Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Analisis Hubungan Beban Kerja, Komitmen Organisasi, Lama Kerja dan Umur Perawat terhadap Implementasi Asuhan Keperawatan: Scoping Review Puji Mukti Hartani; Wida Kuswida Bhakti; Indah Dwi Rahayu; Suriadi Jais
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6686

Abstract

Implementasi asuhan keperawatan dipengaruhi oleh berbagai factor individu dan organisasi, termasuk beban kerja, komitmen organisasi, lama kerja, dan umur perawat. Scoping review ini bertujuan memetakan bukti empiris mengenai hubungan variable-variabel tersebut dengan implementasi asuhan keperawatan. Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan ProQuest menggunakan kata kunci beban kerja, komitmen organisasi, dokumentasi keperawatan, dan karakteristik perawat mengikuti pedoman PRISMAScR dengan kriteria inklusi artikel tahun 2015 – 2025. Hasil menunjukkan bahwa beban kerja memiliki hubungan negatif terhadap implementasi asuhan keperawatan, sedangkan komitmen organisasi dan lama kerja berhubungan positif dengan kualitas pelaksanaan proses dan dokumentasi keperawatn. Hubungan umur dengan implementasi asuhan keperawatan bervariasi dan tidak selalu signifikan. Secara keseluruhan, peningkatan kualitas asuhan keperawatan memerlukan manajemen beban kerja yang efektif, penguatan komitmen organisasi, serta pengembangan kompetensi berdasarkan masa kerja perawat.
Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Gaya Kepemimpinan Transformasional dalam Peningkatan Kinerja Perawat Rumah Sakit Jiwa: Scoping Review Urai Zulfikar; Suriadi Jais; Wida Kuswida Bhakti; Ramadhaniyati; Haryanto
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/fw5z8y88

Abstract

Penerapan gaya kepemimpinan transformasional di rumah sakit jiwa menjadi penting dalam meningkatkan kinerja perawat, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas perawatan pasien. Gaya kepemimpinan ini, yang menekankan pada pemberdayaan, motivasi, dan pengembangan individu, diharapkan dapat memperbaiki komunikasi, kolaborasi tim, serta kepuasan kerja perawat. Namun, penerapannya sering dihadapkan pada berbagai faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilan implementasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor tersebut dengan melakukan scoping review terhadap literatur yang relevan. Pencarian dilakukan secara sistematis pada basis data seperti PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan fokus pada perawat di rumah sakit jiwa, penerapan gaya kepemimpinan transformasional, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasinya. Dari total 2.945 artikel yang teridentifikasi, sebelas artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pendukung utama meliputi dukungan manajerial yang kuat, pelatihan kepemimpinan yang tepat, dan budaya organisasi yang mendukung. Sementara itu, faktor penghambat meliputi resistensi terhadap perubahan, kurangnya sumber daya, dan ketidakjelasan peran kepemimpinan dalam struktur organisasi. Penelitian ini menyarankan perlunya penguatan pelatihan kepemimpinan, peningkatan keterlibatan manajerial, dan perbaikan budaya organisasi untuk memaksimalkan penerapan gaya kepemimpinan transformasional dalam rumah sakit jiwa.
Penerapan Health Book Passport Bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) Yang Dideportasi Dari Malaysia Melalui PLBN Entikong Tri Aan Agustiansyah; Lidia Hastuti; Lilis Lestari; Wida Kuswida Bhakti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9299

Abstract

Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia melalui Pos Lintas Batas Negara Entikong merupakan kelompok rentan yang memiliki berbagai permasalahan kesehatan, khususnya penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, gastritis, dan gangguan psikologis dan Penyakit Menular seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tuberkulosis, penyakit kulit menular, diare, hingga penyakit infeksi berbasis lingkungan akibat kondisi tempat tinggal yang padat dan kurang higienis selama bekerja maupun saat berada di depot tahanan imigrasi. Selama proses deportasi, sebagian besar PMI tidak memiliki dokumen kesehatan maupun riwayat pengobatan yang lengkap sehingga pelayanan kesehatan sering tidak berkesinambungan. Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan penanganan penyakit, putus pengobatan, serta rendahnya pemantauan kesehatan PMI setelah kembali ke daerah asal. Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan inovasi Health Book Passport sebagai media pencatatan kesehatan manual bagi PMI yang di deportasi melalui PLBN Entikong. Inovasi ini berupa buku kesehatan portabel berbentuk seperti paspor yang digunakan untuk mencatat identitas kesehatan, hasil pemeriksaan kesehatan awal, monitoring penyakit menular dan penyakit tidak menular, riwayat pengobatan, edukasi kesehatan, dan rujukan pelayanan kesehatan. Health Book Passport dirancang sederhana, praktis, mudah digunakan, dan tidak bergantung pada jaringan internet sehingga sesuai diterapkan di wilayah perbatasan dengan kendala jaringan internet. Implementasi inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesinambungan pelayanan kesehatan, mendukung deteksi dini PTM dan penyakit menular, mempermudah tenaga kesehatan dalam pemantauan kondisi PMI deportasi, serta mencegah putus pengobatan penyakit kronis. Selain itu, Health Book Passport dapat menjadi dokumen kesehatan portable yang dibawa PMI hingga kembali ke daerah asal untuk tindak lanjut pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan ditempat mereka berasal. Dengan demikian, inovasi ini berpotensi meningkatkan perlindungan kesehatan PMI deportasi secara komprehensif dan berkelanjutan.
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) MENDENGARKAN MUSIK DAN BERNYANYI PADA LANSIA Cau Kim Jiu; Wida Kuswida Bhakti; Almumtahanah Almumtahanah; Sri Ariyanti; Tri Wahyuni; Uji Kawuryan; Annisa Rahmawati; Yenni Lukita; Siti Masdah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025): Volume 6 No 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i3.45116

