dilakukan melalui database PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda menggunakan kata kunci “hand hygiene”, “hand hygiene compliance”, “healthcare associated infections”, “hospital acquired infections”, dan “nosocomial infections”. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dipublikasikan tahun 2020–2025, tersedia dalam teks lengkap, dan membahas hubungan hand hygiene dengan kejadian HAIs. Sebanyak 23 artikel memenuhi kriteria untuk dianalisis. Hasil: Sebanyak 23 artikel terdiri atas systematic review, meta-analysis, quasi-experimental, cohort, prospective study, observational study, dan intervention study. Hasil sintesis menunjukkan bahwa peningkatan kepatuhan hand hygiene berkorelasi dengan penurunan kejadian HAIs sebesar 20–50%. Strategi yang paling efektif meliputi WHO Multimodal Hand Hygiene Improvement Strategy, audit dan feedback, edukasi berkelanjutan, penggunaan alcohol-based hand rub (ABHR), serta electronic monitoring system. Kesimpulan: Hand hygiene terbukti efektif dalam menurunkan kejadian Healthcare Associated Infections (HAIs). Implementasi program hand hygiene yang komprehensif dan berkelanjutan perlu menjadi prioritas dalam program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di rumah sakit.
Validity and reliability test for assessing the bleeding factor in breast cancer wounds Nurmila Sari; Haryanto Haryanto; Suriadi Jais
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 7 No. 12 (2025): Volume 7 Number 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v7i12.645

Abstract

Background: Breast cancer is the cancer with the highest incidence in women in the world. In Indonesia, breast cancer also ranks first in terms of number and cause of death. Bleeding is a common complication of advanced breast cancer. Identification of bleeding factors in breast cancer wounds is very important. Research instruments are needed to analyze various factors related to bleeding and their indicators Purpose: To determine the validity and reliability of the construct of factors related to bleeding in breast cancer wounds and their indicators. Method: A cross-sectional approach, specifically focusing on observational study. The study took place from January to May 2024, in Dr. Soedraso Hospital Pontianak. The independent variable was factors affecting breast cancer wound bleeding the dependent variables is assessment of breast cancer wound bleeding. Using purposive sampling and the Slovin formula, 60 respondents were selected. The validity and reliability tests in this study were conducted using the outer model evaluation in SEM-PLS with SmartPLS 4.0. Validity was assessed through convergent validity using the AVE value and discriminant validity with the Fornell-Larcker criterion. Reliability was evaluated based on outer loading values and composite reliability (Rho-C) to measure internal consistency. Results: the outer loading value, composite reliability (Rho-C), and average variance extracted (AVE) have met the validity and reliability test standards. The outer loading value of the indicators ranged from 0.628 to 1.000, with the highest value in the indicators of cancer stage, leukocytes, nutritional status (MNA), and bleeding at 1.000. Composite reliability for the variables of wound classification, dressing use and wound care, chemotherapy, therapy, and haematology ranged from 0.776 to 0.903, while the variables of cancer stage, infection, nutritional status, and bleeding each amounted to 1.000. AVE values ranged from 0.599 to 0.822, with the highest value of 1.000 for the variables of cancer stage, infection, nutritional status, and bleeding. Conclusion: This research conducted validity and reliability tests using the measurement model (outer model) evaluation in SEM-PLS. The assessment included outer loading, composite reliability (Rho-C), AVE, and the Fornell-Larcker criteria. The results confirmed that the research instrument was valid and reliable, making it suitable for analyzing bleeding factors in breast cancer wounds.