Abstract

Dampak dari penurunan fungsi kognitif dan sensori pada lanjut usia dapat mencakup berbagai aspek, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Secara kognitif, berdampak pada penurunan kemampuan berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah sehingga menyebabkan gangguan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Penurunan fungsi sensori meliputi penurunan kemampuan pendengaran, penglihatan, dan persepsi sehingga menyebabkan penurunan kemampuan lansia untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan menghambat komunikasi. Salah satu cara untuk mengelola situasi ini dengan menerapkan terapi aktivitas kelompok yang dilakukan oleh perawat kepada lansia dengan tujuan untuk meningkatkan daya ingat, kesehatan mental dan kemampuan bersosialisasi. Peserta kegiatan ini adalah lansia yang berjumlah 20 orang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah ceramah, demonstrasi melalui kegiatan bernyanyi dan diskusi melalui cerita masa lalu. Hasil kegiatan menunjukkan para lansia terlibat secara aktif dan antusias dalam kegiatan ini serta dapat menyanyikan beberapa lagu kenangan masa lalu serta menceritakan pengalaman masa lalu yang menyenangkan. Beberapa lansia mengatakan terhibur dengan kegiatan ini dan senang bisa bernyanyi bersama-sama. Dapat disimpulkan bahwa jika kegiatan bernyanyi dan mendengarkan musik dilakukan secara rutin diharapkan dapat menstimulus fungsi kognitif, sensori dan menambah rasa percaya diri lansia dalam berinteraksi satu sama lainnya.
Implementasi Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan: Scoping Review Yohanes Rindo Ari Wijoyo; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.721

Abstract

Latar Belakang: Komunikasi terapeutik merupakan kompetensi inti keperawatan sekaligus mekanisme penting untuk mewujudkan pelayanan yang berpusat pada pasien. Bukti yang tersedia masih tersebar pada berbagai konteks seperti rawat inap, rawat jalan, gawat darurat, intensive care, onkologi, psikiatri, dan pelayanan primer, sehingga belum mudah dipetakan dalam satu kerangka yang utuh. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai implementasi komunikasi terapeutik perawat dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025. Studi yang diikutkan terdiri atas 12 studi cross-sectional, 4 studi kualitatif, 3 studi kuasi-eksperimental/pre-eksperimental, dan 1 studi survei. Hasil: Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) komunikasi terapeutik meningkatkan kepuasan pasien/keluarga dan persepsi mutu layanan; (2) komunikasi yang efektif menurunkan kecemasan serta memperkuat motivasi, efikasi diri, dan adaptasi pasien; (3) implementasi dipengaruhi faktor individual, relasional, dan organisasional seperti beban kerja, kecerdasan emosional, burnout, privasi, empati, kecukupan tenaga, serta hambatan sosiokultural; dan (4) program pelatihan yang terstruktur dapat meningkatkan self-efficacy komunikasi dan kompetensi interaksi perawat. Kesimpulan: Komunikasi terapeutik perawat bukan hanya keterampilan interpersonal, tetapi juga pengungkit peningkatan mutu pelayanan. Penguatan kompetensi ini memerlukan dukungan manajerial, penataan beban kerja, pelatihan yang sensitif terhadap konteks layanan, dan indikator monitoring yang mengintegrasikan pengalaman pasien dengan performa keperawatan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underreporting Dan Blaming Culture Pada Insiden Keselamatan Pasien: Scoping Review Raudha Raudha; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.722

Abstract

Latar Belakang:Insiden keselamatan pasien memerlukan pelaporan sistematis guna mencegah kesalahan berulang. Namun, tingkat pelaporan global masih rendah akibat dominasi budaya menyalahkan di lingkungan klinis. Pemetaan faktor pendorong underreporting masih terbatas, khususnya di fasilitas kesehatan negara berkembang yang menghadapi keterbatasan sumber daya. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan risiko kesalahan klinis yang dapat dihindari. Tujuan: Artikel ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan faktor yang mempengaruhi underreporting serta blaming culture dalam pelaporan insiden keselamatan pasien melalui pendekatan scoping review yang terstruktur.Metode:Kajian menerapkan kerangka kerja Arksey dan O’Malley dengan pedoman PRISMA-ScR. Penelusuran dilakukan pada Scopus, PubMed, dan Google Scholar periode 2015 hingga 2025. Tiga puluh delapan artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik berdasarkan domain organisasi, psikologis, sistem pelaporan, dan budaya keselamatan.Hasil: Underreporting dan budaya menyalahkan dipengaruhi empat domain utama, yakni hierarki kaku dan beban kerja tinggi, ketakutan sanksi serta persepsi ketidakbermanfaatan pelaporan, kompleksitas sistem pelaporan, dan absennya just culture berorientasi pembelajaran. Intervensi non-punitif, pelatihan kepemimpinan transformatif, dan penyederhanaan alur pelaporan terbukti meningkatkan kepatuhan pelaporan secara signifikan. Kesimpulan : Underreporting dan blaming culture bersifat multifaktorial serta saling memperkuat secara sistemik. Transformasi budaya keselamatan menuntut perubahan kebijakan institusional, penguatan prinsip keadilan, dan evaluasi berkelanjutan. Riset longitudinal dan adaptif konteks lokal sangat diperlukan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perilaku pelaporan tenaga kesehatan secara komprehensif. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan strategi manajemen risiko yang lebih adaptif.
Beban Kerja Perawat Penanggung Jawab Asuhan Dalam Kaitannya Dengan Kepatuhan Dokumentasi Asuhan Keperawatan: Scoping Review Sulastri Sulastri; Cau Kim Jiu; Wida Kuswida Bhakti; Haryanto Haryanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.766

Abstract

Latar Belakang: Beban kerja perawat berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan dokumentasi, namun scoping review komprehensif khusus perawat penanggung jawab asuhan masih terbatas. Tujuan: Memetakan bukti yang ada mengenai hubungan beban kerja perawat penanggung jawab asuhan dengan kepatuhan dokumentasi asuhan keperawatan. Metode: Scoping review dilakukan mengikuti panduan PRISMA-ScR dan JBI, mencari di database Scopus, PubMed, dan jurnal Indonesia periode 2005-2026. Hasil Utama: Sebelas studi utamanya dari Indonesia menunjukkan hubungan terbalik konsisten antara beban kerja perawat dan kelengkapan/kepatuhan dokumentasi, dengan pendekatan mixed-methods mendominasi. Faktor utama meliputi jumlah pasien, durasi shift, dan kompleksitas sistem dokumentasi. Kebaruan/Orisinalitas: Review ini unik fokus pada "perawat penanggung jawab asuhan" dalam konteks Indonesia, mengisi celah scoping review spesifik beban kerja. Kontribusi: Menyediakan sintesis bukti untuk formulasi kebijakan, standardisasi beban kerja, dan pengembangan sistem dokumentasi elektronik guna meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas asuhan.
Analisis Kesesuaian Diagnosis, Intervensi, Dan Luaran Keperawatan Berbasis SDKI/SIKI/SLKI Dalam Simrs Dengan Kondisi Klinis Pasien Rawat Inap RSU Yarsi Pontianak: Scoping Review Rinanda Adi Hardika; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.780

Abstract

Latar Belakang: Integrasi standar keperawatan Indonesia (SDKI/SIKI/SLKI) ke dalam Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) merupakan langkah penting menuju praktik keperawatan yang terstandar dan berbasis bukti. Namun, pembangkitan otomatis diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan oleh SIMRS tidak selalu mencerminkan kondisi klinis aktual pasien rawat inap, sehingga menciptakan risiko ketidaksesuaian dokumentasi secara klinis. Sejauh mana dokumentasi keperawatan yang dihasilkan SIMRS sesuai dengan kondisi klinis pasien aktual di rumah sakit Indonesia masih belum terpetakan secara komprehensif. Tujuan: Scoping review ini bertujuan memetakan bukti mengenai kesesuaian diagnosis, intervensi, dan luaran keperawatan berbasis SDKI/SIKI/SLKI dalam SIMRS dengan kondisi klinis pasien rawat inap, mengidentifikasi determinan ketidaksesuaian, serta mendeskripsikan strategi perbaikan. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley (2005), diperkuat oleh Levac dkk. (2010), serta dilaporkan mengacu pada PRISMA-ScR (Tricco dkk., 2018). Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 100 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 20 studi terbitan tahun 2020–2025 untuk disintesis. Hasil: Empat tema utama teridentifikasi: (1) kualitas dan akurasi dokumentasi diagnosis keperawatan berbasis SDKI sangat tidak optimal, dengan tingkat akurasi di bawah 50% di beberapa konteks; (2) kesesuaian antara intervensi keperawatan (SIKI) dengan kondisi klinis masih inkonsisten, khususnya dalam hal keterkaitan dengan diagnosis; (3) luaran keperawatan (SLKI) merupakan komponen yang paling jarang dievaluasi dengan bukti kualitas dokumentasi yang terbatas; dan (4) faktor yang berkontribusi pada ketidaksesuaian meliputi kesenjangan kompetensi perawat, pengkajian klinis yang tidak lengkap, keterbatasan desain template SIMRS, beban kerja, dan kurangnya supervisi. Kesimpulan: Kesesuaian dokumentasi SIMRS berbasis SDKI/SIKI/SLKI dengan kondisi klinis pasien rawat inap merupakan kesenjangan mutu yang signifikan dalam praktik keperawatan Indonesia. Penguatan kompetensi klinis, desain ulang template SIMRS, dan implementasi sistem audit serta supervisi terstruktur merupakan strategi esensial untuk meningkatkan kesesuaian dokumentasi.
Evaluasi Program Kesehatan Jiwa di Puskesmas: Scoping Review Imam Hakam; Cau Kim Jiu; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.790

Abstract

Evaluasi program kesehatan jiwa di Puskesmas merupakan sarana reflektif untuk peningkatan capaian program di Tahun berikutnya, sehingga membentuk siklus plan, do, check/study, action dan peningkatan mutu layanan kesehatan jiwa. Scoping Review ini bertujuan memetakan bukti tentang evaluasi program kesehatan jiwa di puskesmas. Metode: Review ini menggunakan kerangka Arksey dan O'Malley, diperkuat oleh Levac dkk., serta dilaporkan mengacu pada prinsip PRISMA-ScR. Sumber awal literatur berasal dari matriks kerja peneliti yang memuat 575 artikel. Setelah penghapusan duplikasi dan proses seleksi kelayakan, terpilih 13 studi terbitan Tahun 2020–2026. Studi yang diikutkan terdiri atas 7 studi kualitatif deskriptif, 3 studi kualitatif: case study 2 mixed method, 1 cross-sectional. Terdapat empat tema utama, yaitu: (1) Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM); (2) Keterbatasan Sarana, Prasarana, dan Pembiayaan; (3) Implementasi Program dan Pelaksanaan Layanan Belum Optimal; (4) Pentingnya Koordinasi dan Kolaborasi Lintas Sektor; (5) Adanya Stigma dan Hambatan Sosial; dan (6) Perlunya Penguatan Sistem Surveilans dan Digitalisasi. Program kesehatan jiwa perlu ditingkatkan di variabel Input, yaitu sumber daya kesehatan, karena pada variabel proses dalam hal konteks pemanfaatan sumber daya kesehatan dengan tantangan indikator kinerja dapat dicapai sehingga tercapai target kinerja yang akan dievaluasi kembali dalam proses Output.
Effectiveness of Discharge Planning Interventions on Hospital Readmission Among Patients with Pulmonary Tuberculosis: A Scoping Review Risma Amalia Safitri; Suriadi Jais; Haryanto Haryanto; Wida Kuswida Bhakti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.792

Abstract

Pulmonary tuberculosis remains a major cause of morbidity and health-system burden, particularly in low- and middle-income countries. Despite advances in antituberculosis therapy, the transition from hospital to community is often fragmented, increasing the risk of complications, treatment interruption, and hospital readmission. Discharge planning is increasingly recognized as a peri-discharge intervention that may reduce readmission by supporting treatment continuity, complication monitoring, patient understanding, family involvement, and post-discharge follow-up. This literature review was conducted as part of a scoping review framework following the PRISMA extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) and Joanna Briggs Institute methodological guidance. Literature searches were performed in PubMed, Scopus, Web of Science, and CINAHL. Out of 500 identified articles, 11 studies were included after screening and eligibility assessment. Discharge planning for pulmonary tuberculosis is implemented through nurse-led education, counseling, medication guidance, readiness assessment, family engagement, and continuity of care arrangements. Available evidence indicates that structured nursing interventions are associated with improved knowledge, self-care, adherence, discharge readiness, and lower short-term readmission risk. Five thematic domains were identified: nurse-led interventions, core components, discharge readiness, continuity of care, and socioeconomic/psychosocial barriers. Discharge planning may contribute to lowering readmission among pulmonary tuberculosis patients, but current evidence remains indirect and heterogeneous. Rigorous TB-specific studies with readmission as the primary outcome are urgently needed.